Posts

Selintas Cerita Rusli Bintang Membangun Kampus

Tak hanya menyediakan fasilitas yang serba lengkap, sebuah perguruan tinggi juga wajib mendapat dukungan kualitas akademik. Perpaduan inilah yang sangat dibutuhkan untuk menciptakan kampus yang mampu melahirkan sarjana bermutu.

Ternyata, bagi H Rusli Bintang, dua hal itu belum cukup. Ia juga menekankan penguatan akhlak dan jiwa religius bagi mahasiswa yang kuliah di seluruh perguruan tinggi yang didirikannya. “Pintar saja tidak cukup. Ia harus memiliki aklak yang baik agar dia berguna bagi lingkungannya,” kata Rusli kemarin di kampus Universitas Batam.

Ia sudah mendirikan empat kampus. Di antaranya adalah Universitas Abulyatama-Aceh, Universitas Malahayati-Lampung, Universitas Batam-Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia-Jakarta.

“Kita tak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, para mahasiswa juga dibekali kedisplinan, etika, dan religi,” kata Dr Muhammad Kadafi SH MH, Rektor Universitas Malahayati.

Pengemblengan nilai-nilai humanis dilakukan melalui pembinaan anak-anak yatim yang memang masuk dalam statuta universitas. Bentuk kepedulian pada anak-anak yatim ini misalnya bagi rektor minimal harus membina 12 anak yatim, wakil rektor 10, dekan 8, kepala jurusan 6, dosen 4, karyawan 2 dan 1 anak untuk mahasiswa.

Soal akademik, Rusli selalu meminta para rektor di kampus untuk terus meningkatkan kualias. “Termasuk di antaranye bekerjasama dengan kampus-kampus yang bagus di Indonesia. Bahkan juga mereka perlu melihat ke kampus-kampus di luar negeri untuk melihat seperti apa mereka membangun sebuah pendidikan tinggi yang berkualitas,” kata Rusli.

Salah satunya adalah kunjungan seluruh rektor di empat kampusnya ke Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Senin 27 Juni lalu. Bahkan kunjungan ini menghasilkan sebuah kesepakatan kerjasama dengan USU.

Kegiatan ini berlangsung di Biro Rektorat USU Medan, pada Selasa 22 Juni lalu. “Ini adalah wujud keseriusan Universitas Malahayati untuk terus meningkatkan kualitasnya,” kata Dr Kadafi. Seluruh rektor dari kampus-kampus itu ikut hadir dalam proses penandatanganan kerjasama ini. Bahkan dari USU langsung rektornya yaitu Prof Dr Runtung Sitepu SH MHum.

Adapun rektor lainnya adalah Dr. Muhammad Kadafi SH MH (Rektor Universitas Malahayati), Prof Novirman Jamarun (Rektor Universitas Batam), Ir R Agung Efriyo Hadi MSc PhD (Rektor Universitas Abulyatama), dan Prof Umar Fahmi Achmadi dr MPH PhD (Rektor IKI Jakarta).

Prof Runtung Sitepu, dalam sambutannya, menjelaskan bahwa kerjasama ini adalah lanjutan dari kerjasama terdahulu.  “Sebelumnya, kerjasama antara USU dan Uniba (Universitas Batam) sudah terjalin saat USU dipimpin Rektor Prof. Syahril Pasaribu,” katanya. Kerjasamanya adalah untuk meningkatkan pendidikan di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) Sumatera Utara.

Kerjasama itu bertujuan untuk pengembangan institusi dan peningkatan program kedua belah pihak. Selain itu, kerjasama ini juga untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang selanjutnya akan memberi nilai tambah pada mahasiswa, dosen, mapupun pihak lain.

Kali ini, USU memperluas wilayah kerjasama dengan lima universitas itu, yaitu melaksanakan segala bentuk kegiatan penelitian di semua bidang Ilmu pengetahuan, termasuk kegiatan publikasi karya ilmiah hasil penelitian; dan melaksanakan segala bentuk kegiatan pengabdian masyarakat, serta segala bentuk kegiatan lainnya berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Mewakili lima perguruan tinggi itu, Dr Kadafi menyatakan sangat berterimakasih pada USU. “Kami tentu sangat bangga. USU adalah salah satu universitas terbaik di Indonesia. Kepercayaan ini tentu harus kami jawab dengan terus meningkatkan kualitas kampus,” kata Dr Kadafi.

Dr Kadafi menambahkan, “selama ini kami memang selalu berbebah diri, meningkatkan berbagai sarana dan prasarana akademik dan pendukungnya. Kita harus mengikuti perkembangan zaman yang selalu menuntut berbagai perbaikan dan perubahan.”

Selain itu, Dr Kadafi juga yang memimpin rombongan dari seluruh kampus ini mengunjungi dua kampus di China, 16 Oktober tahun lalu. Salah satu perguruan tinggi yang dikunjungi adalah Capital Medical University, Beijing, China. Waktu itu Dr Kadafi datang bersama Rektor Universitas Abulyatama R Agung Efriyo Hadi PhD. Dua rektor ini ditemani Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki dan Wakil Rektor Universitas Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd.

Tentu saja Dr Kadafi berkunjung ke sini mewakili seluruh kampus yang didirikan Rusli Bintang. Mereka diterima Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University, Profesor Dong Zhe.

Pertemuan hangat menjelang petangitu menghasilkan kesepakatan yang cukup bagus . “Kita bisa mengirim mahasiswa ke kampus ini untuk belajar,” kata Agung Efriyo Hadi. “Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.”

Tak cuma dengan kampus-kampus di negeri China, sebelumnya Kadafi sudah menggandeng perguruan tinggi dari Malaysia dan Singapura. Bahkan di dua negara tetangga ini ikatan kerjamasa sudah berjalan dengan baik. Salah satu wujudnya adalah pengiriman mahasiswa D-IV kebidanan untuk studi banding ke National University Hospital Singapura pada 7-10 April 2015.

Dari Eropa datang Kaye Jujnovich, seorang dekan di Whitireia University, New Zealand, 13 Juni 2015. Kunjungan Kaye Jujnovich perwakilan dari Whitireia ini untuk meneken memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Malahayati. Dari kerjasama ini, dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati bisa kuliah di Whitireia University, begitu juga sebaliknya. Kedua kampus juga bisa menjalani penelitian, dan pertukaran karya ilmiah.

Tak hanya kerjasama dengan berbagai kampus. Beasiswa untuk dosen-dosen yang memiliki kemampuan juga dilakukan. Memang untuk soal meningkatkan kualitas bukan pekerjaan yang semudah membalik telapak tangan, namun upaya itu terus dilakukan. Itu belum lagi dengan menguatkan dengan menyediakan berbagai fasilitas di kampus-kampusnya.

