Posts

Banda Aceh Siap Bangun Museum Digital

BANDA-ACEH. Administrasi provinsi Aceh siap untuk membangun sebuah museum digital yang akan menampilkan perjalanan sejarah dari Banda Aceh yang telah berumur lebih dari delapan abad sekarang. Museum ini juga bertujuan untuk melestarikan sejarah dari kota.

Menurut Walikota Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, museum digital ini penting untuk Banda Aceh karena umur kota yang sangat tua dan pasti terdapat sejarah yang sangat bernilai untuk diceritakan pada dunia. Tak hanya menjadi pelestarian sejarah dari Banda Aceh, namun juga berfungsi sebagai pusat pembelajaran tentang sejarah Banda Aceh. Pembangunan museum ini diharapkan akan melibatkan pemerintahan Inggris, Belanda, dan Turki karena mereka dianggap memiliki memento sejarah yang masih berkaitan dengan Banda Aceh.

Selain membangun museum digital, administrasi kota ini juga memelihara sisa-sisa sejarah yang ditinggalkan oleh kesultanan Aceh serta penguasa ketika penjajahan Belanda. Contoh dari penjelajahan Belanda ini adalah rumah Snouck Hurgronje dan dimana Jendral Kohler dimana dulu ia tinggal. Tak hanya itu terdapat Kota Lama dari Peunayoung yang akan direnovasi dan dipelihara sebagai warisan budaya.

Malam Pembukaan Piasan Seni Banda Aceh 2016

Banda Aceh – Masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya memadati tempat berlangsungnya Piasan Seni Banda Aceh 2016 yang resmi dimulai Jum’at (30/10/2016) malam dan akan berlangsung hingga 4 Oktober mendatang. Seremoni pembukaan digelar secara meriah di Taman Sari .

Dalam suasana pembangunan kota, Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar untuk kelima-kalinya sebuah perhelatan seni dan budaya dalam agenda bertajuk Piasan Seni.

Piasan Seni yang semakin akrab diantara warga Kota Banda Aceh dengan beragam kegiatan menarik dan bermanfaat dan dinanti setiap tahunnya ini menyokong tujuan untuk mempromosikan seni, budaya dan potensi wisata serta kreativitas masyarakat. Event ini juga diharap dapat membuka ruang promosi untuk menarik investasi di Aceh.

Pada tahun 2016 ini, Piasan Seni akan berlangsung lebih lama dari biasanya, yakni mulai tanggal 30 September sampai 4 Oktober 2016 di Taman Sari Banda Aceh dan Rumoh Budaya sebagai basis kegiatan.

Dengan mengusung tema “Berkarya Untuk Negeri”, Piasan Seni Banda Aceh kali ini turut diisi Pameran Pembangunan Kota Banda Aceh dan akan menampilkan berbagai atraksi dan festival kesenian daerah, apresiasi karya seniman serta edukasi bagi para pegiat seni juga masyarakat.

Rangkaian acara dalam Piasan Seni Banda Aceh 2016 adalah; Pameran Seni, Panggung Hiburan Rakyat, Panggung Apresiasi Seni, Aneka Perlombaan, Workshop Seni dan Anugerah Seni.

 

Kuala Merisi, salah satu pantai yang paling indah di tanah Serambi Mekkah

SESEORANG yang berkunjung ke pantai kuala merisi tentu akan sangat nyaman dan menikmati liburannya. Pasalnya selain akan disambut dengan berbagai cerita legenda seperti bate putri ratu meurendam, pengunjung juga bisa merasakan nuansa santai dengan suara deru ombak dan juga angin sepoi-sepoi.

Bagi mereka yang tengah stress dengan masalah kantor, pantai kuala adalah tempat yang sangat cocok untuk melepaskan beban akibat pekerjaan. Hal ini dikarenakan pantai tersebut memiliki suasana yang hening dengan ombak yang tak terlalu besar sehingga akan sangat nyaman untuk bersantai bersama keluarga.

