Posts

Sisi Lain Keindahan Pulau Bunta Aceh Besar

BANYAK sekali pilihan berwisata bila Anda pergi ke Aceh, lebih tepatnya di Kabupaten Aceh Besar. Pilihan wisata alam di Aceh Besar sangat beragam, Anda bisa melihat monyet yang bergantungan di pohon di Pemandian Air Mata Ie, menikmati keindahan Pantai Lampuuk atau Anda bisa memancing ikan di Lhok Mata Ie.
Bila Anda bosan berwisata di darat melulu, Anda bisa datang ke Pulau Bunta yang berada di Kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar. Bunta begitulah orang menyebutnya, kalau dilihat Google Maps pulau ini mirip seperti unta yang merayap.
Untuk mencapai ke pulau ini memakan waktu sekitar 40 menit dari Desa Lamteungoh Peukan Bada. Transportasinya pun menggunakan boat nelayan penangkap ikan berukuran panjangnya 7 x 1,5 meter. Berangkat naik boat pada sore harinya, kita bisa menikmati sunset berpendaran di Samudera Hindia.
Panorama laut disertai ombak bergelora memecah butiran pasir di sepanjang pantai. Pasir putih bercampur butiran coral berwarna merah, air lautnya sangat jernih, matahari menyinari laut menambah keindahan gradasi warna laut. Sebelah timur akan terlihat Pulau Batee dan ketika malam harinya kita bisa melihat lampu berkelip-kelip dari perumahan Tiongkok, hibah dari Jacky Chan ketika tsunami 2004 silam. Masyarakat yang menetap di desa Pulo Bunta ini tidak lebih dari 10 jiwa untuk sekarang ini, bermata pencaharian sebagai nelayan dan berkebun.

Ekosistem hutan pulau Bunta keadaannya masih sangat alami belum terjamah manusia dan juga unik. Terlihat ada banyak pohon kelapa yang tumbuh di lereng-lereng bukit dari pada pepohonan yang biasa di hutan, banyak hewan ternak seperti lembu. Tapi jarang terlihat adanya tupai, monyet, anjing dan nyamuk. Namun, pasca tsunami ada babi hutan yang muncul, padahal sebelumnya di pulau itu penduduk belum pernah melihat babi.

Sebelah barat ujung pulau ada jalan setapak, menuju lampu mercusuar jaraknya sekitar 2 kilometer. Dari puncak menara lampu suar setinggi 35 meter ini, kita akan menikmati suguhan dari maha karya pencipta semesta alam, gradasi warna laut, samudera Hindia, hamparan rumput, batu karang, Pulau Nasi, Pulau Breueh dan tampak dari jauh dermaga pantai Lhoknga seberang pulau.

Pulau ini sangat sesuai untuk ecotourism (ekowisata), dimana kita berwisata tetap menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Seperti yang dilakukan oleh tim Aceh Adventure beberapa waktu lalu. Tertarik menikmati keindahan Pulau Bunta? jangan lewatkan sebagai destinasi untuk mengisi waktu libur Anda di Aceh Besar.

Berikut Foto-foto keindahan Pulau Bunta :
Pulau Bunta Aceh Besar
Transportasi menuju Pulau Bunta
Pulau Bunta Aceh Besar
Mercusuar ujung barat Pulau Bunta

 

Pulau Bunta Aceh Besar
Menikmati sunset di Pulau Bunta

KBM Faperta Unaya “Field Trip” Tiga Tempat Di Aceh Besar

KELUARGA Besar Mahasiswa Fakultas Pertanian (KBM Faperta) Universitas Abulyatama melakukan “Field Trip” dengan bus Abulyatama di tiga tempat di kawasan Kabupaten Aceh Besar, tiga tempat itu diantaranya adalah Kebun Kurma, Wisata Ie Su’um, dan Desa Binaan Kelompok Wanita Tani.

Acara yang mengangkat tema “mempererat silaturahmi dan keakraban mahasiswa, dosen, dan Akademik dilingkungan Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama”. KBM Faperta sendiri merupakan wadah silaturahmi BEM, DPM, Himpunan, dan seluruh mahasiswa di Fakultas Pertanian Unaya.

Icha Tridayana selaku Ketua BEM Fakultas Pertanian menyampaikan tujuan acara ini diselenggarakan adalah untuk mempererat tali silaturahmi antar leting dan civitas akademik Fakultas Pertanian.

