Posts

“Atjeh Moorden” Masih Membekas

PADA awal abad keduapuluh Belanda mempopulerkan istilah Atjeh Moorden atau Aceh pungo (gila) kepada rakyat Aceh. Atjeh Moorden secara harfiah berarti pembunuhan Aceh. Apa yang melatarbelakangi sehingga Belanda sangat takut kepada rakyat Aceh pada masa itu?

Perang Aceh melawan Belanda meletus pada tahun 1873. Banyaknya korban yang tewas di pihak Belanda serta keputusasaan karena perang yang tidak juga berakhir, membuat Belanda melaksanakan strategi baru dengan membentuk Pasukan Marsose.

“Tindakan Pasukan Marsose yang kejam terhadap rakyat Aceh membuat perlawanan rakyat tidak lagi secara berkelompok tapi per orang yakni dengan cara membunuh secara spontan,” komentar budayawan Aceh Barat Isnu Kembara.

Fanatik beragama
‘’Makanya mereka menyebut Atjeh Moorden atau Aceh pungo, Aceh gila. Orang Aceh sendiri tidak mempermasalahkan hal tersebut. Aceh gila itu bukan berarti tidak waras, tapi karena mempertahankan mati-matian maka pihak Belanda menyebut kita Aceh pungo.Karena orang Aceh ini kan sangat sakral sekali terhadap agama Islam, fanatik sekali. Misalnya jaman dahulu kalau sudah berperang dengan Belanda itu ada sebuah isi dari hikayat perang sabil (Hai saudara, jangan duduk lagi, ayo kita berperang melawan kafir Belanda. Jangan takut akan darah yang mengalir, di hari akhir dijamin masuk syurga ). Begitu prinsip orang aceh, yang penting bisa masuk surga.Pembunuhan khas Aceh inilah yang membuat Belanda semakin khawatir, sehingga militer Belanda menggunakan istilah Atjeh Moorden, Aceh pungo atau Aceh gila.

Menggunakan rencong Sikap spontanitas rakyat yang tertekan akibat perang, serta didorong oleh semangat hikayat perang sabil, yang istilahnya dalam bahasa Aceh “poh kaphe” atau membunuh kafir, membuat rakyat Aceh secara membabi buta membunuh keluarga Belanda jika bertemu di taman, di pasar. Bahkan ada yang nekad menyerang konvoi pasukan marsose yang sedang berpatroli hanya menggunakan rencong atau parang untuk membunuh.

Hal inilah yang membuat Belanda mengutus seorang penasehat pemerintah urusan kebumiputeraan untuk meneliti perilaku orang Aceh, jelas Isnu.

“Belanda memerintahkan Dr. R.A Kern untuk meneliti sikap perilaku orang Aceh. Ternyata si peneliti ini menyatakan, sifat membunuh orang Aceh ini dilakukan oleh orang yang bukan terganggu jiwanya. Berarti orang waras yang melakukan aksi balas dendam atau istilah Acehnya “tung bila”,” kata Isnu.

Meski jaman sudah berlalu, orang Aceh kini masih merasa memiliki kebanggaan terhadap sebutan Atjeh Moorden atau Aceh pungo, asal istilah tersebut tidak bertentangan dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Mati syahid“Cara-cara orang Aceh membunuh secara membabi buta. Dengan rencong yang digulung dalam tikar, dengan bambu runcing atau apa saja yang ada di tangan, mereka langsung membunuh orang kafir tersebut khususnya orang Belanda,” kata seorang warga. “Dengan mengharap pahala syahid ketika ia terbunuh. Arti mati syahid adalah mati dalam memperjuangkan seperti agama Allah atau agama Islam khususnya. Bagi orang Aceh, kalau dibunuh orang kafir maka ia akan mendapat pahala mati syahid.’

“Jaman sekarang orang Aceh itu tersinggung kalau disebut Aceh gila, tapi kalau disebut Aceh pungo tidak. Malah bersemangat dan bangga, padahal pengertiannya sama, kata pungo dan gila itu. Ya begitulah orang Aceh selalu bangga dengan sejarah masa lalu.’

Sementara itu psikolog pengajar dari Universitas Teuku Umar Meulaboh, Diah Pratiwi, mengatakan setiap daerah mempunyai cara tersendiri dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah, namun Acehlah yang paling gila dalam berperang.

Pergeseran nilai“Kalau kita melihat sejarah, semua daerah mempunyai ciri khas dalam melawan penjajah, punya kemampuan khusus dalam melawan Belanda. Dan kini ada pergeseran-pergeseran nilai karena pengaruh informasi, teknologi, pendidikan, pengaruh jaman orang Aceh keluar atau orang lain yang masuk ke sini. Ada perubahan kepercayaan dalam mereka melakukan sesuatu. Sekarang  saya tidak mendengar mereka membunuh karena jihad. Artinya ada kasus-kasus yang memang mereka sampai membunuh,”

Marwah keluarga“Dan mereka ringan–ringan saja,” tambahnya. “Yang penting saat ini dia telah memuaskan emosi dendam dan melepaskan dendamnya juga itu yang membuat lega. Istilahnya soal hukum masalah belakang, ini yang membuat orang Aceh sering tidak sabar dengan proses pengadilan, sehingga kadang sangat sulit sebenarnya meredam dendam amarah. Jadi mereka ini harus memuaskan dulu amarahnya jika tidak hal tersebut dapat membuat mereka tidak merasa berharga dan dianggap tidak bisa menjaga marwah keluarga dan ini yang paling penting.’

Meski jaman sudah berubah dan pengaruh budaya semakin berkembang, aksi-aksi nekad membunuh khas Aceh tersebut sudah mulai terkikis. Namun penggantinya adalah aksi-aksi yang bertujuan untuk mencapai sesuatu yang kadang tidak masuk di akal oleh pihak lain namun ditiru oleh pihak lain pula.

Sisi Lain Keindahan Pulau Bunta Aceh Besar

BANYAK sekali pilihan berwisata bila Anda pergi ke Aceh, lebih tepatnya di Kabupaten Aceh Besar. Pilihan wisata alam di Aceh Besar sangat beragam, Anda bisa melihat monyet yang bergantungan di pohon di Pemandian Air Mata Ie, menikmati keindahan Pantai Lampuuk atau Anda bisa memancing ikan di Lhok Mata Ie.
Bila Anda bosan berwisata di darat melulu, Anda bisa datang ke Pulau Bunta yang berada di Kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar. Bunta begitulah orang menyebutnya, kalau dilihat Google Maps pulau ini mirip seperti unta yang merayap.
Untuk mencapai ke pulau ini memakan waktu sekitar 40 menit dari Desa Lamteungoh Peukan Bada. Transportasinya pun menggunakan boat nelayan penangkap ikan berukuran panjangnya 7 x 1,5 meter. Berangkat naik boat pada sore harinya, kita bisa menikmati sunset berpendaran di Samudera Hindia.
Panorama laut disertai ombak bergelora memecah butiran pasir di sepanjang pantai. Pasir putih bercampur butiran coral berwarna merah, air lautnya sangat jernih, matahari menyinari laut menambah keindahan gradasi warna laut. Sebelah timur akan terlihat Pulau Batee dan ketika malam harinya kita bisa melihat lampu berkelip-kelip dari perumahan Tiongkok, hibah dari Jacky Chan ketika tsunami 2004 silam. Masyarakat yang menetap di desa Pulo Bunta ini tidak lebih dari 10 jiwa untuk sekarang ini, bermata pencaharian sebagai nelayan dan berkebun.

Ekosistem hutan pulau Bunta keadaannya masih sangat alami belum terjamah manusia dan juga unik. Terlihat ada banyak pohon kelapa yang tumbuh di lereng-lereng bukit dari pada pepohonan yang biasa di hutan, banyak hewan ternak seperti lembu. Tapi jarang terlihat adanya tupai, monyet, anjing dan nyamuk. Namun, pasca tsunami ada babi hutan yang muncul, padahal sebelumnya di pulau itu penduduk belum pernah melihat babi.

Sebelah barat ujung pulau ada jalan setapak, menuju lampu mercusuar jaraknya sekitar 2 kilometer. Dari puncak menara lampu suar setinggi 35 meter ini, kita akan menikmati suguhan dari maha karya pencipta semesta alam, gradasi warna laut, samudera Hindia, hamparan rumput, batu karang, Pulau Nasi, Pulau Breueh dan tampak dari jauh dermaga pantai Lhoknga seberang pulau.

