Posts

Belajar Bahagia dari Negeri di Tebing Himalaya

Mungkin tak banyak publik di Indonesia yang mengenal negeri ini, negeri ini dijuluki “Shangri-La di bumi” karena keindahannya, juga sering disebut ““Land Of The Thunder Dragon” atau “Negeri Naga Guntur”. Bhutan namanya. Negara di tebing Himalaya yang ukurannya kira-kira seluas Propinsi Jawa Tengah ini dikenal karena rakyatnya yang sangat sopan, halus, suka menolong, dan ramah. Para turis asing yang pernah ke Bhutan selalu menceritakan hal tersebut. Sebuah sifat yang sepertinya sudah menjadi karakter utama mereka. Dan mereka melakukannya, karena mereka sendiri adalah masyarakat yang paling bahagia di dunia.

tigers-nest-taktsang-lhakhang-bhutan_l

Paro tagshang (tiger nest), Bhutan

Salah satu yang unik dari Bhutan ini adalah bagaimana mereka tak begitu mengejar pertumbuhan ekonomi (yang menurut mereka akan menganggu harmoni manusia dan alamnya), mereka benar-benar hanya ingin membuat rakyatnya bahagia. Karena mereka meyakini, kebahagiaan manusia adalah elemen terpenting bagi masa depan yang sustainable.

Ada lagi yang unik.
Negara ini adalah negara satu-satunya diunia yang memiliki Gross National Happiness (GNH) index. Sesuai namanya, GNH memang mengukur tingkat kebahagiaan rakyatnya, termasuk kualitas hidup mereka, dan memastikan bahwa pembangunan spiritual dan material berjalan beriringan.

Dan Bhutan berhasil melakukannya, mencari keseimbangan di antara keduanya. Negara ini selalu berada di peringkat atas di antara negara-negara Asia yang rakyatnya paling bahagia. Ketika ekonomi negara ini tumbuh sangat cepat di tahun 2007, mereka juga berhasil menjaga identitas budaya dan lingkungan hidupnya.

TO GO WITH Bhutan-politics-economy-health-labour-social-youth,FEATURE by Rachel O'BRIEN Schoolgirls wear traditional Bhutanese dresses before a cultural event to celebrate the birth date of Bhutan's fourth king at a local school in Thimphu on June 2, 2013.   It is known as "the last Shangri-La" -- a remote Himalayan nation, rich in natural beauty and Buddhist culture, where national happiness is prioritised over economic growth. But urban youngsters in the kingdom of Bhutan are quick to challenge its rosy reputation.  AFP PHOTO/ROBERTO SCHMIDT        (Photo credit should read ROBERTO SCHMIDT/AFP/Getty Images)

Anak-anak sekolah di bhutan

Negara yang diapit 2 raksasa Asia (India dan China) ini kini menjadi laboratourium besar bagaimana menjadi sebuah bangsa yang tumbuh seimbang antara pembanguan fisik dan spiritualnya.

Tapi apa sebenarnya yang membuat rakyat Bhutan begitu bahagia?
Pertama dan yang terutama, orang Bhutan bahagia dan puas akan hidupnya di negeri tersebut. Mereka memilih tinggal dan hidup berdekatan dengan ‘akar’ mereka, tidak materialis, dan memilih ketenangan.

Dan sepertinya, pemerintah Bhutan, para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan, benar-benar menjalankan konsep dan semangat dari GNH. Bagi mereka, kebahagiaan rakyatnya dan karunia alam yang dianugerahkan pada mereka, adalah hal yang paling penting untuk masa depan yang sustainable di Bhutan. Mereka tanpa ragu menolak investasi atau rencana pembangunan yang menganggu keseimbangan alamnya, yang pada akhirnya akan menodai kebahagiaan orang Bhutan.

