Posts

Selintas Cerita Rusli Bintang Membangun Kampus

Tak hanya menyediakan fasilitas yang serba lengkap, sebuah perguruan tinggi juga wajib mendapat dukungan kualitas akademik. Perpaduan inilah yang sangat dibutuhkan untuk menciptakan kampus yang mampu melahirkan sarjana bermutu.

Ternyata, bagi H Rusli Bintang, dua hal itu belum cukup. Ia juga menekankan penguatan akhlak dan jiwa religius bagi mahasiswa yang kuliah di seluruh perguruan tinggi yang didirikannya. “Pintar saja tidak cukup. Ia harus memiliki aklak yang baik agar dia berguna bagi lingkungannya,” kata Rusli kemarin di kampus Universitas Batam.

Ia sudah mendirikan empat kampus. Di antaranya adalah Universitas Abulyatama-Aceh, Universitas Malahayati-Lampung, Universitas Batam-Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia-Jakarta.

“Kita tak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, para mahasiswa juga dibekali kedisplinan, etika, dan religi,” kata Dr Muhammad Kadafi SH MH, Rektor Universitas Malahayati.

Pengemblengan nilai-nilai humanis dilakukan melalui pembinaan anak-anak yatim yang memang masuk dalam statuta universitas. Bentuk kepedulian pada anak-anak yatim ini misalnya bagi rektor minimal harus membina 12 anak yatim, wakil rektor 10, dekan 8, kepala jurusan 6, dosen 4, karyawan 2 dan 1 anak untuk mahasiswa.

Soal akademik, Rusli selalu meminta para rektor di kampus untuk terus meningkatkan kualias. “Termasuk di antaranye bekerjasama dengan kampus-kampus yang bagus di Indonesia. Bahkan juga mereka perlu melihat ke kampus-kampus di luar negeri untuk melihat seperti apa mereka membangun sebuah pendidikan tinggi yang berkualitas,” kata Rusli.

Salah satunya adalah kunjungan seluruh rektor di empat kampusnya ke Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Senin 27 Juni lalu. Bahkan kunjungan ini menghasilkan sebuah kesepakatan kerjasama dengan USU.

Kegiatan ini berlangsung di Biro Rektorat USU Medan, pada Selasa 22 Juni lalu. “Ini adalah wujud keseriusan Universitas Malahayati untuk terus meningkatkan kualitasnya,” kata Dr Kadafi. Seluruh rektor dari kampus-kampus itu ikut hadir dalam proses penandatanganan kerjasama ini. Bahkan dari USU langsung rektornya yaitu Prof Dr Runtung Sitepu SH MHum.

Adapun rektor lainnya adalah Dr. Muhammad Kadafi SH MH (Rektor Universitas Malahayati), Prof Novirman Jamarun (Rektor Universitas Batam), Ir R Agung Efriyo Hadi MSc PhD (Rektor Universitas Abulyatama), dan Prof Umar Fahmi Achmadi dr MPH PhD (Rektor IKI Jakarta).

Prof Runtung Sitepu, dalam sambutannya, menjelaskan bahwa kerjasama ini adalah lanjutan dari kerjasama terdahulu.  “Sebelumnya, kerjasama antara USU dan Uniba (Universitas Batam) sudah terjalin saat USU dipimpin Rektor Prof. Syahril Pasaribu,” katanya. Kerjasamanya adalah untuk meningkatkan pendidikan di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) Sumatera Utara.

Kerjasama itu bertujuan untuk pengembangan institusi dan peningkatan program kedua belah pihak. Selain itu, kerjasama ini juga untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang selanjutnya akan memberi nilai tambah pada mahasiswa, dosen, mapupun pihak lain.

Kali ini, USU memperluas wilayah kerjasama dengan lima universitas itu, yaitu melaksanakan segala bentuk kegiatan penelitian di semua bidang Ilmu pengetahuan, termasuk kegiatan publikasi karya ilmiah hasil penelitian; dan melaksanakan segala bentuk kegiatan pengabdian masyarakat, serta segala bentuk kegiatan lainnya berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Mewakili lima perguruan tinggi itu, Dr Kadafi menyatakan sangat berterimakasih pada USU. “Kami tentu sangat bangga. USU adalah salah satu universitas terbaik di Indonesia. Kepercayaan ini tentu harus kami jawab dengan terus meningkatkan kualitas kampus,” kata Dr Kadafi.

Dr Kadafi menambahkan, “selama ini kami memang selalu berbebah diri, meningkatkan berbagai sarana dan prasarana akademik dan pendukungnya. Kita harus mengikuti perkembangan zaman yang selalu menuntut berbagai perbaikan dan perubahan.”

Selain itu, Dr Kadafi juga yang memimpin rombongan dari seluruh kampus ini mengunjungi dua kampus di China, 16 Oktober tahun lalu. Salah satu perguruan tinggi yang dikunjungi adalah Capital Medical University, Beijing, China. Waktu itu Dr Kadafi datang bersama Rektor Universitas Abulyatama R Agung Efriyo Hadi PhD. Dua rektor ini ditemani Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki dan Wakil Rektor Universitas Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd.

Tentu saja Dr Kadafi berkunjung ke sini mewakili seluruh kampus yang didirikan Rusli Bintang. Mereka diterima Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University, Profesor Dong Zhe.

Pertemuan hangat menjelang petangitu menghasilkan kesepakatan yang cukup bagus . “Kita bisa mengirim mahasiswa ke kampus ini untuk belajar,” kata Agung Efriyo Hadi. “Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.”

Tak cuma dengan kampus-kampus di negeri China, sebelumnya Kadafi sudah menggandeng perguruan tinggi dari Malaysia dan Singapura. Bahkan di dua negara tetangga ini ikatan kerjamasa sudah berjalan dengan baik. Salah satu wujudnya adalah pengiriman mahasiswa D-IV kebidanan untuk studi banding ke National University Hospital Singapura pada 7-10 April 2015.

Dari Eropa datang Kaye Jujnovich, seorang dekan di Whitireia University, New Zealand, 13 Juni 2015. Kunjungan Kaye Jujnovich perwakilan dari Whitireia ini untuk meneken memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Malahayati. Dari kerjasama ini, dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati bisa kuliah di Whitireia University, begitu juga sebaliknya. Kedua kampus juga bisa menjalani penelitian, dan pertukaran karya ilmiah.