Saat ini, misalnya, Rusli Bintang sedang merombak total kampus di Universitas Batam. Dari semula hanya ada beberapa gedung di lahan 10 hektar di kawasan Batam Center. Kini pembangunan sedang berjalan hampir memenuhi seluruh areal. Selain fasilitas untuk apartemen mahasiswa, gedung perpustakaan, laboratorium, dan sarana olahraga seperti lapangan golf, juga sedang didirikan sebuah rumah sakit di kampus ini.

Sebelumnya ia sudah membangun sarana yang sangat lengkap di Universitas Malahayati di Bandar Lampung. Di sini juga lengkap dengan rumah sakit, begitu juga dengan Universitas Abulyatama di Banda Aceh. Di sana juga sudah ada rumah sakit. Rusli menggandeng Pertamina untuk menjaga kualitas rumah sakitnya. Itulah sebabnya nama rumah sakitnya, misalnya di Bandar Lampung, adalah Pertamina-Bintang Amin, di Banda Aceh bernama Pertamedika Ummi Rosnati.

Ini baru cerita sepintas upaya Rusli Bintang membangun dunia pendidikan. []

Belajar Hingga ke Negeri China

WANLI Changcheng. Begitu istilah untuk Tembok Besar Tiongkok (Tembok Raksasa Tiongkok atau Tembok Panjang) disebut di negeri aslinya yang artinya Tembok Sepanjang 10.000 Li.

tembok-besar-chinaMenurut catatan sejarah, tembok itu mulai dibangun sejak 722 SM-481 SM. Negeri-negeri yang tercatat berkontribusi dalam konstruksi pertama antara lain negeri Chu, Qi, Yan, Wei dan Zhao. Mengunakan ratusan ribu pekerja paksa, pekerjaan pembangunan berlanjut di era kekuasaan Kaisar Qin Shi Huang pada 220 SM hingga berakhir di masa Dinasti Ming (1368-1644).

Tentu saja rakyat China bangga dengan bangunan bersejarah terpanjang yang pernah dibuat manusia, apalagi sudah masuk dalam Situs Warisan Dunia Unesco. Jadi tak heran jika lukisannya menghiasi ruang pertemuan di Capital Medical University, Beijing, China.

Di ruangan itulah, Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University, Profesor Dong Zhe menerima kedatangan Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi dan Rektor Universitas Abulyatama R Agung Efriyo Hadi PhD. Dua rektor ini ditemani Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki dan Wakil Rektor Universitas Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd.

rektor kdv dan prof dong ze 2Pertemuan hangat menjelang petang pada 16 Oktober 2015 ini menghasilkan kesepakatan yang cukup bagus untuk Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama. “Kita bisa mengirim mahasiswa ke kampus ini untuk belajar,” kata Agung Efriyo Hadi. “Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.”

Agung menjelaskan, semula mereka hanya meminta untuk diberikan kesempatan dalam bentuk belajar yang singkat saja. “Namun malah mereka mereka menawarkan dalam bentuk lebih luas, berupa SKS. Jadi bisa sampai tiga bulan belajar di CMU (Capital Medical University),” katanya. Tentu saja, tawaran itu sangat baik. “Kita akan menjalani untuk peningkatan di kampus kita juga. Kita juga hendak ingin menunjukkan kepada mahasiswa proses akademik kita itu tiada henti-hentinya kita mengembangkannya,” katanya.

Kesempatan untuk belajar ke negeri China akan terbuka lebar untuk mahasiswa yang berprestasi. “Yang punya talenta punya kualitas punya mutu, mereka harusnya terpacu dengan potensi keilmuannya. Itu menjadi kunci bagi mereka. Mereka yang juga menjaga nama baik almamater dan nama baik Indonesia. Sebab bagaimana pun mahasiswa yang akan ke China nantinya tetap saja membawa nama negara, mereka di sana dengan wajah kampusnya,” kata Kadafi.

rektor di beijing 2Selain prestasi, mahasiswa yang akan dikirim ke negeri Tirai Bambu diwajibkan bisa berbahasa asing, seperti bahasa Inggris, dan juga belajar bahasa Mandarin. “Saya pernah bertanya pada CMU apakah mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia mengalami kesulitan dalam berbahasa Mandarin?Mereka katakan tidak ada. Bahkan tiga bulan mahasiswa Indonesia yang belajar di CMU sudah bisa berbahasa Mandarin, bahkan sudah mampu menulis arikel dalam bahasa Mandarin. Artinya soal itu tak menjadi kendala sama sekali,” katanya.

Belajar ke Capital Medical University  (CMU) tentu akan membawa dampak yang sangat bagus untuk dua kampus ini. CMU adalah sebuah universitas ternama di negeri China. Berdiri pada 1960, Capital University of Medical Sciences semula  bernama Beijing Second Medical College yang dipimpin Profesor Wu Jieping, seorang urolog terkenal di dunia, orang kedua di Chinese Academy of Sciences dan Chinese Academy of Engineering.  Saat ini, kampus ini dipimpin Profesor Lu Zhaofeng.

CMU terdiri dari 10 sekolah, 14 rumah sakit afiliasi dan 1 lembaga pengajaran. Universitas yang berafiliasi dengan rumah sakit ini memiliki 20.000 staf, lebih 1.000 dosen, dan sekitar 2.000 profesor asosiasi.

Universitas yang memiliki 9.000 mahasiswa aktif ini meliputi berbagai bidang. Di antaranya pelatihan general practitioner, clinical medicine, basic kedokteran, ilmu saraf, ophthalmology, geriatrics, urologi, kardiologi, pain medicine, toksikologi, teknik biomedis, pengobatan tradisional Cina, reproduksi, kebijakan kesehatan, dan sejumlah bidang ilmu kesehatan lainnya.

rektor agung unaya dan prof dong zheBahkan, beberapa bidang yang ada di CMU sudah mendapat pengakuan internasional. Misalnya  neurobiologi, cytobiology, imunologi, kedokteran ikonografi, neurologi, neurosurgery, kardiologi, bedah cardio-vaskular, transplantasi ginjal, penyakit pernafasan, pengobatan pencernaan, bedah oral-maksilofasial, mata, THT dan hematologi anak.

Saat ini, CMU menyelenggarakan program pertukaran internasional yang sangat baik. Memiliki kemitraan dan perjanjian dengan banyak universitas dan institusi dengan lebih dari 20 negara dan wilayah. Kerjasama yang terjalin antara lain seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, pendidikan bersama dan proyek-proyek penelitian bersama.

***

PENINGKATAN kualitas kampus memang perioritas Kadafi. Bekerjasama dengan berbagai perguruan tinggi ternama tentu ditempuhnya. Tak hanya dengan perguruan tinggi dari negara-negara lain, namun juga yang ada di dalam negeri.