“Moment ini juga karena menyambut kedatangan Mahasiswa/i Baru Fakultas Pertanian, sehingga saya rasa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan yang bersifat menambah wawasan dan mempererat silaturahmi,” Ujar Icha Tridayana selaku Ketua BEM Faperta Unaya.

Disamping itu Khadir SP pembina desa binaan KWT yang juga dosen Faperta Unaya mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa/i pertanian Unaya. “nantinya juga mahasiswa/i baru akan belajar didesa binaan yang saya kelola,” ujar Khaidir.

Acara Field trip tersebut juga dihadiri oleh Wakil Rektor II Unaya, Dekan Faperta, Ketua Prodi Agroteknologi, Ketua Prodi Agribisnis, Dosen Faperta, dan seluruh mahasiswa/i Faperta Unaya.

Serpihan Surga Di Bukit Soeharto

LAKSAMANA Malahayati adalah panglima perang perempuan yang berhasil memukul mundur Belanda. Kini, namanya pun diabadikan menjadi nama pelabuhan di Aceh Besar. Anda bisa menikmati pesona pelabuhan Malahayati ini dari Bukit Suharto agar lebih maksimal keindahannya.

Aceh tak henti-hentinya memberikan daya tarik bagi pengunjung. Salah satu sudut untuk menikmati indahnya alam Aceh adalah di Aceh besar tepatnya di Bukit Suharto. Dari bukit Suharto, pengunjung dapat melihat langsung indahnya pelabuhan Malahayati di Krueng Raya.

Bukit Suharto terletak di jalan Banda Aceh – Aceh Besar – Pidie. Untuk mengunjungi tempat ini pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum yang ada di Banda Aceh. Dari Bukit Suharto pengunjung bisa menikmati indahnya pelabuhan Malahayati.

Pelabuhan Malahayati adalah sebuah pelabuhan yang ada di Aceh. Dahulu sebelum tsunami tahun 2004, pelabuhan ini merupakan salah satu pelabuhan yang menghubungkan Aceh dengan Kota Sabang. Namun semenjak ada Pelabuhan Ulhe Lhee di Banda Aceh, aktifitas pelayaran menuju pulau Weh (Kota Sabang) dialihkan ke pelabuhan Ulhe Lhee.

Namun, tak jarang pengunjung juga menikmati sore di pelabuhan Malahayati, Aceh Besar. Mereka yang berkunjung terkadang hanya untuk menyaksikan indahnya sunset dari pelabuhan yang memiliki nama pejuang perempuan paling perkasa ini.

Nama Malahayati adalah nama seorang pejuang perempuan yang paling tangguh, dan merupakan laksamana perang perempuan pertama di Aceh dan paling ditakuti dan disegani oleh musuh-musuhnya kala itu. Kini nama sang pejuang tersebut dikenang sebagai nama sebuah pelabuhan tempat ia dulu berkuasa di sekitar pantai Krueng Raya.

Tidak jauh dari pelabuhan Malahayati juga terdapat makam sang perempuan legendaris yang ditakuti musuh-musuhnya itu. Makam tersebut terletak di desa Krueng Raya, tidak jauh dari pelabuhan Malahayati. Mungkin letaknya hanya berkisar sekitar 1 Km dari pelabuhan Malayati.

Selain Makam Laksamana Malahayati, di Krueng Raya juga terdapat benteng pertahanan yang di pimpin langsung oleh perempuan perkasa ini. Benteng tersebut juga dikenal dengan nama sang legenda Laksamana Malahayati. Orang-orang menyebutnya benteng Malahayati ataupun benteng Inong Balee (Janda).

Wisata Social Ecotourism Di Kampung Nusa, Aceh Besar

Nusa merupakan salah satu kampung di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Berpenghunikan kurang lebih 1000 orang penduduk, kampung Nusa terus berbenah dan berproses guna mewujudkan Green Village.  Hamparan sawah, luasan kebun, hunian tradisional masyarakat dan ramahnya penduduk adalah sisi tersendiri yang dapat di jumpai ketika berkunjung ke Gampong Nusa.

