Posts

Belajar Hingga ke Negeri China

WANLI Changcheng. Begitu istilah untuk Tembok Besar Tiongkok (Tembok Raksasa Tiongkok atau Tembok Panjang) disebut di negeri aslinya yang artinya Tembok Sepanjang 10.000 Li.

tembok-besar-chinaMenurut catatan sejarah, tembok itu mulai dibangun sejak 722 SM-481 SM. Negeri-negeri yang tercatat berkontribusi dalam konstruksi pertama antara lain negeri Chu, Qi, Yan, Wei dan Zhao. Mengunakan ratusan ribu pekerja paksa, pekerjaan pembangunan berlanjut di era kekuasaan Kaisar Qin Shi Huang pada 220 SM hingga berakhir di masa Dinasti Ming (1368-1644).

Tentu saja rakyat China bangga dengan bangunan bersejarah terpanjang yang pernah dibuat manusia, apalagi sudah masuk dalam Situs Warisan Dunia Unesco. Jadi tak heran jika lukisannya menghiasi ruang pertemuan di Capital Medical University, Beijing, China.

Di ruangan itulah, Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University, Profesor Dong Zhe menerima kedatangan Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi dan Rektor Universitas Abulyatama R Agung Efriyo Hadi PhD. Dua rektor ini ditemani Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki dan Wakil Rektor Universitas Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd.

rektor kdv dan prof dong ze 2Pertemuan hangat menjelang petang pada 16 Oktober 2015 ini menghasilkan kesepakatan yang cukup bagus untuk Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama. “Kita bisa mengirim mahasiswa ke kampus ini untuk belajar,” kata Agung Efriyo Hadi. “Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.”

Agung menjelaskan, semula mereka hanya meminta untuk diberikan kesempatan dalam bentuk belajar yang singkat saja. “Namun malah mereka mereka menawarkan dalam bentuk lebih luas, berupa SKS. Jadi bisa sampai tiga bulan belajar di CMU (Capital Medical University),” katanya. Tentu saja, tawaran itu sangat baik. “Kita akan menjalani untuk peningkatan di kampus kita juga. Kita juga hendak ingin menunjukkan kepada mahasiswa proses akademik kita itu tiada henti-hentinya kita mengembangkannya,” katanya.

Kesempatan untuk belajar ke negeri China akan terbuka lebar untuk mahasiswa yang berprestasi. “Yang punya talenta punya kualitas punya mutu, mereka harusnya terpacu dengan potensi keilmuannya. Itu menjadi kunci bagi mereka. Mereka yang juga menjaga nama baik almamater dan nama baik Indonesia. Sebab bagaimana pun mahasiswa yang akan ke China nantinya tetap saja membawa nama negara, mereka di sana dengan wajah kampusnya,” kata Kadafi.

rektor di beijing 2Selain prestasi, mahasiswa yang akan dikirim ke negeri Tirai Bambu diwajibkan bisa berbahasa asing, seperti bahasa Inggris, dan juga belajar bahasa Mandarin. “Saya pernah bertanya pada CMU apakah mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia mengalami kesulitan dalam berbahasa Mandarin?Mereka katakan tidak ada. Bahkan tiga bulan mahasiswa Indonesia yang belajar di CMU sudah bisa berbahasa Mandarin, bahkan sudah mampu menulis arikel dalam bahasa Mandarin. Artinya soal itu tak menjadi kendala sama sekali,” katanya.

Belajar ke Capital Medical University  (CMU) tentu akan membawa dampak yang sangat bagus untuk dua kampus ini. CMU adalah sebuah universitas ternama di negeri China. Berdiri pada 1960, Capital University of Medical Sciences semula  bernama Beijing Second Medical College yang dipimpin Profesor Wu Jieping, seorang urolog terkenal di dunia, orang kedua di Chinese Academy of Sciences dan Chinese Academy of Engineering.  Saat ini, kampus ini dipimpin Profesor Lu Zhaofeng.

CMU terdiri dari 10 sekolah, 14 rumah sakit afiliasi dan 1 lembaga pengajaran. Universitas yang berafiliasi dengan rumah sakit ini memiliki 20.000 staf, lebih 1.000 dosen, dan sekitar 2.000 profesor asosiasi.