Tak hanya kerjasama dengan berbagai kampus. Beasiswa untuk dosen-dosen yang memiliki kemampuan juga dilakukan. Memang untuk soal meningkatkan kualitas bukan pekerjaan yang semudah membalik telapak tangan, namun upaya itu terus dilakukan. Itu belum lagi dengan menguatkan dengan menyediakan berbagai fasilitas di kampus-kampusnya.

Saat ini, misalnya, Rusli Bintang sedang merombak total kampus di Universitas Batam. Dari semula hanya ada beberapa gedung di lahan 10 hektar di kawasan Batam Center. Kini pembangunan sedang berjalan hampir memenuhi seluruh areal. Selain fasilitas untuk apartemen mahasiswa, gedung perpustakaan, laboratorium, dan sarana olahraga seperti lapangan golf, juga sedang didirikan sebuah rumah sakit di kampus ini.

Sebelumnya ia sudah membangun sarana yang sangat lengkap di Universitas Malahayati di Bandar Lampung. Di sini juga lengkap dengan rumah sakit, begitu juga dengan Universitas Abulyatama di Banda Aceh. Di sana juga sudah ada rumah sakit. Rusli menggandeng Pertamina untuk menjaga kualitas rumah sakitnya. Itulah sebabnya nama rumah sakitnya, misalnya di Bandar Lampung, adalah Pertamina-Bintang Amin, di Banda Aceh bernama Pertamedika Ummi Rosnati.

Ini baru cerita sepintas upaya Rusli Bintang membangun dunia pendidikan. []

Erasmus Universiteit Rotterdam dan Gedung Bung Hatta

Pendiri Universitas Batam (Uniba) H Rusli Bintang mengunjungi kampus Erasmus Universiteit di Rotterdam, Balanda, sebulan lalu. Ini bukan sebuah kunjungan resmi, ia hanya ingin melihat lebih dekat seperti apa sebetulnya sebuah kampus di kawasan Eropa itu didesain.

Ia memilih Erasmus lantaran perguruan tinggi ini termasuk salah satu yang terbaik di Eropa bahkan di dunia. Misalnya, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Erasmus adalah yang terbesar dan salah satu pusat medis terkemuka akademik dan pusat-pusat trauma di Belanda. Begitu juga dengan fakultas ekonomi dan sekolah bisnisnya.

Adalah Belanda School of Commerce (Nederlandsche Handels-Hoogeschool atau RSA) yang menjadi dasar keberadaan Universitas Erasmus ini. Berdiri sejak 1913, RSA hadir berkat dukungan komunitas bisnis di Rotterdam.

Kemudian pada 1939, nama RSA menjadi Belanda School of Economics (Nederlandse Economische Hogeschool – NEH). NEH terus berkembang.  Pada 1960, berdiri fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, diikuti filsafat, sejarah dan seni, dan administrasi bisnis.

Sementara itu, pada 1966 pemerintah setempat juga telah mendirikan FK Rotterdam. Kemudian, pada 1973, NEH dan FK Rotterdam digabung menjadi satu dengan nama Erasmus University Rotterdam. Erasmus adalah nama seorang tokoh yang dianggap berjasa pada Rotterdam. Bahkan namanya saja disebut Desiderius Erasmus Roterodamus (atau Desiderius Erasmus dari Rotterdam). Pria ini lagir  di Gouda, 27 Oktober 1466 – meninggal di Basel, Swiss, 12 Juli 1536 pada umur 69 tahun. Ia adalah seorang filsuf, humanis dan ahli teologi Belanda.

Di Rotterdam, kami mengunjungi dua kampus Erasmus. Masing-masing terbagi dalam tiga domain. Di kampus pertama yang terletak di Woudestein di sebelah timur kota Rotterdam menjadi domain untuk ekonomi dan manajemen; dan domain hukum, kultur, sosial. Sedangkan domain kesehatan dan farmasi berada di kampus Hoboken Erasmus MC di sebelah barat kota. Erasmus MC inilah yang dulunya bernama FK Rotterdam.

erasmus mc 3

Kampus pertama yang kami kunjungi adalah Erasmus MC. Ini kampus sangat megah. Gedung akademik menyatu dengan rumah sakit. Gedung-gedungnya berwarna putih ditingkahi warna biru yang menjadi pemanis. Didesain mirip gerbong-gerbong kereta api bersusun bertingkat-tingkat. (Klik Tautan Ini untuk Melihat Foto-fotonya)

Di dalamnya ada rumah sakit dengan fasilitas kelas satu di dunia. Di sini juga menjadi tempat mahasiswa fakultas kedokteran belajar. Selain fasilitas rumah sakit, dan laboratorium yang sangat lengkap, yang paling menonjol adalah perpustakaannya. Di desain begitu luas, dan nyaman.

Kemudian di kampus yang terletak di Woudestein bernuansa berbeda. Begitu masuk areal kampus, banyak sekali tempat parkir sepeda. Di trotoar, bahkan disediakan tempat-tempat parkir khusus untuk sepeda. “Pemerintah di negeri Belanda sangat memanjakan orang-orang bersepeda dan pejalan kaki,” kata Rusli. Barangkali itulah sebabnya budaya hidup sehat itu menjalar ke berbagai sisi kehidupan di sini. (Klik Tautan Ini untuk Melihat Foto-fotonya)

Saat berkeliling areal kampus, tiba-tiba Rusli menunjuk sebuah gedung berwarna coklat di kempleks kampus Erasmus ini. “Coba lihat gedung itu. Nah, itulah gedung Bung Hatta,” katanya. Gedung berlantai 17 ini diresmikan pada 2013. Memiliki 372 kamar berfungsi sebagai apartemen mahasiswa. Inilah satu-satunya gedung yang namanya diambil dari tokoh atau alumni yang bukan orang Belanda. Bung Hatta yang dimaksud memanglah Mohammad Hatta yang adalah Wakil Presiden RI yang pertema. Ia pernah pernah belajar ekonomi di Universitas Erasmus antara tahun 1921 sampai 1932.

erasmus universitas 20Rusli memang suka mengunjungi kampus-kampus, baik dalam negeri maupun luar negeri. Ia ingin melihat sejumlah model pendidikan di berbagai penjuru dunia. Ia juga akan mengambil contoh yang bagus dari kampus yang dikunjunginya untuk diterapkan di kampus-kampus yang didirikannya. Misalnya, perpustakaan yang dilihatnya di Erasmus yang cukup menarik, ia ambil menjadi model untuk kampusnya, walau kemudian ia memodifikasi dengan kearifan lokal.

