Posts

Kisah Rusli Bintang Kehilangan Adiknya karena Tak Punya Uang Seribu (Tamat)

Lalu, ia pun menemui siapa saja yang bersedia mengajarkannya mendirikan lembaga pendidikan, termasuk salah satu di antaranya adalah Profesor Ali Hasjmy, Gubernur Aceh (1957-1964). Saat bertemu Rusli, sekitar tahun 1983, Ali Hasjmy menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh.

Hingga kemudian dalam sebuah pertemuan pada 5 April 1983, Rusli menyatakan mendirikan Yayasan bernama Abulyatama yang artinya “bapak anak yatim”. Pertemuan itu dihadiri sejumlah tokoh Aceh, di antaranya Profesor Ali Hasjmy. Selain itu ada Dr. Safwan Idris yang merupakan cendekiawan dari Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh (sekarang UIN Ar-Raniry), dan dua tokoh dari kampus Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, yaitu Dr. Ali Basyah Amin dan Ir. Imran A. Rahman, M. Eng. Bersama mereka ada juga pejabat dari Dinas Pendidikan, yaitu Margono, dan Pimpinan Dayah Darul Ma’arif Peukan Ateuk-Kuta Baro Teungku Muhammad Zamzami, beserta Joni Makmur.

Ide ini kemudian terwujud dalam akta notaris Yayasan Abulyatama yang diterbitkan pada 31 Mei 1983, dan disempurnakan pada 18 Juli 1983. Ketika pertama yayasan berdiri, Rusli duduk sebagai Badan Pendiri dan Komisaris Umum. Ia mempercayakan Profesor Ali Hasjmy untuk menjadi Ketua Yayasan, dan Joni Makmur sebagai Sekretaris Yayasan.

Setelah terbitnya keabsahan yayasan, langsung dirancang lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi yang waktu itu masih bernama Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Abulyatama.

Bersamaan dengan itu, didirikan juga sebuah Pondok Pesantren Abulyatama. Rusli yang langsung memimpin pesantren mengirim sejumlah tim untuk studi banding dan belajar di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur sebab Rusli menginginkan pesantren modern.

Foto: Dok. Universitas Abulyatama

Foto: Dok. Universitas Abulyatama

Setelah sekolah dan pesantren berdiri, langkah pertama yayasan adalah menyantuni 750 anak yatim di Kuta Baro. Bahkan, anak-anak yatim inilah yang pertama menjadi pelajar di semua sekolah yang didirikan Rusli pada tahun ajaran 1983/1984, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas, dan pondok pesantrennya. Hingga kemudian yang datang belajar di sini tak hanya anak yatim di Kuta Baro, tetapi juga dari seluruh Aceh dan Pulau Jawa.

Bukan saja anak-anak yatim ini bisa bersekolah dengan cuma-cuma. Bahkan, mereka juga mendapatkan pakaian, jatah hidup, biaya sekolah dan perlengkapan, transportasi dari rumah ke sekolah, dan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi bagi yang berprestasi.

Begitu juga dengan STKIP Abulyatama. Setelah mendapat izin dari Kopertis Wilayah I di Medan pada 22 Oktober 1983, STKIP ini langsung dapat menerima mahasiswa pada tahun ajaran 1983/1984. Antusias masyarakat luar biasa, baru pertama dibuka di tahun itu saja ada 680 mahasiswa yang masuk ke Abulyatama. Jadilah ini perguruan tinggi swasta yang pertama di Aceh, berdampingan dengan dua perguruan tinggi negeri saja, yaitu Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry.

Adalah lahan seluas 10 hektare di Lampoh Keudee, Kuta Baro,  Aceh Besar— yang menjadi kantong pendidikan yang digagas Rusli ini. Di sini ia membangun gedung-gedung sekolah dan juga tempat pondokan anak-anak yatim yang jauh dari rumahnya, bahkan Rusli pun tinggal di areal kampus.

Jangan berpikir niat baik Rusli berjalan dengan mulus. Mulanya muncul juga penolakan. “Memang pada masa itu belum semua masyarakat bisa menerima kehadiran kampus,” kata Musa Bintang. Walaupun penjelasan secara sederhana sekalipun, sebagian warga masih saja menentang.

“Pernah kita sampaikan, nanti ekonomi di sini juga ikut berkembang, mereka bisa membuka tempat kos, menyewakan rumah, malah mereka makin menentangnya sebab mereka berpikir jika menyewakan rumahnya, maka mereka akan keluar dari rumah,” kata Musa lagi.

Segala rintangan itu tak menjadi persoalan bagi Rusli. Ia tetap terus berjalan bersama anak-anak yatimnya itu. Bahkan, anak-anak yatim yang bersekolah di situ ikut membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sederhana, misalnya mereka beramai-ramai membersihkan sekolah agar tetap asri, juga mengecat sekolah agar terus kelihatan cantik. Kadang-kadang, ketika malam hari mahasiswa membuat taman agar kampus terlihat indah.

Melihat anak-anak yatim yang juga ternyata ikhlas bersamanya membuat Rusli makin yakin dengan apa yang dijalankannya itu. Itulah sebabnya, Rusli kemudian fokus di dunia pendidikan. Ia meninggalkan bisnisnya yang lain, bahkan dia menjual aset-asetnya untuk menambah fasilitas di kampusnya ini. Jadi, tak heran di masa itu kampus Abulyatama sudah memiliki bus untuk antarjemput mahasiswa dan anak-anak sekolah.