Pantai Kuala Merisi ini berlokasi di Ketapang, Kecamatan Krueng Sabee di Kabupaten Aceh Jaya. Mempunyai pasir putih yang lembut, pantai ini pun jadi destinasi wisata yang menarik untuk keluarga. Terlebih lagi, di sini merupakan pantai dengan ombak yang kecil. Jadi tak perlu khawatir mengenai bahaya terseret ombak pada saat berkunjung ke sana.

Pantai Kuala Merisi ini juga dikenal sebagai salah satu pantai yang terdampak bencana tsunami pada tahun 2004 lalu. Namun selang beberapa tahun, pantai ini pun kini telah pulih dan menjadi destinasi wisata yang populer di Aceh. Masyarakat Aceh pun banyak yang menghabiskan waktu liburan bersama kelurga di tempat ini.

pantai kuala merisi
Pantai Kuala Merisi dengan pasir pantainya yang putih dan lembut

Pantai yang satu ini lokasinya cukup jauh dari kota Banda Aceh. Sebagai gambaran, jarak kota Calang yang merupakan ibukota dari Kabupaten Aceh Jaya menuju ke Banda Aceh berjarak sekitar 149 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam. Namun kalau ingin menuju ke pantai ini dari Banda Aceh, jaraknya lebih dekat. Kurang lebih 75 kilometer dengan waktu tempuh selama kurang lebih 2 jam perjalanan.

Meskipun perjalanan yang dibutuhkan cukup jauh, namun hal tersebut akan terbayar lunas sesampainya di Pantai Kuala Merisi ini. Sesampainya di pantai, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan pasir putih yang membentang sangat jauh. Lembutnya pasir putih dengan diiringi hembusan angin yang menenangkan, membuat suasana di sini bakal mendamaikan isi hati.

Karena merupakan sebuah pantai yang masih alami, jadi pengunjung yang ke sini pun bakal bisa merasakan kepuasan. Bakal merasakan suasana ala bersantai di pantai pribadi deh kalau ke sini. Terlebih jika berkunjungnya pada saat bukan hari libur. Suasananya pun bakal semakin terasa. Terlebih banyak yang menyebut pantai ini sebagai salah satu pantai yang paling indah di tanah Serambi Mekah.

Pantai kuala merisi
Garis pantai yang panjang di Kuala Merisi

Berbeda dengan pantai yang ada di wilayah selatan Jawa, Pantai Kuala Merisi ini mempunyai ombak yang kecil. Selain cukup aman untuk dijadikan destinasi wisata keluarga, pantai ini pun memberikan keamanan untuk mereka yang doyan bermain air. Baik itu snorkeling ataupun sekedar berenang di pinggir pantai. Namun kondisi ombak yang kecil ini tentunya membuat mereka yang doyan bermain surfing tak bisa melakukan aktivitas kesukaannya di sini.

Sebagai tambahan, Pantai Kuala Merisi ini juga terkenal dengan pemandangan matahari terbit serta suasana matahari terbenamnya. Banyak pula para wisatawan yang datang ke tempat ini untuk sekedar bersantai di bawah terik matahari. Namun yang perlu diperhatikan, para traveler yang datang ke sini harus senantiasa menjaga keamanan barang bawaannya. Bukan karena keberadaan para penjahat. Namun karena di sini banyak terdapat monyet liar yang kerap bertingkah iseng.

Potret Acara Perpisahan Mahasiswa KKN kelompok 5 Di Gampong Doy

RABU (07/09) Selesai sudah pengabdian mahasiswa KKN Unaya di Gampong Doy. “Saya selaku supervisor mohon maaf jika ada kesalahan, ketidak sopanan atau kurang tata krama atas diri mahasiswa KKN Unaya selama ini” ujar Yuli selaku supervisor yang dikutip dilaman akun facebook pribadinya.

“Terima kasih kepada pak Keucik dan aparatur Gampong Doy kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh, acara di akhiri dengan makan malam bersama antar mahasiswa berserta aparatur gampong Doy, semoga Peranan mahasiswa dalam pembangunan masyarakat gampong terus berlanjut dan sukses terus untuk mahasiswa ku,” katanya lagi.