Ini sudah terwujud di perpustakaan Universitas Malahayati, Bandar Lampung, sebuah kampus yang juga ia dirikan. Ia juga berencana mewujudkannya juga di kampus-kampus yang telah didirikannya seperti Universitas Abulyatama di Aceh, dan Institute Kesehatan Indonesia di Jakarta.

Saat ini, Rusli sedang mengembangkan pembangunan kampus Universitas Batam. Ia akan mengambil beberapa model di Erasmus untuk diwujudkannya di Universitas Batam. Termasuk di antaranya adalah fasilitas rumah sakit yang saat ini sedang dibangun di Universitas Batam.[]

Kisah Rusli Bintang; Hikmah di Balik Musibah (2 Habis)

BERPULANGNYA ke Rahmatullah ayah dan adiknya yang disayangi, memberi hikmah tersendiri dalam lindungan kehidupan Rusli Bintang. Sulitnya kehidupan sebagai anak yatim yang telah dilaluinya membuat pikiran dan hatinya semakin terang.

Penderitaan yang berkepanjangan sebagai anak yatim membuat dia bersimpati dan menyatu dengan penderitaan anak yatim lainnya yang ada dipelosok daerah. Akhirnya, muncul ide dan cita-cita untuk melindungi, menyantuni, membimbing dan mendidik setiap anak yatim yang tidak mampu agar menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

Untuk mewujudkan ide dan cita-citanya pada tahap awal, yaitu tahun 1970 Rusli Bintang bekerja disebuah pompa bensin di Banda Aceh. langkahnya belum lagi mujur. Ia memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya karena salah seorang dari keluarga pemilik pompa bensin merasa iri kepadanya. Melihat keadaan itu, Rusli yang begitu produktif dan usaha itu semakin maju, merekaa takut kalau pada suatu saat Rusli dapat menguasai usaha pompa bensin itu.

Melihat keadaan itu Rusli pun tidak datang lagi bekerja dan semula ia berkeinginan menjadi tukang batu di Blang Bintang. Keinginan itu pun tidak terlaksana karena beberapa orang teman Rusli di Banda Aceh, termasuk H.M. Saleh Syeh mengajak Rusli membantu pekerjaannya. Begitulah kehidupan Rusli berlangsung sampai tahun 1974. Dia menjadi buruh harian dengan tugas dan penghasilan yang tidak tetap pula.

Tak hanya di Banda Aceh, Rusli juga bekerja ke daerah-daerah lain, Di antaranya di Beureunun (Pidie), Lhokseumawe, Aceh Utara. Disana mula-mula ia menjadi buruh angkat pasir pada sebuah kontraktor proyek Resetlemen Mbang.

Berkat ketabahan, kesabaran, dan kejujurannya, setelah lima bulan bekerja dia angkat menjadi penjaga gudang, dan pada tahun itu juga dia diangkat pula menjadi mandor pada kontraktor itu. Cita-cita untuk mengasuh anak yatim terus menghantui pikirannya. Ia berpikir, dengan penghasilannya yang rendah itu sulit untuk mewujudkan cita-citanya. Oleh sebab itu tahun 1976 ia kembali ke desanya untuk mencari pekerjaan lain.

Rusli merencakan membuka kebun di Lamtamot, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. Rencananya dibatalkan setelah mendengar nasehat Ayahwanya (wawak), “Bersihkan niat mu Nak! Jangan membuka kebun, carilah pekerjaan lain, kami akan berhasil karena apa yang kamu mimpikan itu benar. Teruskan usahamu”. Ayahwanya pun melanjutkan nasehatnya, “Ingat, walaupun kamu memiliki kawan seribu orang, tetapi seorang musuhmu dapat menghancurkan kamu jika tidak kamu terima dengan ucapann Alhamdulillah. Sebaliknya, walaupun seribu musuhmu dan seorang kawan mu jika sikap musuh kamu terima dengan Alhamdulillah kamu akan berhasil”.

Rusli terkejut mendengarnya karena apa yang pernah dimimpikannya tidak pernah diceritakan kepada siapapun, termasuk kepada Ayahwanya itu. Dorongan itulah yang menyebabkan Rusli terus mencari pekerjaan lain.

Dengan pengalaman yang dimilikinya, pada tahun 1976 di Banda Aceh Rusli Bintang mencoba menjadi wiraswastawan yaitu sebagai pemborong (kontraktor kecil-kecilan). Usahanya semakin lama semakin membuahkan hasil yang diinginkan.

Tahun 1977, ia mulai mengambil borongan kerja bersamanya dengan seorang keturunan China yang diperkenalkan oleh Pak Karim dengan menggunakan CV Desa Jaya. Hasil usahanya semakin lama semakin maju sehingga beberapa proyek daerah diberikan kepadanya. Dia pun terus mengomunikasikan niat dan cita-citanya kepada Allah.

Bahkan pada saat keuntungan usahanya bertambah banyak, ia mempertegas lagi janjinya dengan Allah dalam sebuah nazarnya, “ Ya Allah, bila saya Engkau berikan rezeki akan saya bantu anak-anak yatim agar janganlah mereka mengalami pahit menjadi anak yatim sebagaimana yang saya alami”.

Di dalam menjalankan usahanya dengan CV Desa Jaya bersama join usahanya, Rusli Bintang banyak menerima nasehat dan bimbingan dari teman dan kenalannya, antara lain dari bapak M. Z Abidin, Kakanwil Depdikbud Daerah Istimewa Aceh saat itu.

Melihat kemampuan Rusli dalam menjalankan usahanya, mereka menyarankan agar Rusli lebih baik berusaha sendiri daripada terus bergabung dengan orang lain. Nasehat itu diindahkan Rusli, pada tahun 1978 ia membeli sebuah perusahaan CV Kumita Karya yang bergerak dibidang kontraktor dan leveransir. Tahun 1979 CV. Kumita Karya ditingkatkan statusnya menjadi PT. Kumita Karya dan Rusli Bintang mengemban tanggung jawab sebagai Direktur Utamanya.

Dalam menjalankan usahanya sehari-hari, Rusli didampingi oleh teman-temannya yang sangat setia yaitu Hasballah Yusuf dan Anwar Amin. Tahun 1980 dibantu pula oleh Joni Makmur yang kemudian menjabat sebagai sebagai sekretaris umum Yayasan Abulyatama.