Tak cuma dengan kampus-kampus di negeri China, sebelumnya Kadafi sudah menggandeng perguruan tinggi dari Malaysia dan Singapura. Bahkan di dua negara tetangga ini ikatan kerjamasa sudah berjalan dengan baik. Salah satu wujudnya adalah pengiriman mahasiswa D-IV kebidanan untuk studi banding ke National University Hospital Singapura pada 7-10 April 2015.

Wakil Rektor II Universitas Malahayati Lampung, Wahyu Dhani Purwanto MPd mengatakan praktik langsung mahasiswa di Singapura itu sebagai bentuk komitmen menghasilkan bidan-bidan yang tak hanya mampu bersaing di lokal atau nasional tetapi juga internasional. “Kami harapkan mereka mendapatkan pembelajaran dari pengalaman baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga dapat mendukung lulusan sebagai bidan yang profesional,” katanya.

Salah satu mahasiswa yang ikut program itu, Linda Agustina, mengatakan studi banding itu menambah pengalamannya.  “Kami mendapat pengarahan yang baik dan langsung dari perawat senior yang ada di sana, banyak pengetahuan dan pengalaman yang diberikan kepada kami,” kata Linda. Salah satu contohnya, ia bisa melihat langsung bagaimana Singapura sudah tidak menggunakan metode persalinan biasa. “Di sana sudah menggunakan metode persalinan di air dan metode kangaroo setelah anak itu dilahirkan langsung diletakkan di ibu nya,” katanya.

Linda juga melihat bagaimana sistem rumah sakit melayani pasiennya. “Setelah kelahiran anak, pihak rumah sakit berkunjung ke rumah pasiennya,” katanya. Mereka mengajarkan bagaimana cara merawat bayi yang benar, bagaimana cara persalinan itu dapat berjalan normal. “Singapore sendiri tidak dianjurkan untuk minum susu formula, jadi benar-benar menggunakan asi eksklusif,” ujarnya. “Rumah sakit sangat mengutamakan kesehatan, jadi wilayah rumah sakit hanya boleh dikunjungi orang-orang yang steril sekali.”

Lalu bagaimana dengan Universitas Malahayati? Kampus ini juga menjadi tempat studi banding para mahasiswa dari berbagai negara lain. Misalnya, mahasiswa  Cyberjaya University College of Medical Science di Malaysia yang pernah magang di Universitas Malahayati yaitu di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin pada Juli-September 2015. Ada 42 Mahasiswa dan 2 dosen pembimbing yang mengikuti kegiatan paramedic science clinical training, salah satunya Ezam.

Bagaimana pendapatnya tentang Universitas Malahayati? “Di sini kami merasa sedang di rumah sendiri, semuanya baik dan ramah, serta semuanya bekerja sama dengan baik. Bahkan, di sini kami dilayani lebih baik, dan diberikan fasilitas yang mendukung dengan sangat memuaskan di banding saat kami di tempat asal kami,” ujar Ezam. “Semoga Cyberjaya University dan Malahayati bisa terus berkolaborasi dan bisa saling berbagi pengalaman.”

Selain itu di bulan yang sama, Universitas Malahayati kedatangan tamu dari Malaysia, mereka adalah students/mahasiswa Keperawatan dari University Putra Malaysia (UPM). Ada tujuh orang yang datang. Tujuannya untuk praktikum. Kegiatan ini, di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa Malaysia itu melaksanakan kegiatannya di Kelurahan Sumber Sari Bantul Kota Metro.

Sebelum menuju ke lokasi, mereka ke Universitas Malahayati. Mahasiswa Malaysia ini berkeliling kampus, mulai dari ruangan skill lab sampai perpustakaan Universitas Malahayati.  Mereka sangat terkesan sekali ketika melihat fasilitas kampus yang begitu hebat.

Dari Eropa datang Kaye Jujnovich, seorang dekan di Whitireia University, New Zealand, 13 Juni 2015. Kunjungan Kaye Jujnovich perwakilan dari Whitireia ini untuk meneken memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Malahayati. Sebelum meneken MoU, Rektor Kadafi mengajak Kaye berkeliling kampus dan Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin. Kaye melihat sejumlah fasilitas dan penunjang akademik yang dimiliki Universitas Malahayati. Usai melihat kelengkapan fasilitas, Rektor Kadafi mengajak Kaye melihat gedung perpustakaan terpadu.

Kemudian, Kadafi membawa Kaye berkunjung ke Rumah Sakit RS Pertamina-Bintang Amin. Dalam kunjungan ini, ia sempat disuguhi beberapa alat kesehatan yang moderen, seperti CT scan 128 slice, chat lab, dan beberapa alat kesehatan terbaru lainnya. Tidak hanya melihat fasilitas rumah sakit, Kaye juga sempat bertemu dengan lima mahasiswa asing dari Malaysia. Keberadaan lima mahasiswa negeri jiran di RS Pertamina Bintang Amin, program pertukaran mahasiswa.

Usai meninjau beberapa fasilitas yang dimiliki oleh kampus, Kaye bersama rombongan sepertinya kepincut. Ia mewakili pimpinan kampus memutuskan untuk langsung melakukan kerjasama dengan Malahayati, padahal dalam agenda sebelumnya ia hanya berkunjung. Dari kerjasama ini, dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati bisa kuliah di Whitireia University, begitu juga sebaliknya. Kedua kampus juga bisa menjalani penelitian, dan pertukaran karya ilmiah.

***

KEMBALI ke China. Kadafi dan Agung tak hanya berada di Capital Medical University di Beijing, mereka juga diundang menjadi pembicara pada acara “The 2nd Silk Road Higher Education Cooperation Forum” yang berlangsung pada 16-18 Oktober 2015 di China University of Geosciences (CUG), Wuhan, Provinsi Hubei, China. Di sini mereka langsung disambut Professor Yanxin Wang, President of Chinese University of Geosience.

agung dan para rektorKegiatan ini disponsori oleh Silk Road Institute, International Education College of CUG, dan National Natural Science Foundation of China. Forum yang diselenggarakan bersamaan dengan The 2nd International Workshop on Tethyan Orogenesis and Metallogeny in Asia (IWTOMA) ini membahas dan bertukar informasi terbaru tentang evolusi tektonik, metallogeny, geologi minyak bumi, sumber daya air dan bahaya geologi di Asia.

Kegiatan ini adalah kelanjutan dari The 1st Silk Road Higher Education Forum yang diadakan  di China University of Geosciences, Wuhan, pada 12-16 Oktober 2014. Hampir 90 akademik peneliti, administrator dan mahasiswa dari lembaga pendidikan tinggi/universitas dari 15 negara berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Para delegasi disuguhi materi menarik yang disampaikan para rektor (presiden) dan dekan dari universitas terkenal di dunia. Di sini bisa disimak berbagai sudut pandang tentang kerjasama pendidikan tinggi, kualitas dan kemampuan yang diperlukan untuk pemimpin masa depan.