Awal 1984, Rusli ingin meningkatkan status STKIP Abulyatama menjadi universitas. Tanpa menunggu lama, Rusli membentuk tim kerja pada 25 Januari 1994 yang dipimpin oleh H. Badruzaman, S.H. dan sekretarisnya Drs. M. Ali Oesman. Bersama mereka ada delapan anggota, yaitu Drs. M. Diah Husen, Drs. Yusrizal, Drs. Umar Usman, dan Drs. Nasruddin, Ridwan Ibrahim, M. Dahlan, Syarifuddin, dan Abdurrahman Yusuf.

Berselang lima bulan dari pembentukan tim ini, lahirlah Universitas Abulyatama. Jika merujuk pada dokumen resmi, Universitas Abulyatama bermula dari surat izin prinsip dari Kopertis Wilayah I Medan pada 15 Mei 1984. Ini menjadi pegangan yayasan untuk menerima mahasiswa. Kemudian, Kopertis menerbitkan lagi surat izin operasional pada 11 September 1984. Universitas Abulyatama pun mulai berjalan di bawah pimpinan Dr. Safwan Idris yang didapuk menjadi rektor pertama. Adapun STKIP Abulyatama melebur ke dalam Universitas Abulyatama.

Sejak itu, Rusli berjibaku dengan dunia pendidikan. Fasilitas kampus, sekolah, dan pesantren dibangunnya. Bahkan, ia mendirikan sebuah masjid di lingkungan kampus yang juga terbuka untuk masyarakat umum. Kegiatan akademik mahasiswa berjalan dengan baik. Setahun kemudian, tepatnya pada 1 Oktober 1985, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menerbitkan surat status terdaftar untuk Universitas Abulyatama.

safwan-idris-abulyatama

Empat tahun kemudian, Universitas Abulyatama sudah menyandang status diakui dengan Surat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 11 April 1989. Kemudian kementerian meningkatkan lagi statusnya menjadi disamakan pada 26 Juli 1990. Status ini sangat bergengsi sebab kampus bisa menyelenggarakan ujian negara sendiri, artinya sudah disamakan dengan negeri.

Itulah sebabnya, prosesi wisuda pertama kali di kampus anak yatim ini dihadiri Menteri Olahraga Ir. Akbar Tandjung, 22 Mei 1990. Kemudian, wisuda kedua, 5 Juni 1991, datang Siti Hardianti Rukmana (Mbak Tutut), putri sulung Presiden RI Soeharto  dan Gubernur Aceh Prof. Dr. Ibrahim Hasan. Mbak Tutut juga yang meresmikan gedung pesantren terpadu Abulyatama. Wisuda ketiga, 8 Agustus 1992, dihadiri oleh Direktur Perguruan Tinggi Swasta Prof. Juhara Sukra. Kemudian wisuda keempat, 5 November 1993, dihadiri oleh Prof. Sambas Wirakusumah sebagai pengganti Juhara.

rusli-bintang-wisuda-abulyatama      rusli-bintang-mbak-tutut

Di setiap wisuda, para elite negeri ini yang hadir selalu didampingi oleh anak-anak yatim yang memang khusus diundang Rusli ke kampus. Di sini mereka mendapat santunan dari kampus dan para mahasiswa yang telah lulus. Rusli mewajibkan kampusnya untuk mengundang anak-anak yatim di setiap acara apa pun. Bahkan, semua lembaga yang didirikannya itu juga memberi beasiswa untuk anak yatim, serta menyantuni biaya hidup dan kebutuhan pendidikannya.

Ketika Yayasan Abulyatama yang kini diketuai oleh Dr. Muhammad Kadafi menyelenggarakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. pada 5 April 2015, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof Mohammad Nasir menghadirinya dan berbaur dengan anak-anak yatim di sana. Didampingi Rusli dan Rektor Abulyatama Ir. R. Agung Efriyo Hadi, Ph.D., Nasir duduk bersimpuh makan bersama anak-anak yatim.

Di kampus ini Nasir melihat sendiri perkembangan Universitas Abulyatama. Secara akademik, Universitas Abulyatama juga sudah berkembang dengan baik. Dari semula cuma ada Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Teknik, Ekonomi, dan Pertanian, sudah bertambah beberapa fakultas lagi, di antaranya Fakultas Hukum, Perikanan, Kesehatan Masyarakat, dan Kedokteran. Di Aceh untuk universitas swasta hanya Universitas Abulyatama yang memiliki Fakultas Kedokteran.

Kegiatan akademik itu didukung dengan berbagai fasilitas, seperti laboratorium, perpustakaan, sarana olahraga, asrama, kantin. Semuanya berada di atas areal yang sudah bertambah dari 10 hektare, kini sudah menjadi 50 hektare.

Kini, selain Abulyatama dan Malahayati, Rusli Bintang juga mendirikan Institute Kesehatan Jakarta dan Universitas Batam.