Pulau ini sangat sesuai untuk ecotourism (ekowisata), dimana kita berwisata tetap menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Seperti yang dilakukan oleh tim Aceh Adventure beberapa waktu lalu. Tertarik menikmati keindahan Pulau Bunta? jangan lewatkan sebagai destinasi untuk mengisi waktu libur Anda di Aceh Besar.

Berikut Foto-foto keindahan Pulau Bunta :
Pulau Bunta Aceh Besar
Transportasi menuju Pulau Bunta
Pulau Bunta Aceh Besar
Mercusuar ujung barat Pulau Bunta

 

Pulau Bunta Aceh Besar
Menikmati sunset di Pulau Bunta

Pisang Sale (Jajanan khas Aceh)

SALE pisang adalah makanan hasil olahan dari buah pisang yang disisir tipis kemudian dijemur. Tujuan penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air buah pisang sehingga pisang sale lebih tahan lama. Pisang sale ini bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu. selain itu, saat ini sale pisang mempunyai berbagai macam rasa seperti rasa keju. Saat ini, produksi pisang sale sudah menembus pasar internasional. Sale pisang merupakan produk pisang yang dibuat dengan proses pengeringan dan pengasapan. Sale dikenal mempunyai rasa dan aroma yang khas.

Sifat-sifat penting yang sangat menentukan mutu sale pisang adalah warna, rasa, bau, kekenyalan, dan ketahanan simpannya. Sifat tersebut banyak dipengaruhi oleh cara pengolahan, pengepakan, serta penyimpanan produknya. Sale yang dibuat selama ini sering kali mutunya kurang baik terutama bila dibuat pada waktu musim hujan. Bila dibuat pada musim hujan perlu dikeringkan dengan pengeringan buatan (dengan sistem tungju).

Ada 3 (tiga) cara pembuatan sale pisang, yaitu :
1. Cara tradisional dengan menggunakan asap kayu
2. Cara pengasapan dengan menggunakan asap belerang
3. Cara basah dengan menggunakan natrium bisulfit.

Proses pengasapan dengan menggunakan belerang berguna untuk :
* Memucatkan pisang supaya diperoleh warna yang dikehendaki
* Mematikan mikroba (jamur, bakteri)
* Mencegah perubahan warna

Resep Pisang Sale Goreng
10 buah pisang ambon
100 gr tepung beras
50 gr tepung sagu
1/2 sendok teh air kapur sirih
1/4 sendok teh vanili
2 sendok makan gula pasir
200 ml air

Cara Membuat
Kupas pisang lalu belah empat, jemur hingga kering.
Setelah kering, goreng pisang hingga matang dan kering. Angkat dan tiriskan.
Campur tepung beras, tepung sagu, air kapur sirih, vanili, gula pasir, dan air, aduk hingga adonan tercampur rata.
Celupkan pisang sale ke dalam adonan tepung, goreng dalam minyak panas hingga matang dan kering. Angkat dan tiriskan.

Sejarah Dayah di Aceh Sejak Zaman Sultan Hingga Sekarang

DAYAH telah eksis sejak zaman kesultanan. Terdapat banyak “daar” di masa lalu. Diangkat dari hasil penelusuran Chairan M Nur dari Pusat Penelitian IAIN ar-Raniry, inilah sejarah panjang dayah di Aceh.
Di masa kesultanan Aceh,  sistem pendidikan  yang dikembangkan di Aceh pada awalnya melalui pusat-pusat pengaji-an di mneunasah atau rumah-rumah, lalu berkembang hingga berlangsung di ‘rangkang’ (semacam balai-balai -red). Pengajaran paling awal dimulai dengan pengajian al-Qur’an dengan lafal bacaan bahasa Arab yang mengikuti aturan-aturan ilmu tajwid.

Pada setiap kampung di Aceh terdapat satu meunasah yang di sana diadakan pendidikan dasar bagi anak laki-laki. Gurunya adalah teungku imum meunasah bersangkutan, dibantu beberapa orang lainnya. Di rumah teungku imum pun diadakan pendidikan bagi anak-anak perempuan dan yang menjadi gurunya adalah istri dari sang teungku imum.

Disamping mengajarkan al-Qur’an, sebagian teungku imum juga mengajarkan kitab-kitab Jawo (kitab berbahasa Melayu dengan aksara Arab). Untuk tingkat pemula diajarkan seperti kitab Masailal Muhtadi (memakai sistem tanya jawab, yang dimulai dari masalah tauhid, hukum yang terkait masalah ibadah seperti salat dan puasa).
Selanjutnya diajarkan pula kitab-kitab yang lebih tinggi, seperti kitab Bidayah, Miftahul Jannah, Sirath Sabilal Muhtadin, Kitab Delapan, dan Majmu’. Bagi yang sudaah pandai membaca kitab-kitab tersebut biasanya akan disebut malem Jawo.

Tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi adalah dayah, biasanya terdapat di dekat masjid. Tetapi ada juga yang beada di dekat rumah teungku yang mempunyai dayah itu sendiri. Pelajarannya tentu sudah meningkat pula, misalnya sudah mulai mempelajari pelajaran sharaf; yakni pelajaran tentang pembahasan kata dari satu kata menjadi beberapa kata sesuai kaidah-kaidah yang sudah disusun rapi dan menghafalnya sekaligus. Pelajaran sharaf umumnya berguna untuk mengetahui asal kata supaya dapat menyempurnakan kamus.

Setelah itu baru dilanjutkan mempelajari nahu, yaitu tata bahasa Arab. Orang yang sudah menguasai ilmu ini disebut malem nahu. Kitab yang dipakai untuk itu dimulai dengan kitab Ajrumiyah, Mukhtasar,  Muthmainnah, hingga akhirnya Alfiyah. Setelah itu diajarkan fikih — yakni pelajaran mengenai hukum-hukum ibadat — yang dimulai dengan kitab Safinatun Naja, Matan Taqrib. Kemudian Fathur Qarib, Fathur Muin, Tahrir, Iqna, Fathu al-Wahab, Mahally, Tuhfan, dan Nihayah. Baru  setelah itu diajarkan pelajaran tafsir al-Qur’an dan al-Hadits.

Lembaga pendidikan dayah di Aceh sudah ada sejak awal berdirinya Kerajaan Islam di Nusantara. Dayah-dayah tersebut tersebar di berbagai wilayah dan sangat memegang peranan penting dalam penyebaran Islam ke berbagai wilayah Nusantara.

Sebelum Belanda  masuk, Aceh merupaka daerah kerajaan. Kerajaan tersebut menganut sistem keberagamaan Islam, sehingga  pendidikan yang berjalan dengan sendirinya  adalah pendidikan yang bernuansa Islam. Tempat pendidikannya dimulai terutama di meunasah, rangkang, dan dayah.
Dayah-dayah yang tersebar di berbagai wilayah di Aceh sangat menentukan watak keislaman yang kemudian berkembang.

Pada masa itu, Pusat Pendidikan Tinggi Dayah Cot Kala merupakan pusat pendidikan tinggi Islam pertama di Asia Tenggara. Lembaga ini banyak berjasa dalam menyebarkan Islam dengan banyaknya ulama dan alumni yang kemudian menjadi pendakwah Islam sampai ke berbagai penjuru kepulauan Nusantara, bahkan hingga seberang selat Malaka. Dakwah yang mereka lakukan menstimulasi lahirnya kerajaan-kerajaan Islam di daerah. Sebut saja seumpama Kerajaan Islam Samudera Pasai, Kerajaan Islam Benua, Kerajaan Islam Lingga, Kerajaan Islam Darussalam, dan Kerajaan Islam Indra Jaya.

Berbagai kerajaan ini akhirnya melebur atau disatukan menjadi satu kerajaan besar pada awal abad ke XVI dengan nama Kerajaan Aceh Darussalam. Ali Mughayatsyah yang bergelar Sultan Alaiddin Ali Mughayatsyah dinobatkan sebagai sultan (raja) pertama. Ia memerintah dalam rentang waktu 9l6-936 H atau 1511-1530 M.