Universitas yang memiliki 9.000 mahasiswa aktif ini meliputi berbagai bidang. Di antaranya pelatihan general practitioner, clinical medicine, basic kedokteran, ilmu saraf, ophthalmology, geriatrics, urologi, kardiologi, pain medicine, toksikologi, teknik biomedis, pengobatan tradisional Cina, reproduksi, kebijakan kesehatan, dan sejumlah bidang ilmu kesehatan lainnya.

rektor agung unaya dan prof dong zheBahkan, beberapa bidang yang ada di CMU sudah mendapat pengakuan internasional. Misalnya  neurobiologi, cytobiology, imunologi, kedokteran ikonografi, neurologi, neurosurgery, kardiologi, bedah cardio-vaskular, transplantasi ginjal, penyakit pernafasan, pengobatan pencernaan, bedah oral-maksilofasial, mata, THT dan hematologi anak.

Saat ini, CMU menyelenggarakan program pertukaran internasional yang sangat baik. Memiliki kemitraan dan perjanjian dengan banyak universitas dan institusi dengan lebih dari 20 negara dan wilayah. Kerjasama yang terjalin antara lain seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, pendidikan bersama dan proyek-proyek penelitian bersama.

***

PENINGKATAN kualitas kampus memang perioritas Kadafi. Bekerjasama dengan berbagai perguruan tinggi ternama tentu ditempuhnya. Tak hanya dengan perguruan tinggi dari negara-negara lain, namun juga yang ada di dalam negeri.

Tak cuma dengan kampus-kampus di negeri China, sebelumnya Kadafi sudah menggandeng perguruan tinggi dari Malaysia dan Singapura. Bahkan di dua negara tetangga ini ikatan kerjamasa sudah berjalan dengan baik. Salah satu wujudnya adalah pengiriman mahasiswa D-IV kebidanan untuk studi banding ke National University Hospital Singapura pada 7-10 April 2015.

Wakil Rektor II Universitas Malahayati Lampung, Wahyu Dhani Purwanto MPd mengatakan praktik langsung mahasiswa di Singapura itu sebagai bentuk komitmen menghasilkan bidan-bidan yang tak hanya mampu bersaing di lokal atau nasional tetapi juga internasional. “Kami harapkan mereka mendapatkan pembelajaran dari pengalaman baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga dapat mendukung lulusan sebagai bidan yang profesional,” katanya.

Salah satu mahasiswa yang ikut program itu, Linda Agustina, mengatakan studi banding itu menambah pengalamannya.  “Kami mendapat pengarahan yang baik dan langsung dari perawat senior yang ada di sana, banyak pengetahuan dan pengalaman yang diberikan kepada kami,” kata Linda. Salah satu contohnya, ia bisa melihat langsung bagaimana Singapura sudah tidak menggunakan metode persalinan biasa. “Di sana sudah menggunakan metode persalinan di air dan metode kangaroo setelah anak itu dilahirkan langsung diletakkan di ibu nya,” katanya.

Linda juga melihat bagaimana sistem rumah sakit melayani pasiennya. “Setelah kelahiran anak, pihak rumah sakit berkunjung ke rumah pasiennya,” katanya. Mereka mengajarkan bagaimana cara merawat bayi yang benar, bagaimana cara persalinan itu dapat berjalan normal. “Singapore sendiri tidak dianjurkan untuk minum susu formula, jadi benar-benar menggunakan asi eksklusif,” ujarnya. “Rumah sakit sangat mengutamakan kesehatan, jadi wilayah rumah sakit hanya boleh dikunjungi orang-orang yang steril sekali.”

Lalu bagaimana dengan Universitas Malahayati? Kampus ini juga menjadi tempat studi banding para mahasiswa dari berbagai negara lain. Misalnya, mahasiswa  Cyberjaya University College of Medical Science di Malaysia yang pernah magang di Universitas Malahayati yaitu di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin pada Juli-September 2015. Ada 42 Mahasiswa dan 2 dosen pembimbing yang mengikuti kegiatan paramedic science clinical training, salah satunya Ezam.

Bagaimana pendapatnya tentang Universitas Malahayati? “Di sini kami merasa sedang di rumah sendiri, semuanya baik dan ramah, serta semuanya bekerja sama dengan baik. Bahkan, di sini kami dilayani lebih baik, dan diberikan fasilitas yang mendukung dengan sangat memuaskan di banding saat kami di tempat asal kami,” ujar Ezam. “Semoga Cyberjaya University dan Malahayati bisa terus berkolaborasi dan bisa saling berbagi pengalaman.”

