Posts

Ketua LPPM Unaya: Kami Siap Bantu Penelitian Mahasiswa

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Abulyatama mendorong para mahasiswa untuk giat melakukan penelitian karya ilmiah.

Untuk itu, LPPM menyatakan siap membantu para mahasiswa baik secara moril maupun materil yang terdapat dari berbagai sumber, hal itu disampaikan ketua LPPM Unaya, Murni, Ph.D, dalam acara pembekalan mahasiswa KKN di Aula Lantai II kampus Abulyatama, Sabtu (30/05/2015).

Murni menyampaikan bahwa bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian tersedia banyak sumber yang bisa membantu untuk menyukseskan penelitian tersebut. “Banyak sumber pendanaan yang bisa kita manfaatkan untuk itu baik dari kementerian maupun sumber-sumber lainnya,” katanya.

Tidak hanya itu, Murni menyatakan kesiapannya untuk membantu mahasiswa dalam setiap proses yang diperlukan dalam rangka penelitian karya ilmiah.  “Kita akan dampingi mahasiswa baik dalam penulisan maupun pengusulan pendanaan,” ujarnya. | laporan: muslim

Abulyatama Siapkan Mahasiswa Perkuat Pembangunan Gampong

Menyikapi pemberlakuan Undang-undang nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, Universitas Abulyatama persiapkan mahasiswa untuk mendampingi Tim Perencanaan Pembangunan Gampong sebanyak 281 orang.

Para mahasiswa yang akan diterjunkan ke lapangan dalam pogram Kuliah Kerja Nyata terlebih dahulu diberikan pembekalan dengan melibatkan sejumlah narasumber dari unsur kecamatan, dan rektorat, di Aula Lantai II, Sabtu (30/05/2015)

Sebelum diturunkan, Para mahasiswa diharapkan melakukan observasi terhadap potensi gampong (desa) sehingga fokus pendampingan akan tercapai sesuai dengan yang diarahkan.

Ketua Panitia KKN, Drs Akhyar, M.Si menyampaikan bahwa fokus KKN tahun ini pada penguatan tim penyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Gampong (RPJMG) “Mahasiswa harus menggali potensi-potensi yang terdapat di desa tersebut,” ujar Akhyar.

Tidak hanya itu, diharapkan setelah KKN selesai maka desa tersebut akan menjadi desa binaan. Bagi dosen yang menjadi supervisor maka hasil observasi itu akan diusulkan untuk mendapatkan dana penelitian lebih lanjut dari Dikti atau pun Kopertis Wilayah XIII Aceh. | Laporan: Muslim

Tabun Ini, 281 Mahasiswa Abulyatama Ikuti Kuliah Kerja Nyata

SEBANYAK 281 orang mahasiswa Universitas Abulyatama mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang difokuskan di Kecamatan Kuta Baroe.

Kepastian jumlah peserta KKN ini disampaikan oleh Panitia Pelaksana KKN Ahkyar, M.Si dalam pembukaan pembekalan KKN di Aula lantai II, Universitas Abulyatama, Sabtu (30/05/2015).

Sebanyak KKN tahun ini berbeda dengan tahun lalu dimana setiap gampong akan dibagi sebanyak 18 orang mahasiwa dan didampingi oleh dua orang suvervisor dari pihak dosen.

Selain itu, KKN dengan tema Penguatan kapasitas Tim Perencanaan Pembangunan Gampong Dalam Menyongsong UU Desa No. 6 Tahun 2014 itu akan disebarkan di 15 desa “kegiatannya akan di mulai dua minggu sebelum puasa, dan dua minggu dalam bulan puasa” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dr. Iziddin Fadhil dalam sambutannya menyampaikan setiap peserta harus mengikuti pembekalan ini. Sebab, ia melanjutkan, ini sangat penting bagi peserta untuk menghadapi dinamika yang terjadi dilapangan nantinya.