Karena segala sumber hukum bagi Kerajaan Aceh Darussalam adalah al-Qur’an dan al-Hadits, maka dengan sendirinya Islam menjadi dasar pendidikan di wilayah ini. Jadi, kalau Islam telah menjadi dasar pendidikan, maka pendidikan itu tentu saja bertujuan untuk membina manusia-manusia yang sanggup menjalankan ajaran Islam. Qanun Meukuta Alam (disebut juga Adat Meukuta Alam dan kadang-kadang disebut Adat Aceh) adalah sebuah undang-undang dasar kera-jaan sebagai penyempurnaan peraturan-peraturan yang telah dibuat sebelumnya. Dalam Qanun Meukuta Alam ini diatur segala ihwal yang berhubungan dengan negara secara garis besar, baik mengenai dasar negara, sistem pemerintahan, pembagian kekuasaan dalam negara,  dan lembaga-lembaga negara.

Pada masa Ratu Safiatuddin menjadi sulthanah, Qanun Meukuta Alam disempurnakan lagi. Dalam undang-undang tersebut di antaranya tertulis ulama dan raja tidak boleh jauh atau tercerai, sebab kalau ada jarak di antara mereka nis-caya binasalah negara. Itu berarti raja dan ulama harus bersama-sama menjadi pimpinan. Dengan kata lain,  hal ini dapat ditamsilkan pula bahwa dalam diri seorang penguasa harus ada bersamanya unsur kekuasaan dan keilmuan.

Dalam Qanun Meukuta Alam edisi “revisi”, dibuat juga persyaratan-persyaratan untuk menjadi sultan. Setidaknya ada 21 syarat, diantaranya adil mengajarkan hukum Allah dan hukum rasul, serta memelihara seluruh perintah agama Islam. Terdapat pula 10 syarat untuk menjadi wazir (menteri kerajaan). Syarat itu, misalnya, adalah “alim (paham) pada ilmu dunia dan ilmu akhirat, dapat memegang amanah, tiada khianat”. Untuk menjadi qadhi pun ditetapkan dalam qanun ini. Di antara syaratnya adalah “adil, alim pada pekerjaan dunia dan akhirat dan mengetahui ia atas pekerjaan yang diserahkan oleh kerajaan kepadanya dan dapat ia berbuat dengan adil”.

Begitulah Kerajaan Aceh Darussalam sangat mementingkan ilmu pengetahuan bagi setiap orang, terutama bagi pejabat-pejabat (sultan, menteri, qadhi). Itu sebabnya maka tidak menjadi suatu hal yang aneh jika Kerajaan Aceh Darussalam kemudian melahirkan ulama-ulama dan sarjana-sarjana bertaraf intemasional sehingga Aceh menjadi terkenal terutama pada masa Sultan Iskandar Muda. Banyak orang dari luar datang ke Aceh untuk belajar di sini.

Ketika Malaka ditaklukkan Portugis, ulama-ulama dan muballigh Islam dari Malaka pindah ke Aeeh, lalu bersama-sama dengan kalangan terdidik kerajaan menyiarkan agama Islam dan mendidik calon ulama di dayah-dayah.

Pada masa itu, tingkatan pendidikan dalam Kerajaan Aceh Darussalam terdiri atas:

– Meunasah atau madrasah yaitu  sekolah permulaan yang terdapat di tiap-tiap gampong (kampung). Di sana anak-anak diajarkan membaca al-Qur’an, menulis dan membaca huruf Arab, cara beribadat, akhlak, rukun Islam, dan rukun iman.

– Rangkang, yaitu pondok-pondok yang ada di sekeliling masjid sebagai asrama. Di sana diajarkan fikih, ibadat, tauhid, tasawuf, sejarah Islam/umum, bahasa Arab. Buku-buku pelajarannya terdiri dan bahasa Melayu dan bahasa Arab.

– Dayah, terdapat  dalam tiap-tiap daerah,  tetapi ada juga yang berpusat pada mesjid bersama rangkang. Kebanyakannya terdapat terpisah dari lingkungan mesjid dan menyediakan sebuah balai utama sebagai aula yang digunakan sebagai tempat belajar dan tem-pat salat berjamaah. Di dayah, semua pelajaran diajarkan dalam bahasa Arab dan mempergunakan kitab-kitab berbahasa Arab juga. Mata ajarannya terdiri dari ilmu fikih muamalat, tauhid, tasawuf, akhlak, ilmu bumi, ilmu tatanegara, dan bahasa Arab. Terdapat pula dayah-dayah yang mengajarkan ilmu umum seperti ilmu pertanian, ilmu pertukangan, dan ilmu perniagaan (ekonomi).

– Dayah Teungku Chik, yakni satu tingkat lagi di atas dayah dan kadang-kadang disebut juga Dayah Manyang. Dayah ini tidak begitu banyak. Di sana diajarkan mata pelajaran antara lain bahasa Arab, fikih jinayah (hukum pidana), fikih munakahat (hukum perkawinan), fikih duali (hukum tatanegara), sejarah Islam, sejarah negara-negara, ilmu manthiq, tauhid, filsafat, tasawuf/akhlak, ilmu falaq, tafsir, dan hadits.

– Jami’ah Baiturrahman. Jami’ah ini terdapat di ibukota negara yang merupakan satu kesatuan mesjid Jami’ Baiturrahman. Jami’ah Baiturrahman ini mempunyai bermacam-macam “Daar” yang kira-kira kalau disetarakan sama dengan fakultas. Ada 17 “Daar” yang di-dirikan ketika itu, yakni: (1) Daar al-Tafsir wa al-Hadits (Tafsir dan Hadits), (2) Daar al-Thibb (Kedokteran), (3) Daar al-Kimya (Kimia), (4) Daar al-Taarikh (Sejarah), (5) Daar al-Hisaab (Ilmu Pasti), (6) Daar al-Siyasah (Politik), (7) Daar al-Aqli (Ilmu Akal), (8) Daar al-Zira’ah (Pertanian), (9) Daar al-Ahkaam (Hukum), (10) Daar al-Falsafah (Filsafat), (11) Daar al-Kalaam (Teologi), (12) Daar al-Wizaraah (Ilmu Pemerintahan), (13) Daar Khazaanah Bait al-Maal (Keuangan dan Perbendaharaan Negara), (14) Daar al-Ardhi (Pertambangan), (15) Daar al-Nahwi (Bahasa Arab), (16) Daar al-Mazahib (Ilmu-ilmu Agama), dan (17) Daar al-Harbi (Ilmu Peperangan).

Pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Iskandar Muda Darma Wangsa Perkasa Alam Syah berkuasa (1016-1045 H/1607-1636 M), guru-guru besar  jami’ah tersebut selain terdiri dari ulama-ulama Aceh, juga didatangkan dari luar seperti dari Arab, Turki, Persia, dan India. Berdasarkan catatan yang dapat ditelusuri, tak kurang dari 44 orang guru be-sar yang didatangkan dari luar negeri pada masa itu.
Demikianlah gambaran pendidikan di Aceh yang dilaksanakan oleh orang-orang terdahulu. Dalam hal ini, ulama dan sul-tan memegang peranan penting untuk memajukan pendidikan melalui lembaga pendidikan yang berbentuk dayah. Mereka mendatangkan guru-guru besar dari luar sehingga taraf pendidikan pun mencapai kemajuan bahkan berhasil melahirkan cendekiawan-cendekiawan yang diperhitungkan dunia luar.

Era Belanda

Belanda menyatakan perang kepada kerajaan Aceh pada hari Rabu tanggal 26 Maret 1873. Belanda yang mengusai Aceh sejak dekade kedua abad ke-20 tersebut tidak melanjutkan sistem pendidikan dayah di Aceh. Kepada masyarakat pribumi, mereka menerapkan pendidikan sistem sekolah seperti yang telah dilakukan di daerah-daerah la-in sebelumnya.

Belanda mulai mengembangkan sekolah di Indonesia pada pertengahan abad ke-19. Untuk pertama kalinya mereka mendirikan sekolah dasar tiga tahun pada tahun 1849 dan sekolah guru pada tahun 1892. Pada tahun 1854 pemerintah Belanda menyediakan pendidikan bagi anak-anak pribumi. Lalu pada tahun 1867 didirikanlah Departemen Pendidikan. Maka sejak itu, sejumlah sekolah dasar untuk anak-anak Indonesia bertambah dengan cepat.