Usaha Rusli semakin lama semakin maju dan tentu keuntungannya pun bertambah besar. Berkat hasil usaha itu, ia langsung memenuhi janjinya  kepada Allah, yaitu menyantuni anak yatim. Pada tahap awal, yaitu tahun 1980 ia mulai menyantuni 750 orang anak yatim yang ada di Kecamatan Kuta Baroe dan sekitarnya. Santunan yang diberikan pada waktu itu berupa daging lembu setiap hari megang, yaitu setahun tiga kali ; menjelang puasa, menjelang Hari Raya Idul Fitri dan menjelang Hari Raya Idul Adha.

Setiap hari raya, kepada mereka (anak yatim ) juga diberikan pakaian dan uang saku untuk lebaran. Kemudian Allah pun menambah rezekinya hingga kini. Begitulah kisah hidup salah seorang anak manusia. Lika-liku hidup yang dialaminya adalah juga rahmat Allah  yang berusaha merubah rahmat itu menjadi sebagian dari nikmat hidupnya. Ingin disaksikan anak-anak yatim hidup sebagaimana layaknya kehidupan anak-anak terdidik lainnya; hidup layak generasi penerus bangsa ini dengan kepandaian dan ketakwaan yang tinggi kepada Allah. Inilah abstraksi cita-citanya yang dijadikan dasar isnpirasi penyantunan anak yatim, pendirian yayasan  dan lembaga pendidikan Abulyatama.

Sumber : Tulisan ini (Kisah Rusli Bintang; Mengganti Peran Sang Ayah dan Kisah Rusli Bintang; Hikmah di Balik Musibah) disalin dari buku Yayasan dan Universitas Abulyatama dalam Lintasan Sejarah, edisi ke II (dua), yang ditulis oleh Helmy Z. Yunus (24 November 1994)

Rektor Kadafi Memutar Memori Tentang Rusli Bintang

“JIKA diibaratkan manusia, Universitas Malahayati kini melangkah menuju kedewasaan, ia sudah mengarungi dan melalui jiwa kekanak-kanakan dan juga masa remaja yang penuh gejolak dalam mencari jati diri,” kata Rektor Universitas Malahayati, Dr Muhammad Kadafi SH MH, pada pidato malam puncak Dies Natalis Universitas Malahayati di Graha Bintang, tadi malam.

Pernyataan Kadafi itu disampaikan di hadapan seluruh dosen, mahasiswa, karyawan, dan juga keluarganya yang hadir pada malam itu. Suasana terasa hening tatkala Kadafi mengajak semua untuk sejenak memotar memori ke titik awal berdirinya Universitas Malahayati pada Jumat 27 Agustus 1993.

Keliharan sebuah kampus di Bandar Lampung dari seorang “bidan” bernama H. Rusli Bintang yang juga lahir pada hari Jumat pada 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Rusli yang menjadi bidan, melahirkan, dan kemudian membesarkan Universitas Malahayati.

Berawal dengan merangkak-rangkak dari beberapa ruko di Jalan Kartini, kini kampus ini berdiri megah di Jalan Pramuka Nomor 27, Bandar Lampung. Berada dalam lahan 84 hektare, di sini berdiri sejumlah gedung berlantai delapan.

Beragam fasilitas ada di sini, mulai dari fasilitas akademik seperti lab kesehatan hingga non akademik seperti sarana olah raga. Bahkan, ada rumah sakit yang melengkapinya yaitu Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin. Hingga kini Rusli masih sangat perhatian pada kampus ini.

Sedikit saja kampus ini meriang, maka Rusli akan merasakan demam, dan menjalar ke berbagai sendi-sendi kehidupannya. Bahkan ia juga pontang-panting mencari obat mujarab agar kita tetap segar.

Ia telah membuat tonggak dalam kehidupannya. Mendirikan sebuah menara kehidupan bagi jutaan orang, yaitu untuk dunia pendidikan dan juga anak-anak yatim. Sebuah menara kehidupan yang diisi dengan cinta kasih antar sesama manusia dan lingkungannya.

Itulah sebabnya, Kadafi mengajak semua untuk merenungi kilas balik jerih payah yang sudah dilakukan oleh semua tokoh-tokoh kampus agar bisa melangkah ke depan dengan mantap.

***

“PAK Rusli Bintang adalah orang tua kita bersama. Beliau membangun kampus ini dan juga beberapa kampus lainnya, bukanlah untuk kepentingan pribadi, tetapi adalah untuk pengabdian beliau dalam menjalani kehidupan. Itulah sebabnya, semua kampus yang didirikannya selalu mengutamakan kepentingan sosial, terutama untuk menyantuni anak-anak yatim.”

Kalimat itu juga dari Kadafi. Hanya saja itu disampaikannya pada Senin 17 Agustus 2015. Saat itu, Universitas Malahayati sedang memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-70, yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan HUT Universitas Malahayati.

Suasana pembukaan HUT Malahayati memang terasa lebih merasuk, sebab dilakukan di dekat Danau Yatim Universitas Malahayati, berlangsung sederhana, makan bersama di bawah tenda yang tersusun di jalan tepi danau. Kadafi mengatakan yang paling penting dari dies natalis ini tak lebih adalah sebuah perenungan dari sebuah perjalanan panjang kampus ini.

“Jejak kampus ini tak lepas dari langkah-langkah yang sudah ditempuh Pak Rusli. Jika kita lihat langkah-langkah yang ditempuhnya, tentu tak bisa kita cerna dengan logika sederhana. Bagaimana ia yang anak yatim, hanya sekolah tamatan SMA, namun bisa mendirikan empat kampus di berbagai daerah,” katanya.

Sejenak Kadafi menceritakan riwayat hidup Rusli Bintang. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga sederahana dan bahagia. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Dari ayahnya yang berjiwa sosial, dan sang ibu yang penyayang itulah tertanam rasa kasih sayang pada sesama.

Namun di saat usianya yang masih belia, Allah berkehendak lain. Bintang kembali kepangkuan Ilahi, tinggallah Rusli bersama ibunya dan enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Waktu itu, Rusli masih duduk di kelas satu SMA Muhammadiyah.

Sejak itu, Rusli menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja serabutan untuk membantu adik-adiknya bersekolah.

Hingga kemudian, ia menerima cobaan lagi, tatkala seorang adiknya, Darmawan Bintang, meninggal dunia lantaran stres tak bisa ikut ujian akhir sekolahnya di SMP Iskandar Muda, pada 1970. “Waktu itu, ia membutuhkan biaya sekolah hanya seribu rupiah. Saya minta waktu untuk mencarinya, saat uang saya dapatkan, adik saya sudah terlanjur sakit lantaran memikirkan sekolahnya,” katanya.