14183677_1024522264330772_2555633612724885089_n  14192614_1024522207664111_925718312710738609_n

14199289_1024521980997467_870122146108801031_n  14222219_1024522027664129_6692045195834305331_n

14183695_1024522080997457_8214608826414632261_n  14237634_1024522120997453_5139089240861903561_n

 

Museum Aceh Didirikan Pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda, Berikut Sejarahnya.

MUSEUM Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Pada waktu itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Bangunan tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus – 15 November 1914.

F.W. Stammeshaus, Kurator Pertama Museum Aceh dan Kepala Museum Aceh 31 Juli 1915 s/d 1931

Pada waktu penyelenggaraan pameran di Semarang, Paviliun Aceh memamerkan koleksi-koleksi yang sebagian besar adalah milik pribadi F.W. Stammeshaus, yang pada tahun 1915 menjadi Kurator Museum Aceh pertama. Selain koleksi milik Stammeshaus, juga dipamerkan koleksi-koleksi berupa benda-benda pusaka dari pembesar Aceh, sehingga dengan demikian Paviliun Aceh merupakan Paviliun yang paling lengkap koleksinya.

Pada pameran itu Paviliun Aceh berhasil memperoleh 4 medali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai Paviliun terbaik. Keempat medali emas tersebut diberikan untuk: pertunjukan, boneka-boneka Aceh, etnografika, dan mata uang; perak untuk pertunjukan, foto, dan peralatan rumah tangga. Karena keberhasilan tersebut Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Aceh agar Paviliun tersebut dibawa kembali ke Aceh dan dijadikan sebuah Museum. Ide ini diterima oleh Gubernur Aceh Swart. Atas prakarsa Stammeshaus, Paviliun Aceh itu dikembalikan ke Aceh, dan pada tanggal 31 Juli 1915 diresmikan sebagai Aceh Museum, yang berlokasi di sebelah Timur Blang Padang di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Museum ini berada di bawah tanggungjawab penguasa sipil dan militer Aceh F.W. Stammeshaus sebagai kurator pertama.

Setelah Indonesia Merdeka, Museum Aceh menjadi milik Pemerintah Daerah Aceh yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tk. II Banda Aceh. Pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh dipindahkan dari tempatnya yang lama (Blang Padang) ke tempatnya yang sekarang ini, di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tanah seluas 10.800 m2. Setelah pemindahan ini pengelolaannya diserahkan kepada Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat.

Rumoh Atjeh Tempoe Doeloe

Sejalan dengan program Pemerintah tentang pengembangan kebudayaan, khususnya pengembangan permuseuman, sejak tahun 1974 Museum Aceh telah mendapat biaya Pelita melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh. Melalui Proyek Pelita telah berhasil direhabilitasi bangunan lama dan sekaligus dengan pengadaan bangunan-bangunan baru. Bangunan baru yang telah didirikan itu gedung pameran tetap, gedung pertemuan, gedung pameran temporer dan perpustakaan, laboratorium dan rumah dinas.

Selain untuk pembangunan sarana/gedung Museum, dengan biaya Pelita telah pula diusahakan pengadaan koleksi, untuk menambah koleksi yang ada. Koleksi yang telah dapat dikumpulkan, secara berangsur-angsur diadakan penelitian dan hasilnya diterbitkan guna dipublikasikan secara luas.

Tampak salah satu bangunan baru yang berfungsi sebagai Gedung Pertemuan

Sejalan dengan program Pelita dimaksud, Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh dan Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda (BAPERIS) Pusat telah mengeluarkan Surat Keputusan bersama pada tanggal 2 september 1975 nomor 538/1976 dan SKEP/IX/1976 yang isinya tentang persetujuan penyerahan Museum kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayan untuk dijadikan sebagai Museum Negeri Provinsi, yang sekaligus berada di bawah tanggungjawab Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kehendak Pemerintah Daerah untuk menjadikan Museum Aceh sebagai Museum Negeri Provinsi baru dapat direalisir tiga tahun kemudian, yaitu dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tanggal 28 Mei 1979, nomor 093/0/1979 terhitung mulai tanggal 28 Mei 1979 statusnya telah menjadi Museum Negeri Aceh. Peresmiannya baru dapat dilaksanakan setahun kemudian atau tepatnya pada tanggal 1 September 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Yoesoef.