Pada tahun 1892 jumlah anak-anak Indonesia pada sekolah tersebut sudah mencapai tujuh ribu orang. Lalu, Belanda memperkenalkan dua macam sekolah lagi; yakni sekolah kelas I (eerste klasse) untuk anak-anak golongan aristokrat dan orang kaya, dan sekolah kelas II (tweede klasse) untuk anak-anak orang biasa. Pada tahun 1907 Belanda mendirikan sekolah desa yang dinamai volkschool.
Pendidikan model Barat pertama sekali diterapkan Belanda di Tapanuli dan Singkil.

Setelah kekuasaannya melebar dan kekuatan pun bertambah, sekolah-sekolah Belanda pun mulai dibangun di Aceh. Pada tingkat dasar meliputi volk-school (sekolah desa), Inlandsche vervolgschool (sekolah bumiputera lanjutan), Meisjesschool (sekolah puteri), vervolgschool-met Nederlandsche school (sekolah dasar Belanda untuk bumiputera), Europeesche lagere school (sekolah dasar untuk anak-anak Eropa), Hollandsche Chinese school (sekolah Belanda untuk Cina), dan jenis lainnya. Pada tingkat menengah Belanda mendirikan sekolah MULO di Kutaraja (Banda Aceh sekarang — red) yang merupa-kan satu-satunya sekolah menengah pada waktu itu.

Dengan peristiwa perang Aceh-Belanda pada masa ini, dapat dibayangkan bagaimana gambaran pendidikan di Aceh pada tahun-tahun tersebut. Sebelum Sultan Muhammad Daud menyerah pada tahun 1903, kaum ulama, ulee balang, dan rakyat berjuang, bergerilya di daerah-daerah pedalaman dan menguasai daerah tersebut pada waktu malam hari. Sedangkan Belanda menguasai bagian pesisir dan tempat-tempat tertentu yang kuat bentengnya serta daerah-daerah kekuasaan uleebalang yang sudah menandatangani kontrak “verklaring” (perjanjian pendek dengan Belanda).

Pengaruh dan kekuasaan Belanda semakin hari semakin meluas, baik dalam dunia pemerintahan, pendidikan, dan lainnya. Kebanyakan kaum ulama yang sebelum pecah perang memimpin pendidikan rakyat dengan mengadakan da-yah dan ceramah-ceramah keagamaan, kini terjun langsung ke medan jihad. Ada juga yang terus melaksanakan pendidikan di samping memimpin perjuangan dengan senjata seperti Teungku Chik di Tiro Dayah Cut (Teungku Chik Muhammad Amin) di Aceh Pidie, paman dan Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.

Ada yang menjadi tempat bertanya para pejuang tidak berhubungan dengan Belanda dan tetap membuka dayah di tempatnya, jauh di pedalaman seperti Teungku Chik Tanoh Abeue (Teungku Chik Abdul Wahab) Tanoh Abeue, Aceh Besar. Kedua golongan ulama ini tetap mendidik dan mengajar sehingga banyak melahirkan ulama Aceh yang belajar dalam hutan perjuangan. Di antaranya Teungku H. Muhammad Hasbullah Indrapuri dan Teungku H. Abdullah Lam U, yang sangat terkenal pada masa kebangkitan dan kebangunan Aceh. Ulama tersebut bergelar “Teungku di Rimba”. Berbeda dengan daerah lain, kalau di “rimba'”itu gelar ‘harimau’, tetapi kalau di Aceh benar-benar ‘ulama’ yang me-mang alim di rimba.

Dengan berkuasanya Belanda di kota-kota dan sekitarnya, mereka pun membuka tempat pendidikan berupa sekolahan. Para ulama sendiri meneruskan sistem pendidikannya dengan dayah-dayah, di desa yang terpencil, jauh dari kota.

Pada garis besarnya corak pendidikan di Aceh, sejak datangnya pendidikan yang dibawa Belanda, menjadi dua; yaitu corak pendidikan asli dari rakyat Aceh yang disebut dayah, dan corak pendidikan baru yang dibawa Belanda dalam bentuk sekolah.

Kedua macam pendidikan itu sangat bertentangan satu sama lain dalam hal tujuan dan prinsip. Dapat dikatakan bahwa pendidikan yang sudah berjalan lama — dayah — selain meneruskan perjuangan pendidikan umat, kini bertambah lagi dengan tujuan baru yaitu mempertahankan semangat juang rakyat supaya tak lumpuh sehingga mental dan keyakinannya tak dapat dipengaruhi oleh Belanda.
Berbeda dengan itu, tujuan pendidikan yang dibawa oleh Belanda pada dasarnya adalah alat untuk menundukkan rakyat Aceh dan mencerdaskannya untuk kepentingan scurity (keamanan) Belanda.

Dengan sebutan lain, pendidikan yang dibawa Belanda bertujuan menanam pengaruh dan mencari simpati rakyat. Ini tampak jelas dengan  cara-cara sangat menonjol yang dilakukan Belanda, seperti mengutamakan pelajaran menyanyi yang tujuannya untuk memuji Belanda dengan lagu Wilhelmus.
Untuk memuluskan tujuannya, Belanda mendatangkan guru-guru dari luar Aceh yang dianggap loyal kepada Belanda. Pada masa ini, seorang guru telah dipandang cakap kalau sudah pandai bernyanyi dan sedikit berhitung, lalu kepada mereka diberikan fasilitas yang lebih seperti dibebaskan naik kereta api ke segala jurusan. Pemeriksa sekolah atau (school opziener) mendapat kehormatan dari Belanda. Murid-murid selalu senang mendapat hadiah dan bebas dari segala pungutan asal mau bersekolah saja.

Untuk putra-putra ulee balang dan tokoh masyarakat diadakan didikan khusus yang pendidiknya terdiri dari orang Belanda. Tujuannya tentu saja ingin membentuk watak mereka supaya benar-benar pro kepada Belanda. Tetapi, da-lam kenyataannya, tujuan ini kurang berhasil. Di samping Belanda melakukan politik pendidikan yang demikian, rakyat Aceh dan kaum pejuangnya dengan bimbingan para ulama, mengecam pendidikan tersebut, sehingga timbullah slogan bahwa siapa yang menyerahkan anaknya ke sekolah Belanda, ia akan menjadi kafir dan haram hukumnya.

Walaupun demikian Belanda dapat juga menyekolahkan beberapa anak ulama dan orang terkemuka lainnya, seperti Teungku Bujang Krueng Geukueh di “Sekolah Raja” (Kweekschool) di Bukittinggi, lalu diangkat menjadi Zelfbestuurder Negeri Nizam yang beribukota Krueng Geukueh. Karena tidak menuruti kehendak Belanda, ia dibuang ke Meulaboh, lalu ke Ulelheu. Tak juga mau patuh, ia kemudian dibuang lagi ke Digul.
Teungku Chik Thayeb Peureulak mendapatkan perlakuan yang sama, dibuang ke Betawi, karena tidak patuh juga kepada Belanda sesudah ia disekolahkan. Begitu pula dialami oleh Teuku Nyak Arif.
Demikianlah Belanda menjalankan keinginannya, walupun tujuannya tidak sebagaimana yang diharapkan ada juga satu dua orang dan pemuka dan ulee balang yang dimanfaatkannya. Tetapi walau secara lahiriah dipercaya oleh Belanda, namun mereka dapat memanfaatkannya untuk kepentingan rakyat banyak.

Belanda memang menyadari bahwa dayah yang didirikan oleh para ulama bertujuan antara lain menanamkan rasa benci terhadap mereka. Oleh karena itu pemerintahan Belanda berusaha untuk mengganti kannya dengan pendidikan barat (Belanda).
Dengan menolak semua pendidikan dan kebudayaan yang dibawa Belanda, para ulama Aceh memugar kembali dayah yang lama terbengkalai akibat perang yang terlalu lama. Adapun mata pelajaran yang dipelajari hampir tidak berbeda dari satu dayah dengan dayah yang lain. Semua mata pelajaran terdiri dari ilmu-ilmu agama saja seperti bahasa Arab, fikih, tafsir, hadis, tasawuf, tauhid, usul fikih, dan lain-lain.