Melihat sang adik tergolek lemah di atas tikar. Anak yatim ini membopongnya membawa ke puskesmas terdekat. Rumah Rusli di Lampoh Keudee adalah kawasan perkampungan, saat itu kendaraan umum tak ada yang masuk kampung.

Jadilah Rusli menggendong adiknya untuk dibawa ke puskemas. Ia berjalan kaki berlari-lari membawa adiknya. Bahkan dalam perjalanan, pungung Rusli sudah dipenuhi kotoran dan muntah sang adik yang sakit parah. Setibanya di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi.

Sejak itu Rusli bertekad untuk mengubah nasib anak-anak yatim. Maka berbagai kerja dilakoninya, Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Hingga kemudian Rusli menjadi pengusaha konstruksi dengan menggunakan CV Desa Jaya pada 1977. Setahun kemudian, ia sudah memiliki perusahaan sendiri bernama CV Kumita Karya. Badan usaha ini, ditingkatkan statusnya menjadi badan hukum PT Kumita Karya pada 1979.

Setahun bersama PT Kumita Karya, Rusli sudah menyantuni 750 anak yatim di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Bisnis Rusli berkembang dengan pesat, bahkan menjadi satu-satunya pengusaha angkutan yang dipercaya menjadi pendistribusi semen hasil produksi PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis.

Sukses berbisnis tak membuat Rusli melupakan janji, lalu ia mendirikan Yayasan Abulyatama pada 1983. Dari sinilah ia kemudian mendirikan sekolah dasar, SMP, SMA, dan Pesantren Babun Najah di Ulee Kareng Banda Aceh. Hingga kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di Lampoh Keudee, Aceh Besar. Kampus ini kini sangat berkembang, dan berbagai fasilitas berada dalam lahan seluas 54 hektare.

Sebagaimana arti dari nama Abulyatama, maka Rusli pun menjadi ayahnya anak-anak yatim. Ia menyantuni anak yatim, menyekolahkan mereka, bahkan menampungnya bekerja di seluruh unit usaha yang didirikannya.

Kemudian, Rusli mendirikan Universitas Malahayati dengan badan hukum Yayasan Alih Teknologi di Bandar Lampung. Selanjutnya ia membangun Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

***

Di atas mimbar yang berada di sudut kiri panggung di Graha Bintang, Kadafi masih melanjutkan pidatonya. Ia mengatakan perjalanan panjang Universitas Malahayati tentu diwarnai berbagai dinamika.

Seperti halnya manusia, dalam sejarah peradabannya sering dipenuhi berbagai pertentangan dan sinergi. Laksana dua buah kutub medan magnet yang menimbulkan daya tolak satu sama lain atau dua muatan listrik yang saling tarik menarik yang menghasilkan energi, lalu dari sini bisa menjadi penerangan atau kerusakan.

“Pertanyaannya adalah bagaimana kita tetap menjaga dua muatan listrik ini tetap saling tarik menarik dan menghasilkan penerangan bagi kampus ini?” Kadafi bertanya.

Di kampus Universitas Malahayati ada ribuan orang dengan berbagai pola fikir yang berbeda-beda, dan juga sifat dan karakter yang beragam. Jadi, kata Kadafi, dari sini bisa menghasilkan sebuah energi besar untuk mendorong Universitas Malahayati menjadi lembaga pendidikan yang sangat diperhitungkan. “Intinya, adalah menyatukan pikiran ke arah yang positif,” katanya lagi.

“Saya percaya pada kekuatan berpikir ini. Jika kita sama-sama memadukan kekuatan berpikir, melahirkan ide-ide positif, dan kemudian mewujudkannya, maka Insya Allah akan berwujud pada sebuah makna kehidupan yang bernilai tinggi di Universitas Malahayati ini,” kata Kadafi.

Lalu, Kadafi mengajak seluruh civitas akademika untuk menghadirkan refleksi dari perjalanan kampus ini, atau yang paling singkat adalah perjalanan per individu kita di kampus ini.

Benar, refleksi dalam ilmu eksak adalah perubahan arah rambat cahaya ke arah sisi asalnya, setelah menumbuk antarmuka dua medium. Refleksi dalam kehidupan adalah proses merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan, tujuannya untuk mendapatkan kekuatan dalam melangkah ke depan.

Filsuf Yunani, Socrates, menyebutkan “hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi.” Mari kita merenungkannya, dan mari kita merasa-rasakannya, dan marilah kita wujudkan cita-cita kita bersama.

Cita-cita untuk mewujudkan makna keberadaan kita di Universitas Malahayati. Lalu, kita bisa mewujudkan makna keberadaan Universitas Malahayati di negeri ini. Dari sini, bisa menilai seperti apa sebenarnya diri kita ini.

Apakah kita sosok yang memancarkan cahaya yang menerangi kehidupan, atau kita adalah penyebab kegelapan. Mari merenungkannya. []

22 Tahun Universitas Malahayati; Sebuah Renungan Rusli Bintang

UNIVERSITAS Malahayati boleh dikata adalah salah satu perguruan tinggi swasta yang  mentereng di negeri ini. Berada di Jalan Pramuka, Kemiling, Bandar Lampung, kampus berwarna hijau ini berada di atas lahan 84 hektare yang dikelilingi rerimbunan pohon. Di dalam enam blok gedung berlantai delapan bertabur fasilitas akademik yang sangat memadai, bahkan melebihi dari yang dibutuhkan.

Tak hanya fasilitas akademik, juga ada sarana pendukungnya. Misalnya asrama, sarana olahraga seperti golf, badminton, futsal, hingga kolam renang, pencucian pakaian, hingga kuliner.

Bahkan disediakan fasilitas rumah sakit yang terletak beberapa meter di sebelah kiri gerbang kampus yang diberi nama Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin. Sangat panjang jika meguraikan satu per satu fasilitasnya. (Agar Lebih Jelas, Silahkan Klik; Fasilitas Universitas Malahayati).

Didirikan pada 27 Agustus 1993, berjalanlah universitas ini dimulai dari deretan ruko Jalan Kartini, Bandar Lampung, kini kampus ini sudah menempati lahan puluhan hektare dengan berbagai fasilitas. Pada Agustus ini, Universitas Malahayati kembali merayakan ulang tahunnya. (Klik di sini untuk membaca Profil Universitas Malahayati)

Membandingkan antara fasilitas dan riwayat pendirinya, kenyataan ini hampir-hampir mustahil terjadi, namun begitulah fakta yang kita lihat sekarang ini.

Pendirinya, Rusli Bintang, adalah seorang anak yatim yang mengawali kehidupannya dengan sangat berat.