Selain itu di bulan yang sama, Universitas Malahayati kedatangan tamu dari Malaysia, mereka adalah students/mahasiswa Keperawatan dari University Putra Malaysia (UPM). Ada tujuh orang yang datang. Tujuannya untuk praktikum. Kegiatan ini, di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa Malaysia itu melaksanakan kegiatannya di Kelurahan Sumber Sari Bantul Kota Metro.

Sebelum menuju ke lokasi, mereka ke Universitas Malahayati. Mahasiswa Malaysia ini berkeliling kampus, mulai dari ruangan skill lab sampai perpustakaan Universitas Malahayati.  Mereka sangat terkesan sekali ketika melihat fasilitas kampus yang begitu hebat.

Dari Eropa datang Kaye Jujnovich, seorang dekan di Whitireia University, New Zealand, 13 Juni 2015. Kunjungan Kaye Jujnovich perwakilan dari Whitireia ini untuk meneken memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Malahayati. Sebelum meneken MoU, Rektor Kadafi mengajak Kaye berkeliling kampus dan Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin. Kaye melihat sejumlah fasilitas dan penunjang akademik yang dimiliki Universitas Malahayati. Usai melihat kelengkapan fasilitas, Rektor Kadafi mengajak Kaye melihat gedung perpustakaan terpadu.

Kemudian, Kadafi membawa Kaye berkunjung ke Rumah Sakit RS Pertamina-Bintang Amin. Dalam kunjungan ini, ia sempat disuguhi beberapa alat kesehatan yang moderen, seperti CT scan 128 slice, chat lab, dan beberapa alat kesehatan terbaru lainnya. Tidak hanya melihat fasilitas rumah sakit, Kaye juga sempat bertemu dengan lima mahasiswa asing dari Malaysia. Keberadaan lima mahasiswa negeri jiran di RS Pertamina Bintang Amin, program pertukaran mahasiswa.

Usai meninjau beberapa fasilitas yang dimiliki oleh kampus, Kaye bersama rombongan sepertinya kepincut. Ia mewakili pimpinan kampus memutuskan untuk langsung melakukan kerjasama dengan Malahayati, padahal dalam agenda sebelumnya ia hanya berkunjung. Dari kerjasama ini, dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati bisa kuliah di Whitireia University, begitu juga sebaliknya. Kedua kampus juga bisa menjalani penelitian, dan pertukaran karya ilmiah.

***

KEMBALI ke China. Kadafi dan Agung tak hanya berada di Capital Medical University di Beijing, mereka juga diundang menjadi pembicara pada acara “The 2nd Silk Road Higher Education Cooperation Forum” yang berlangsung pada 16-18 Oktober 2015 di China University of Geosciences (CUG), Wuhan, Provinsi Hubei, China. Di sini mereka langsung disambut Professor Yanxin Wang, President of Chinese University of Geosience.

agung dan para rektorKegiatan ini disponsori oleh Silk Road Institute, International Education College of CUG, dan National Natural Science Foundation of China. Forum yang diselenggarakan bersamaan dengan The 2nd International Workshop on Tethyan Orogenesis and Metallogeny in Asia (IWTOMA) ini membahas dan bertukar informasi terbaru tentang evolusi tektonik, metallogeny, geologi minyak bumi, sumber daya air dan bahaya geologi di Asia.

Kegiatan ini adalah kelanjutan dari The 1st Silk Road Higher Education Forum yang diadakan  di China University of Geosciences, Wuhan, pada 12-16 Oktober 2014. Hampir 90 akademik peneliti, administrator dan mahasiswa dari lembaga pendidikan tinggi/universitas dari 15 negara berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Para delegasi disuguhi materi menarik yang disampaikan para rektor (presiden) dan dekan dari universitas terkenal di dunia. Di sini bisa disimak berbagai sudut pandang tentang kerjasama pendidikan tinggi, kualitas dan kemampuan yang diperlukan untuk pemimpin masa depan.

Dari kegiatan ini akan melahirkan berbagai kerjasama yang penting untuk pelatihan dan penelitian.  Dari Indonesia yang menghadiri forum  di China University of Geosciences (CUG) ini ada tiga universitas, selain Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama ada Universitas Indonesia, yang datang langsung rektornya Profesor Dr Ir Muhammad Anis MMet.