Seperti disebut tadi, dalam pandangan Belanda, pendidikan di dayah bertujuan untuk menanam rasa kebencian rakyat Aceh terhadap Belanda. Itu sebabnya Belanda  mati-matian berusaha agar pendidikan dayah diganti dengan pendi-dikan barat (Belanda).

Pada masa ini Snouk Hurgrounje hadir sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda dan mengajukan opsi kepada pemerintahannya untuk menjalankan politik asosiasi dengan kaum pribumi; semacam sikap politik untuk mempererat ikatan antara negeri jajahan dengan negara penjajahnya melalui kebudayaan.

Tapi apa lacur, politik asosiasi ini tidak berhasil dijalankan terutama  karena daya tarik pendidikan dayah memang lebih besar terhadap rakyatnya dibandingkan pendidikan Belanda. Kebanyakan rakyat Aceh tidak memiliki kepercayaan sama sekali terhadap Belanda, apalagi ada anggapan  bahwa Belanda adalah pemenintahan kafir yang ingin menghilangkan agama rakyat Aceh.

Jadi, inilah perbedaan yang tegas dan mencolok  antara tujuan dayah pada masa kesultanan dan pada masa kolonial Belanda. Tujuan dayah pada masa kesultanan adalah untuk mempelajari, mengembangkan serta mengamalkan ilmu dan akidah agama Islam. Sedangkan tujuan dayah pada masa kolonial Belanda selain seperti tersebut di atas juga untuk membentuk kembali kepribadian, kekuatan, serta kecakapan untuk mematahkan tekanan yang dipaksakan Belanda terhadap rakyat Aceh.

Pendudukan Jepang

Kebencian rakyat terhadap penjajahan Belanda telah sampai di ubun-ubun. Karena itu, ketika Jepang memaklumkan perang terhadap sekutu, termasuk di antaranya Belanda, pada tanggal 8 Desember 1942, rakyat Aceh dengan gembira menyambut maklumat tersebut dengan harapan Belanda dapat segera angkat kaki.

Maka, sewaktu koloni kelima Jepang dengan nama Fujiwarakikan tiba di Aceh, para ulama yang tergabung dalam PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) menerimanya secara rahasia. Tapi ketika rakyat mengetahuinya maka rakyatnya pun menerima dengan gembira. Penerimaan kedatangan Jepang oleh para ulama dan rakyat tersebut tidak diberitahukan kepada kaum ulee balang karena khawatir akan terjadi kebocoran dan diketahui oleh Belanda sebab pada masa itu sebagian ulee balang memiliki hubungan  yang karib dengan Belanda.

Di Aceh Besar, ulee balang seperti Panglima Polem Muhammad Ali yang tidak rapat dengan Belanda, diberi tahu. Teungku Abdul Wahab Keunaloe Seulimum sebagai wakil ketua II pengurus besar PUSA, berani menyampaikan kedatangan Jepang kepadanya. Oleh karena memang para ulee balang di Aceh Besar sebelumnya sudah bersumpah untuk memberontak terhadap Belanda, jadi mereka berpendapat bahwa inilah saat yang tepat untuk berjuang bersama dengan para ulama. Usaha ini berhasil. Belanda terpaksa meninggalkan Aceh Besar melarikan diri menuju Takengon. Ketika Jepang memasuki Kutaraja pada tanggal 12 Maret 1942, batang hidung Belanda sudah tak ditemui la-gi di Aceh Besar.

Saat baru beberapa hari Jepang menduduki Kutaraja, dibentuklah suatu komite untuk membentuk pemerintahan baru. Orang-orang yang aktif dalam gerakan “F” (Fujiwarakikan) dilibatkan dalam pemerintahan. Seperti T Nyak Arief diangkat menjadi guntyo (wedana) Kutaraja, TMA Panglima Polem menjadi guntyo Seulimum, dan Haji Abu Bakar Ibrahim Bireuen menjadi guntyo Bireuen. Ulee balang-ulee balang lainnya menjadi sontyo (camat). Nanti, pada giliran-nya jabatan-jabatan itu digantikan oleh orang lain seiring dengan pergantian gubernur daerah Aceh (tyokan Aceh syu).
Walaupun pada masa ini rakyat, ulama, dan komponen masyarakat dapat berbaur dengan Jepang, seperti dengan memasuki tentara (gyu gun), polisi (takubetsu), namun para ulama tetap tidak menolerir kekejaman tentara Jepang dan untuk itu mereka mengadakan pemberontakan. Pertama sekali pada tahun 1944 di Bayu, di bawah pimpinan se-orang ulama pemimpin dayah bernama Teungku Abdul Jalil yang berhasil melumpuhkan satu kompi tentàra Jepang. Kedua kalinya terjadi di Pandrah, Kecamatan Jeunieb.

Kemerdekaan

Pada masa revolusi fisik (1945-1949), pusat-pusat pendidikan dayah di Aceh banyak yang memiliki pondok (asrama). Pondok ini merupakan tempat tinggal bagi para murib (santri) yang belajar di dayah tersebut. Biasanya pondok-pondok yang ada terbuat dari papan kayu atau bambu.

Lembaga pendidikan dayah pada umunmya bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat usia murid atau santri. Ketika masih kecil, seorang anak biasanya belajar di meunasah-rneunasah atau rangkang. Setelah berumur tujuh atau delapan tahun, mulai diajarkan membaca alfabet Arab dan secara bertahap membaca al-Qur’an. Program pengajaran ini dianggap selesai setelah si anak dapat membaca sendiri al-Qur’an dengan lancar dan benar. Bagi beberapa anak dan keluarga tertentu, dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pelajaran berikutnya adalah mendidik anak agar dapat membaca dan menerjemahkan buku-buku Islam klasik yang elementer yang ditulis dalam bahasa Arab.

Sebagian dari mereka mempunyai cita-cita menjadi ulama, sehingga setelah berkenalan dengan kitab-kitab elementer, mereka memperdalam bahasa Arab sebagai alat untuk dapat mendalami buku-buku tentang fikih (hukum Islam), usul fikih (pengetahuan tentang sumber-sumber dan sistem yurisprudensi Islam), hadis adab (sastra Arab), tafsir tauhid (teologi Islam), tarikh (sejarah Islam), tasawuf dan akhlak (etika Islam).

Posisi dominan yang dipegang oleh lembaga pendidikan dayah ini sebagian disebabkan oleh suksesnya lembaga tersebut menghasilkan sejumlah besar ulama yang berkualitas tinggi yang dijiwai oleh semangat untuk menyebarluaskan dan memantapkan keimanan orang-orang Islam, terutama di pedesaan di Aceh.

Sebagai pusat pendidikan Islam tingkat menengah, dayah juga mendidik guru-guru agama, guru-guru lembaga pengajian dan para khatib Jum’at. Keberhasilan pemimpin-pemimpin dayah dalam melahirkan sejumlah ulama yang berkualitas tinggi tidak terlepas dari metode pendidikan yang dikembangkan oleh para teungku dayah.

Di dayah, tujuan pendidikan tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran murid dengan penjelasan-penjelasan, tetapi juga untuk meningkatkan moral, melatih, dan mempertinggi semangat, menghargai niai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap atau tingkah laku yang jujur serta bermoral, dan menyiapkan para murid untuk bersih hati maupun hidup sederhana. Setiap santri diajar agar menerima etik agama di atas etik-etik yang lain.

Tujuan pendidikan dayah bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi yang terutama ditanamkan bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan.

Di antara cita-cita pendidikan dayah adalah latihan agar dapat berdiri sendiri dan membina diri agar tidak menggantungkan sesuatu kepada orang lain kecuali kepada Tuhan. Para teungku dayah selalu menaruh perhatian dan mengembangkan watak pendidikan individual. Murid dididik sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan dirinya. Anak-anak yang cerdas dan memiliki kelebihan kemampuan dibandingkan yang lain, diberi perhatian istimewa dan selalu didorong untuk mengembangkan diri. Santri-santri juga diperhatikan tingkah laku  dan moralnya secara teliti.