Pengalaman hidup telah membuat pria berusia 66 tahun itu  paham benar arti pendidikan dan makna berbagi untuk sesama. Tamat

Catatan: Tulisan Ini Adalah Penggalan Kisah Dalam Buku “Inspirasi, Spirit & Dedikasi” karya Nurlis E. Meuko dan editor Yuswardi A. Suud. | Sumber : http://atjehpost.com/

Kisah Rusli Bintang Kehilangan Adiknya karena Tak Punya Uang Seribu (Bagian 4)

MENYANTUNI anak-anak yatim dan berbagi rezeki pada momen-momen penting sebenarnya adalah ketulusan yang sangat bernilai. Ini adalah sebuah kebaikan. Namun, bagi Rusli itu belumlah cukup sebab kenyataan yang dialami anak-anak yatim yang dikunjungi dan disantuninya selama ini hanya berjuang mempertahankan hidup saja.

Sementara kebutuhan mereka bukan hanya soal makan. “Mereka juga membutuhkan pendidikan. Jika tidak berpendidikan, bagaimana mereka bisa membangun masa depan,” kata Rusli kepada orang kepercayaannya Joni Makmur.

Sebelum Joni sempat bicara, Rusli melanjutkan kalimatnya, “Jika masih menganggap mereka manusia, mari berjuang semampu kita untuk membuka peluang itu. Membuka ruang pendidikan yang mereka butuhkan. Kita berusaha sekuat yang kita mampu.”

Saat menyinggung hal itu, Rusli teringat pada almarhum ayahnya, Bintang Amin, yang seorang mantri kesehatan itu. Ketika menemaninya ke pelosok-pelosok kampung mengobati orang sakit yang butuh pertolongan, banyak di antaranya yang tak memiliki cukup uang untuk membiayai pengobatan. Bintang membantunya, bahkan menyediakan obat yang dibutuhkan secara gratis, tentu saja jasanya sebagai mantri juga tanpa bayaran.

Karena ketulusannya itu, keluarga Bintang memang cuma dapat hidup sederhana. Bintang hanya memiliki sepeda untuk keluar masuk kampung menyambangi warga yang memanggilnya, dan rumah panggung untuk tempat berteduh anak dan istrinya. Namun, ia tetap bahagia. Rusli melihat pancaran kebahagiaan menaungi ayahnya setiap ia menolong orang.

“Melalui kebaikan dan keikhlasan yang kita berikan untuk membantu sesama, dari situ kita menuai kebahagiaan. Seberapa banyak pun harta yang kita miliki tak akan mampu membeli kebahagiaan,” Rusli teringat kata-kata ayahnya seolah-olah hadir di depan matanya.

Bayangan ayahnya berkelebat menghilang, tergantikan wajah anak-anak yatim. Rusli melihat dirinya dan adik-adiknya ada di antara mereka dan berkumpul menjadi satu. Bertubuh kurus yang terbungkus kulit yang kering, mereka anak-anak yang berselimut dinginnya angin malam, dan berpayung panasnya terik matahari, menggantungkan harapan pada awan kelabu. Bersama mereka hanya ada kasih sayang janda yang juga telah kehilangan separuh hatinya, yang detak jantungnya adalah kerisauan akan nasib anak-anaknya.

Foto: Dok. Universitas Abulyatama

Foto: Dok. Universitas Abulyatama

Rusli bukannya tak tahu bahwa ia tinggal di sebuah daerah yang sangat terkenal dengan kejayaan masa lalu dengan kekayaan alam yang sangat berlimpah. Menurut catatan sejarah, pada abad ke-14, Kerajaan Aceh telah menyumbang kepada tamadun Melayu, sistem kerajaannya yang teratur, dan menjadi pusat penyebaran ilmu. Kemudian, pada abad ke-17, Aceh saat dipimpin Sultan Iskandar Muda adalah kerajaan yang kaya dan makmur, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau, Sumatera Timur, hingga Perak di semenanjung Malaysia.

Lalu di era kemerdekaan Republik Indonesia, dalam perut bumi Tanah Rencong ini ditemukan ladang gas alam terbesar di dunia pada 1971. Berlokasi di Desa Aron, Lhokseumawe, ladang ini dikelola oleh PT Arun NGL —perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh Pertamina 55 persen, Mobil Oil Indonesia (kini menjadi ExxonMobil Oil) 30 persen, dan JILCO dariJepang 15 persen. Berapa banyak kekayaan alam yang dihasilkan dari sini, tak pernah dipublikasikan. Kini saat api Arun mulai meredup, rakyat Aceh tak pernah tahu berapa banyak kekayaan alamnya yang telah disedot. Itu baru gas alam, belum tambang-tambang lainnya.

Andaikata sedikit saja mengalir ke rakyat, mungkin kemiskinan akan menjadi sesuatu yang langka. Begitu juga dengan anak-anak telantar dan anak-anak yatim. Namun, kenyataannya, tak ada sesuatu yang lebih baik dirasakan rakyat Aceh. Di daerah yang berjuluk “Serambi Mekah” ini masih sangat banyak orang yang menganggur, kemiskinan, dan juga anak-anak yatim menjadi anak alam tanpa ada yang menghiraukan. Bahkan kemiskinan itu hanya seperlemparan batu dari pusat perusahaan yang memiliki aset Rp10 triliun itu.