CUG adalah universitas negeri di China yang berada langsung di bawah  administrasi Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Cina. Universitas ini ada dua kampusnya, satu terletak di Kecamatan Haidian di Beijing, yang kedua terletak di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei, China. “Universitas ini paling berpengaruh dalam industri pertambangan dan minyak China,” kata Kadafi.

Benar, CUG memang salah satu perguruan tinggi sangat top di China. Salah satu alumni Universitas yang memiliki motto “Being austere and simple, keeping on practice and acting for truth” ini tak lain adalah Wen Jiabao, Perdana Menteri Dewan Negara China, yang terpilih pada 2003. Wen dianggap sebagai tokoh di balik kebijakan ekonomi China. Menjabat selama dua periode, Wen mengakhiri masa jabatannya pada 2013.

wuhan forum 2Rektor Universitas Abulyatama, Agung Efriyo Hadi menjelaskan di forum itu mereka membahas perkembangan “Jalur Sutra”. Ini adalah jalur yang sangat luas membelah dari utara ke selatan meluas dari pusat perdagangan China Utara dan China Selatan. Bahkan rutenya jika dari utara melintas hingga ke Eropa Timur tembus ke Laut Hitam. Jalur selatan sampai ke Laut Tengah, Mesir, dan Afrika Utara.

Penamaan Jalur Sutra sangat berkaitan arus perdagangan sutra di kawasan ini pada abad 19. Dari perdagangan sutra, kemudian berkembang ke berbagai komoditi lainnya, bahkan sampai pengembangan kebudayaan China, India dan Roma, bahkan disebut-sebut sebagai dasar dari dunia modern.

Nah jalur itulah yang hendak dihidupkan lagi oleh China. “Nanti melalui forum Rektor kita memiliki koneksi ke berbagai program yang ada di China itu. Yaitu jaur sutra perguruan tinggi. Artinya bukan saja perguruan tinggi dari China saja di jalur sutra ini, juga negara-negara lain yang berada di sepanjang jalur itu. Artinya kita punya peluang dan koneksi membuka kerjasama perguruan tunggi yang berbeda di lintas jalur sutra,” kata Agung.

jalur sutraKhusus untuk Aceh, kata Agung, memiliki koneksitas yang cukup kuat dengan Jalur Sutra. “Dalam forum rektor saya mengangkat sejarah Aceh Samudra Pasai dulu juga menjadi transit perdagangan jalur sutra yang sekarang letaknya di Lhokseumawe,” katanya. “Demi kemajuan pemuda Aceh, saya katakan sangat menyambut baik program itu. Jadi saya sampaikan juga, bahwa Indonesia itu sangat luas dan Aceh ada dalam Jalur Sutra sejak dulu,” katanya.

Nah, alasan Agung dan Kadafi sangat antusias hadir dalam forum ini memang pula da anilai historisnya. “Berbasis historis, di masa depan kerjasama akan lebih baik,” katanya.

Itulah sebabnya, Kadafi bilang sangat tepat menuntut ilmu meski sampai ke negeri China. “Seperti petuah dalam hadis Nabi Muhammad SAW,” katanya. []

Mahasiswa Unaya Belajar ke Beijing? Ini Penjelasan Rektor Agung

LAAWATAN Rektor Universitas Abulyatama (Unaya) Ir R Agung Efriyo Hadi PhD ke negeri China membawa dampak yang bagus bagi mahasiswanya. Kini telah terbuka ruang bagi mahasiswa Universitas Abulyatama untuk menimba ilmu di negeri Tirai Bambu itu. Salah satunya adalah kesempatan belajar di Capital Medical University yang berada di kota Beijing, ibukota negera China.

Agung berkunjung ke China bersama Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH, Wakil Rektor Wahyu Dhani Purwanti MPd, dan Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki.

Nah, dalam sebuah pertemuan dengan tim dari Capital Medical University yang dipimpin Profesor Zhe Dong, di kampus itu pada 16 Oktober 2015. Dari sinilah terbuka sebuah peluang yang menarik, yaitu belajar ke kampus yang ternama di China ini.

Bagaimana detailnya? Berikut petikan wawancara wartawan abulyatama.ac.id dengan Rektor Agung Efriyo Hadi yang berlangsung di Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin, Bandar Lampung, Kamis 22 Oktober 2015.

Perjalanan ke China, Beijing dan Wuhan, itu apakah bagus untuk Universitas Abulyatama?