Nusa Ecotourism adalah gerakan sadar wisata yang diinisiasi oleh kelompok  muda Kampung Nusa. Belajar, belajar dan terus belajar  memupuk pengalaman dan pengetahuan lokal dengan dikombinasi referensi menuju gampong wisata adalah cara kami membangun desa.

Wisata Alam

Pemandangan hamparan sawah yang menghijau kala musim tanam, bentangan bukit-bukit dan gunung di sisi kiri desa, menciptakan sebuah wahana wisata yang berbeda. Keramah-tamahan penduduk desa membuat saya begitu nyaman menyambangi desa ini. Hampir semua orang yang saya temui, mereka tersenyum kepada saya. Sesekali, mereka menyapa hangat. Rupanya, di desa ini, masyarakatnya sudah terbiasa menerima tamu. Bukan saja dari sekitar desa, melainkan dari manca Negara. Mungkin, hal ini pula yang membuat desa ini menyediakan Home Stay atau dasa wisma yang tergolong murah. Bayangkan, hanya dengan 1,5 juta/minggu, kita sudah bisa menginap di sebuah kamar, lengkap dengan makan tiga kali sehari. Tidur dengan suasana desa yang begitu tenang, jauh dari hiruk pikuk kota. Desingan suara mesin berganti sesuara burung yang bernyanyi.

Wisata Seni dan Budaya

Kampung ini, juga menawarkan wisata budaya. Beberapa kearifan local tetap di jaga dengan baik. Kala adzan magrib berkumandang, jangan harap anda akan mendengar orang-orang tertawa gaduh di sudut-sudut warung kopi. Bubar. Mereka semua bubar, ada yang menuju surau atau mushalla desa, ada juga yang pulang ke rumah. Lalu, mulailah setiap rumah terdengar lantunan-lantunan ayat-ayat suci yang di bacakan oleh manusia yang mendiami rumah tersebut. Ini suasana Aceh ketika masih di era 90an. Dan, di desa ini, semuanya masih terjaga dengan baik.

Beberapa permainan tradisional juga masih terjaga dengan baik. Sebut saja, main sandal batok. Sambar elang, atau mungkin, main sembunyi-sembunyian. Semuanya masih terjaga dengan baik. Menurut informasi, ternyata, setiap minggu, saya bisa menyaksikan anak-anak di hari kamis dan sabtu sore. Selain untuk menjaga kelangsungan kesenian asli Aceh, ternyata anak-anak itu juga berlatih untuk event-event internasional. Tahun lalu, mereka berhasil menjajaki Perancis selama dua minggu. Tahun ini, anak-anak tersebut akan ke jepang untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam bernari tarian tradisional Aceh.

Nusa Festival

Ini dia yang unik dari semua yang unik. Event ini mulai tahun 2007 lalu, sebagai refleksi dua tahun setelah tsunami. Beberapa pemuda/I gampong Nusa bersama teman NGO yang peduli anak,, memberi kegiatan pada anak-anak untuk melupakan trauma akibat bencana. Salah satu rangkaian Nusa Festival ini adalah Nusa Award yang semua konsepnya digagas oleh anak-anak. Kegiatan yang diselenggarakan di bulan Desember setiap tahunnya adalah upaya bagaimana mengajak anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan desa.

Ternyata, ide mereka kreatif. Ada beberapa kategori yang mereka lombakan, yaitu orang yang paling disegani anak, orang yang paling lucu, rumah paling bersih, dan anak kreatif. Untuk pemilihan pemenang, anak-anak sendiri yang jadi juri.

Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, Gampong Nusa juga menjadi salah satu Gampong yang pertama kali melakukan kegiatan recycle sampah menjadi sebuah handicraft. Mulai dari sandal plastic, sampai tas. Mulai dari bunga sampai kotak tissue.

Wisata Kuliner

Sebut saja makanan atau masakan asli Aceh, Mie Aceh, Ayam tangkap, Gulai Pliek U, Gulai Ikan Sawah, Asam Udang, dan Ikan Kayu. Semuanya tersedia disini. Tapi, tunggu dulu, semua ini bisa menjadi satu paket di home stay desa tersebut. Jadi, siapapun tamunya, semuanya bisa request. Tentunya untuk beberapa masakan tertentu, kita masih harus nego harga.