Izzidin juga berharap agar setiap kendala disampaikan kepada suvervisor sehingga setiap masalah ada bisa langsung dicarikan solusinya. “Sebelj  dan sesudah kehadirian kita haruslah memberikan kesan yang positif bagi masyarakat dan kampus,” katanya seraya mengetuk palu sebagai tanda resmi pembukaan Pembekalan KKN tahun 2015.

Selain itu, Pelaksanaan KKN ini akan dimulai dari tanggal 6 Mei sampai dengan 6 Juni 2015. | Laporan: Muslim

Dua Atlet Bulutangkis Unaya Lolos Seleksi Pomnas Aceh 2015

Dua pebulutangkis Miranda (Tunggal Putra) dan Mega Purnamasari Zainal (Tunggal Putri) dari Universitas Abulyatama lolos pada gelaran selekda POMNAS tahun 2015 yang berlangsung selama satu hari di GOR KONI Aceh pada hari selasa, 26 mei 2015.

Kedua Pebulutangkis dari Unaya tersebut berhak mengikuti Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIV yang akan dilaksanakan pada 14-21 november 2015 mendatang.Selekda ini diikuti 10 PTN/PTS yaitu Unaya, Unsyiah, UIN Ar-Raniry, Unimal, Unimus, USM, Unsam, Stain Malikussaleh, Politeknik Aceh dan Stkip Bina Bangsa Getsampena.

“Tadi mainnya fokus satu persatu piont, walaupun saya sendiri sempat grogi baru pertama main diseleksi tingkat seperti ini, dan keberhasilan diselekda kali ini berkat pelatihan juga secara intensif.” ujar Pebulutangkis putri, Mega Purnamasari.

Sementara itu, ditempat yang sama miranda mengatakan, ” tadi saya mainnya tidak buru-buru, jadi dapat pointnya juga mudah”. Sementara 2 atlit tunggal putra lainnya harus terhenti dan tidak lolos selekda POMNAS.

Universitas Abulyatama sendiri mengirim 4 Atlet andalannya dengan rincian 3 tunggal putra dan 1 tunggal putri. Masing – masing adalah : Miranda, Zulkarnaen, Aldian Ilham (tunggal putra), dan Mega Purnamasari (tunggal putri. []

Laporan: Aldian

Rizki, Dokter yang Rahmatan Lil Alamin

JANJI bertemu dipenuhinya tepat waktu, itu mengisyaratkan kedisiplinannya menjalani hidup. Caranya berdiskusi; mendengar dengan seksama, berfikir sebelum menjawab, menerangkan dengan struktur kalimat yang runut dan jelas, itu menunjukkan kecermatannya dalam mengambil keputusan dan bertindak.

Ketika ia menyebutkan tokoh idolanya adalah Ibnu Sina, maka ia menyingkap identitasnya. “Siapapun yang menggeluti ilmu kedokteran tentu tahu Ibnu Sina. Sampai sekarang saya masih membaca bukunya tentang kedokteran,” kata Muhammad Rizki, alumni Universitas Malahayati yang kini adalah seorang dokter dan sedang mengabdi di pelosok perkampungan di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Ibnu Sina yang disebut Rizki itu tak lain adalah ilmuan Islam yang paling terkenal di dunia. Tokoh ini bernama lengkap Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina (980-1037). Ia seorang filsuf, ilmuan, dan juga dokter yang berasal dari Persia (Uzbekistan), yang dikenal sebagai Bapak Pengobatan Modern.

Selama hidupnya, Ibnu Sina telah mengarang 450 buku. Karyanya yang sangat terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb). Buku-buku itulah yang didalami Rizki ketika menimba ilmu kedokteran di Universitas Malahayati. “Sungguh luar biasa. Ibnu Sina menulis bukunya berabad-abad yang lalu, sampai kini kita masih membaca dan mempelajarinya,” kata Rizki.

