Posts

Peneliti Indonesia Harus Tingkatkan Gairah Dalam Hal Riset dan Publikasi

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menegaskan pentingnya publikasi internasional pada jurnal-jurnal ilmiah yang ada di Perguruan Tinggi serta memberikan perhatian yang serius pada riset-riset di Indonesia. Hal ini disampaikan Nasir pada kuliah umum dengan tema “Kebijakan Peningkatan Publikasi Kekayaan Intelektual, Hilirisasi dan Komersialisasi Riset” bertempat di gedung convention hall Universitas Andalas, Jumat (12/8).

Pada acara ini Nasir yang baru pertama kali mengunjungi kampus Unand sejak dilantik menjadi Menteri didampingi oleh Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, M. Dimyati serta Sesditjen Sumberdaya Iptek Dikti, John Hendri yang baru-baru ini dilantik menjadi Plt Koordinator kopertis wilayah X. Ada juga Rektor Unand, Tafdil Husni yang sekaligus membuka acara kuliah umum tersebut.

Dihadapan ratusan Mahasiswa pascasarjana dan para peneliti Unand Menristekdikti mengatakan, hilirisasi dan komersialisasi riset menjadi penting yang harus sepenuhnya didorong bersama. Masalah yang sampai saat ini terjadi di Indonesia pada riset-riset dari Perguruan Tinggi, Masih banyaknya industri memakai riset dari luar negeri dan hasil riset dari Perguruan Tinggi tidak dimanfaatkan oleh industri yang bersangkutan.

“Menurut saya ini yang menjadi masalah yang harus kita selesaikan bersama, dan harus kita dorong khususnya untuk para peneliti agar terus mempunyai gairah yang tinggi agar kedepan risetnya bisa dimanfaatkan oleh para industri,” tegas Nasir.

Nasir menjelaskan, Pemerintah harus memberikan perhatian yang serius terhadap riset. Hasil riset mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam menentukan keunggulan kompetitif dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa, sehingga hampir tidak ada negara di dunia ini yang mempunyai daya saing dan pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa memberikan perhatian yang serius terhadap riset.

Tingkatkan Publikasi Internasional

Berbicara mengenai publikasi internasional, Menteri Nasir membeberkan bahwa Indonesia masih rendah dan berada di ranking nomor 4 se-ASEAN dalam hal publikasi setelah Singapura, Malaysia, Thailand. Memang sudah seharusnya, untuk menjadi worldclass university, publikasi internasional menjadi fokus penting bagi para Perguruan Tinggi di Indonesia. Mahasiswa dituntut untuk membuat publikasi ilmiahnya ke internasional dan harus segera di patenkan.

“Ini yang harus saya tekankan, masalah yang sekarang kita hadapi adalah masalah ketersediaan jurnal. Mahasiswa S-2 ketika lulus wajib mempublikasikan jurnal-jurnal yang sudah terakreditasi, dan Mahasiswa S-3 wajib mempublikasikan di internasional. Syarat untuk menjadi worldclass university, poin pentingnya ada di publikasi internasional,” ujar Nasir.

Nasir menambahkan, upaya untuk mendorong publikasi adalah harus melakukan inovasi. Harapannya, dari setiap masing-masing fakultas untuk bisa menghasilkan publikasi dimulai dari peran dekan, bila berjalan sesuai dengan prosedur yang ada, bukan tidak mungkin Indonesia dapat meningkatkan ranking publikasi ilmiah internasionalnya.

Sejalan dengan publikasi ilmiah, Rektor Unand, Tafdil Husni mengatakan publikasi ilmiah dosen Unand mengalami peningkatan yang signifikan dengan jumlah kurang lebih 2000 jumlah artikel dan jumlah pada publikasi jurnal terindeks scopus yang aktif datanya sampai bulan juli adalah kurang lebih 843 artikel.

“Kami melihat pada rangking scopus indeks jurnal, kampus Unand berada pada rangking 11 dari PTN di Indonesia lainnya. Saya harap kami dapat mempertahankan serta meningkatkan kualitas kami untuk mencapai worldclass university dalam hal publikasi internasional,” imbuh Tafdil pada sambutannya.

Kedepan, harapan besar ada pada tangan peneliti di Indonesia untuk kemajuan bangsa dimulai dari riset yang menghasilkan suatu inovasi besar yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar Indonesia bisa selevel dengan Negara-negara maju lainnya.

Sumber – http://ristekdikti.go.id

Menteri Nasir: Mahasiswa Harus Siap Hadapi MEA

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menjadi Keynote Speaker pada Musyawarah Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia ke IX yang berlangsung di Aula Universitas Tidar Magelang.