Kopi Aceh juga tersedia. Tenang, lagi-lagi anda tidak perlu repot-repot ke warung. Adat dan budaya Aceh yang selalu memuliakan tamunya, ini akan menjadi sebuah poin lebih sekaligus ajang berhemat. Kita akan disajikan kopi saban sore hari. Di seduh dengan air mendidih, di masak diatas tungku. Semuanya serba manual dan tradisional. Lalu, timphan, dan pulot pun akan duduk manis tersaji bersama segelas kopi Aceh di sore hari.

 

BEM FK Unaya Adakan Bulan Bakti di Montasik, Aceh Besar

Bulan bakti merupakan sebuah program wajib berbentuk edukasi kepada masyarakat dari ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) untuk seluruh BEM yang ada di Indonesia. Bulan bakti ini dilakukan serentak mulai pada bulan April, dengan tema yang berbeda-beda.

Minggu(1/5), BEM FK Unaya telah mengadakan bulan bakti di Desa Montasik, Aceh Besar tentang KB (Keluarga Berencana) yang bertema “Satu Langkah Kecil Dengan Kepeduliaan Yang Besar”. Acara tersebut dimulai pada pukul 9.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB, dan pemateri dari penyuluhan ini adalah dr. Desi Vera Buana, yang merupakan salah satu dokter yang aktif bekerja di Puskesmas di desa tersebut.

Saat penyuluhan sedang berlangsung

Saat penyuluhan sedang berlangsung

 

Selain itu, kegiatan ini juga disambung dengan pemeriksaan kesehatan oleh mahasiswa dan konsultasi kesehatan bersama dokter, yaitu dr. Hady Maulanza, yang mana merupakan dokter dari FK Unaya.

Penyuluhan ini disambut baik oleh masyarakat setempat, sehingga acara ini dihadiri lebih dari 30 orang ibu-ibu yang bersemangat untuk peduli tentang hidup sehat dan KB (Keluarga Berencana).

Galeri Baksos Aksi Peduli Sampah Bem Faperta Unaya

MINGGU (15/11) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama melakukan bakti sosial dengan aksi peduli sampah yang berlokasi di depan penjara Kaju Aceh Besar.

Aksi ini merupakan bagian dari kegiatan program kerja Bem Faperta Unaya periode 2015-2016.

Bakti sosial aksi peduli sampah ini diselenggarakan atas kerjasama dengan DPRK Aceh Besar, selain itu kegiatan ini juga dihadiri oleh ketua DPRK Aceh Besar Sulaiman SE, Kaprodi Agroteknologi Ibu Elvridarosa SP MP, beserta Dosen Prodi Agroteknologi, Bustami SP MP dan Khaidir SP.

Berikut galeri foto bakti sosial aksi peduli sampah, chek this out ;

12239474_10205367401489295_4505307453732881252_n

12240132_10205371247545444_8983284085238823925_n

12243338_10205368699601747_7127291912095825796_n

11222898_10205371246545419_496723470735765387_n

12243362_10205367110122011_6369472347186212155_n

 

 

Bem Faperta Adakan Baksos Aksi Peduli Sampah Bersama DPRK Aceh Besar

BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama, Minggu (15/11) mengadakan aksi peduli sampah bertempat di depan penjara Kaju Aceh Besar kegiatan ini bekerja sama dengan DPRK Aceh Besar Sulaiman SE, aksi tersebut menjadi pusat perhatian masyarakat setempat, karena saat ini jarang sekali mahasiswa peduli dengan lingkungan sekitar.

Gubernur Fakultas, Marzukri menyampaikan “Sudah saatnya mahasiswa turun dengan aksi nyata dengan memungut sampah agar ini menjadi langkah awal bagi masyarakat lain juga ikut peduli dan membudayakan lingkungan bersih,” katanya.

Ukri sapaan akrabnya melanjutkan “Aksi ini semata-mata sebagai mahasiswa harus mengetahui dan melaksanakan Tri Darma perguruan tinggi dengan wajib melakukan pengabdian masyarakat dan aksi ini merupakan bakti sosial kepada masyarakat,” ujarnya.

Selaku Ketua Bem Fakultas Pertanian ia mengatakan terima kasih atas kerjasama nya dengan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar dalam hal ini bapak sulaiman SE beserta stafnya yang ikut membantu acara bakti sosial aksi peduli sampah ini.