Oh ya, jadi rombongan kita, Unaya (Universitas Abulyatama) dan Malahayati (Universitas Malahayati) ke China itu mempunyai dampak yang besar. Jadi dari situ kita bisa memperoleh beberapa kesepakatan yang positif.

Misalnya, tahun depan kita sudah bisa mengirimkan mahasiswa di sini untuk belajar di sana. Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.

Tentu kesempatan ini kita berikan bagi mereka yang berprestasi, menjaga nama baik kampus, juga nama baik Indonesia. Sebab bagaimana pun mahasiswa yang akan ke China nantinya tetap saja membawa nama negara, mereka di sana dengan wajah kampusnya.

Maksudnya, kesempatan ini bisa diperoleh di Capital Medical University?

Iya. Sebenarnya kita semula hanya meminta pada mereka untuk diberi kesempatan dalam bentuk belajar yang singkat saja. Namun mereka menawarkan dalam bentuk lebih luas, berupa SKS. Jadi bisa sampai tiga bulan belajar di CMU (Capital Medical University).

Semua itu kitta jalani untuk peningkatan di kampus kita juga. Kita juga hendak ingin menunjukkan kepada mahasiswa proses akademik kita itu tiada henti-hentinya kita mengembangkannya. Yang punya talenta punya kualitas punya mutu, mereka harusnya terpacu dengan potensi keilmuaannya. Itu menjadi kunci bagi mereka.

Bisa digambarkan lebih detail manfaatnya mengambil kesempatan belajar ke negeri China itu?

Yang paling utama mereka punya wawasan global. Misalnya dalam konteks economic asean itu dampaknya luar biasa, mereka punya interaksi di kawasan asian aja, nantinya tidak ada lagi batas negara untuk hubungan perdagangan. Dalam tatanan lebih luas, mereka akan terbuka .

Seperti pengalaman ketika berkunjung ke sana, kita bisa melihat karakteristik pendidikan di China. Di sana fakultas kedokteran tidak mempersoalkan latar belakang pendidikan mahasiswanya, apakah itu IPA atau IPS tak menjadi persoalan.

Begitu kebijakan mereka. Tapi yang saya tangkap adalah pendidikan di China ternyata sudah lebih maju karena mereka yakin akan prosesnya berjalan dengan baik. Sehingga latar belakang apapun selama mereka bisa mengikuti proses dengan baik maka tidak jadi persoalan.

Beda dengan di Indonesia, basic atau dasar sangat menentukan, karena kita semua tahu basic atau dasar kita belum terlalu kuat. Sehingga pola pikir anak IPS kita pandang agak berbeda dengan pola pikir anak IPA, sehingga dasar-dasar itulah yang menjadi pijakan pengambil keputusan. Sementara ya sudah anak IPA dulu yang bisa masuk ke Fakultas Kedokteran. Tapi secara global sebenarnya bisa-bisa saja seperti yang di China itu.

Apakah yang kita bicarakan ini yang diterapkan di Capital Medical University?

Iya, mereka mempunyai 22 rumah sakit pendidikan. Jadi mau apalagi kita mau bantah?  Prestisenya kan luar biasa. Nah itulah sehingga jika mahasiswa Indonesia belajar di sana jadi nggak kaget, ternyata mereka bisa diterima di semua bidang yang luar biasa, ini akan menambah kepercayaan diri mahasiswa kita.

Apakah mungkin mereka membuka kelas internasional di sini?

Kalau itu mungkin masih menjadi isu yang dibicarakan dilevel Pemerintah, karena kebijakan kitakan sama saja kelas jauh, jadi yang kita lakukan adalah mensiasatinya dengan kerjasama SKS.

Jadi kalau mereka buka kampus di sini membuat kelas jauh  maka jadi ambigu dengan kebijakan-kebijakan Pemerintah. Di sisi lain, kita menjadi seperti dijajah dalam pendidikan. Saya juga kurang setuju kalau mereka membuka cabang di sini tetapi kalau kerjasama boleh.

Soal ini juga rentan isu di masyarakat. Terutama dalam hal nilai-nilai, mereka akan membawa nilai-nilai mereka. Sedangkan nilai-nilai kita adalah Indonesia. Kita harus pertahankan. Itulahmengapa saya tidak setuju jika mereka membuka cabang di Indonesia. Tapi kalau berkolaborasi trasfer kredit boleh. Sama penelitian boleh. Karena karakteristik bangsa harus kita jaga sendiri.