Rusli sangat paham tentang cerita itu. Namun, ia tak mau disibukkan untuk berpikir tentang sesuatu yang dapat menyita perhatian dan menyedot energinya. Itu hanya membuang-buang waktunya saja sebab bagi Rusli percuma mengeluh hanya akan membuatnya tak sempat bekerja. Sia-sia bercerita tentang keburukan karena hanya akan menghabiskan waktu yang dibutuhkan untuk berbuat baik.

rusli-bintang-anak-yatim3rusli-bintang-anak-yatim5

Maka, ia lebih memilih bergerak dengan ketulusan hatinya sendiri, mengambil satu sisi peran kehadirannya di kehidupan dunia, yaitu membantu anak-anak yatim. Setelah menyantuni, ia juga ingin mereka memiliki pendidikan dan jaminan kesehatan.

“Baiklah, Bang, saya tentu membantu dengan sungguh-sungguh,” suara Joni, salah seorang kepercayaan Rusli, menyentak lamunan Rusli. Bayang-bayang tadi membuyar laksana asap tertiup angin.

Namun, bagaimana caranya? Bukankah Rusli tidak pernah duduk di perguruan tinggi? Ternyata itu tak menjadi persoalan baginya sebab ia memiliki kemauan untuk itu sehingga mencari jalan mewujudkannya. Ibarat pepatah, dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Bersambung ke Bagian Lima

Catatan: Tulisan Ini Adalah Penggalan Kisah Dalam Buku “Inspirasi, Spirit & Dedikasi” karya Nurlis E. Meuko dan editor Yuswardi A. Suud. | Sumber : http://atjehpost.com/

Kisah Rusli Bintang Kehilangan Adiknya Gara-gara Tak Punya Uang Seribu (Bagian 3)

WATÈE nyan kondisi gӧbnyan (Rusli Bintang) ka geumeukat-meukat minyeuk bak aki limong gang apui di keu masjid raya. Watèe nyan kamoe mantӧng ubit that (Waktu itu, beliau (Rusli Bintang) sudah mulai berjualan bensin di kaki lima Gang Apui di depan Masjid Raya (Baiturrahman),” kata Musa.

Setelah memiliki modal, Rusli membuka usaha warung kopi. Warung itu dibuka saat subuh, dan tutup tengah malam. Saking paginya, pernah satu kali ia membuka warung, dan tak ada satu manusia pun yang lewat. “Saya pikir ada kejadian apa ini,” kata Rusli.

Kemudian, dia berdiri di tengah jalan yang sepi menunggu pembeli. Hingga kemudian melintaslah seseorang mengendarai sepeda motor. Rusli memintanya berhenti dan bertanya mengapa sepi sekali. Si pengendara sepeda motor meminta Rusli melihat waktu.

Rusli yang tak memiliki arloji, balik bertanya sudah pukul berapa? “Sekarang ini masih jam dua pagi dini hari, ya nggak ada orang yang minum kopi,” kata orang itu. Rusli balik ke warungnya. Ia tak mungkin menutupnya, dan tetap dijaganya sampai pelanggan datang.

Kurang beruntung di warung,  pada 1974 Rusli menjadi buruh harian di sebuah perusahaan konstruksi yang berpenghasilan tidak tetap. Tak hanya di Banda Aceh, Rusli juga bekerja ke daerah-daerah lain, di antaranya di Beureunun (Pidie), Lhokseumawe, Aceh Utara. Di sana mula-mula ia menjadi buruh angkat pasir pada sebuah perusahaan konstruksi.

Rusli Bintang saat bekerja di Lhokseumawe | Foto: Dok. Univ Abulyatama

Rusli Bintang saat bekerja di Lhokseumawe | Foto: Dok. Univ Abulyatama

Dikenal sebagai pekerja yang tabah, sabar dan jujur, membuatnya mudah mendapat kepercayaan. Lima bulan bekerja sebagai buruh kasar, ia diangkat menjadi penjaga gudang, dan pada tahun itu juga dia menjadi mandor.

Namun, itu semua belum membuat hati Rusli tenang. “Kalau cuma bekerja sebagai buruh bagaimana saya bisa membantu anak-anak yatim?” bisik Rusli. Penda-patannya yang rendah tentu sulit untuk mewujudkan cita-citanya itu. Maka pada 1976, dia pun kembali ke kampung halamannya untuk memikirkan usaha yang lain.

Rusli merencanakan membuka kebun di Lamtamot, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. Namun, ayahwa-nya (sebutan untuk abang dari ayah di Aceh) malah melarangnya. “Bersihkan niatmu, Nak! Jangan membuka kebun, carilah pekerjaan lain, kamu akan berhasil karena apa yang kamu mimpikan itu benar. Teruskan usahamu”.

“Ingat, walaupun kamu memiliki kawan seribu orang, seorang musuhmu dapat menghancurkan kamu jika tidak kamu terima dengan ucapan alhamdulillah. Sebaliknya, walaupun seribu musuhmu dan seorang kawanmu, jika sikap musuh kamu terima dengan alhamdulillah, kamu akan berhasil”. Rusli memahami nasihat ayahwa-nya.

Itulah sebabnya, pada 1976, Rusli mulai mencoba menjadi wiraswastawan, yaitu sebagai pemborong (kontraktor kecil-kecilan) di Banda Aceh. Rupanya, di sinilah bintang Rusli bersinar.Kilau cahaya keberuntungan mulai menaunginya.Setahun kemudian, ia mulai mengambil pekerjaan konstruksi bangunan. Rusli bekerja sama dengan seorang keturunan Cina dengan menggunakan perusahaan pinjaman, CV Desa Jaya. Hasil usahanya semakin lama semakin maju sehingga beberapa proyek daerah diberikan kepadanya.