“InsyaAllah minggu depan kami akan turun dengan aksi yang sama di Pasar Lamateuk, karena saya juga melihat banyak sampah yang bertaburan dan tidak terurus,” katanya.

Bakti sosial aksi peduli sampah ini juga dihadiri oleh kaprodi Agroteknologi Elvridarosa SP MP, beserta Dosen prodi Agroteknologi, Bustami SP MP, dan Khaidir SP yang ikut membantu BEM Faperta dalam membersihkan dan memungut sampah.[]

Warek III Lepas Anggota Ukm Pandayana Ikuti Dikasar Ke Pegunungan Seulawah

WAKIL Rektor III dr. Iziddin Fadhil didampingi oleh Dosen Teknik Mesin Unaya yang juga alumni atau senior di Ukm Pecinta Alam Lingkungan Hidup Pandayana bernama Muhtadin ST MT (06/11) jumat pagi hari resmi melepas anggota baru pandayana ikuti Pendidikan Dasar (Diksar) di pegunungan Seulawah Kabupaten Aceh Besar.

Reza yang merupakan ketua Ukm PA-LH pandayana dalam sambutannya melaporkan “ada anggota baru sebanyak 7 orang dan panitia sebanyak 20 orang yang akan berangkat ke pegunungan Seulawah untuk mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar),” katanya.

Muhtadin ST MT selaku alumni dan senior di Ukm PA-LH Pandayana  mengatakan “Ini awal dimulainya lagi untuk generasi baru yang nantinya menjadi bagian dari anggota UKM Pandayana,” katanya dengan nada tegas.

Ia mengatakan ini merupakan angkatan 21 era baru dalam menerapkan latihan, UKM Pandayana memfasilitasi bagi mahasiswa yang menyukai alam sehingga sejak berdiri pada tahun 92 modifikasi kondisi pendidikan dasar wujud untuk mewujudkan penyambung roda organisasi di unaya. “Tidak ada toleransi kepada tindakan kasar, itu harus dicamkan,” ujar Muhtadin.

Wakil Rektor III juga mengucapkan kepada panitia dan senior Ukm Pandayana “Regenerasi harus terus berlangsung, semoga tahun depan anggota baru UKM Pandayana akan lebih banyak lagi,” ujarnya.

Iziddin berharap organisasi ini harus lebih menjadi produktif lagi sehingga ia yakin organisasi Ukm Pandayana akan tetap berjalan dan menjadi kebanggaan.[]

Sensasi Guha Ie

BAHWA gua berada di lereng gunung ataupun perbukitan cukup banyak di Aceh, tak ada yang menyangkalnya. Misalnya, gua Loyang Mandele, tempat ditemukannya kerangka manusia prasejarah di tepi Lut Tawar, Aceh Tengah. Ada juga Guha (gua) Tujoh di Laweueng, Pidie.

Namun bagaimana dengan gua bawah tanah seperti di Selandia Baru yang terkenal dengan Waitano? Berdekorasi megah, gua bawah tanah ini memiliki akustik yang luar biasa. Di belahan bumi Eropa ada lagi The Skocjan Caves. Berada di Slovenia, Skocjan Caves masuk daftar Unesco. Jelaslah, berada di tempat-tempat seperti itu da­pat menuai kepuasan jiwa.

Ternyata sensasi gua bawah tanah dapat juga ditemukan di Aceh. Cobalah sesekali datang ke Guha Ie di Indrapuri, Aceh Besar. Itulah yang kami lakukan. Ditemani dua pemandu dari komunitas pencinta alam, Universitas Muhammadiyah (Unmuha), Banda Aceh, Hendri dan Rinaldi, tim liputan majalah The Atjeh merancang perjalanan untuk mengaduk-aduk isi perut Guha Ie pada 7 November 2013.

Perjalanan berasa mudah sebab Hendri yang akrab disapa Abik adalah warga Desa Lamsie yang dekat dengan Guha Ie. Menggunakan dua motor, kami menempuh perjalanan singkat lintas Banda Aceh – Medan. Kami memacu kecepatan 80-90 km/jam. Tiba di Lambaro, kami membeli korek api, lilin, dan senter, untuk digunakan saat memasuki gua nanti.