Apakah ada syarat-syarat khusus bagi mahasiswa yang akan dikirim ke Capital Medical University nantinya?

Tentu mereka harus memiliki prestasi yang cemerlang ya. Selain itu, mereka jelas wajib bisa berbahasa asing, seperti bahasa Inggris, dan juga belajar bahasa Mandarin. Saya pernah bertanya pada CMU apakah mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia mengalami kesulitan dalam berbahasa Mandarin?

Mereka katakan tidak ada. Bahkan tiga bulan mahasiswa Indonesia yang belajar di CMU sudah bisa berbahasa Mandarin, bahkan sudah mampu menulis arikel dalam bahasa Mandarin. Artinya soal itu tak menjadi kendala sama sekali. []

Tahun Depan, Mahasiswa Unaya Bisa Belajar ke Beijing

REKTOR Universitas Abulyatama (Unaya) Ir R Agung Efriyo Hadi PhD telah membuat terobosan baru untuk kampusnya. “Kita sudah mendapat kesempatan untuk mengirimkan mahasiswa Unaya bisa belajar di Beijing,” kata Agung kepada wartawan abulyatama.ac.id yang menemuinya di Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin, Bandar Lampung, Kamis 22 Oktober 2015.

Kesempatan belajar di Beijing, China, itu terbuka di Capital Medical University. “Untuk tahap ini kita mengambil short cuorse,” kata Agung lagi. Pendidikan ke Beijing itu direncanakan mulai tahun depan. “Jadi mahasiswa kita nanti bisa belajar di sana setidaknya bisa sampai tiga bulan,” Agung menambahkan.

Kepastian soal ini, kata Agung, diperolehnya setelah ia berkunjung ke Capital Medical University pada 16 Oktober lalu. Ia datang ke sana bersama Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH, Wakil Rektor Wahyu Dhani Purwanto MPd beserta Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki.

Di Capital Medical University, Agung dan tim diterima Prof Dong Zhe, Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University, bersama dua stafnya. Mereka melangsungkan pertemuan di meeting room lantai dua gedung kampus itu.

Agung mengatakan  tim dari Capital Medical University akan segera berkunjung ke Universitas Abulyatama dan Universitas Malahayati di Bandar Lampung untuk visitasi. “Yang datang nanti adalah Vice President Capital Medical University, Direktur International Program dan dekan fakultas kedokterannya,” katanya.

Capital University of Medical Sciences, juga dikenal sebagai CUMS, CCMU atau CMU, adalah sebuah universitas di Beijing, China. Berdiri pada 1960, Capital Medical University (CMU) semula bernama Beijing Second Medical College yang dipimpin Profesor Wu Jieping, seorang urolog terkenal di dunia, orang kedua di Chinese Academy of Sciences dan Chinese Academy of Engineering.  Saat ini, kampus ini dipimpin Profesor Lu Zhaofeng.

CMU terdiri dari 10 sekolah, 14 rumah sakit afiliasi dan 1 lembaga pengajaran. Universitas dan rumah sakit yang berafiliasi memiliki staf sekitar 20.000. Di antaranya, ada 6 anggota Akademi Ilmu Pengetahuan China atau Chinese Academy of Engineering, lebih dari 1.000 dosen, dan lebih dari 2.000 profesor asosiasi. Universitas ini memiliki lebih dari 9.000 siswa.

Bahkan, beberapa bidang yang ada di CMU sudah mendapat pengakuan internasional. Misalnya  Neurobiologi, Cytobiology, Imunologi, Kedokteran Ikonografi, Neurologi, Neurosurgery, Kardiologi, Bedah Cardio-vaskular, Ginjal Transplantasi, Penyakit Pernafasan, Pencernaan Pengobatan, Oral-maksilofasial Bedah, Mata, THT dan Hematologi anak. []

Forum Seperti Inilah yang Dihadiri Rektor Unaya di Hubei-China

THE 2nd Silk Road Higher Education Cooperation Forum telah berlangsung pada 16-18 Oktober 2015 di China University of Geosciences (CUG), Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kegiatan ini disponsori oleh Silk Road Institute, International Education College of CUG, dan National Natural Science Foundation of China.

Forum yang diselenggarakan bersamaan dengan The 2nd International Workshop on Tethyan Orogenesis and Metallogeny in Asia (IWTOMA) ini membahas dan bertukar informasi terbaru tentang evolusi tektonik, metallogeny, geologi minyak bumi, sumber daya air dan bahaya geologi di Asia.