Kepandaian berpidato dan berdebat juga mendapat perhatian dari para guru. Kepada para murid juga ditanamkan untuk memiliki rasa bertanggung jawab yang tinggi untuk melestarikan dan menyebarkan pengetahuan mereka tentang Islam kepada orang lain, mencurahkan waktu dan tenaga untuk belajar terus-menerus sepanjang waktu.

Menurut tradisi dayah, pengetahuan seseorang diukur oleh jumlah buku yang telah dipelajari dan kepada teungku dayah mana ia telah berguru. Jumlah buku-buku standar dalam tulisan Arab yang dikarang oleh ulama terkenal yang harus dibaca telah ditentukan oleh lembaga-lembaga dayah.

Walaupun jumlah cabang pengetahuan yang dipelajari sangat terbatas, tetapi bukan berarti pendidikan di dayah membatasi cara berfikir dan perhatian santri. Dalam tradisi dayah juga dikenal adanya pemberian ijazah, tetapi ben-tuknya berbeda dengan ijazah dalam sistem moderen. Hubungan antara guru dan murid adalah sedemikian rupa, sehingga anjuran-anjuran yang diberikan sang guru lazimnya dianggap oleh si murid sebagai perintah yang mutlak harus dikerjakan.

Dengan bergulirnya waktu dan eksisnya lembaga dayah dalam pranata sosial masyarakat Aceh, akhirnya dayah terpola menjadi lembaga tradisional yang merupakan ciri khas pendidikan Islam di Aceh. Pola pendidikan ini mengendap men-jadi konsepsi dan kemudian mewarnai watak sosial dari masyarakat atau tempat kedudukan dayah itu sendiri. Misalnya: sistem pendidikan yang masih mengutamakan kitab-kitab kuning atau gundul, juga adanya pemisahan antara murid perempuan dan murid laki-laki.

Pendidikan Islam yang berkembang di dayah-dayah di Aceh pada masa revolusi telah berhasil mencetak kader-kader ulama, pendidik, dan pemimpin-pemimpin yang mampu menggerakkan rakyatnya untuk berjuang bersama-sama mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda.
“Dalam tahun empat puluhan, para ulama Aceh terbagi dalam dua kelompok yaitu ulama Ahlussunnah wal jama’ah kaum tua dan ulama Ahlussunnah wal jama’ah kaum muda. Dalam dasar-dasar akidah tidak ada, hanya berbeda pen-dapat dalam masalah-masalah furu’iyah. Di luar ketentuan yang asli ini, kadang-kadang terjadi perbedaan yang tajam antara ulama kaum muda dan ulama kaum tua dalam menghadapi masalah-masalah keduniaan, politik, ekonomi dan sosial budaya,” ungkap A. Hasjmy, suatu ketika.

Penuturan A. Hasjmy jelas menggambarkan bahwa dayah-dayah yang berada di Aceh kebanyakan menganut faham Ahlussunnah wal jama’ah yang banyak dianut oleh golongan tua. Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini, misalnya dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan, Darul Ihsan Aceh Selatan, Dayah Tgk Fakinah dan Dayah Tanoh Abee di Aceh Besar. Namun dalam perkembangan selanjutnya, sistem pendidikan dayah secara bertahap walaupun lambat, mengalami pergeseran.
Di sisi lain, walaupun pendidikan di Indonesia mengalami kemajuan, namun masih tertinggal dari sistem pendidikan yang berkembang di negara Barat. Pendidikan di Indonesia dianggap masih belum mampu menjawab problema yang ada karena masih terbatasnya sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Karena itu, keberadaan dayah dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan SDM yang tangguh menghadapi masa depan.

Yenni, ibu pertama di Aceh yang menikmati cuti melahirkan terlama

Seorang perawat yang bekerja di rumah sakit ibu dan anak di Banda Aceh mengajukan cuti hamil dan melahirkan pada tanggal 11 Agustus lalu, sekitar empat minggu sebelum tanggal perkiraan anak keduanya lahir.

Bagian kepegawaian rumah sakit tempat Yenni Linda Yanti bekerja memanggilnya beberapa hari kemudian dengan berita yang membuatnya terkejut dan senang karena dia akan menjadi ibu pertama yang menikmati cuti melahirkan paling lama di Indonesia, enam bulan.

“Rupanya keluar peraturan gubernur (menyangkut cuti melahirkan) dan saya dihubungi kepegawaian dan saya yang pertama dapat cuti,” kata Yenni kepada BBC Indonesia.

Peraturan Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang dimaksud Yenni adalah yang ditandatangani tanggal 12 Agustus 2016 lalu tentang Pemberian Air Susu Eksklusif, dengan cuti melahirkan selama enam bulan untuk pegawai negeri sipil, tenaga kontrak dan yang bekerja di jajaran Pemerintah Aceh.

Bagi Yenni, cuti selama enam bulan ini sangat membantunya untuk tidak merasa khawatir lagi dalam membesarkan bayinya.

Ganggu produktifitas?

“Saya kerja di rumah sakit, kalau lagi di kamar operasi… saya tak bisa pulang tepat waktu… harus ikut operasi dulu. Jadi waktu cuti (anak pertama) anak saya masih kecil sekali (saat ditinggal kerja).”

“Dengan dapat enam bulan ini, bersukur sekali, anak sudah dapat ASI (air susu ibu) eksklusif dan sudah dikasih makanan tambahan. Saat anak yang pertama, saya harus pompa ASI di sela-sela pekerjaan,” cerita Yenni.

Namun akun lain, Iwan Candra menyebutkan peraturan cuti enam bulan, “Sangat tidak produktif. Pemerintah seenaknya menetapkan karena buat mereka, gajinya dibayar oleh negara.”

Yenni menjawab singkat, “Tidak juga” saat ditanyakan kaitan antara produktifitas dan cuti melahirkan enam bulan.

Peraturan gubernur di Aceh ini juga diberlakukan untuk suami selama tujuh hari sebelum dan sesudah melahirkan serta bagi perusahaan yang disebutkan ‘wajib memberikan cuti hamil bagi pekerja atau buruh sesuai peraturan perusahaan antara pengusaha dan pekerja atau buruh’.

Aceh banyak mendapatkan sorotan organisasi hak asasi manusia, antara lain karena sejumlah peraturan yang dianggap mengekang hak perempuan, termasuk sanksi bagi mereka yang mengenakan celana panjang ketat.

Namun, Aceh -yang menerapkan hukuman syariah- dipuji dengan penerapan cuti melahirkan selama enam bulan ini.

Sumber : www.bbc.com

Peringati Hari Kopi Se-dunia, Free Seribu Gelas Kopi di Aceh

Banda Aceh – Ada yang berbeda di Lapangan Blang Padang Banda Aceh . Masyarakat yang menghabiskan waktu di sana dapat mencoba kopi Arabika secara gratis. Bagi-bagi kopi ini digelar untuk memperingati hari kopi se-dunia.

Sejumlah pria yang tergabung dalam Coffee Enthusiast membagikan total 1000 gelas kopi kepada masyarakat secara gratis. Kopi diracik dan diseduh di lokasi. Jika ada yang ingin mencobanya, langsung dituangkan ke dalam gelas.

unduhan

Para barista terlihat sibuk membuat kopi untuk disajikan kepada masyarakat. Mereka berkali-kali mengganti bubuk agar rasa dan aroma kopi tetap terjaga. Kopi yang disajikan hari ini tidak memakai gula.

Masyarakat antusias mencoba kopi Arabika dari beberapa Provinsi di Indonesia. Mereka bahkan ada yang menyeruput dua gelas bahkan lebih. Ada yang suka ada juga yang protes karena kopi terasa pahit disebabkan tidak memakai gula.

Aksi minum kopi gratis ini digelar untuk memperingati hari kopi sedunia yang diperingati secara serentak di seluruh dunia. Kopi yang dibagikan di Blang Padang yaitu kopi gayo, solok dan lainnya.

Simak, 10 Tempat Wisata Aceh yang Wajib Kamu Kunjungi

Nanggroe Aceh Darussalam atau lebih dikenal dengan Aceh adalah sebuah provinsi di ujung Pulau sumatra Provinsi ini memiliki keindahan alam yang luar biasa, mulai dari pantai sampai pegunungannya. Setelah mengalami kerusakan akibat tsunami pada tahun 2004 di sebagian wilayahnya termasuk tempat wisatanya, Aceh kembali bangkit dan menata sektor pariwisatanya dengan baik.