Rusli yang memang sejak kecil rajin beribadah mempertegas lagi janjinya dengan Allah dalam sebuah nazarnya. “Ya Allah, bila Engkau berikan rezeki, akan saya bantu anak-anak yatim agar mereka jangan mengalami pahit menjadi anak yatim sebagaimana yang saya alami.”

Tak hanya berdoa, Rusli juga rajin bekerja sehingga usahanya dengan CV Desa Jaya berkembang dengan baik. Ia pun mulai dikenal oleh pejabat-pejabat di Aceh. Salah seorang di antaranya adalah Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Istimewa Aceh di masa itu, M.Z. Abidin. “Lebih baik memakai perusahaan sendiri daripada terus bergabung dengan orang lain,” katanya kepada Rusli.

Rusli melaksanakan nasihat itu. Pada 1978, ia membeli sebuah perusahaan CV Kumita Karya yang bergerak di bidang kontraktor dan leveransir. Lalu pada 1979, CV Kumita Karya ditingkatkan statusnya menjadi PT Kumita Karya dan Rusli Bintang menjabat sebagai Direktur Utamanya. Ia dibantu Hasballah Yusuf, Anwar Amin, dan Joni Makmur.

Bisnis Rusli yang semakin maju tak membuatnya melupakan janji pada Allah. Pada 1980 ia mulai menyantuni 750 anak yatim di Kecamatan Kuta Baro dan sekitarnya. Santunan yang diberikan pada waktu itu berupa daging lembu setiap hari meugang. Meugang adalah budaya rakyat Aceh dalam menyambut tiga hari besar Islam, yaitu Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Setiap Lebaran, kepada mereka (anak yatim) juga diberikan pakaian dan uang saku untuk lebaran.

rusli-bintang-meugang

Namun, semua kebaikan yang dilakukannya itu tidak membuat rezeki Rusli berkurang. Bahkan sebuah perusahaan semen PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis, mempercayai Rusli sebagai satu-satunya pengusaha yang mendistribusikan semen ke seluruh Sumatera.

Jai sumbangan fasilitas gampông dari Rusli, bantuan meunasah, jembatan. Setiap bulan sabé na seudeukah untuk aneuk-aneuk yatim, hana yang meu-ubah dari ubeut sampoe ‘an jinoe, jih gӧt akai (Banyak sumbangan fasilitas untuk kampung, bantuan meunasah, setiap bulan membantu anak-anak yatim, tidak ada perubahannya dari kecil sampai sekarang, dia memang baik budi pekertinya),” kata Zakaria Amin, warga Lam Asan.

Simak bagaimana Rusli Bintang bekerja sebagai buruh hingga mendirikan kampus Abulyatama dan Universitas Malahayati di Lampung pada bagian berikutnya. Lihat Bagian Empat

Catatan: Tulisan Ini Adalah Penggalan Kisah Dalam Buku “Inspirasi, Spirit & Dedikasi” karya Nurlis E. Meuko dan editor Yuswardi A. Suud. | Sumber : http://atjehpost.com/

Kisah Rusli Bintang Kehilangan Adiknya Gara-gara Tak Punya Uang Seribu (Bagian 2)

“BANG saya butuh uang seribu rupiah, besok saya mau ujian,” pinta Darmawan yang sekolah di SMP Iskandar Muda. Darmawan adalah adik kesayangannya. Ia menjadi harapan utama untuk membantu Rusli mencari rezeki membantu keluarga. Sebab itu, ia berharap Darmawan mampu menyelesaikan sekolahnya.

Rusli tercenung mendengar permintaan sang adik. Di masa itu, tahun 1970, bukan perkara mudah bagi Rusli untuk mencari uang seribu rupiah. Menyisihkan uang Rp1000 dalam sehari pun ia belum mampu. Kendati demikian, Rusli tetap berjanji memenuhi permintaan adiknya itu. Maka, hari itu juga ia mencari ke sana kemari, termasuk berupaya meminjam pada teman. Gagal. Lalu, ia mencoba menjumpai kepala sekolah untuk meminta penangguhan waktu pembayaran uang pendaftaran tersebut. Namun, nihil.

“Besok Darmawan seharusnya mengikuti ujian akhir SMP bersama kawan-kawannya, tetapi apa daya saya tak mampu memberikan biaya,” hati Rusli berbisik. Air matanya berlinang. Hari itu Rusli hanya mampu mencari rezeki berupa satu bambu beras untuk keluarganya.

Menjelang magrib, Rusli pulang ke rumah. Ia melihat Darmawan sedang turun dari tangga rumahnya hendak ke meunasah (surau). “Bagaimana Bang?” Darmawan bertanya dengan suaranya yang sedikit rendah dengan nada berharap.

Mendengar pertanyaan adiknya, Rusli tercekat. “Jangan putus asa, Dik! Tahun depan Adik ikut ujian. Abang belum mampu mencari uang yang Adik perlukan,” ujar Rusli menguatkan hati. Suaranya parau. Darmawan mengangguk.

Dalam keadaan gelisah, Rusli meninggalkan rumah dan pergi tidur bersama teman-temannya sekadar menghibur diri. Pada malam itu, Rusli diliput rasa gelisah dan semakin lama semakin menjadi-jadi. Akhirnya, ia putuskan pulang ke rumahnya pukul 23.00 WIB.