Perjalanan berlanjut sampai memasuki Lampakuk, Indrapuri. Di sini ada perempatan. Jika melaju lurus ke depan itu adalah arah ke Medan. Berbelok ke kanan memasuki perkampungan. Pilihannya ke kiri menuju lokasi gua.

Tibalah saatnya memasuki jalan perkampu­ngan. Jangan berharap akan melewati jalan beraspal mulus. Begitu menemukan desa pertama, Lampoh Raja, jalannya berupa aspal keriting dan di sana-sini banyak lubang. Begitu juga ketika memasuki Desa Lamsie. Kendati jalanan hancur, mata terhibur melihat bentangan sawah bersama petani yang sedang asyik memanen padi.

Perjalanan masih panjang, hujan pun turun dengan lebatnya. Kami tetap melanjutkannya hingga tiba ke Desa Lam Alieng. Jalan desa itu tidak berbeda jauh dengan dua desa sebelum­nya. Bentuk permukaan desa berbukit yang dihiasi petak-petak sawah tadah hujan.

Kami memunggungi Gunung Seulawah yang puncaknya tampak dipikul awan. Nun di depan sana sudah terlihat deretan perbukitan tampak menjulang. Itulah Desa Leupung Bruek, yang menjadi tujuan perjalanan ini. Tiba di sini harus melalui jalanan berlumpur dan licin seperti sedang mengikuti offroad saja.

Hingga kemudian bertemu sebuah pondok kayu milik warga yang berkebun. Di sinilah ber­akhir perjalanan menunggangi sepeda motor. Selanjutnya, berjalan kaki. Karena hujan begitu deras, perjalanan tidak mungkin kami lanjutkan lagi.

Tak lama kemudian, hujan pun reda, tapi hari sudah sore. “Kita nggak akan bisa masuk gua, licin dan gelap sekali,” Rinaldi menjelaskan. Waktu paling tepat memasuki gua, kata dia, adalah siang hari.

“Malam ini kita nginap di tempat saya saja,” kata Hendri, pemuda asli Desa Lamsie ini. Tentu kami mengangguk, lalu balik kanan ke Desa Lamsie. Malamnya tidur di warung kopi milik Abik.

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun. Pukul 07.00 WIB, 8 November 2013, saatnya bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Guha Ie. Tentu terlebih dahulu kami mengisi perut dengan masakan Abik. Cuaca pagi itu cerah. Matahari bersinar sempurna. Dari warung kopi itu kami bergerak ke arah gua. Saat itu waktu menunjukkan pukul sembilan lebih.

Perjalanan kembali melewati jalan desa yang kemarin kami lewati. Tiba di pondok itu, kami langsung melanjutkan penelusuran berjalan kaki.

“Nanti harus hati-hati sama jeulatang,” Rinaldi berpesan setelah kami memarkirkan motor. Ia menjelaskan perihal jeulatang; sejenis tumbuhan ilalang yang jika tersentuh dengan kulit akan gatal. “Banyak jenisnya, yang paling bahaya bisa demam,” katanya.

Sembari mendengar penjelasan Rinaldi, kami memeriksa perlengkapan. Setelah yakin beres, ransel kami pasangkan di pundak. Abik membawa perlengkapan panjat tebing, seperti rope, carabiner, dan harness. Sementara fotografer memikul kamera lengkap dengan tripot.

Lalu, kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak penuh ilalang. Sejauh mata memandang, terlihat deretan bukit yang menjadi tujuan kami. Di sepanjang jalan adalah kebun warga. Mereka menanam kakao, pisang, dan mangga. Ada juga pohon jabon.

“Berapa lama kita sampai?”

“Setengah jam,” jawab Abik yang memimpin perjalanan.

Sepuluh menit berjalan, kami sudah me­nerobos hutan belantara. Air menetes dari daun-daun. Kicauan burung terdengar meramaikan. Hingga kemudian mencapai kaki bukit mulai berasa aroma hutan. Jalanan mulai menanjak. Kami menyusuri kaki bukit dan mengikuti jalan setapak yang diapit pohon-pohon besar. Cahaya matahari yang hanya menembus sela-sela dedaunan membuat ruang hutan remang-remang.

Meskipun dalam cuaca dingin, keringat kami tetap saja bercucuran. Selain karena menanjak, jalanan setapak sempit dan licin. Di lintasan kita harus menyibak semak atau menunduk menghindari belukar.