Sesuai peraturan pemerintah nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonomi pasal 3 ayat 5 butir 10 f, maka kewenangan penyelenggaraan Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Aceh berada di bawah Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (sekarang Provinsi Aceh).

KKN Unaya kelompok 10 Ucapkan Terimakasih Kepada Warga & Perangkat Gampong Lamteumen Barat

RABU (06/09) mahasiswa dan mahasiswi KKN kelompok 10 Universitas Abulyatama melaksanakan kegiatan terakhirnya digampong Lamteumen Barat, yaitu acara seremonial perpisahan bersama warga dan unsur perangkat Gampong setempat.

Bertempat di Meunasah Lamteumen Barat, mahasiswa dan mahasiswi beserta warga mulai dari anak muda, anak-anak, dan orang tua beserta unsur perangkat gampong Lamteumen Barat dan tak lupa supervisor juga ikut meramaikan acara tersebut.

Kelompok 10 yang di ketui oleh Wardi Saputra mengatakan “saya mewakili teman-teman lainnya mengucapkan banyak terimakasih kepada semua warga yang telah menerima dan mendukung program kami, sehingga alhamdulillah semuanya tanpa ada kendala dan lancar,” katanya dalam sambutan dihadapan warga gampong Lamteumen Barat.

Supervisor KKN kelompok 10 Lia sapaan akrabnya mengatakan dengan kegiatan KKN sebulan penuh yang sudah dilalui semoga mahasiswa dapat mengambil pengalaman dan ilmu dalam bermasyarakat.

Kemudian di akhir acara kelompok 10 KKN Unaya juga tak lupa memberikan kenang-kenangan berupa cinderamata dan CD Vidio masing-masing diserahkan oleh supervisor dan ketua kelompok 10 kepada Geuchik (kepala desa) Lamteumen Barat.

Mengenang Tugu Pena “Simpang Mesra” Banda Aceh

SEBUAH tugu terpacak megah di Simpang Mesra, Jeulingke Banda Aceh. Semua yang pernah menjadi mahasiswa di ibukota Provinsi Aceh, tahu simpang itu, yang terletak di lintasan masuk menuju ke dua kampus di Darusaalam.

Tugu itu bernama tuga ‘Tentara Pelajar’ yang dibangun untuk mengingatkan generasi muda akan sepak terjang para pelajar Aceh dalam masa perjuangan melawan penjajah dulunya. Di puncak tugu, ada lambang sebuah pena, sebagai pesan agar generasi muda terus bergiat menambah ilmu.

Dikutip dari buku Banda Aceh Heritage, Tentara Pelajar Aceh (TPA) bermula dari kreativitas murid-murid sekolah menengah Koetaradja yang pada Mei 1946 membentuk Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Aceh. Dari sanalah mereka berjuang untuk kedaulatan Indonesia.

Tugu dengan tinggi 17 meter dengan diameter bawah 45 meter mengandung nilai-nilai filosofis, idealisme, heroisme, loyalitas, serta semangat persatuan dan kesatuan dari para pejuang pelajar. Tugu dibangun atas prakarsa eks Tentara Pelajar Aceh di bawah pimpinan Amran Zamzami dengan arsiteknya Kamal Arif. Tugu diresmikan Gubernur Aceh, Syamsuddin Mahmud pada 1998.

Memang letak tugu tersebut tepat di tengah jalan Teuku Nyak Arif, tidak jauh dari Darussalam Namun siapa sangka ternyata bundaran itu bukanlah sekedar hiasan jalan.