Secara bersamaan, adiknya yang tadi ke meunasah sedang diantar teman-temannya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Rusli terkesiap. Darmawan digotong tidur di atas tikar di dalam rumah. Rusli memandangi adiknya yang sedang sakit. Ia panik melihat Darmawan mulai muntah-muntah. Halimah, ibunya, memandang mereka dengan hati yang hancur. Walau ikut bersedih hati, adiknya yang lain masih kecil-kecil tak tahu harus berbuat apa.

Sambil menangis, anak yatim ini menggendong adiknya ke luar rumah. Halimah ikut berjalan sampai ke depan pagar. Ia melihat kepergian dua anaknya itu dengan isak tangis yang menyuarakan nestapa tak tepermanai. Berjalan kaki, Rusli membawanya ke rumah sakit.

Dalam gendongan, adiknya mulai mengeluarkan cairan kotoran sampai berlepotan di punggung Rusli. Ia panik, lalu mempercepat langkahnya agar tiba ke rumah sakit. Berlari menggendong adik yang sudah remaja tanggung tentu sangat berat, apalagi jarak yang harus ditempuh mencapai enam kilometer. Namun, Rusli tak merasakan beban itu.

Di saat sedang berlari itu, ia bertemu dengan seorang warga kampung, Ayah Cek Daud, seorang supir bus di kampung itu. Tak tega melihat Rusli, ia mengeluarkan busnya dan membawa dua anak muda ini ke Rumah Sakit Umum Banda Aceh.

Rusli bertanya kepada dokter tentang jenis penyakit yang diderita Darmawan. Kata dokter, adiknya itu mengalami stres yang sangat tinggi. Mendengar penjelasan dokter, hati Rusli berkecamuk. Rasa sedih, bersalah, dan penyesalan menjadi satu. Hatinya berbisik, mungkin itu semua terjadi akibat ketidakmampuannya memenuhi permintaan adiknya.

Rusli tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kepada siapa harus meminta bantuan? Gejolak di dadanya yang menggelegak membuatnya tak mampu membendung air mata yang berderai di pipi. Ia hanya teringat bahwa kemiskinanlah yang membuatnya tidak mampu memenuhi harapan kecil sang adik. Ia hanya berserah diri kepada Allah, kepada yang Mahakuasa ia mengadukan nasibnya.

Sambil mendekatkan wajah ke telinga adiknya yang terbaring tidak sadarkan diri, Rusli memohon kepada Allah, “Ya Allah, ya Rabbi, berikanlah kehidupan kepada adik saya walaupun hanya sebentar saja. Jangan Engkau ambil dulu nyawanya, saya rindu berbicara dengannya. Pada-Mulah tempat saya memohon pertolongan.”

Darmawan yang tak sadarkan diri hampir sepuluh jam mendadak terjaga. Perlahan ia membuka matanya dan memandangi wajah Rusli yang matanya sembab dan berair. Darmawan memberikan senyum yang lemah. “Saya tidak apa-apa, Bang. Saya tidak sakit, tetapi tidak tahu mengapa saya pening, mungkin saya akan pergi,” ujar Darmawan. Suaranya lemah dan lirih.  Hanya satu kalimat itu yang didengar Rusli. Itu adalah suara dan senyuman terakhir adiknya. Ketika matahari terbenam, menjelang magrib, Darmawan meninggal dunia.

Ketika semua orang berdatangan menyampaikan belasungkawa, Rusli bermunajat kepada Allah. “Ya Allah, kalau Engkau berikan rezeki, maka apa yang dialami adik saya, jangan lagi dialami oleh anak yatim lainnya. Janganlah mereka mengalami pahit menjadi yatim sebagaimana yang saya alami.”

Sepeninggalan Darmawan, Rusli risau akan tanggung jawabnya kepada ibu dan lima adiknya. Darmawan merupakan tumpuan harapan membagi derita. Namun, setelah ia meninggal, beban itu harus sepenuhnya ditanggungnya sendiri entah sampai kapan.

Ia juga tiada habisnya menyesali diri sebab tak mampu mencari uang seribu untuk biaya ujian sekolah Darmawan. Dalam kondisi demikian, ia pun teringat akan sang ayah yang telah lama meninggal. Bayangan ayahnya, Bintang Amin, melintas di benaknya. Ia teringat pada nasihat-nasihat ayahnya agar ia bersabar dan tabah dalam menjalani hidup. Ia seakan-akan mendengar ayahnya berbisik agar jangan mengutuk kehidupan sebab Allah tak akan memberi cobaan melebihi dari batas kemampuan seseorang.

Sejumlah teman bercerita, sejak saat itu Rusli bertekad membantu anak-anak yatim. Maka, berbagai pekerjaan pun dilakoninya, mulai dari tukang pikul, pembersih kebun, hingga menjadi penyapu rumah. Bersambung ke bagian tiga

Catatan: Tulisan Ini Adalah Penggalan Kisah Dalam Buku “Inspirasi, Spirit & Dedikasi” karya Nurlis E. Meuko dan editor Yuswardi A. Suud. | Sumber : http://atjehpost.com/

Kisah Rusli Bintang Kehilangan Adiknya Gara-gara Tak Punya Uang Seribu (Bagian 1)

Nama Rusli Bintang kini dikenal sebagai pendiri empat kampus di Indonesia: Universitas Abulyatama di Aceh, Malahayati di Lampung, Universitas Batam di Batam, dan Institute Kesehatan Jakarta. Tapi tak banyak yang tahu bagaimana pria asal Aceh Besar itu bangkit dari kemiskinan. Kisah tragis dan memprihatinkan di masa kecil itulah yang kelak membentuk Rusli Bintang menjadi penyantun anak yatim. Tulisan ini dibagi dalam lima bagian terpisah.