Undang-undang Bhutan menyebutkan bahwa 60% kawasan negara tersebut harus selamanya berbentuk hutan, dan hal ini meresap kuat di sanubari rakyatnya. Saat putra mahkota lahir, 108 ribu pohon ditanam oleh rakyatnya untuk menghormati kelahiran tersebut. Di negara lain, penghormatan mungkin dilakukan dengan pesta pora. Pada Juni 2015 lalu mereka membuat rekor dunia dengan memberdayakan 100 sukarelawan untuk menanam 49.672 pohon selama satu jam.

nw-bhutan-forest

Hutan lebat di bhutan, 60 % dari seluruh wilayah negeri

Semua negara di dunia menghasilkan emisi karbon. Semua negara di dunia juga berniat untuk mengurangi jejak karbon tersebut. Sebagai pengawal, Bhutan dinobatkan sebagai negara pertama yang jejak karbonnya negatif.
Menjadi negara dengan jejak karbon negatif sendiri berarti mereka menyerap lebih banyak karbon dioksida ketimbang membuang. Secara spesifik, tiap tahun Bhutan menghasilkan emisi 1,5 juta ton karbon dioksida sedangkan hutan mereka berhasil menyerap 6 juta ton karbon dioksida.

Di dunia yang kini didominasi oleh globalisasi, negara-negara berkembang bisa mengambil manfaat darinya, – ekonomi yang makin kuat, akses ke teknologi-teknologi terkini, pelayanan kesehatan yang lebih baik, ..dan tentu saja ada yang dikorbankan. Diakui atau tidak, globalisasi juga datang bersama dengan budaya barat atau budaya bangsa-bangsa lain. Dengannya, ada resiko hilangnya bahasa tradisional, budaya dan adat istiadat , juga ‘korban’ lain.

5321560-1

Paling bahagia di dunia

Intinya, globalisasi memang menguntungkan bagi GDP, tapi akankah memberi manfaat pada GNH? Dalam banyak kasus, negara-negara berkembang kehilangan identitasnya, budayanya, asal muasalnya, cara hidup, dan kekayaan alamnya atas nama globalisasi. Kehidupan masyarakat beserta budayanya, juga ekonominya, akan terhubung langsung langsung ke dunia. Ide-ide global dari mengalir tanpa henti, dan kadang menghilangkan budaya negara bersangkutan, demi tumbuhnya ekonomi dan pendapatan.
Yang paling ideal adalah, globalisasi tetap diterima tanpa harus kehilangan identitas nasionalnya.

Dan Bhutan telah menemukan keseimbangan yang sempurna. Beberapa tahun terakhir ini, internet, TV kabel, handphone, dan teknologi-teknologi dan ide-ide modern lain telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Bhutan. Tapi keinginan masyarakatnya untuk melestarikan nilai-nilai budaya, juga dalam menjaga lingkungan hiduonya telah berhasil menjaga mereka dari ‘kerusakan’ akibat globalisasi yang telah sampai ke mereka.

Ekonomi dan budaya Bhutan tumbuh, berkembang, dan juga berubah. Namun indentitas nasional tetap lestari. Strategi Bhutan yang unik ini telah menjadi buah bibir dunia, dan dianggap sebagai solusi terhadap globalisasi. Mereka mampu beradaptasi dengan globalisasi; memperkuat ekonomi mereka, sambil terus melestarikan tradisi dan budaya yang telah berusia ribuan tahun.

Bhutan adalah satu-satunya kerajaan Buddha di dunia, namun juga negara dimana teknologi, dan budaya negara lain juga bisa dinikmati. Kita bisa menonton film barat di tv kabel di hotel di sana, dan di saat yang sama para biksu Buddha sedang bersembahyang di rungan lain di hotel yang sama.

kingjigmekhesarnamgyelwangchucklbhutan1o32porw5a0l

Raja jigme dan ratu

Pada tahun 2008, pemilu demokratis pertama memunculkan Jigme Khesar Namgyel Wangchucks sebagai pemimpin negeri tersebut. Dia masih muda, baru 28 tahun. Sat penobatannya, dia berikrar untuk “menjaga Bhutan dari aspek terburuk dari globalisasi, melestarikan “Gross National Happiness”. Meski begitu, Jigme tidaklah anti globalisasi. Dia sendiri adalah lulusan Phillips Academy dan Wheaton College dan kemudian lulus dari Oxford. Jigme sekarang sedang menyusun formula untuk menyempurnakan keseimbangan antara melestarikan nilai tradisi dan budaya dan pada saat uang sama menumbuhkan ekonomi.

