Posts

Selintas Cerita Rusli Bintang Membangun Kampus

Tak hanya menyediakan fasilitas yang serba lengkap, sebuah perguruan tinggi juga wajib mendapat dukungan kualitas akademik. Perpaduan inilah yang sangat dibutuhkan untuk menciptakan kampus yang mampu melahirkan sarjana bermutu.

Ternyata, bagi H Rusli Bintang, dua hal itu belum cukup. Ia juga menekankan penguatan akhlak dan jiwa religius bagi mahasiswa yang kuliah di seluruh perguruan tinggi yang didirikannya. “Pintar saja tidak cukup. Ia harus memiliki aklak yang baik agar dia berguna bagi lingkungannya,” kata Rusli kemarin di kampus Universitas Batam.

Ia sudah mendirikan empat kampus. Di antaranya adalah Universitas Abulyatama-Aceh, Universitas Malahayati-Lampung, Universitas Batam-Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia-Jakarta.

“Kita tak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, para mahasiswa juga dibekali kedisplinan, etika, dan religi,” kata Dr Muhammad Kadafi SH MH, Rektor Universitas Malahayati.

Pengemblengan nilai-nilai humanis dilakukan melalui pembinaan anak-anak yatim yang memang masuk dalam statuta universitas. Bentuk kepedulian pada anak-anak yatim ini misalnya bagi rektor minimal harus membina 12 anak yatim, wakil rektor 10, dekan 8, kepala jurusan 6, dosen 4, karyawan 2 dan 1 anak untuk mahasiswa.

Soal akademik, Rusli selalu meminta para rektor di kampus untuk terus meningkatkan kualias. “Termasuk di antaranye bekerjasama dengan kampus-kampus yang bagus di Indonesia. Bahkan juga mereka perlu melihat ke kampus-kampus di luar negeri untuk melihat seperti apa mereka membangun sebuah pendidikan tinggi yang berkualitas,” kata Rusli.

Salah satunya adalah kunjungan seluruh rektor di empat kampusnya ke Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Senin 27 Juni lalu. Bahkan kunjungan ini menghasilkan sebuah kesepakatan kerjasama dengan USU.

Kegiatan ini berlangsung di Biro Rektorat USU Medan, pada Selasa 22 Juni lalu. “Ini adalah wujud keseriusan Universitas Malahayati untuk terus meningkatkan kualitasnya,” kata Dr Kadafi. Seluruh rektor dari kampus-kampus itu ikut hadir dalam proses penandatanganan kerjasama ini. Bahkan dari USU langsung rektornya yaitu Prof Dr Runtung Sitepu SH MHum.

Adapun rektor lainnya adalah Dr. Muhammad Kadafi SH MH (Rektor Universitas Malahayati), Prof Novirman Jamarun (Rektor Universitas Batam), Ir R Agung Efriyo Hadi MSc PhD (Rektor Universitas Abulyatama), dan Prof Umar Fahmi Achmadi dr MPH PhD (Rektor IKI Jakarta).

Prof Runtung Sitepu, dalam sambutannya, menjelaskan bahwa kerjasama ini adalah lanjutan dari kerjasama terdahulu.  “Sebelumnya, kerjasama antara USU dan Uniba (Universitas Batam) sudah terjalin saat USU dipimpin Rektor Prof. Syahril Pasaribu,” katanya. Kerjasamanya adalah untuk meningkatkan pendidikan di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) Sumatera Utara.

Kerjasama itu bertujuan untuk pengembangan institusi dan peningkatan program kedua belah pihak. Selain itu, kerjasama ini juga untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang selanjutnya akan memberi nilai tambah pada mahasiswa, dosen, mapupun pihak lain.

Kali ini, USU memperluas wilayah kerjasama dengan lima universitas itu, yaitu melaksanakan segala bentuk kegiatan penelitian di semua bidang Ilmu pengetahuan, termasuk kegiatan publikasi karya ilmiah hasil penelitian; dan melaksanakan segala bentuk kegiatan pengabdian masyarakat, serta segala bentuk kegiatan lainnya berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Mewakili lima perguruan tinggi itu, Dr Kadafi menyatakan sangat berterimakasih pada USU. “Kami tentu sangat bangga. USU adalah salah satu universitas terbaik di Indonesia. Kepercayaan ini tentu harus kami jawab dengan terus meningkatkan kualitas kampus,” kata Dr Kadafi.

Dr Kadafi menambahkan, “selama ini kami memang selalu berbebah diri, meningkatkan berbagai sarana dan prasarana akademik dan pendukungnya. Kita harus mengikuti perkembangan zaman yang selalu menuntut berbagai perbaikan dan perubahan.”

Selain itu, Dr Kadafi juga yang memimpin rombongan dari seluruh kampus ini mengunjungi dua kampus di China, 16 Oktober tahun lalu. Salah satu perguruan tinggi yang dikunjungi adalah Capital Medical University, Beijing, China. Waktu itu Dr Kadafi datang bersama Rektor Universitas Abulyatama R Agung Efriyo Hadi PhD. Dua rektor ini ditemani Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki dan Wakil Rektor Universitas Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd.