Dari kegiatan ini akan melahirkan berbagai kerjasama yang penting untuk pelatihan dan penelitian.  Dari Indonesia yang menghadiri forum  di China University of Geosciences (CUG) ini ada tiga universitas, selain Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama ada Universitas Indonesia, yang datang langsung rektornya Profesor Dr Ir Muhammad Anis MMet.

CUG adalah universitas negeri di China yang berada langsung di bawah  administrasi Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Cina. Universitas ini ada dua kampusnya, satu terletak di Kecamatan Haidian di Beijing, yang kedua terletak di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei, China. “Universitas ini paling berpengaruh dalam industri pertambangan dan minyak China,” kata Kadafi.

Benar, CUG memang salah satu perguruan tinggi sangat top di China. Salah satu alumni Universitas yang memiliki motto “Being austere and simple, keeping on practice and acting for truth” ini tak lain adalah Wen Jiabao, Perdana Menteri Dewan Negara China, yang terpilih pada 2003. Wen dianggap sebagai tokoh di balik kebijakan ekonomi China. Menjabat selama dua periode, Wen mengakhiri masa jabatannya pada 2013.

wuhan forum 2Rektor Universitas Abulyatama, Agung Efriyo Hadi menjelaskan di forum itu mereka membahas perkembangan “Jalur Sutra”. Ini adalah jalur yang sangat luas membelah dari utara ke selatan meluas dari pusat perdagangan China Utara dan China Selatan. Bahkan rutenya jika dari utara melintas hingga ke Eropa Timur tembus ke Laut Hitam. Jalur selatan sampai ke Laut Tengah, Mesir, dan Afrika Utara.

Penamaan Jalur Sutra sangat berkaitan arus perdagangan sutra di kawasan ini pada abad 19. Dari perdagangan sutra, kemudian berkembang ke berbagai komoditi lainnya, bahkan sampai pengembangan kebudayaan China, India dan Roma, bahkan disebut-sebut sebagai dasar dari dunia modern.

Nah jalur itulah yang hendak dihidupkan lagi oleh China. “Nanti melalui forum Rektor kita memiliki koneksi ke berbagai program yang ada di China itu. Yaitu jaur sutra perguruan tinggi. Artinya bukan saja perguruan tinggi dari China saja di jalur sutra ini, juga negara-negara lain yang berada di sepanjang jalur itu. Artinya kita punya peluang dan koneksi membuka kerjasama perguruan tunggi yang berbeda di lintas jalur sutra,” kata Agung.

jalur sutraKhusus untuk Aceh, kata Agung, memiliki koneksitas yang cukup kuat dengan Jalur Sutra. “Dalam forum rektor saya mengangkat sejarah Aceh Samudra Pasai dulu juga menjadi transit perdagangan jalur sutra yang sekarang letaknya di Lhokseumawe,” katanya. “Demi kemajuan pemuda Aceh, saya katakan sangat menyambut baik program itu. Jadi saya sampaikan juga, bahwa Indonesia itu sangat luas dan Aceh ada dalam Jalur Sutra sejak dulu,” katanya.

Nah, alasan Agung dan Kadafi sangat antusias hadir dalam forum ini memang pula da anilai historisnya. “Berbasis historis, di masa depan kerjasama akan lebih baik,” katanya.

Itulah sebabnya, Kadafi bilang sangat tepat menuntut ilmu meski sampai ke negeri China. “Seperti petuah dalam hadis Nabi Muhammad SAW,” katanya. []

Mahasiswa Unaya Belajar ke Beijing? Ini Penjelasan Rektor Agung

LAAWATAN Rektor Universitas Abulyatama (Unaya) Ir R Agung Efriyo Hadi PhD ke negeri China membawa dampak yang bagus bagi mahasiswanya. Kini telah terbuka ruang bagi mahasiswa Universitas Abulyatama untuk menimba ilmu di negeri Tirai Bambu itu. Salah satunya adalah kesempatan belajar di Capital Medical University yang berada di kota Beijing, ibukota negera China.

Agung berkunjung ke China bersama Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH, Wakil Rektor Wahyu Dhani Purwanti MPd, dan Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki.

Nah, dalam sebuah pertemuan dengan tim dari Capital Medical University yang dipimpin Profesor Zhe Dong, di kampus itu pada 16 Oktober 2015. Dari sinilah terbuka sebuah peluang yang menarik, yaitu belajar ke kampus yang ternama di China ini.

Bagaimana detailnya? Berikut petikan wawancara wartawan abulyatama.ac.id dengan Rektor Agung Efriyo Hadi yang berlangsung di Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin, Bandar Lampung, Kamis 22 Oktober 2015.

Perjalanan ke China, Beijing dan Wuhan, itu apakah bagus untuk Universitas Abulyatama?

Oh ya, jadi rombongan kita, Unaya (Universitas Abulyatama) dan Malahayati (Universitas Malahayati) ke China itu mempunyai dampak yang besar. Jadi dari situ kita bisa memperoleh beberapa kesepakatan yang positif.

Misalnya, tahun depan kita sudah bisa mengirimkan mahasiswa di sini untuk belajar di sana. Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.

Tentu kesempatan ini kita berikan bagi mereka yang berprestasi, menjaga nama baik kampus, juga nama baik Indonesia. Sebab bagaimana pun mahasiswa yang akan ke China nantinya tetap saja membawa nama negara, mereka di sana dengan wajah kampusnya.

Maksudnya, kesempatan ini bisa diperoleh di Capital Medical University?

Iya. Sebenarnya kita semula hanya meminta pada mereka untuk diberi kesempatan dalam bentuk belajar yang singkat saja. Namun mereka menawarkan dalam bentuk lebih luas, berupa SKS. Jadi bisa sampai tiga bulan belajar di CMU (Capital Medical University).

Semua itu kitta jalani untuk peningkatan di kampus kita juga. Kita juga hendak ingin menunjukkan kepada mahasiswa proses akademik kita itu tiada henti-hentinya kita mengembangkannya. Yang punya talenta punya kualitas punya mutu, mereka harusnya terpacu dengan potensi keilmuaannya. Itu menjadi kunci bagi mereka.

Bisa digambarkan lebih detail manfaatnya mengambil kesempatan belajar ke negeri China itu?

Yang paling utama mereka punya wawasan global. Misalnya dalam konteks economic asean itu dampaknya luar biasa, mereka punya interaksi di kawasan asian aja, nantinya tidak ada lagi batas negara untuk hubungan perdagangan. Dalam tatanan lebih luas, mereka akan terbuka .