Rusli kecil lahir pada Jumat 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Sedangkan ibunya, ya ibu rumah tangga biasa.

Walau masa kecilnya bukanlah dari kalangan berada, ia mengawali kehidupan yang bahagia. Iya ingat, ayahnya yang mantri kesehatan itu hampir setiap hari keluar masuk kampung mengayuh sepeda untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongannya.

Maklum, mantri kesehatan di perkampungan tentu sangat jarang. Bahkan di masa itu dokter pun belum ada. Jadilah Bintang harapan masyarakat. Tanpa perduli waktu, kadang tengah malam, pun ia tetap akan keluar rumah jika warga membutuhkannya.

Kerab kali, Bintang membonceng Rusli untuk menemaninya membantu orang-orang kampung. “Saya pernah bingung melihat ayah saya sering tak mendapat bayaran apa-apa setelah mengobati orang sakit. Saya pernah menanyakan itu, tapi ia malah menasehati saya agar mengisi hidup dengan rasa sosial. Sebab di situlah letak makna kehidupan yang sesungguhnya. Keberadaan kita berguna bagi sesama manusia,” kata Rusli.

Namun Rusli tak bisa mendengar nasehatnya sampai ia dewasa. Allah berkehendak lain. Bintang kembali ke pangkuan Ilahi di masa usia Rusli masih terlalu dini, ia belum sempat menginjakkan kakinya ke sekolah menengah.

Di tengah-tengah kehilangan seorang ayah, Rusli tiada pilihan lain. Ia sebagai anak sulung harus merawat enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Maka, ia meminta izin dari ibundanya untuk membantu mencari rezeki buat sekolah adik-adiknya.

Maka jadilah Rusli bekerja serabutan.  Ia membagi waktu, siang mengambil upah memanjat kelapa, malam sampai dini hari memanggul pasir di kali. “Kadang-kadang kuli lain heran mengapa punya saya sudah banyak pas mereka datang. Padahal saya mengangkutnya malam hari, mereka mengangkutnya pagi,” kata Rusli tersenyum mengenang masa pahit hidupnya itu.

Namun senyum Rusli mendadak hilang ketika bercerita tentang kisah selanjutnya. Kendati bekerja keras seperti itu, ia ternyata masih kesulitan dalam memenuhi biaya sekolah salah satu adiknya yang saat itu sedang mau menghadapi ujian akhir sekolah SMP. Padahal yang dibutuhkan adalah uang seribu rupiah.

Rusli meminta pada adiknya bersabar. “Ia adik saya yang pintar di sekolah,” kata Rusli. Bercerita soal ini, Rusli mulai meneteskan air matanya. Sang adik tak bisa ikut ujian jika belum membayar uang sekolah. Maka Rusli pun berusaha mencari uang ke sana ke mari, hingga uang sekolah adiknya didapat.

Namun sang adik sudah terlanjur depresi, ketakutan, dan kesedihan. Si adik ketakutan tidak bisa mengikuti ujian gara-gara belum bayar uang sekolah, kondisi tersebut semakin menyiksanya dan membuatnya sakit. Rusli pun datang ke sekolah membayar uang sekolah itu.

Ketika Rusli pulang ke rumah, ia melihat adiknya sudah tergeletak di atas tikar. Melihat adiknya yang terlanjur sakit parah, Rusli sedih bukan main. Apalagi ketika ia melihat adiknya muntah-muntah.

Sambil menangis, anak yatim ini menggendong adiknya. Ia membawanya ke puskesmas dengan berjalan kaki pada malam hari. Bahkan adiknya yang dalam gendongannya mulai mengeluarkan cairan kotoran sampai berlepotan di punggung Rusli.

Rusli terus berlari agar cepat tiba, namun sesampai di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi. “Dokter mengatakan jika stres, sedih, dan ketakutan tidak bisa mengikuti ujian yang dialami adiknya membuat dia sakit dan meninggal,” kata Rusli. Cerita itu memang membuat hancur hati Rusli. Ia tak mampu melanjutkan kisah hidupnya.

Sejumlah teman-teman dekat Rusli bercerita, sejak itu ia bertekat untuk mendirikan sekolah dan membantu anak-anak yatim. Maka berbagai kerja pun dilakoni. Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Kerja keras Rusli mengantarnya ke sebuah perusahaan konstruksi. Dari sini ia belajar menjadi kontraktor. Belakangan ia menjadi pengusaha konstruksi. Bahkan, sebuah perusahaan semen PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis, mempercayai Rusli sebagai satu-satunya pengusaha yang mendistribusikan semen.

Belakangan Rusli menjual semua truknya dan asset perusahaan, lalu mendirikan pesantren. Di sini ia mulai menampung anak-anak yatim. Kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di dekat rumahnya di Lampoh Keudee, Ulee Kareng Aceh Besar. Ini menjadi perguruan tinggi swasta tertua di Aceh.

Setelah itu barulah ia mendirikan Universittas Malahayati di Bandar Lampung pada 27 Agustus 1993, menyusul kemudian Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

Kini puluhan ribu mahasiswa belajar di berbagai kampus yang di dirikannya. Di antara para mahasiswa itu sungguh ramai anak-anak yatim yang mendapat beasiswa. Biaya kuliah digratiskan, biaya hidup pun ditanggung. Setelah selesai kuliah pun mereka ditawarkan pekerjaan di tempatnya.

Anak-anak yatim yang belum masuk bangku kuliah disantuninya. Bahkan, ibu-ibu anak yatim pun dibantu, mereka bekerja dan mendapat gaji bulanan—apapun yang bisa dikerjakan tak masalah— di kampus-kampus yang didirikannya itu.

Di setiap bulan ramadhan, tim dari kampus-kampus di terjun ke berbagai daerah untuk menyalurkan santunan. Mereka datang ke berbagai rumah anak yatim. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH pada ramadhan tahun ini yang berkeliling dari Aceh, Sumut, Padang, dan Lampung, untuk menyalurkan santunan anak yatim.

Miliaran rupiah per bulan untuk anak-anak yatim di berbagai tempat di negeri ini kini menikmati hasil dari kerja keras Rusli Bintang.

Selamat ulang tahun Universitas Malahayati. Renungkanlah jejak-jejak yang pernah dilalui pendirinya; Rusli Bintang. Sebuah jejak panjang mengurai cerita yang sarat makna kehidupan. []

Rusli Bintang, Sang Peduli Anak Yatim

Tulisan Kabul Budiono, Pimpinan di Direktorat Program dan Produksi RRI, tentang Rusli Bintang.