***

AREAL persawahan yang sedang menguning mengepung Gampông Lam Asan, Kemukiman Ateuk, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar. Letaknya hanya terpaut lebih kurang enam kilometer dari Kota Banda Aceh, Ibu Kota Provinsi Aceh yang berada di ujung barat Pulau Sumatera. Embun pagi sudah mengering saat dua wartawan mediaonline kampus abulyatama.ac.id —media Universitas Abulyatama— berkunjung ke kampung ini di pengujung September 2015.

Angin sepoi berembus menggoda nyiur yang melambai-lambai, mengajak penduduk meramaikan hari. Lembayung sutra di ufuk timur menebarkan cahaya lembutnya hingga memantul keemasan meningkahi pucuk-pucuk pohon nan permai ini. Kampung ini masih hijau. Banyak hutannya. Penduduk memiliki kebun yang luas. Di halaman rumahnya banyak aneka tanaman.

Anak-anak berwajah riang menyalami dan mencium tangan ibunya, lalu mengayuh sepeda menuju sekolah. Setiap hari mereka menyusuri jalan yang sama di tengah kampung yang sudah teraspal, kecuali ada beberapa lorong yang masih telanjang tanah dan berbatu. Di jalan-jalan ini warga bersentuhan, saling menyapa, dan menanyakan kabar.

Sarana gampông Lam Asan lumayan lengkap. Di tengah-tengah pemukiman ada musala megah tempat warga beribadah. Di sampingnya ada gedung dua lantai kantor kepala desa. Selain itu, ada balai pengajian tempat anak-anak belajar Alquran setiap sore.

Tak jauh dari sini ada dua warung tempat warga menyesap kopi sambil berdiskusi. Biasanya mereka membahas soal sawah, ternak, dan perkembangan kampungnya. Warga kampung —seperti umumnya warga di Aceh yang berpenduduk 4,5 juta jiwa— gemar berbicara tentang politik. Tak hanya itu, mereka juga suka membahas sepak bola di warung kopi, apalagi di Lam Asan terdapat lapangan sepak bola dan sarana olahraga lainnya seperti badminton. Oh ya, Lam Asan juga memiliki kantor pos. Ini menandakan bahwa warga akrab dengan komunikasi walau sekarang sarana ini sudah kurang populer sebab tergantikan dengan telepon seluler dan jaringan internet.

***

BERJARAK 500 meter dari meunasah, rumah itu berdinding kayu. Halamannya luas dan dikelilingi oleh bermacam tanaman, mulai dari sayuran, bunga, hingga pohon pisang. Di sinilah seorang anak lelaki bernama Rusli Bintang lahir pada Jumat, 28 April 1950.

Berkulit putih bersih, ia adalah putra pertama Bintang Amin yang berprofesi sebagai mantri kesehatan yang beristrikan Halimah, seorang ibu rumah tangga. Pasangan yang hidup sederhana ini tentu sangat bahagia dengan kehadiran si buah hatinya itu.

Setiap hari sebelum berangkat kerja ke Rumah Sakit Umum Banda Aceh, ia selalu menemani putranya. Mengajaknya bercanda dan tertawa riang, atau sekadar memboncengnya dengan sepeda mengelilingi kampung. Halimah merawat kebahagiaan ini dengan tulus. Hingga kemudian, keluarga ini dikaruniai enam putra dan satu putri, yaitu Rusli Bintang, Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Fatimahsyam Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, dan Zulkarnaini Bintang.

Bintang dan Halimah mengarungi kehidupan yang bahagia di rumah tangganya. Keluarga mereka juga dicintai oleh masyarakat di lingkungannya. Maklum, ia dikenal sebagai mantri yang baik, ramah, juga suka menolong. Ia menanamkan rasa sosial pada anak-anaknya dengan pola hidupnya yang peduli pada sesama itu.

Sebagai mantri kesehatan, Bintang menyadari perannya melayani masyarakat 24 jam. Itulah sebabnya, sepulang kerja ia masih tetap mengayuh sepeda keluar masuk kampung melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongannya.

Maklum, mantri kesehatan di perkampungan tentu sangat jarang, bahkan di masa itu dokter pun belum ada. Jadilah Bintang sebagai harapan masyarakat. Tanpa peduli waktu, kadang tengah malam, pun ia tetap keluar rumah jika warga membutuhkannya.

Ureung chik kamoe mantri, jadi dalam Kecamatan Kuta Baro mungkén meunyoe na dua droe yang mantri, salah sidroe ialah gӧbnyan (Orang tua kami mantri, jadi di dalam Kecamatan Kuta Baro kalau ada dua orang mantri, salah satunya beliau),” kata Musa Bintang.