Seperti pengalaman ketika berkunjung ke sana, kita bisa melihat karakteristik pendidikan di China. Di sana fakultas kedokteran tidak mempersoalkan latar belakang pendidikan mahasiswanya, apakah itu IPA atau IPS tak menjadi persoalan.

Begitu kebijakan mereka. Tapi yang saya tangkap adalah pendidikan di China ternyata sudah lebih maju karena mereka yakin akan prosesnya berjalan dengan baik. Sehingga latar belakang apapun selama mereka bisa mengikuti proses dengan baik maka tidak jadi persoalan.

Beda dengan di Indonesia, basic atau dasar sangat menentukan, karena kita semua tahu basic atau dasar kita belum terlalu kuat. Sehingga pola pikir anak IPS kita pandang agak berbeda dengan pola pikir anak IPA, sehingga dasar-dasar itulah yang menjadi pijakan pengambil keputusan. Sementara ya sudah anak IPA dulu yang bisa masuk ke Fakultas Kedokteran. Tapi secara global sebenarnya bisa-bisa saja seperti yang di China itu.

Apakah yang kita bicarakan ini yang diterapkan di Capital Medical University?

Iya, mereka mempunyai 22 rumah sakit pendidikan. Jadi mau apalagi kita mau bantah?  Prestisenya kan luar biasa. Nah itulah sehingga jika mahasiswa Indonesia belajar di sana jadi nggak kaget, ternyata mereka bisa diterima di semua bidang yang luar biasa, ini akan menambah kepercayaan diri mahasiswa kita.

Apakah mungkin mereka membuka kelas internasional di sini?

Kalau itu mungkin masih menjadi isu yang dibicarakan dilevel Pemerintah, karena kebijakan kitakan sama saja kelas jauh, jadi yang kita lakukan adalah mensiasatinya dengan kerjasama SKS.

Jadi kalau mereka buka kampus di sini membuat kelas jauh  maka jadi ambigu dengan kebijakan-kebijakan Pemerintah. Di sisi lain, kita menjadi seperti dijajah dalam pendidikan. Saya juga kurang setuju kalau mereka membuka cabang di sini tetapi kalau kerjasama boleh.

Soal ini juga rentan isu di masyarakat. Terutama dalam hal nilai-nilai, mereka akan membawa nilai-nilai mereka. Sedangkan nilai-nilai kita adalah Indonesia. Kita harus pertahankan. Itulahmengapa saya tidak setuju jika mereka membuka cabang di Indonesia. Tapi kalau berkolaborasi trasfer kredit boleh. Sama penelitian boleh. Karena karakteristik bangsa harus kita jaga sendiri.

Apakah ada syarat-syarat khusus bagi mahasiswa yang akan dikirim ke Capital Medical University nantinya?

Tentu mereka harus memiliki prestasi yang cemerlang ya. Selain itu, mereka jelas wajib bisa berbahasa asing, seperti bahasa Inggris, dan juga belajar bahasa Mandarin. Saya pernah bertanya pada CMU apakah mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia mengalami kesulitan dalam berbahasa Mandarin?

Mereka katakan tidak ada. Bahkan tiga bulan mahasiswa Indonesia yang belajar di CMU sudah bisa berbahasa Mandarin, bahkan sudah mampu menulis arikel dalam bahasa Mandarin. Artinya soal itu tak menjadi kendala sama sekali. []

Forum Seperti Inilah yang Dihadiri Rektor Unaya di Hubei-China

THE 2nd Silk Road Higher Education Cooperation Forum telah berlangsung pada 16-18 Oktober 2015 di China University of Geosciences (CUG), Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kegiatan ini disponsori oleh Silk Road Institute, International Education College of CUG, dan National Natural Science Foundation of China.

Forum yang diselenggarakan bersamaan dengan The 2nd International Workshop on Tethyan Orogenesis and Metallogeny in Asia (IWTOMA) ini membahas dan bertukar informasi terbaru tentang evolusi tektonik, metallogeny, geologi minyak bumi, sumber daya air dan bahaya geologi di Asia.

Kegiatan ini adalah kelanjutan dari The 1st Silk Road Higher Education Forum yang diadakan  di China University of Geosciences, Wuhan, pada 12-16 Oktober 2014. Hampir 90 akademik peneliti, administrator dan mahasiswa dari lembaga pendidikan tinggi/universitas dari 15 negara berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Para delegasi disuguhi materi menarik yang disampaikan para rektor (presiden) dan dekan dari universitas terkenal di dunia. Di sini bisa disimak berbagai sudut pandang tentang kerjasama pendidikan tinggi, kualitas dan kemampuan yang diperlukan untuk pemimpin masa depan.

Dari kegiatan ini akan melahirkan berbagai kerjasama yang penting untuk pelatihan dan penelitian.  Di forum seperti itulah yang dihadiri Rektor Universitas Abulyatama Ir R Agung Afriyo Hadi PhD. Bersamanya turut hadir Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH dan Wakilnya Wahyu Dhani Purwanti MPd.

Bahkan acara itu juga dihadiri Rektor Universitas Indonesia Profesor Dr Ir Muhammad Anis MMet.

Berikut foto-foto kegiatan di forum itu:

wuhan forum 2wuhan forum 3wuhan forum 1wuhan forum 4wuhan forum 5

Di Wuhan, Rektor Unaya Kunjungi Kampus Paling Top di China

REKTOR Universitas Abulyatama Ir R Agung Efriyo Hadi MSc PhD kemarin berkunjung ke Wuhan, China. Ia bersama Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Khadafi SH MH dan Wakil Rektor Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd, menghadiri  undangan acara bertajuk “2nd Silk Road Education Cooperation Forum” yang berlangsung di Octagon Conference Hall, China University of Geosciences (CUG), Wuhan, Hubei, China.

CUGCUG adalah universitas negeri di China yang berada langsung di bawah  administrasi Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Cina. Universitas ini ada dua kampusnya, satu terletak di Kecamatan Haidian di Beijing, yang kedua terletak di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei, China.

Menghadiri acara itu, kata Rektor Kadafi, sangat penting bagi Universitas Malahayati. Apalagi ini adalah universitas yang khusus membidangi geosains yang paling top di China. “Universitas ini paling berpengaruh dalam industri pertambangan dan minyak China,” kata Kadafi kepada malahayati.ac.id tadi siang.

Benar, CUG memang salah satu perguruan tinggi sangat top di China. Salah satu alumni Universitas yang memiliki motto “Being austere and simple, keeping on practice and acting for truth” ini tak lain adalah Wen Jiabao, Perdana Menteri Dewan Negara China, yang terpilih pada 2003.

wen jiabaoWen sangat populer di mata rakyatnya hingga ia digelar “perdana menteri rakyat”. Bersuara lembut dan memiliki etos kerja yang kuat, Wen dianggap sebagai tokoh di balik kebijakan ekonomi China. Menjabat selama dua periode, Wen mengakhiri masa jabatannya pada 2013.