Berencana liburan ke Aceh? Sudah tahu akan menghabiskan waktu Anda di mana? Agar tidak bingung mau ke mana, simak dulu 10 tempat wisata di Aceh yang layak dikunjungi berikut ini:

  1. Masjid Raya Baiturrahman

fff

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 ini telah menjadi ikon Aceh. Bangunan utama masjid berwarna putih dengan kubah hitam besar dikelilingi oleh tujuh menara. Kesan megah semakin terasa dengan adanya kolam besar dan pancuran air di bagian depan masjid yang mengingatkan pada Taj Mahal di India.

Masjid ini menjadi tempat wisata religi di Aceh yang banyak dikunjungi karena keindahannya. Situs Huffington Post memasukkan Masjid Raya Baiturrahman ke dalam daftar 100 masjid terindah di dunia, bahkan Yahoo! menyebut masjid ini sebagai salah satu dari 10 masjid terindah di dunia. Hal ini tentu saja semakin membuat bangga warga Aceh dan Indonesia.

Jika ingin membeli suvenir, Anda bisa datang ke Pasar Aceh yang terletak di belakang masjid. Setelah puas berkeliling, Anda bisa berwisata kuliner karena ada banyak penjual makanan di pasar ini.

  1. Air Terjun Blang Kolam

rt

Air Terjun Blang Kolam tempat wisata alam yang satu ini sayang untuk dilewatkan. Air Terjun Blang Kolam terletak di Desa Sidomulyo, Aceh Utara dan bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dari Lhokseumawe.

Di sini, Anda bisa melihat air terjun kembar dengan tinggi 75 meter yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Di sekitar air terjun, ada banyak orang yang bermain air, berendam di kolam tampungan air terjun atau sekedar bersantai di tepiannya. Jika Anda ingin merasakan pengalaman yang berbeda, coba datang dengan membawa perlengakapan berkemah Anda. Di Air Terjun Blang Kolam ini, Anda bisa berkemah dan menikmati alam bebas dengan tarif 5.000 Rupiah per orang.

Tempat wisata di Aceh ini tak hanya menawarkan keindahan alamnya, namun juga menawarkan harga yang murah. Anda cukup membayar 2.500 Rupiah per orang untuk bisa masuk dan membuktikan keindahan Air Terjun Blang Kolam.

  1. Air Terjun Suhom

Air Terjun Suhom

Air Terjun ini berada di Desa Suhom, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Untuk bisa mencapai tempat wisata  ini, Anda harus melewati jalanan naik-turun dengan pemandangan gunung Paro dan Kulu. Di tengah perjalanan, jangan kaget saat melihat banyak monyet berkeliaran di jalan. Monyet-monyet ini biasanya meminta buah-buahan atau makanan ringan lain pada pengguna jalan yang lewat.

Air terjun setinggi 50 meter ini dibagi menjadi tiga tingkat, namun Anda tidak diperbolehkan naik menuju tingkat dua dan tiga demi alasan keselamatan karena adanya pembangkit listrik bertegangan tinggi.

Meskipun begitu, tempat wisata di Aceh ini tetap menyajikan pemandangan yang luar biasa. Anda bisa berenang di telaga sedalam dua meter di bawah air terjun atau menemani anak-anak bermain air di kolam renang anak. Tak ingin bermain air? Silakan bersantai di gazebo yang telah disediakan sambil menikmati makanan yang banyak dijual di sekitar lokasi air terjun.

  1. Pantai Lampuuk

kjnj

Pantai Lampuuk

Warga Aceh tak perlu merasa iri dengan Bali yang memiliki banyak pantai indah karena di Aceh juga terdapat banyak pantai dengan pemandangan menakjubkan. Salah satu tempat wisata pantai yang bisa diandalkan adalah Pantai Lampuuk. Pantai ini disebut juga sebagai Pantai Kuta di Aceh.

Pantai Lampuuk memiliki garis pantai sepanjang 5 km dari selatan ke utara dengan pasir putih lembut dan tebing karang di ujung pantai. Banyak kegiatan yang bisa Anda lakukan di pantai ini mulai dari berselancar, berjemur, berenang dan juga bermain banana boat.

Satu lagi kegiatan menarik yang bisa Anda lakukan di tempat wisata ini adalah melihat upaya pelestarian penyu. Anda bisa ikut melepas tukik ke laut lepas. Seru, ya? Liburan sekaligus menjaga kelestarian alam.

Jika belum puas menikmati Pantai Lampuuk dalam sehari, Anda bisa menginap di cottage yang ada di kawasan pantai. Selain bisa lebih lama menikmati keindahan pantai ini, Anda juga bisa memuaskan perut dengan aneka sajian ikan bakar di warung-warung sekitar pantai.

Pantai Lampuuk berada di Desa Meunasah Masjid, Lhoknga, Aceh Besar. Harga tiket masuk adalah 3.000 Rupiah.

  1. Pantai Lhoknga

jj

Pantai Lhoknga

Pantai Lhoknga berada tak jauh dari Pantai Lampuuk. Tempat wisata ini berjarak sekitar 20 km dari Banda Aceh. Di sini, Anda bisa bersantai di bawah pepohonan yang rindang atau bermain voli pantai di pasirnya yang luas dan landai.

Jika bersantai dan berjemur di tepian pantai masih kurang menyenangkan bagi Anda, cobalah berselancar di lautnya. Pantai Lhoknga memiliki ombak dengan ketinggian 1,5 – 2 meter yang cocok untuk olahraga ini.

Hari beranjak sore, jangan pulang dulu. Jangan lewatkan pemandangan matahari terbenam yang cantik di pantai ini. Tempat wisata Aceh ini semakin ramai pada sore hari, banyak yang datang untuk melihat pemandangan matahari terbenamnya dengan duduk bersantai dan menikmati jagung bakar.

  1. Pantai Ulee Lheue

kmnkj

Pantai Ulee Lheue

Tempat wisata yang satu ini hanya berjarak 3 km dari pusat kota Banda Aceh, tepatnya di Kecamatan Meuraxa.

Kegiatan yang paling populer di pantai ini adalah memancing. Jika Anda lupa membawa alat pancing, tidak usah khawatir karena ada yang menjualnya di sekitar pantai. Tak suka memancing? Anda juga bisa menyewa perahu nelayan untuk berlayar di lautnya atau duduk santai di tepian pantai menikmati jagung bakar. Dari pantai, Anda bisa melihat barisan pegunungan diseberang yang menambah keindahan Pantai Ulee Lheue.

  1. Pulau Rubiah

n

Pulau Rubiah

Pulau Rubiah ada di Sabang, tepatnya di sebelah barat laut Pulau Weh. Nama Rubiah sendiri diambil dari nama yang tertulis di sebuah nisan yang ada di pulau.

Tempat wisata di Aceh ini terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya. Sedikitnya 14 dari 15 biota laut yang dilindungi di Indonesia ada di sini. Siapkan alat menyelam dan snorkeling Anda dan silakan berenang bersama aneka ikan tropis dan bermain terumbu karang warna-warni. Jika lupa membawa alat snorkeling, Anda bisa menyewanya dengan harga 40.000 Rupiah saja dan bisa Anda gunakan seharian.

  1. Kuala Merisi

kuala-merisi-4

Kuala Merisi

Kuala Merisi merupakan tempat yang tepat untuk menikmati pantai dengan suasana yang sepi dan tenang. Tempat wisata di Desa Ketapang, Kecamatan Krueng Sabee, ini memiliki garis pantai yang panjang dengan ombak kecil yang cocok untuk bermain air di tepian.

Silakan duduk santai di atas tikar Anda dan nikmati deburan ombak dan hembusan angin pantainya. Tak jarang tempat wisata di Aceh ini dijadikan lokasi berselancar karena ombaknya yang cocok untuk olahraga air ini.

Selain itu, pantai ini juga memiliki fasilitas pendukung lainnya seperti kamar mandi dan deretan warung makan.

  1. Museum Tsunami

th

Museum Tsunami

Tsunami yang pernah menerjang Aceh pada tahun 2004 menyisakan duka bagi warga Aceh yang selamat. Untuk mengenang sekaligus menghormati korban meninggal, dibangunlah sebuah Museum Tsunami di Jalan Sultan Iskandar Muda di tahun 2009.