Acapkali, Bintang membonceng Rusli untuk menemaninya membantu orang-orang kampung. “Saya pernah bingung melihat ayah saya sering tak mendapat bayaran apa-apa setelah mengobati orang sakit. Saya pernah menanyakan itu, tapi ia malah menasihati saya agar mengisi hidup dengan rasa sosial dan kebaikan sebab di situlah letak makna kehidupan yang sesungguhnya. Keberadaan kita berguna bagi sesama manusia,” kata Rusli. Bintang juga selalu menasihati Rusli agar jangan melupakan salat lima waktu, berdoa, bersyukur, mencintai keluarga, menyayangi antarsesama, dan bekerja keras.

Namun, Rusli tak bisa mendengar nasihat ayahnya sampai ia dewasa. Allah berkehendak lain. Bintang kembali ke pangkuan Ilahi pada 1969, saat usia Rusli 19 tahun. Ia belum pun menamatkan sekolah lanjutan atasnya, masih duduk di bangku kelas satu SMA. Remaja seusia Rusli tentulah sudah paham akan cinta dan kasih sayang. Ia merasakan pancaran cahaya ketulusan dari orang tua yang tak mengenal lelah berkorban setiap hari demi dirinya dan adik-adiknya.

Setelah Bintang berpulang, kehidupan keluarga ini menjadi pincang. Mereka kehilangan tulang punggung keluarga. Kehilangan satu dari sepasang kasih sayang yang selama ini menebarkan keindahan cinta. Dada Rusli seperti akan meledak saat melihat sinar kebahagiaan yang meredup dari mata ibunya yang tiada henti berlinang. Halimah telah kehilangan belahan jiwa. Ia seorang diri mengayuh biduk kehidupan tujuh anaknya ke masa depan yang terselubung kabut gelap.

Walau Halimah menyembunyikan kegundahan di balik kasih sayangnya, Rusli tetap dapat membaca bahasa kalbu ibunya itu. Ia tak ingin melihat orang yang dikasihinya terus berduka. Rusli sungguh bersedia menyingkirkan beban berat dari pundak Halimah, lalu memikulnya.

Ia bertekad menghalau kabut kegelapan masa depan keluarganya. Entah bagaimana caranya, yang pasti ia tak ingin menjadi beban kerabat-kerabatnya. Pilihan terpahit pun ditempuh. Kepada ibunya, ia memohon izin untuk berhenti sekolah dan bekerja. “Tak mengapa saya berkorban demi ibu dan adik-adik,” katanya.

Halimah menjawab dengan air mata. Jemarinya mengelus kepala putra sulung yang disayanginya itu. Bibirnya bergetar tak dapat mengucapkan kata-kata. Ia memang mengkhawatirkan nasib anak-anaknya yang masih kecil. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana putra sulungnya ini mencari nafkah untuk adik-adiknya.

Watèe geutinggai lé ureung chik kamoe, lôn glah 1 MIN, umu lôn 7 thôn, jadi memang gӧbnyan abang kamoe paléng tuha (Ketika ayah kami meninggal, saya masih kelas satu MIN (Madrasah Ibtidaiah Negeri), usia saya 7 tahun, jadi memang ia abang kami yang paling tua),” kata Musa, salah seorang adik Rusli.

Sejak ayahnya meninggal, Rusli pun menanggalkan seragam sekolah. Rusli tidak mungkin menjalani hari-hari masa remajanya, perannya meloncat menjadi seorang pria pemikul tanggung jawab. Setiap hari, Halimah mengantarkan anaknya dengan pandangan sendu seorang ibu yang sesungguhnya tak tega melihat buah hatinya banting tulang. “Nyak (ibu) saya juga menjadi buruh tani, bekerja di sawah-sawah orang lain untuk mencari nafkah keluarga,” kata Marzuki Bintang.

Rusli membagi waktu dalam bekerja, siang mengambil upah memanjat kelapa, sedangkan malam hingga dini hari memanggul pasir di kali. “Kadang-kadang kuli lain heran mengapa punya saya sudah banyak pas mereka datang, padahal saya mengangkutnya malam hari, mereka mengangkutnya pagi,” kata Rusli tersenyum mengenang masa pahit hidupnya itu.

Target kerja keras Rusli adalah membiayai sekolah adik-adiknya serta memenuhi keperluan wajib keluarga, yaitu dua bambu beras setiap hari, lauk-pauk, dan kebutuhan harian lainnya. Kegigihan Rusli juga dikagumi Zakaria Amin. Warga Lam Asan yang sudah berusia 75 tahun ini sangat tahu keadaan Rusli sejak kecil.

“Sipheut Rusli memang gӧt. Jeut peutimang adék-adék, aleuhnyan ramah, ramèe ngӧn watèe ubit, hana batat, tip uroe keurija demi adék-adékjih (Sifat Rusli memang bagus, bisa mengayomi adik-adiknya, ia juga ramah, waktu kecil banyak temannya, tidak nakal, tiap hari dia bekerja demi adik-adiknya),” kata Zakaria, salah seorang warga yang paling tua di kampung Lam Asan ini. Zakaria adalah juga adik kandung Bintang Amin. Ia adalah paman dari Rusli.

Simak bagaimana Rusli Bintang merasa bersalah karena tak mampu memberi uang seribu rupiah untuk adiknya yang berujung pada adiknya meninggal dunia pada tulisan bagian kedua.

Catatan:
Tulisan Ini Adalah Penggalan Kisah Dalam Buku “Inspirasi, Spirit & Dedikasi” karya Nurlis E. Meuko dan editor Yuswardi A. Suud. | Sumber : http://atjehpost.com/