Secara terpisah, Rektor Universitas Abulyatama, Ir R Agung Efriyo Hadi MSc PhD, menjelaskan kunjungan ke CUG, Wuhan-Hubei, terlaksana setelah selesainya acara di Capital Medical University di Beijing. “Kami tiba di Wuhan via kereta cepat dari Beijing pukul 07.00 pagi. Dengan kecepatan 304 km/jam, jarak antara Beijing dan Wuhan yang mencapai 1500 kilometer (sama dengan jarak Bandar Lampung-Banda Aceh) hanya ditempuh lima jam,” kata Agung.

pembicara di hubeiAgung menjelaskan, mereka berangkat ke Wuhan bertiga. Selain Rektor Kadafi, ada wakil Rektor Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd. “Kami dijemput oleh panitia. Kemudian langsung ke ruang conference. Di sini kami disambut Professor Yanxin Wang, ia adalah President of Chinese University of Geosience. Presiden itu adalah sebutan untuk rektor di perguruan tinggi itu,” kata Agung.

Pada acara itu yang menjadi pembicara ada sembilan universitas. Dari Indonesia ada tiga, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Malahayati, dan Universitas Abulyatama. Selain itu semuanya dari negara lain (lihat daftar pembicara dan materinya). []

(Foto) Kunjungan Rektor Abulyatama ke CMU Beijing

PERTEMUAN tim Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama dengan tim dari Capital Medical University (CMU) di Beijing, China, Jumat 16 Oktober 2015, menghasilkan kesepakatan yang menarik. “Kita akan bekerjasama dalam bidang exchange student, short course program,” kata Wakil Rektor Universitas Malahayati, Wahyu Dhani Purwanto MPd, kepada malahayati.ac.id melalui saluran telepon internasional.

Wahyu mendampingi Dr Muhammad Kadafi SH MH dalam lawatannya ke Beijing untuk memenuhi undangan dari Capital Medical University itu. Bersama Wahyu ada juga Rektor Universitas Abulyatama-Aceh Ir R Agung Efriyo Hadi MSc PhD dan Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (Badan Hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki.

Di kampus ternama di Beijing itu, mereka disambut oleh Prof Dong Zhe , Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University

Berikut adalah foto-fotonya.

Abulyatama-Malahayati Jalin Kerjasama dengan CMU Beijing

PERTEMUAN tim Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama dengan tim dari Capital Medical University (CMU) di Beijing, China, Jumat 16 Oktober 2015, menghasilkan kesepakatan yang menarik. “Kita akan bekerjasama dalam bidang exchange student, short course program,” kata Wakil Rektor Universitas Malahayati, Wahyu Dhani Purwanto MPd, kepada abulyatama.ac.id melalui saluran telepon internasional selepas magrib tadi.

Wahyu mendampingi Dr Muhammad Kadafi SH MH dalam lawatannya ke Beijing untuk memenuhi undangan dari Capital Medical University itu. Bersama Wahyu ada juga Rektor Universitas Abulyatama-Aceh Ir R Agung Efriyo Hadi PhD dan Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (Badan Hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki.

Di kampus ternama di Beijing itu, mereka disambut oleh Prof Dong Zhe , Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University bersama dua stafnya. Mereka melangsungkan pertemuan di meeting room lantai dua gedung kampus itu. “Dari pertemuan itulah muncul kesepakatan untuk kerjasama,” kata Wahyu.

Kerjasama juga terjalin dengan Universitas Abulyatama. Rektor Universitas Abulyatama Agung Efrino membenarkan informasi itu. Agung berharap, kerjasama ini akan mampu meningkatkan semangat belajar para pengajar dan mahasiswa. Sehingga kerjasama ini akan terjalin dengan mulus.

Capital University of Medical Sciences, juga dikenal sebagai CUMS, CCMU atau CMU, adalah sebuah universitas di Beijing, China. Berdiri pada 1960, Capital Medical University (CMU) semula bernama Beijing Second Medical College yang dipimpin Profesor Wu Jieping, seorang urolog terkenal di dunia, orang kedua di Chinese Academy of Sciences dan Chinese Academy of Engineering.  Saat ini, kampus ini dipimpin Profesor Lu Zhaofeng.

CMU terdiri dari 10 sekolah, 14 rumah sakit afiliasi dan 1 lembaga pengajaran. Universitas dan rumah sakit yang berafiliasi memiliki staf sekitar 20.000. Di antaranya, ada 6 anggota Akademi Ilmu Pengetahuan China atau Chinese Academy of Engineering, lebih dari 1.000 dosen, dan lebih dari 2.000 profesor asosiasi. Universitas ini memiliki lebih dari 9.000 siswa.

Bahkan, beberapa bidang yang ada di CMU sudah mendapat pengakuan internasional. Misalnya  Neurobiologi, Cytobiology, Imunologi, Kedokteran Ikonografi, Neurologi, Neurosurgery, Kardiologi, Bedah Cardio-vaskular, Ginjal Transplantasi, Penyakit Pernafasan, Pencernaan Pengobatan, Oral-maksilofasial Bedah, Mata, THT dan Hematologi anak.[]

Duta Wisata Favorit Banda Aceh Ini Mahasiswa Kedokteran Unaya

PEMUDA yang periang dan ramah ini tidak asing lagi di mata mahasiswa Universitas Abulyatama. Maklumlah, mahasiswa fakultas kedokteran itu memang menjadi buah bibir. Soalnya, pemilik nama lengkap Bahrul Anwar ini adalah Duta Wisata Favorit Kota Banda Aceh periode 2014/2015.

Bertemu dengan wartawan abulyatama.ac.id di kampus Universitas Abulyatama, Lampoeh Keudee, Aceh Besar, kemarin, Arul –begitu ia biasa disapa– bicara tentang berbagai hal. Termasuk ia mengisahkan keluarganya.

Ramaja bertubuh ramping ini adalah putra sulung dari pasangan Syaharuddin – Quratul Aini. Arul memiliki dua adik. Ia lahir di besar di Kampung Keuramat, Banda Aceh.

Usai menamatkan sekolah lanjutan atas di SMU 2 Banda Aceh, Arul pernah menduduki kursi di salah satu perguruan tinggi di Bandung sebagai mahasiswa akuntansi.

Namun, ia memang memiliki jiwa seorang dokter yang mengalir dari darah ibunya yang memang seorang dokter di Banda Aceh. Itulah sebabnya, Arul berhenti menjalani kuliah akuntansi dan beralih ke jalur jiwanya. Ia memilih Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatamapada 2013 dan dipercayakan untuk menjadi pemimpin angkatannya sendiri.

