Posts

Dissa, pendiri kafe tunarungu: ‘momen’ inspiratif saat dipanggil Obama

Pendiri kafe untuk tunarungu, Dissa Ahdanisa, mengatakan momen saat Presiden Obama memanggil namanya dalam satu forum membuatnya terinspirasi untuk terus berkarya membantu kaum difabel.

Dalam forum Pemimpin Muda ASEAN, Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) di Luang Prabang, Laos, awal September lalu, Presiden Obama memanggil Dissa dan Mimi Sae-Ju dari Thailand atas apa yang ia sebut anak muda yang memberi inspirasi kepada yang lain.

“Saya terinspirasi atas apa yang dilakukan Dissa karena dalam lawatan terakhir saya ke Asia sebagai presiden, saya ingin menjamin bahwa Anda semua tetap memberikan inspirasi kepada yang lain seperti yang dilakukan oleh dua perempuan yang memberikan inspirasi di negara mereka dan seluruh dunia,” kata Obama saat itu.

Dissa yang telah membuka tiga kafe tunarungu sejak 2015 dan memberi nama kafe-kafe itu Fingertalk di Jawa Barat dan Banten mengatakan, “Sampai sekarang karena masih tidak percaya, Presiden Obama memanggil nama saya, tapi momen seperti ini yang membuat saya juga terinspirasi untuk terus maju dan tidak boleh mundur.”

“Ketika Presiden Obama mengucapkan kata Fingertalk, semua perjuangan saya saat mendirikan Fingertalk itu flashback di depan mata saya, mudah-mudahan ini worth it (berarti). Kita membuat Fingertalk untuk teman-teman tunarungu, dan sudah sampai diketahui oleh Obama, semoga ini memang jalan yang benar,” tambahnya.

Langkah membuka kafe denga 32 karyawan saat ini, diawali dari perjalanannya ke Nicaragua untuk menjadi sukarelawan dan melihat ada kafe khusus untuk tunarungu.

Orang tua menangis

Pada mulanya ia ingin belajar bahasa baru, dengan bahasa isyarat yang dilakukan para penjaga kafe di sana, namun kemudian menyadari bahwa upaya ini dapat digunakan untuk memberdayakan komunitas tunarungu di Indonesia.

“Saya lihat kebutuhan pekerjaan untuk teman-teman difabel yang dekat dengan lingkungan saya adalah tunarungu. Saya berpikir, kenapa tidak kita buat satu tempat agar teman-teman tunarungu dapat pekerjaan, dan teman-teman yang bisa mendengar bisa belajar bahasa isyarat,” kata Dissa.

Salah seorang karyawannya di satu kafe, Ifti, mengatakan orang tuanya terharu saat ia pertama kali membawa uang hasil kerja.

“Saya kerja karena saya perlu uang untuk membantu biaya pengobatan orang tua dan membantu biaya kuliah adik saya. Saat saya bisa pulang membawa uang, orang tua saya menangis (terharu), mereka bilang, kalau punya rezeki tidak boleh pelit. Saya ajak orang tua dan adik saya jalan-jalan dan makan bersama. Senang rasanya,” kata Ifti.

161011132615_deaf_cafe_indonesia_640x360_bbc_nocredit

Ia menambahkan suatu saat ingin membuka salon setelah mengumpulkan uang dari hasil bekerja.

Dissa sendiri mengatakan ia ingin kafe Fingertalk dapat menjadi sarana agar “teman-teman tunarungu bisa mandiri dan menjadi tempat belajar, bertemu lebih banyak orang dan menjadi batu loncatan untuk mendapatkan kesempatan yang lebih bagus”.

Dalam pidatonya di Laos, Obama saat itu juga mengutip Dissa dengan mengatakan, “Dia ingin negaranya menjadi tempat di mana orang dapat meraih mimpi tanpa batasan … dan memberikan inspirasi atas apa yang ia lakukan.”