Tentu saja Dr Kadafi berkunjung ke sini mewakili seluruh kampus yang didirikan Rusli Bintang. Mereka diterima Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University, Profesor Dong Zhe.

Pertemuan hangat menjelang petangitu menghasilkan kesepakatan yang cukup bagus . “Kita bisa mengirim mahasiswa ke kampus ini untuk belajar,” kata Agung Efriyo Hadi. “Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.”

Tak cuma dengan kampus-kampus di negeri China, sebelumnya Kadafi sudah menggandeng perguruan tinggi dari Malaysia dan Singapura. Bahkan di dua negara tetangga ini ikatan kerjamasa sudah berjalan dengan baik. Salah satu wujudnya adalah pengiriman mahasiswa D-IV kebidanan untuk studi banding ke National University Hospital Singapura pada 7-10 April 2015.

Dari Eropa datang Kaye Jujnovich, seorang dekan di Whitireia University, New Zealand, 13 Juni 2015. Kunjungan Kaye Jujnovich perwakilan dari Whitireia ini untuk meneken memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Malahayati. Dari kerjasama ini, dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati bisa kuliah di Whitireia University, begitu juga sebaliknya. Kedua kampus juga bisa menjalani penelitian, dan pertukaran karya ilmiah.

Tak hanya kerjasama dengan berbagai kampus. Beasiswa untuk dosen-dosen yang memiliki kemampuan juga dilakukan. Memang untuk soal meningkatkan kualitas bukan pekerjaan yang semudah membalik telapak tangan, namun upaya itu terus dilakukan. Itu belum lagi dengan menguatkan dengan menyediakan berbagai fasilitas di kampus-kampusnya.

Saat ini, misalnya, Rusli Bintang sedang merombak total kampus di Universitas Batam. Dari semula hanya ada beberapa gedung di lahan 10 hektar di kawasan Batam Center. Kini pembangunan sedang berjalan hampir memenuhi seluruh areal. Selain fasilitas untuk apartemen mahasiswa, gedung perpustakaan, laboratorium, dan sarana olahraga seperti lapangan golf, juga sedang didirikan sebuah rumah sakit di kampus ini.

Sebelumnya ia sudah membangun sarana yang sangat lengkap di Universitas Malahayati di Bandar Lampung. Di sini juga lengkap dengan rumah sakit, begitu juga dengan Universitas Abulyatama di Banda Aceh. Di sana juga sudah ada rumah sakit. Rusli menggandeng Pertamina untuk menjaga kualitas rumah sakitnya. Itulah sebabnya nama rumah sakitnya, misalnya di Bandar Lampung, adalah Pertamina-Bintang Amin, di Banda Aceh bernama Pertamedika Ummi Rosnati.

Ini baru cerita sepintas upaya Rusli Bintang membangun dunia pendidikan. []

Gubernur Aceh: Rusli Bintang Patut Jadi Teladan

Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah menyatakan kebanggaannya pada H. Rusli Bintang, pendiri Universitas Abulyatama, Lampoh Keudee, Aceh Besar. “Rusli Bintang adalah sosok yang patut menjadi teladan kita bersama,” kata Gubernur Zaini dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekretaris Daerah Aceh, Dharmawan, di Aula Universitas Malahayati, Minggu 5 April 2015.

Gubernur Aceh menyampaikan sambutannya pada kunjungan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir ke Universitas Abulyatama (Unaya). Kunjungan Menteri Nasir ini adalah untuk menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Yayasan Abulyatama yang dipimpin Dr. Muhammad Kadafi SH MH.

Melalui Sekda Aceh, Gubernur Zaini menyampaikan sebuah pertanyaan, “mengapa nama kampus ini Universitas Abulyatama?” Lalu, katanya, ia mencari jawaban sendiri tentang penamaan kampus yang bermakna “ayahnya anak-anak yatim” itu. “Saya menemukan keterkaitan sejarah antara nama universitas dan kehidupan Rusli Bintang,” katanya.

Rusli Bintang, kata gubernur, adalah seorang anak yatim yang kehidupannya sangat berliku. “Dari anak yatim yang kehidupannya sangat susah, ia kemudian menjadi seorang pengusaha, lalu mendirikan kampus bernama Abulyatama ini,” katanya. “Bahkan dari yayasannya ia membantu anak-anak yatim, dan menyekolahkan mereka.”

Itulah sebabnya, Gubernur Zaini menyebutkan sosok Rusli Bintang sangat patut menjadi teladan. Rusli menjadi kebanggaan rakyat Aceh. “Kami sangat mendukung keberadaan Universitas Abulyatama ini. Kami sangat mengharapkan perguruan tinggi ini makin maju dan mengambil peran dalam pembangunan Aceh,” katanya.

“Kami juga tahu, beliau bukan hanya mendirikan Universitas Abulyatama, juga telah mendirikan Universitas Malahayati di Lampung, Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta. Bahkan, kami juga tahu semua kampus-kampus yang didirikannya itu sangat peduli pada anak-anak yatim dan kaum ddhuafa.” []