Pada 2014, ia mengikuti perlombaan Duta Wisata Banda Aceh, dan Arul terpilih menjadi Agam Favorit untuk periode 2015/2016 dan selain dari itu Arul juga telah banyak mengikuti kegiatan seni salah satunya Persemida pada 2013.

Sebetulnya, ketika mengikuti kontes itu, ia belum mempersiapkan diri menjadi duta wisata favorit. “Semua itu terjadi secara kebetulan saja. Teman-teman mengajak, dan Alhamdulillah terpilih menjadi salah seorang duta wisata favorit,” katanya.

Prestasi Arul di luar kampus tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Universitas Abulyatama. Arul juga memiliki harapan pada teman-teman sekampusnya, yaitu agar terus belajar, dan berkarya. “Semua pribadi mahasiswa bisa lebih semangat untuk membangkitkan citra positif kampus hijau tercinta dan bisa memperkenalkan Unaya tak hanya di lingkup masyarakat sekitar bahkan ke tingkat nasional serta ke tingkat yang lebih tinggi lagi,” ujarnya.[]

Hari Ini, Mira Kusuma Bentuk Panitia PKMB

Universitas Abulyatama (Unaya), Aceh Besar, saat ini sedang mempersiapkan kegiatan Pembinaan Karakter Mahasiswa Baru (PKMB). Bahkan, tahun ini mahasiswa kembali dipercaya untuk menjadi penyelenggara PKMB. Tahun lalu, kegiatan ini juga dilaksanakan oleh mahasiswa.

Hari ini, para mahasiswa di Unaya telah memilih Ketua Panitia PKMB, yaitu Mira Kusuma sebagai Menteri Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PSDM) PEMA Unaya. Ia adalah mahasiswi semester lima Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama.

Usai terpilih menjadi ketua, hari ini Mira Kusuma juga langsung memimpin rapat mempersiapkan acara pembentukan panitia Pembinaan Karakter Mahasiswa Baru (PKMB) tahun 2015.

PKMB rencananya dilaksanakan pada 14-16 September 2015. Selama tiga hari tersebut  diharapkan dapat mencakup pengenalan terhadap sistem pembelajaran di Universitas Abulyatama, baik dari rektorat, biro, prodi maupun kemahasiswaan.

Mira Kusuma menjelaskan bahwa kegiatan PKMB tahun ini adalah untuk mengenalkan mahasiswa baru dengan Universitas Abulyatama. “Konsep PKMB tahun ini mengangkat tema “Revitalisasi Mahasiswa Beretika, Cerdas, Berkarakter serta Berjiwa Sosial,” kata Mira.

Kemudian Mira menjelaskan nantinya mahasiswa lebih diarahkan dalam menonjolkan etika yang baik, mampu berfikir kritis dan memiliki keahlian akademik.

Kemudian Mira selaku ketua panitia menegaskan PKMB tahun ini sama dengan PKMB tahun lalu yang akan tetap menjaga ketertiban dalam pelaksanaan PKMB untuk menghindari pelanggaran atas norma, dan etika. Juga disebutkan bahwa tidak ada kekerasan fisik atau mental dalam pelaksanaan PKMB tersebut.

Mira juga menjelaskan bahwa persiapan PKMB sudah matang. “Tinggal mempersiapkan panitia dan mentor dan nantinya juga akan dilantik agar panitia dan mentor akan lebih siap,” ujarnya

Tahun ini, Mira juga lebih tertantang dalam mempersiapkan acara PKMB agar lebih sukses. “Tantangannya saya wanita dan harus memimpin semua anggota saya dalam kepanitiaan yang dominan pria,” katanya.

Mira adalah mahasiswa semester 5 Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama dikenal dengan kepribadian yang ramah dan murah senyum.[]

 

Rektor Kadafi Memutar Memori Tentang Rusli Bintang

“JIKA diibaratkan manusia, Universitas Malahayati kini melangkah menuju kedewasaan, ia sudah mengarungi dan melalui jiwa kekanak-kanakan dan juga masa remaja yang penuh gejolak dalam mencari jati diri,” kata Rektor Universitas Malahayati, Dr Muhammad Kadafi SH MH, pada pidato malam puncak Dies Natalis Universitas Malahayati di Graha Bintang, tadi malam.

Pernyataan Kadafi itu disampaikan di hadapan seluruh dosen, mahasiswa, karyawan, dan juga keluarganya yang hadir pada malam itu. Suasana terasa hening tatkala Kadafi mengajak semua untuk sejenak memotar memori ke titik awal berdirinya Universitas Malahayati pada Jumat 27 Agustus 1993.

Keliharan sebuah kampus di Bandar Lampung dari seorang “bidan” bernama H. Rusli Bintang yang juga lahir pada hari Jumat pada 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Rusli yang menjadi bidan, melahirkan, dan kemudian membesarkan Universitas Malahayati.

Berawal dengan merangkak-rangkak dari beberapa ruko di Jalan Kartini, kini kampus ini berdiri megah di Jalan Pramuka Nomor 27, Bandar Lampung. Berada dalam lahan 84 hektare, di sini berdiri sejumlah gedung berlantai delapan.

Beragam fasilitas ada di sini, mulai dari fasilitas akademik seperti lab kesehatan hingga non akademik seperti sarana olah raga. Bahkan, ada rumah sakit yang melengkapinya yaitu Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin. Hingga kini Rusli masih sangat perhatian pada kampus ini.

Sedikit saja kampus ini meriang, maka Rusli akan merasakan demam, dan menjalar ke berbagai sendi-sendi kehidupannya. Bahkan ia juga pontang-panting mencari obat mujarab agar kita tetap segar.

Ia telah membuat tonggak dalam kehidupannya. Mendirikan sebuah menara kehidupan bagi jutaan orang, yaitu untuk dunia pendidikan dan juga anak-anak yatim. Sebuah menara kehidupan yang diisi dengan cinta kasih antar sesama manusia dan lingkungannya.

Itulah sebabnya, Kadafi mengajak semua untuk merenungi kilas balik jerih payah yang sudah dilakukan oleh semua tokoh-tokoh kampus agar bisa melangkah ke depan dengan mantap.

***

“PAK Rusli Bintang adalah orang tua kita bersama. Beliau membangun kampus ini dan juga beberapa kampus lainnya, bukanlah untuk kepentingan pribadi, tetapi adalah untuk pengabdian beliau dalam menjalani kehidupan. Itulah sebabnya, semua kampus yang didirikannya selalu mengutamakan kepentingan sosial, terutama untuk menyantuni anak-anak yatim.”

Kalimat itu juga dari Kadafi. Hanya saja itu disampaikannya pada Senin 17 Agustus 2015. Saat itu, Universitas Malahayati sedang memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-70, yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan HUT Universitas Malahayati.