Pada acara yang mengambil tema Konsistensi Pergerakan Mahasiswa Demi Terwujudnya Indonesia Sejahtera itu Nasir memaparkan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia harus dikelola dengan baik, karena tantangan Indonesia ke depan sangat tinggi. Indonesia diharapkan menjadi kunci kemajuan negara-negara lain tidak hanya di sekitar ASEAN tetapi juga meningkat ke level Asia.

“Dengan tantangan itu, maka lulusan Perguruan Tinggi diharapkan sangat baik. Contohnya dalam penguasaan bahasa, diharapkan minimal lulusan dapat menguasai 3 bahasa asing. Itu merupakan modal dasar dengan dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),” katanya.

Dalam seminar tersebut Nasir berpesan kepada para mahasiswa agar selalu menjadi motor utama pembangunan dan menjadi pencetus lapangan pekerjaan. “Mahasiswa setelah lulus nantinya tidak hanya menjadi pencari pekerjaan. Tapi juga harus menjadi kreator lapangan pekerjaan, mengingat pengangguran yang masih cukup banyak di Indonesia,” kata Nasir.

Nasir juga berpesan kepada para mahasiswa mengingat beberapa momen yang sedang terjadi di Indonesia belakangan ini bahwa mahasiswa perlu menimbulkan lagi semangat nasionalisme yang tinggi agar paham-paham yang dapat memecah belah keutuhan Negara tidak mudah timbul. | sumber: risetdikti.go.id

Pemerintah Permudah Izin Belajar dan Student Visa di Indonesia

Kebutuhan akan tersedianya visa bagi mahasiswa asing yaitu Student Visa sudah cukup lama dinantikan bahkan sejak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi masih berada dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kamis, 21 Januari 2015 akhirnya harapan tersebut terwujud dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dengan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Republik Indonesia.

Kegiatan ini merupakan tonggak sejarah baru dalam perkembangan Pendidikan Tinggi Indonesia maupun layanan Kemenkumham melalui Ditjen Imigrasi dalam menyediakan layanan prima yang terintegrasi dan menjawab kebutuhan visa bagi mahasiswa asing yang akan belajar di perguruan tinggi Indonesia.

“Tidak hanya kegiatan-kegiatan pertukaran mahasiswa saja yang akan memperoleh dampak positif dengan adanya Student Visa ini, tetapi juga kegiatan-kegiatan kerjasama penelitian antara Perguruan Tinggi Indonesia dengan perguruan tinggi mitra di luar negeri,” terang Menteri Nasir pada sambutannya.

Keberadaan mahasiswa asing di Perguruan Tinggi Indonesia menjadi sangat penting karena menunjukkan apakah perguruan tinggi Indonesia sudah menjadi acuan dan tujuan pendidikan tinggi dunia. Peningkatan mutu perguruan tinggi Indonesia dicerminkan salah satunya dengan peningkatan kerjasama internasional perguruan tinggi, baik berupa kerjasama penelitian, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta layanan yang prima bagi mahasiswa asing.

Nota Kesepahaman antara Kemenristekdikti dan Kemenkumham dalam memberikan Layanan Izin Belajar dan Visa Mahasiswa Asing di Indonesia untuk studi di perguruan tinggi di Indonesia akan memberikan angin segar dalam perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia dan sejalan dengan upaya Kemenristekdikti dalam mendorong peningkatan kerjasama internasional maupun mobilitas mahasiswa asing ke perguruan tinggi Indonesia.

“Dengan kerjasama yang baik, keinginan Menristekdikti untuk menambah devisa negara ini, saya percaya melalui kemudahan ini dapat kita lakukan. Layanan ini dapat langsung dieksekusi,” ujar Menkumham Yasonna Hamonangan Laoly.

Diharapkan dengan tersedianya Student Visa bagi mahasiswa asing, Indonesia akan memberikan daya tarik yang lebih untuk meningkatkan keinginan mahasiswa asing belajar di perguruan tingi Indonesia, serta akan menumbuhkan nuansa internasional dalam kegiatan akademik di perguruan tinggi.

Mari kita manfaatkan ketersediaan sistem Layanan Izin Belajar dan Student Visa ini untuk memberikan layanan yang terbaik atas nama negara Republik Indonesia, demi mencapai cita-cita luhur bangsa Indonesia. | sumber: ristekdikti.go.id

Menteri Nasir: Pemerintah Tak Bedakan Swasta dan Negeri

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof Mohamad Nasir menyatakan pemerintah kini tidak membeda-bedakan antara universitas negeri dan swasta. “Yang membedakannya adalah kualitas perguruan tingginya,” kata Menteri Nasir dalam sambutannya di Aula Universitas Abulyatama, Lampoh Keudee, Aceh Besar, Minggu 5 April 2015.