Kegiatan ini adalah kelanjutan dari The 1st Silk Road Higher Education Forum yang diadakan  di China University of Geosciences, Wuhan, pada 12-16 Oktober 2014. Hampir 90 akademik peneliti, administrator dan mahasiswa dari lembaga pendidikan tinggi/universitas dari 15 negara berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Para delegasi disuguhi materi menarik yang disampaikan para rektor (presiden) dan dekan dari universitas terkenal di dunia. Di sini bisa disimak berbagai sudut pandang tentang kerjasama pendidikan tinggi, kualitas dan kemampuan yang diperlukan untuk pemimpin masa depan.

Dari kegiatan ini akan melahirkan berbagai kerjasama yang penting untuk pelatihan dan penelitian.  Di forum seperti itulah yang dihadiri Rektor Universitas Abulyatama Ir R Agung Afriyo Hadi PhD. Bersamanya turut hadir Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH dan Wakilnya Wahyu Dhani Purwanti MPd.

Bahkan acara itu juga dihadiri Rektor Universitas Indonesia Profesor Dr Ir Muhammad Anis MMet.

Berikut foto-foto kegiatan di forum itu:

wuhan forum 2wuhan forum 3wuhan forum 1wuhan forum 4wuhan forum 5

Di Wuhan, Rektor Unaya Kunjungi Kampus Paling Top di China

REKTOR Universitas Abulyatama Ir R Agung Efriyo Hadi MSc PhD kemarin berkunjung ke Wuhan, China. Ia bersama Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Khadafi SH MH dan Wakil Rektor Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd, menghadiri  undangan acara bertajuk “2nd Silk Road Education Cooperation Forum” yang berlangsung di Octagon Conference Hall, China University of Geosciences (CUG), Wuhan, Hubei, China.

CUGCUG adalah universitas negeri di China yang berada langsung di bawah  administrasi Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Cina. Universitas ini ada dua kampusnya, satu terletak di Kecamatan Haidian di Beijing, yang kedua terletak di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei, China.

Menghadiri acara itu, kata Rektor Kadafi, sangat penting bagi Universitas Malahayati. Apalagi ini adalah universitas yang khusus membidangi geosains yang paling top di China. “Universitas ini paling berpengaruh dalam industri pertambangan dan minyak China,” kata Kadafi kepada malahayati.ac.id tadi siang.

Benar, CUG memang salah satu perguruan tinggi sangat top di China. Salah satu alumni Universitas yang memiliki motto “Being austere and simple, keeping on practice and acting for truth” ini tak lain adalah Wen Jiabao, Perdana Menteri Dewan Negara China, yang terpilih pada 2003.

wen jiabaoWen sangat populer di mata rakyatnya hingga ia digelar “perdana menteri rakyat”. Bersuara lembut dan memiliki etos kerja yang kuat, Wen dianggap sebagai tokoh di balik kebijakan ekonomi China. Menjabat selama dua periode, Wen mengakhiri masa jabatannya pada 2013.

Secara terpisah, Rektor Universitas Abulyatama, Ir R Agung Efriyo Hadi MSc PhD, menjelaskan kunjungan ke CUG, Wuhan-Hubei, terlaksana setelah selesainya acara di Capital Medical University di Beijing. “Kami tiba di Wuhan via kereta cepat dari Beijing pukul 07.00 pagi. Dengan kecepatan 304 km/jam, jarak antara Beijing dan Wuhan yang mencapai 1500 kilometer (sama dengan jarak Bandar Lampung-Banda Aceh) hanya ditempuh lima jam,” kata Agung.

pembicara di hubeiAgung menjelaskan, mereka berangkat ke Wuhan bertiga. Selain Rektor Kadafi, ada wakil Rektor Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd. “Kami dijemput oleh panitia. Kemudian langsung ke ruang conference. Di sini kami disambut Professor Yanxin Wang, ia adalah President of Chinese University of Geosience. Presiden itu adalah sebutan untuk rektor di perguruan tinggi itu,” kata Agung.

Pada acara itu yang menjadi pembicara ada sembilan universitas. Dari Indonesia ada tiga, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Malahayati, dan Universitas Abulyatama. Selain itu semuanya dari negara lain (lihat daftar pembicara dan materinya). []