Suasana pembukaan HUT Malahayati memang terasa lebih merasuk, sebab dilakukan di dekat Danau Yatim Universitas Malahayati, berlangsung sederhana, makan bersama di bawah tenda yang tersusun di jalan tepi danau. Kadafi mengatakan yang paling penting dari dies natalis ini tak lebih adalah sebuah perenungan dari sebuah perjalanan panjang kampus ini.

“Jejak kampus ini tak lepas dari langkah-langkah yang sudah ditempuh Pak Rusli. Jika kita lihat langkah-langkah yang ditempuhnya, tentu tak bisa kita cerna dengan logika sederhana. Bagaimana ia yang anak yatim, hanya sekolah tamatan SMA, namun bisa mendirikan empat kampus di berbagai daerah,” katanya.

Sejenak Kadafi menceritakan riwayat hidup Rusli Bintang. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga sederahana dan bahagia. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Dari ayahnya yang berjiwa sosial, dan sang ibu yang penyayang itulah tertanam rasa kasih sayang pada sesama.

Namun di saat usianya yang masih belia, Allah berkehendak lain. Bintang kembali kepangkuan Ilahi, tinggallah Rusli bersama ibunya dan enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Waktu itu, Rusli masih duduk di kelas satu SMA Muhammadiyah.

Sejak itu, Rusli menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja serabutan untuk membantu adik-adiknya bersekolah.

Hingga kemudian, ia menerima cobaan lagi, tatkala seorang adiknya, Darmawan Bintang, meninggal dunia lantaran stres tak bisa ikut ujian akhir sekolahnya di SMP Iskandar Muda, pada 1970. “Waktu itu, ia membutuhkan biaya sekolah hanya seribu rupiah. Saya minta waktu untuk mencarinya, saat uang saya dapatkan, adik saya sudah terlanjur sakit lantaran memikirkan sekolahnya,” katanya.

Melihat sang adik tergolek lemah di atas tikar. Anak yatim ini membopongnya membawa ke puskesmas terdekat. Rumah Rusli di Lampoh Keudee adalah kawasan perkampungan, saat itu kendaraan umum tak ada yang masuk kampung.

Jadilah Rusli menggendong adiknya untuk dibawa ke puskemas. Ia berjalan kaki berlari-lari membawa adiknya. Bahkan dalam perjalanan, pungung Rusli sudah dipenuhi kotoran dan muntah sang adik yang sakit parah. Setibanya di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi.

Sejak itu Rusli bertekad untuk mengubah nasib anak-anak yatim. Maka berbagai kerja dilakoninya, Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Hingga kemudian Rusli menjadi pengusaha konstruksi dengan menggunakan CV Desa Jaya pada 1977. Setahun kemudian, ia sudah memiliki perusahaan sendiri bernama CV Kumita Karya. Badan usaha ini, ditingkatkan statusnya menjadi badan hukum PT Kumita Karya pada 1979.

Setahun bersama PT Kumita Karya, Rusli sudah menyantuni 750 anak yatim di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Bisnis Rusli berkembang dengan pesat, bahkan menjadi satu-satunya pengusaha angkutan yang dipercaya menjadi pendistribusi semen hasil produksi PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis.

Sukses berbisnis tak membuat Rusli melupakan janji, lalu ia mendirikan Yayasan Abulyatama pada 1983. Dari sinilah ia kemudian mendirikan sekolah dasar, SMP, SMA, dan Pesantren Babun Najah di Ulee Kareng Banda Aceh. Hingga kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di Lampoh Keudee, Aceh Besar. Kampus ini kini sangat berkembang, dan berbagai fasilitas berada dalam lahan seluas 54 hektare.

Sebagaimana arti dari nama Abulyatama, maka Rusli pun menjadi ayahnya anak-anak yatim. Ia menyantuni anak yatim, menyekolahkan mereka, bahkan menampungnya bekerja di seluruh unit usaha yang didirikannya.

Kemudian, Rusli mendirikan Universitas Malahayati dengan badan hukum Yayasan Alih Teknologi di Bandar Lampung. Selanjutnya ia membangun Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

***

Di atas mimbar yang berada di sudut kiri panggung di Graha Bintang, Kadafi masih melanjutkan pidatonya. Ia mengatakan perjalanan panjang Universitas Malahayati tentu diwarnai berbagai dinamika.

Seperti halnya manusia, dalam sejarah peradabannya sering dipenuhi berbagai pertentangan dan sinergi. Laksana dua buah kutub medan magnet yang menimbulkan daya tolak satu sama lain atau dua muatan listrik yang saling tarik menarik yang menghasilkan energi, lalu dari sini bisa menjadi penerangan atau kerusakan.

“Pertanyaannya adalah bagaimana kita tetap menjaga dua muatan listrik ini tetap saling tarik menarik dan menghasilkan penerangan bagi kampus ini?” Kadafi bertanya.

Di kampus Universitas Malahayati ada ribuan orang dengan berbagai pola fikir yang berbeda-beda, dan juga sifat dan karakter yang beragam. Jadi, kata Kadafi, dari sini bisa menghasilkan sebuah energi besar untuk mendorong Universitas Malahayati menjadi lembaga pendidikan yang sangat diperhitungkan. “Intinya, adalah menyatukan pikiran ke arah yang positif,” katanya lagi.

“Saya percaya pada kekuatan berpikir ini. Jika kita sama-sama memadukan kekuatan berpikir, melahirkan ide-ide positif, dan kemudian mewujudkannya, maka Insya Allah akan berwujud pada sebuah makna kehidupan yang bernilai tinggi di Universitas Malahayati ini,” kata Kadafi.

Lalu, Kadafi mengajak seluruh civitas akademika untuk menghadirkan refleksi dari perjalanan kampus ini, atau yang paling singkat adalah perjalanan per individu kita di kampus ini.

Benar, refleksi dalam ilmu eksak adalah perubahan arah rambat cahaya ke arah sisi asalnya, setelah menumbuk antarmuka dua medium. Refleksi dalam kehidupan adalah proses merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan, tujuannya untuk mendapatkan kekuatan dalam melangkah ke depan.

Filsuf Yunani, Socrates, menyebutkan “hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi.” Mari kita merenungkannya, dan mari kita merasa-rasakannya, dan marilah kita wujudkan cita-cita kita bersama.

Cita-cita untuk mewujudkan makna keberadaan kita di Universitas Malahayati. Lalu, kita bisa mewujudkan makna keberadaan Universitas Malahayati di negeri ini. Dari sini, bisa menilai seperti apa sebenarnya diri kita ini.

Apakah kita sosok yang memancarkan cahaya yang menerangi kehidupan, atau kita adalah penyebab kegelapan. Mari merenungkannya. []