Karena itu, kata Menteri Nasir, sangat memungkinkan perguruan tinggi swasta lebih baik mutunya dibanding negeri. Bahkan, katanya, di masa sekarang ini pun sudah ada universitas swasta yang lebih baik mutunya dibanding negeri. Karena itu, Menteri Nasir, memberi petuah pada Universitas Abulyatama agar terus meningkatkan kualitasnya.

Menteri Nasir mengunjungi Universitas Abulyatama dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Yayasan Abulyatama yang dipimpin Dr. Muhammad Kadafi SH MH. Menristek langsung disambut pendiri Abulyatama H. Rusli Bintang, Ketua Yayasan Alih Teknologi (Universitas Malahayati) Ruslan Junaidi, pengelola Institut Kesehatan Indonesia – Jakarta Musa Bintang, dan Rektor Universitas Abulyatama Ir. R. Agung Efrino PhD yang didampingi para dekan.

Bersama mereka tampak ratusan anak-anak yatim di lingkungan Banda Aceh dan Aceh Besar juga ikut menyambut Menristek Nasir. Sejumlah pejabat di Aceh ikut mendampingi, di antaranya Sekda Aceh Dharmawan, pejabat Polda Aceh dan Kodam Iskandar Muda, juga ada Kepala Dinas Pendidikan Aceh Hasanuddin Dardjo.

Selain perhatian soal mutu akademik, Menteri Nasir menyebutkan fasilitas yang dimiliki Universitas Abulyatama sudah sangat baik. Abulyatama, kata Menteri Nasir, juga memiliki perhatian yang sangat bagus untuk anak-anak yatim dan kaum dhuafa.

Menteri sangat mendukung Abulyatama dalam mengelola anak-anak yatim ini. “Saya mendukung sepenuhnya. Anak-anak yatim bukan hanya tanggungjawab negara, jadi tanggungjawab kita semua,” katanya. Menteri berterimakasih pada Abulyatama yang telah peduli anak-anak yatim.

Sebelumnya, pada Sabtu 28 Februari 2015, Menteri Nasir juga sudah mengunjungi Universitas Malahayati yang didirikan Rusli Bintang di Bandar Lampung. Ia sudah melihat fasilitas yang disediakan kampus untuk para mahasiswa, di antaranya perlengkapan yang dibutuhkan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan juga meninjau perpustakaan kampus. Menteri Nasir juga meresmikan Gedung Terpadu Universitas Malahayati. []

Ke Unaya, Menteri Nasir Disambut Anak Yatim

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir, mengunjungi kampus Universitas Abulyatama, Lampoh Keudee, Aceh Besar, Minggu 5 April 2015. Ia datang menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Yayasan Abulyatama yang dipimpin Dr. Muhammad Kadafi SH MH.

Tiba ke kompleks kampus pukul 12.00, Menristek Nasir disambut pendiri Abulyatama H. Rusli Bintang, Ketua Yayasan Alih Teknologi (Universitas Malahayati) Ruslan Junaidi, pengelola Institut Kesehatan Indonesia – Jakarta Musa Bintang, dan Rektor Universitas Abulyatama Ir. R. Agung Efrino PhD yang didampingi para dekan.

Terlihat ratusan anak-anak yatim di lingkungan Banda Aceh dan Aceh Besar juga ikut menyambut Menristek Nasir. Bersama menteri tampak sejumlah pejabat di Aceh ikut mendampingi, di antaranya Sekda Aceh Dharmawan, pejabat Polda Aceh dan Kodam Iskandar Muda, juga ada Kepala Dinas Pendidikan Aceh Hasanuddin Dardjo.

Sejumlah penari cilik, ikut menyambut kedatangan Menteri dengan menyuguhkan tarian Ranub Lam Puan. Mereka menyuguhkan sirih kepada Menteri Nasir. Setelah itu, beberapa ulama Aceh Besar menempungtawari Menteri Nasir.

Bersama anak-anak yatim, Menteri dan para pejabat makan siang bersama. Terlihat Menteri ikut mengambil lauk nasi dan menaruhnya ke piring anak-anak yatim yang duduk berdampingan dengannya. Tampak wajah Menteri Nasir sangat sumringah duduk bersimpuh bersama anak yatim makan siang bersama.

Adapun tuan rumah, Rusli Bintang, justru berperan menjadi pelayan. Ia yang mengambil lauk pauk, dan juga piring, minum, untuk mereka. Ia makan sembari jongkok di belakang anak-anak yatim yang sedang makan.