Sisi Lain Keindahan Pulau Bunta Aceh Besar

BANYAK sekali pilihan berwisata bila Anda pergi ke Aceh, lebih tepatnya di Kabupaten Aceh Besar. Pilihan wisata alam di Aceh Besar sangat beragam, Anda bisa melihat monyet yang bergantungan di pohon di Pemandian Air Mata Ie, menikmati keindahan Pantai Lampuuk atau Anda bisa memancing ikan di Lhok Mata Ie.
Bila Anda bosan berwisata di darat melulu, Anda bisa datang ke Pulau Bunta yang berada di Kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar. Bunta begitulah orang menyebutnya, kalau dilihat Google Maps pulau ini mirip seperti unta yang merayap.
Untuk mencapai ke pulau ini memakan waktu sekitar 40 menit dari Desa Lamteungoh Peukan Bada. Transportasinya pun menggunakan boat nelayan penangkap ikan berukuran panjangnya 7 x 1,5 meter. Berangkat naik boat pada sore harinya, kita bisa menikmati sunset berpendaran di Samudera Hindia.
Panorama laut disertai ombak bergelora memecah butiran pasir di sepanjang pantai. Pasir putih bercampur butiran coral berwarna merah, air lautnya sangat jernih, matahari menyinari laut menambah keindahan gradasi warna laut. Sebelah timur akan terlihat Pulau Batee dan ketika malam harinya kita bisa melihat lampu berkelip-kelip dari perumahan Tiongkok, hibah dari Jacky Chan ketika tsunami 2004 silam. Masyarakat yang menetap di desa Pulo Bunta ini tidak lebih dari 10 jiwa untuk sekarang ini, bermata pencaharian sebagai nelayan dan berkebun.

Ekosistem hutan pulau Bunta keadaannya masih sangat alami belum terjamah manusia dan juga unik. Terlihat ada banyak pohon kelapa yang tumbuh di lereng-lereng bukit dari pada pepohonan yang biasa di hutan, banyak hewan ternak seperti lembu. Tapi jarang terlihat adanya tupai, monyet, anjing dan nyamuk. Namun, pasca tsunami ada babi hutan yang muncul, padahal sebelumnya di pulau itu penduduk belum pernah melihat babi.

Sebelah barat ujung pulau ada jalan setapak, menuju lampu mercusuar jaraknya sekitar 2 kilometer. Dari puncak menara lampu suar setinggi 35 meter ini, kita akan menikmati suguhan dari maha karya pencipta semesta alam, gradasi warna laut, samudera Hindia, hamparan rumput, batu karang, Pulau Nasi, Pulau Breueh dan tampak dari jauh dermaga pantai Lhoknga seberang pulau.

Pulau ini sangat sesuai untuk ecotourism (ekowisata), dimana kita berwisata tetap menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Seperti yang dilakukan oleh tim Aceh Adventure beberapa waktu lalu. Tertarik menikmati keindahan Pulau Bunta? jangan lewatkan sebagai destinasi untuk mengisi waktu libur Anda di Aceh Besar.

Berikut Foto-foto keindahan Pulau Bunta :
Pulau Bunta Aceh Besar
Transportasi menuju Pulau Bunta
Pulau Bunta Aceh Besar
Mercusuar ujung barat Pulau Bunta

 

Pulau Bunta Aceh Besar
Menikmati sunset di Pulau Bunta