Berselang 20 menit, kami mengaso sejenak. Tiba-tiba teman kami, Syahrol, teringat akan lilin yang tertinggal di pondok. Kami semua melongo tak tahu hendak berkata apa.

Nggak bisa kalau nggak ada lilin. Bagaima­napun harus diambil,” kata Abik. “Lilin adalah hal wajib selain senter dan korek api.”

Namun tak ada yang mau balik ke pondok. Semua mengaku lelah. Untunglah Abik berbaik hati, ia kembali ke pondok seorang diri. Tak lama kemudian, Abik sudah balik dengan sekantong plastik lilin.

Kami bernafas lega, lalu melangkah lagi menelusuri lereng yang bersisian dengan lembah di antara dua bukit. Lembah mirip sungai selebar tiga meter dan kedalaman sekitar dua meter. Di sini perlu waspada, jika terpeleset, maka terperosok.

Abik rutin memberi isyarat jika menemukan sesuatu di jalan, seperti duri, kayu, tikungan, dan persimpangan. Begitu juga Rinaldi. Isyaratnya sederhana, hanya bersiul.

Lelah? Itu pasti. Namun deraannya seperti dicabut dari tubuh manakala Abik menunjuk sebuah lubang. “Itu Guha Ie,” katanya. Seperti mendapat suplemen tambahan tenaga, baru me­ngaso sejenak datanglah godaan mengaduk-aduk rasa ingin tahu apa gerangan di lubang bumi itu.

Lubang gua itu dikepung pepohonan dan semak belukar. Berasa sangat bersahabat dengan alam, hanya ada semilir angin yang menggoyang dedaunan, sesekali burung menunjukkan tingkahnya di pepohonan. Gua persis di kemiringan bukit. Pada area berbentuk lembah, mulut pintu gua mirip gelas dipotong miring.

Di dalamnya terlihat hampir serupa sumur yang dalamnya sekitar 25 meter. Di dasarnya ada dua pintu masuk. Pintu masuk pertama berbentuk bundar berdiameter sekitar dua meter, sedang­kan yang kedua lebih kecil lagi.

Saat kami sedang menikmati suasana sekitar gua, Abik dan Rinaldi mengeluarkan peralatan panjat tebing.

Abik menyambar climbing rope (tali panjat) dan mengaitkannya dengan benda-benda pendukung lain yang dibutuhkan untuk turun ke dasar gua.

HER_1779Ia mengganti baju kaos hitam yang tadi dikenakannya dan mengganti dengan kaos berwarna merah. Celana jeans ditanggalkannya, ia mengenakan celana tryning warna oranye de­ngan panjang sebatas lutut. Pada pinggangnya dipasangkan harness; tali pengaman yang diikatkan pada pinggang. Tak lupa memasang headlamp.

Setelah itu, dia membantu kami yang tak tahu apa-apa soal ilmu panjat tebing ini. Misalnya, dipasangkannya harness di pinggang kami. Lalu dia mengaitkannya pada climbing rope. Acara menuruni dasar gua bisa segera dimulai.

Abik mulai bergerak. Dia mendekati mulut gua dan mengikat tali (climbing rope) pada batang pohon di sekitar mulut gua, lalu melempar sisa tali ke dasar gua. Abik memanggil Rinaldi. Rinaldi segera mendekati Abik. Ia sudah siap dengan harness mencengkeram erat pada pinggangnya. Rinaldi tampak sudah berpengalaman. Dengan santai dia mengeluarkan gerakan-gerakan manis saat menuju dasar gua.

Selanjutnya kami menyusul turun satu per satu ke dasar gua. Proses penurunan mulai lambat saat giliran Fikri yang memiliki bobot tubuh di atas rata-rata. Selain itu, ketika turun wajahnya juga mulai pucat. Begitupun, dia tiba juga ke dasar gua. Abik yang paling akhir, ia turun setelah kami di dasar gua.

Semua terpana dengan dekorasi alam di dalam gua. Menakjubkan. Kami seperti berada di dasar sumur raksasa dengan luas sekitar 17 meter persegi. Suasana hening. Penerangan samar-samar. Cahaya matahari kurang leluasa menyelusup ke dalam. Di dinding tampak ornamen hamparan batu nan indah.