Kami tidak merencanakan pertemuan itu. Berangan angan pun tidak. Namun, kami memang bertemu. Dari pertemuan itu saya belajar banyak tentang kebaikan hati dan keikhlasan luar biasa. Di mana ? Di dalam pesawat terbang yang membawa kami ke Banda Aceh.

Karenanya, saya percaya Allah lah yang mempertemukan kami. Allah yang berkehendak agar saya mendengar dan melihat apa yang dilakukan laki laki yang bernama Rusli Bintang.

“Bapak, tinggal di Aceh?” Demikian tanya laki-laki di sebelah saya. Itulah awal perbincangan kami. Sayapun akhirnya tahu bahwa laki-laki berusia 65 tahun itu bernama Rusli Bintang. Saya sesungguhnya sudah melihatnya di depan pintu masuk pesawat Garuda Indonesia.

Dari cara dia memalingkan muka, saya berkesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan lehernya. Pun saya tidak menduga bahwa laki-laki berkaos sederhana itu akan duduk di samping saya di kelas bisnis.

“Ya Bapak lihat, saya tidak biasa memalingkan muka dengan benar. Ini karena dulu saya sering memanggul beras “.

Ya, Rusli Bintang, yang sekarang naik pesawat bersama saya, telah melewatkan hidupnya dengan kerja keras. Ia adalah anak sulung dari 9 bersaudara. Ia dan saudara saudara menjadi anak yatim karena Allah memanggil pulang bapaknya ketika ia masih remaja.

Ia pernah menjadi tukang bersih bersih salah satu kantor Ia juga pernah menjadi tukang angkat barang di pasar Ulee Kareeng tidak jauh dari rumahnya.

Namun, kini, apa yang terjadi ? Rusli Bintang yang tidak pernah menamatkan Madrasah Ibtidaiyah yang setingkat SD itu kini pulang ke tanah kelahirannya untuk membagi bagi uang untuk ratusan anak yatim dan ibunya.

“Selama  bulan Ramadhan ini, kami jalan terus. Saya langsung datangi anak anak yatim ke rumahnya. Saya bagikan uang untuk beli baju lebaran. Habis dari Aceh kami ke Padang, kemudian ke Ujung Pandang. Setiap bulan kami keluarkan uang 2 milyar untuk sedekah anak anak yatim “

Mengapa demikian ? Ia meminta saya mengingat ayat 261 Surat Al Baqarah. “Bapak baca ayat itu “ Demikian pintanya. Ayat 261 Surat Al Baqarah adalah permintaan Allah agar seorang Muslim menyedekahkan hartanya untuk anak yatim. “ Coba Bapak hitung.

Sekali memberi, akan berlipat tujuh ratus kali. Tetapi Bapak harus yakin, harus ikhlas. Bahagia sekali memberi anak yatim itu… “
Saya menanyakan mengapa ia peduli betul sama anak yatim ? Ia bercerita bagaimana derita hidupnya ketika menjadi anak anak yatim ketika ditinggal mati ayahnya saat ia masih remaja. Ia adalah sulung dari adik adiknya.

“Saya sedih sekali pak. Adik saya meninggal gara gara uang 1000 rupiah dan saya tidak dapat memberinya. Adik saya itu, mau ujian SMP harus membayar uang untuk ujian. Ia sudah belajar dengan sungguh sungguh. Tetapi ia tidak bisa ikut karena tidak bayar.”

“Sayapun mencari uang. Tetapi susah sekali. Akhirnya saya dapat uang itu dan saya berikan uang itu untuk bayar uang ujian. Tetapi….”

Tiba-tiba suaranya tersendat. Air matanya menetes. “Malam itu adik saya sakit. Ia mencret mencret. Saya gendong dia ke rumah sakit. Punggung saya belepotan kotorannya itu. Sampai di rumah sakit. Ia sudah lemah sekali. Akhirnya dia meninggal…… Saya sedih sekali pak. Karena kata dokter ia sakit karena stress. Sedih dan panik karena tidak bisa ikut ujian,” Rusli pun menyeka air matanya. Saya terhenyak mendengar ceritanya. Karena itulah ia sangat berempati pada anak anak yatim dan berusaha membantunya.

Rusli Bintang sejak muda, sudah membiasakan diri bersedekah untuk anak-anak yatim. Ketika Allah telah memberi rizki dengan mengubah kehidupannya dari seorang buruh menjadi pengusaha, terus menggelontorkan sebagian hartanya untuk para yatim piatu.

Dari hasil usahanya, di Banda Aceh dia mempunyai perguruan tinggi yang diberinama Abu Yatima, yang berarti ayah anak yatim. Di Lampung berdiri megah Universitas Malahayati, dan di Jakarta perguruan tingginya ada di kawasan Kelapa Gading.

Selain terhenyak mendengar kisah hidupnya pertemuan saya dengan Rusli menyebabkan kekagetan lain. Ketika saya bercerita bahwa saya ke Banda Aceh untuk membuka Pekan Tilawatil Qur’an tingkat Nasional dan bercerita bahwa tahun lalu ada dermawan yang memberi hadiah umrah untuk juara 1, di atas pesawat itu Pak Rusli bilang, “kali ini saya yang akan membiayai umrah untuk para pemenang itu “.

Seungguh, saya tidak meyakini apa yang dikatakannya itu. Tetapi begitu sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda, di pintu keluar ia bertemu Mirza Musa Kepala RRI Banda Aceh, pak Rusli Bintangpun bbilang, “untuk juara yang lima itu, umrahnya dari saya “. Mirza kelihatan bingung. Ia baru percaya ketika saya menceritakan pembicaraan kami di pesawat.

Dalam mobil yang membawa saya dari bandara Mirza berkata, “Pak Rusli itu dulu bekerja, sama bapak saya. Ia yang membuka pintu pagi pagi dan bersih bersih kantor bapak saya. “

Subhanallah, Allahhu Akbar…….

Menteri Nasir: Pemerintah Tak Bedakan Swasta dan Negeri

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof Mohamad Nasir menyatakan pemerintah kini tidak membeda-bedakan antara universitas negeri dan swasta. “Yang membedakannya adalah kualitas perguruan tingginya,” kata Menteri Nasir dalam sambutannya di Aula Universitas Abulyatama, Lampoh Keudee, Aceh Besar, Minggu 5 April 2015.