Di tengah-tengah Bundaran itu terdapat sebuah tugu yang berbentuk seperti ujung pena yang mengarah ke langit, di bawahnya terdapat efek api, bukan api asli, tapi hanya berbentuk ilustrasi yang menggambarkan api yang bergejolak.

Memang tugu tersebut terlihat begitu sederhana, namun pembangunan tugu dengan bentuk sedemikian rupa, ternyata untuk menggambarkan bagaimana semangat pemuda Aceh tempo dulu sangat tinggi dalam menuntut ilmu meskipun dalam situasi menghadapi penjajah Belanda.

Hal tersebut bisa dibuktikan dari pesan yang tertulis di di dasar tugu “Belajar Sambil Berjuang, Dan Berjuang Sambil Belajar “.

Tugu tersebut juga menjadi motivasi pemuda Aceh untuk tetap semangat dalam menuntut llmu, meskipun menghadapi berbagai macam rintangan.

Potret KKN Unaya kelompok 10 dengan beragam kegiatannya

KULIAH Kerja Nyata (KKN) Universitas Abulyatama kelompok 10 memanfaatkan moment KKN tersebut menggelar beragam kegiatan kepada masyarakat gampong Lamteumen Barat yang berada di Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh.

“Sudah berjalan hampir sebulan kkn, dalam tahap akhir ini kami selaku mahasiswa kelompok 10 terus melakukan kegiatan yang positif dan mempunyai feedback yang besar bagi kemajuan gampong lamteumen barat,” ujar Wardi Saputra selaku ketua kkn kelompok 10.

Berikut, Potret KKN Unaya kelompok 10 dengan beragam kegiatannya ;

CIMG0226   CIMG0228

CIMG0242   CIMG0245

CIMG0340   CIMG0345CIMG0192

CIMG0419

Potret Kebersamaan Mahasiswa KKN kelompok 13 Di Desa Bitai

KELOMPOK 13 KKN Universitas Abulyatama bertempat di desa Bitai, mahasiswa KKN tersebut telah melakukan berbagai kegiatan di Gampong tersebut.

Bitai adalah sebuah Gampong di Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh. Penduduk bitai mempunyai ciri khas rumah bantuan tsunami yang dibangun oleh pemerintah Turki adalah adanya lambang Bintang dan bulan sabit.

Berikut Potret Kebersamaan Mahasiswa KKN kelompok 13 Di Desa Bitai, Chek This Out ;

14064189_956489411127116_9083167992775562252_n   14064246_956489321127125_1643831994304174776_n

14089165_963182383791152_1004187060148873669_n   14095722_963183487124375_5714534794684073296_n

14021571_959183244191066_401004817708716129_n   13934765_959183264191064_6500113312173536582_n

 

Melihat keindahan kota Banda Aceh hingga ke pulau Sabang dari “Tsunami Escape Building”

TSUNAMI Escape Building  dibangun sebagai pusat evakuasi bagi masyarakat sekitar yang tinggal di sepanjang garis pantai bila sewaktu-waktu bahaya tsunami mengancam keselamatan jiwa penduduk. Tempat ini juga digunakan sebagai tempat pendaratan helikopter (helipad) guna memberikan bantuan kepada korban tsunami.

Dari tempat ini kita bisa melihat keindahan kota Banda Aceh hingga ke perbatasan pantai dan pulau Sabang. Bangunan ini menjadi salah satu daya tarik objek wisata di Kota Banda Aceh, ramai pendatang dari luar Aceh bahkan mancanegara datang untuk melihat langsung bangunan ini.

Gedung Tsunami Escape Building  yang berlantai 4 setinggi 18 m  ini dibangun di Kecamatan Meuraxa atas bantuan Pemerintah Jepang melalui JICS berdasarkan konsep awal yang dibuat oleh JICA Study Team dalam project Urgent Rehabilitation and Reconstrcution Plan (URRP) untuk Kota Banda Aceh pada Maret 2005 sampai dengan Maret 2006. Masing-masing gedung menghabiskan anggaran sekitar Rp 10,5 milyar.  Design bangunan escape building ini dibuat oleh konsultan asal Jepang Nippon Koei, Co. Ltd sebagai JICS Study Team pada tahun 2006. Tiap-tiap escape building dibangun dengan luas 1.400 meter persegi.