Di dalam museum, terdapat lorong panjang dengan suara gemuruh ombak dan kucuran air yang akan mengingatkan Anda pada bencana besar tersebut. Tempat wisata di Aceh ini banyak dikunjungi wisatawan yang ingin melihat apa saja yang tersisa dari gelombang tsunami. Banyak benda-benda sisa bencana yang dipajang seperti sepeda milik korban. Selain benda sisa tsunami, ada foto korban meninggal dan cerita kesaksian korban selamat juga alat simulasi elektronik gempa bumi.

Museum ini dibangun sebagai pusat pendidikan dan tempat perlindungan jika tsunami datang kembali. Museum buka setiap hari kecuali hari Jumat mulai 10:00 sampai 17:00.

  1. Pantan Terong

kln

Pantan Terong

Pantan terong merupakan bukit yang biasa digunakan untuk melihat keindahan Aceh Tengah dari atas. Tempat wisata ini berada di ketinggian 1830 meter di atas permukaan laut. Jangan lupa membawa jaket dan baju hangat karena udaranya cukup dingin.

Dari Pantan Terong Anda bisa melihat Danau Laut Tawar yang meyerupai sebuah kuali raksasa. Di sini, Anda juga bisa menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam yang sangat cantik. Jadi, siapkan kamera dan abadikan momen ini.

Dengan Bangga, Perkenalkan Dua Mahasiswa/i Unaya Ini Sukses Raih Emas PON XIX/2016 Untuk Aceh


DENGAN bangga, perkenalkan Dua Lifter (Angkat Besi) yang merupakan Mahasiswa/i Universitas Abulyatama Ini sukses meraih Emas PON XIX/2016 di Gelora Sabilulungan Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Kedua atlet angkat besi tersebut adalah Lifter Putri Nurul Akmal ia sukses mendulang medali emas pada kelas +75 Kg dengan total angkatan 233 kg pada hari Jumat (23/9) dan lifter putra Surahmat unggul dari lawan-lawannya di kelas 56 kg dengan total angkatan 255 kg pada hari Selasa (20/9).

Nurul Akmal merupakan Mahasiswi semester 7 Program Studi FKIP Penjaskesrek Universitas Abulyatama ini tidak hanya sukses mendulang medali emas bagi Aceh tetapi juga memacahkan rekor nasional (Rakornas) di clean and jerk.

Mahasiswi Unaya kelahiran 12 Februari 1994 ini juga menjadi inong aceh satu-satunya peraih medali emas sepanjang sejarah keikutsertaan aceh di ajang event empat tahunan PON Jabar 2016.

Sementara Lifter Putra Surahmat juga berstatus mahasiswa FKIP Penjaskesrek Unaya angkatan 2011 sukses mempersebahkan medali emas pertama untuk Kontingen Aceh. Surahmat menyisihkan lifter Kalimantan Timur, I Komang Agus W yang harus puas meraih perak. Sedangkan Harjianto dari Lampung yang mendapatkan perunggu.

Angkatan snatch terbaik Surahmat mencapai 115 kg, sementara untuk clean and jerk dia mampu mengangkat beban hingga 140 kg. Surahmat menang di kelas 56 kg putra.

Aceh Rebut Emas Atletik Pertama di PON 2016

FUAD Ramadhan sukses menyumbangkan medali emas pertama Aceh di cabang atletik pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jawa Barat. Fuad merebut emas di nomor 400 meter putra di Stadion Pakansari, Cibinong, Sabtu (24/9).

Fuad merebut medali emas dengan catatan waktu 47,58 detik. Fuad sukses mengalahkan pelari Jawa Timur Heru Astriyanto dengan catatan waktu 47,76 detik di peringkat kedua, dan Muhammad Lukman Aji yang meraih perunggu dengan catatan waktu 47,83 detik.

“Alhamdulillah saya bersyukur. Semoga pencapaian saya dapat memacu adik-adik saya di dunia olahraga. Target berikutnya SEA Games 2017 dan Asian Games 2018,” kata Fuad yang kemarin selesai di urutan keempat di nomor 200 meter.

Sementara itu atlet putri dari Sumatera Selatan, Sri Maya Sari, meraih medali emas di nomor lari 400 meter dengan catatan waktu 54,46 detik.

Sri unggul atas dua pelari Bali, Gusti Ayu Mardili, yang finis di peringkat kedua dengan catatan waktu 55,16 detik dan Dewi Ayu Agung di peringkat ketiga dengan catatan waktu 55,55 detik.

“Cukup puas bisa memecahkan catatan terbaik saya yakni 55,38 detik, meski kondisi saya tadi sedang agak batuk. Dan ini medali emas pertama saya di PON,” kata mahasiswi di Universitas PGRI Palembang tersebut.

Tanaman Pala Menjadi Ciri Khas Kabupaten Aceh Selatan

SELAIN menjadi sumber ekonomi petani di aceh selatan, pala yang bisa berumur ratusan tahun juga menjadi ciri khas daerah yang beribukota  tapaktuan. Menurut catatan, tanaman Pala (Myristica fragrans) berasal dari kepulauan banda maluku wilayah paling timur Indonesia, sementara di Aceh sendiri hanya di Aceh selatan tanaman ini tumbuh subur dan menjadi salahsatu sumber penghasilan masyakat setempat. Wilayah pantai barat aceh memang dikenal sejak dulu sebagai daerah yang subur, pada periode kesultanan aceh, daerah selatan menjadi sentra perkebunan lada hitam sebagai salahsatu pemasok kebutuhan lada hitam dunia pada saat itu.

images

Sebagai informasi, tanaman ini sudah dikenal sejak masa romawi sebagai komditi perdagangan terpenting ketika itu. Semenjak zaman eksplorasi Eropa, pala tersebar luas di daerah tropika lain seperti Mauritius dan Karibia (Grenada). Tumbuhan pala dapat bertahan hingga ratusan tahun dengan tinggi mencapai 20 meter. Bila masak, kulit dan daging buah membuka dan biji akan terlihat terbungkus fuli yang berwarna merah. Satu buah menghasilkan satu biji berwarna coklat.

images-1

Masyarakat aceh selatan memanfaatkan daging buah menjadi manisan pala atau biasa dikenal kue pala. Sementara bijinya akan dijemur dan dipisahkan dengan fulinya kemudian akan disuling menjadi minyak. Harga minyak pala perkilonya mencapai 2 juta rupiah dan menjadi komoditi ekspor dan kebutuhan medis atau pengobatan tradisional.

Pala memiliki kandungan nutrisi/gizi yang berguna bagi manusia terutama kandungan energi, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, zat besi, vit A, vit B1 dan vit C. Adapun manfaat pala:

Pereda sakit perut

Senyawa alami yang terkandung dalam buah pala ini berkhasiat membantu kelancaran saluran pencernaan, tidak heran sejak dulu pala sudah di kenal untuk mengatasi masalah diare, perut kembung dan gangguan pencernaan lainnya.

Buah Pala Sebagai Obat tidur

Untuk mengatasi masalah tidur, tuangkan sedikit pala bubuk pada segelas susu hangat.

Menghilangkan jerawat dan noda

Tubuk buah pala sampai halus lalu campurkan dengan susu whole milk , aduk hingga berbentuk pasta. Aplikasikan pada bagian wajah yang bermasalah, diamkan beberapa menit, lalu bersihkan wajah seperti biasa.

Mengatasi rasa mual

Seduh 1 sdt pala halus dengan ¼ sdt garam halus dalam 1 gelas air hangat. Aduk rata dan minum selagi hangat beserta ampasnya.

Meringankan penyakit maag

Siapkan 100 ml air hangat, Campur dengan 1 sdt pala halus dan 2 sdt bubuk buah pisang batu. Minum beserta ampas selagi hangat. Sebaiknya pengobatan diulang sampai sembuh

Menyembuhkan suara parau

Campur 2 sdm pala jalus dengan 2 sdm jahe parut, 1 sdt cengkeh halus dan 3 tetes minyak kayu putih. campur semua bahan sampai terbentuk adonan menyerupai pasta. Oleskan pada leher seperti memakai masker, biarkan meresap selama 3 jam. Ulangi pengobatan sampai sembuh.

Semoga Bermanfaat iya!