Mendongak ke atas tampak pohon-pohon kayu besar menjulang mengepung mulut gua. Akar-akar sebesar lengan bocah menjalar dari semak belukar memilin turun ke dasar gua. Sebatang pohon seukuran batang kelapa tumbuh menjulang di tengah-tengah lantai dasar. Pucuknya mencapai mulut gua.

Lantai gua yang miring itu beralas bebatuan. Ada yang berukuran sebesar buah kelapa, dan sekepalan tangan. Sebagian bercampur tanah. Ada bebatuan yang berserakan; bisa diangkat atau dipindahkan.

Lantai gua yang miring mengarah ke pintu masuk ke inti gua. Ada dua pintu masuk. Di sekitar pintu ada sebuah mangkuk tua terbuat dari tanah yang sudah sompel. Di dekat mangkuk tergeletak satu sweeter(baju hujan) loreng sudah lapuk berlumur lumpur.

Tepat pukul 13.00 WIB, cahaya matahari mulai menusuk celah-celah pepohonan di atas gua. Sinar yang berhasil masuk membentuk garis-garis yang indah. Kami memandangnya sembari menyesap kopi dan air mineral.

Sesaat kemudian, cahaya perlahan meredup. Di balik dedaunan samar terlihat langit hitam tersaput awan yang disusul hujan turun dengan lebatnya. Kami mencari tempat perlindungan merapat ke dinding gua. Sekitar satu jam, hujan berhenti mengguyur, tetapi wajah langit masih kelam.

Kami menyiapkan alat utama untuk masuk ke gua inti, seperti senter dan korek api. Abik dan Rinaldi menginstruksikan agar kami berhati-hati. Kami dipimpin Abik bergerak merangsek masuk ke gua inti. Rupanya hanya pintu masuk­nya saja yang berukuran kecil, sementara lorong di dalamnya berukuran lebar, sekitar lima meter. Satu meter berjalan langsung berada di dalam kegelapan. Ruangan pengap. Ada turunan terjal di sana. Itu adalah bentuk gua diagonal yang panjangnya 15 meter.

Perlahan-lahan, Abik mengikuti irama lantai yang menurun. Cahaya headlamp di kepala Abik menyibak kegelapan. Lalu kami mengikutinya. Di dasar gua, kami menyalakan lilin dan meletakkannya di dinding batu. Setelah ke 14 batang lilin dinyalakan, terlihat teranglah bagian dasar gua. Tampak lorong dasar inti gua berbentuk horizontal yang melurus ke depan. Di ujung sana tersamar terlihat belokan mengarah ke kiri. Kami berhenti di posisi itu. Dinding gua adalah hamparan batu indah.

Di lantai gua ada air tergenang sebatas lutut. Rasanya tawar. Bebatuan karang menyembul dari permukaan air. Genangan air itu memenuhi lorong gua. Semakin lurus di depan, genangan air tampak semakin dalam. Batas bekas genangan air berada pada ketinggian tiga meter.

Di dalam air ada makhluk yang berenang ke­rap menabrak kaki. Itu adalah ikan.

Langit-langit gua tampak seperti berbentuk kubah-kubah di puncak masjid. Ada kumpulan hitam berbintik-bintik putih, itu jelmaan ribuan kelelawar yang bergelantungan. Setiap cahaya senter mengarah, kelelawar beterbangan. “Awas ditabrak,” teriak Abik saat ribuan kelelawar mulai bergerak.

Kepak sayap ribuan kelelawar mengeluarkan bunyi serupa gemuruh laju angin.

Sekitar satu jam di dalam inti gua, kami ke­luar. Mendaki tebing diagonal sepanjang 15 meter terasa lebih susah daripada menuruninya. Keluar dari lubang inti gua, kami kembali beristirahat di “sumur raksasa”.

Selanjutnya, Abik dan Rinaldi menyiapkan perlengkapan tali untuk memanjat tebing mulut gua (sumur raksasa). Tentu masalah di awal masuk kembali terjadi, yaitu tubuh tambun Fikri. Setelah beberapa kali gagal, dia akhirnya bisa naik juga. Kemudian kami semua menyusul naik dan pulang meninggalkan hutan lebat itu.

Sore itu, kami telah meninggalkan gua. Kami sudah menikmati sensasi Guha Ie. Memang lelah, tetapi sungguh menyenangkan.[] Majalah The Atjeh