Ada 3 lokasi Tsunami Escape Building  yaitu :

  1. Desa Lambung
  2. Desa Deah Geulumpang
  3. Desa Alue Deah Teungoh

IN25_TSUNAMI_19739g

Gedung yang sangat kokoh dan tinggi ini mempunyai tangga termasuk untuk orang cacat. Gedung ini diperuntukkan untuk masyarakat setempat agar bisa dipakai sebagai balai warga untuk keperluan pertemuan dan sebagainya (gedung serbaguna) selain untuk tempat penyelamatan (evaluasi) bila terjadi Tsunami   karena konstruksi bangunannya yang tahan gempa dan tsunami dengan kapasitas sekitar 1000 orang.

di lantai satu terdapat ruang terbuka, ruang olah raga dan ruang tunggu. Lantai dua mempunyai tinggi sekitar 10 meter, mengikuti tinggi gelombang tsunami Desember 2004 lalu di lokasi gedung tersebut. Sementara lantai lantai satu dibiarkan kosong tanpa partisi untuk menghindari terjangan air tsunami.

Gedung ini diset dapat menahan gempa dengan kekuatan 9 – 10 skala richter. Tangga menuju ke lantai atas dibuat dua buah. Satu tangga utama dengan ukuran sekitar dua meter dan satu lagi dengan lebar 1 meter. Gedung juga dilengkapi dengan peralatan dan fasilitas untuk evakuasi di lantai 2 dan 3. Dan di lantai tersebut telah disediakan segala sesuatu layaknya sebuah rumah yang dilengkapi dengan kamar mandi, persediaan makanan, dan lain-lain. Tentu hal ini jauh lebih baik daripada masyarakat harus tinggal di tenda-tenda yang sangat tak menjamin kenyamanan dan keselamatan. Dalam gedung ini juga terdapat Sekolah Siaga Bencana yang juga menyediakan perpustakaan. Ratusan buku berisi sejumlah pengetahuan disediakan untuk menambah pengetahuan anak-anak korban bencana. Lantai tiga gedung ini didesain lapang yang menampung sekitar 300 orang.

aceh

Di lantai empat menjadi tempat evakuasi paling atas yang dapat menampung 500 orang, juga ada Helipad yaitu tempat landasan Helkopter.  Ketika masyarakat telah dievakuasi digedung itu, kemudian helikopter yang mengirimkan bantuan akan dengan mudah mendarat di atasnya. Penyaluran bantuan pun akan menjadi lebih mudah. Dan bila ada masyarakat yang dalam keadaan darurat bisa langsung dibawa dengan helikopter yang mendarat di lantai 4 bangunan tersebut.

 

Bangunan escape building di Desa Deah Tengoh, saat berlangsungnya tsunami drill, 2 November 2008.

Desa Lambung sebagai salah satu lokasi tsunami escape building telah ditetapkan sebagai kampung percontohan di  Aceh karena memiliki penataan desa yang mampu meminimalkan dampak bencana, berwawasan lingkungan dan dengan tersedianya Tsunami Escape Building tersebut yang lengkap dengan jalur penyelamatan.

Desain bangunan escape building ini dibuat oleh konsultan asal Jepang Nippon Koei, Co Ltd sebagai JICS Study Team pada tahun 2006. Tiap-tiap escape building dibangun dengan luas 1.400 meter persegi, yang terletak di tiga lokasi di antaranya di Desa Lambung, Desa Deah Geulumpang dan  Desa Alue Deah Teungoh, Kota Banda Aceh.

Di waktu sore hari banyak masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke bangunan ini untuk menikmati indahnya Kota Banda Aceh. Bahkan dapat melihat matahari terbenam di ujung Pulau Sumatera bagian barat ini.