Karena itu, kata Menteri Nasir, sangat memungkinkan perguruan tinggi swasta lebih baik mutunya dibanding negeri. Bahkan, katanya, di masa sekarang ini pun sudah ada universitas swasta yang lebih baik mutunya dibanding negeri. Karena itu, Menteri Nasir, memberi petuah pada Universitas Abulyatama agar terus meningkatkan kualitasnya.

Menteri Nasir mengunjungi Universitas Abulyatama dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Yayasan Abulyatama yang dipimpin Dr. Muhammad Kadafi SH MH. Menristek langsung disambut pendiri Abulyatama H. Rusli Bintang, Ketua Yayasan Alih Teknologi (Universitas Malahayati) Ruslan Junaidi, pengelola Institut Kesehatan Indonesia – Jakarta Musa Bintang, dan Rektor Universitas Abulyatama Ir. R. Agung Efrino PhD yang didampingi para dekan.

Bersama mereka tampak ratusan anak-anak yatim di lingkungan Banda Aceh dan Aceh Besar juga ikut menyambut Menristek Nasir. Sejumlah pejabat di Aceh ikut mendampingi, di antaranya Sekda Aceh Dharmawan, pejabat Polda Aceh dan Kodam Iskandar Muda, juga ada Kepala Dinas Pendidikan Aceh Hasanuddin Dardjo.

Selain perhatian soal mutu akademik, Menteri Nasir menyebutkan fasilitas yang dimiliki Universitas Abulyatama sudah sangat baik. Abulyatama, kata Menteri Nasir, juga memiliki perhatian yang sangat bagus untuk anak-anak yatim dan kaum dhuafa.

Menteri sangat mendukung Abulyatama dalam mengelola anak-anak yatim ini. “Saya mendukung sepenuhnya. Anak-anak yatim bukan hanya tanggungjawab negara, jadi tanggungjawab kita semua,” katanya. Menteri berterimakasih pada Abulyatama yang telah peduli anak-anak yatim.

Sebelumnya, pada Sabtu 28 Februari 2015, Menteri Nasir juga sudah mengunjungi Universitas Malahayati yang didirikan Rusli Bintang di Bandar Lampung. Ia sudah melihat fasilitas yang disediakan kampus untuk para mahasiswa, di antaranya perlengkapan yang dibutuhkan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan juga meninjau perpustakaan kampus. Menteri Nasir juga meresmikan Gedung Terpadu Universitas Malahayati. []

Gubernur Aceh: Rusli Bintang Patut Jadi Teladan

Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah menyatakan kebanggaannya pada H. Rusli Bintang, pendiri Universitas Abulyatama, Lampoh Keudee, Aceh Besar. “Rusli Bintang adalah sosok yang patut menjadi teladan kita bersama,” kata Gubernur Zaini dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekretaris Daerah Aceh, Dharmawan, di Aula Universitas Malahayati, Minggu 5 April 2015.

Gubernur Aceh menyampaikan sambutannya pada kunjungan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir ke Universitas Abulyatama (Unaya). Kunjungan Menteri Nasir ini adalah untuk menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Yayasan Abulyatama yang dipimpin Dr. Muhammad Kadafi SH MH.

Melalui Sekda Aceh, Gubernur Zaini menyampaikan sebuah pertanyaan, “mengapa nama kampus ini Universitas Abulyatama?” Lalu, katanya, ia mencari jawaban sendiri tentang penamaan kampus yang bermakna “ayahnya anak-anak yatim” itu. “Saya menemukan keterkaitan sejarah antara nama universitas dan kehidupan Rusli Bintang,” katanya.

Rusli Bintang, kata gubernur, adalah seorang anak yatim yang kehidupannya sangat berliku. “Dari anak yatim yang kehidupannya sangat susah, ia kemudian menjadi seorang pengusaha, lalu mendirikan kampus bernama Abulyatama ini,” katanya. “Bahkan dari yayasannya ia membantu anak-anak yatim, dan menyekolahkan mereka.”

Itulah sebabnya, Gubernur Zaini menyebutkan sosok Rusli Bintang sangat patut menjadi teladan. Rusli menjadi kebanggaan rakyat Aceh. “Kami sangat mendukung keberadaan Universitas Abulyatama ini. Kami sangat mengharapkan perguruan tinggi ini makin maju dan mengambil peran dalam pembangunan Aceh,” katanya.

“Kami juga tahu, beliau bukan hanya mendirikan Universitas Abulyatama, juga telah mendirikan Universitas Malahayati di Lampung, Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta. Bahkan, kami juga tahu semua kampus-kampus yang didirikannya itu sangat peduli pada anak-anak yatim dan kaum ddhuafa.” []

Ke Unaya, Menteri Nasir Disambut Anak Yatim

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir, mengunjungi kampus Universitas Abulyatama, Lampoh Keudee, Aceh Besar, Minggu 5 April 2015. Ia datang menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Yayasan Abulyatama yang dipimpin Dr. Muhammad Kadafi SH MH.

Tiba ke kompleks kampus pukul 12.00, Menristek Nasir disambut pendiri Abulyatama H. Rusli Bintang, Ketua Yayasan Alih Teknologi (Universitas Malahayati) Ruslan Junaidi, pengelola Institut Kesehatan Indonesia – Jakarta Musa Bintang, dan Rektor Universitas Abulyatama Ir. R. Agung Efrino PhD yang didampingi para dekan.

Terlihat ratusan anak-anak yatim di lingkungan Banda Aceh dan Aceh Besar juga ikut menyambut Menristek Nasir. Bersama menteri tampak sejumlah pejabat di Aceh ikut mendampingi, di antaranya Sekda Aceh Dharmawan, pejabat Polda Aceh dan Kodam Iskandar Muda, juga ada Kepala Dinas Pendidikan Aceh Hasanuddin Dardjo.

Sejumlah penari cilik, ikut menyambut kedatangan Menteri dengan menyuguhkan tarian Ranub Lam Puan. Mereka menyuguhkan sirih kepada Menteri Nasir. Setelah itu, beberapa ulama Aceh Besar menempungtawari Menteri Nasir.

Bersama anak-anak yatim, Menteri dan para pejabat makan siang bersama. Terlihat Menteri ikut mengambil lauk nasi dan menaruhnya ke piring anak-anak yatim yang duduk berdampingan dengannya. Tampak wajah Menteri Nasir sangat sumringah duduk bersimpuh bersama anak yatim makan siang bersama.

Adapun tuan rumah, Rusli Bintang, justru berperan menjadi pelayan. Ia yang mengambil lauk pauk, dan juga piring, minum, untuk mereka. Ia makan sembari jongkok di belakang anak-anak yatim yang sedang makan.