****

LAPANGAN Golf itu terletak di sebelah kanan Gedung Rektorat Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Di sinilah Rizki menerima saya untuk ngobrol ringan akhir pekan pada pukul 12,00, Sabtu 30 Mei 2015. Kami memilih kursi di pojok kiri tempat yang bernama Rizki Golf ini.

Pemuda kelahiran Lampoh Keudee, Aceh Besar, pada 1989 ini, berpenampilan sederhana. Mengenakan t-shirt biru dan celana gelap serta sepatu sport warna hitam. Ketika bersua, ia langsung tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk salaman. Berkulit putih, ia membiarkan kumis dan janggutnya tumbuh begitu saja.

Saya memulai pembicaraan dengan bertanya, “apa sebenarnya yang dicari dalam hidup Ini?”. Sejenak Rizki memandang hamparan rerumputan yang terpangkas rapi lapangan golf. “Sejatinya saya ingin membahagiakan orang tua, saya ingin berada dalam kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain, bagi masyarakat luas,” katanya.

Kehidupan yang seperti itu pula yang kemudian mengantarkan Rizki menempuh pendidikan kedokteran. Ia mengawali pendidikan dasarnya di Aceh, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati pada 2008. Empat tahun kemudian ia menyelesaikannya.

Selanjutnya ia koas di Kuningan, Jawa Barat. Setelah itu ia mengabdi di Muaro Jambi, di Rumah sakit tipe D, sejak Februari 2015. Ini rumah sakit yang stratanya paling bawah. Di sinilah Rizki menemukan realita kehidupan yang paling mendasar. “Banyak hal yang kita temukan dalam realitas kehidupan. Dan itu tidak kita temukan dalam buku di kuliahan,” kata Rizki.

Tempat Rizki mengabdi sekarang adalah perkampungan yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup sebagai buruh perkebunan. Mereka rata-rata hidup pas-pasan. “Ketika mereka sakit dan membutuhkan pertolongan, maka kita juga harus memikirkan bagaimana mereka bisa berobat hingga sembuh namun jangan sampai keluarganya malah kelaparan,” kata Rizki.

Menyangkut masalah sosial ekonomi seperti itu, Rizki dan sejawatnya yang bertugas di pelosok menempuh solusi dengan membuat semacam celengan. Mereka mengumpulkan uang yang digunakan saat ada anggota masyarakat membutuhkannya. “Dengan itulah kita membeli obat dan membiyai pengobatan,” kata Rizki.

Dinamika sosial seperti itu, kata Rizki, pasti akan bersentuhan dengan seorang dokter. Selain itu, kata Rizki, ada juga soal budaya. “Misalnya, pengalaman saya sendiri, tentu menemukan perbedaan budaya yang tajam di Kuningan, Jawa Barat, dan di Jambi. Perbedaan karakter orang Jawa dan Sumatera, maka berbeda pula cara menanganinya,” katanya.

Itulah sebabnya, kata Rizki, penting bagi seorang dokter untuk mengetahui dan memahami kearifan lokal di setiap daerah yang akan dilaluinya. “Jangan sampai, kita yang berniat baik malah nanti ditanggapi berbeda,” katanya.

“Begitu juga soal bahasa daerah, setidaknya ketika berada di satu daerah kita juga memahami bahasa lokalnya. Minimal bahasa percakapan yang paling dasar. Sehingga tak ada kendala saat kita berada di lapangan.”

Bagi Rizki, ilmu kedokteran adalah penggabungan seni dan ilmu pengetahuan. Sehingga, menjadi sesuatu yang sangat menarik didalami dalam kehidupan ini. “Tak semata-mata materi. Intinya adalah bagaimana dalam kehidupan ini kita menjadi sangat berarti. Kita benar-benar hidup dalam arti yang sebenarnya,” katanya.

Karena itu, Rizki ingin menambah perbendaharaan ilmunya dengan melanjutkan pendidikan ke tingkat lanjutan. Namun ia bukan orang yang berkemauan berlebihan, ia belum ingin melanjutkan sampai ke luar negeri. “Di Indonesia saja, sebab saya ingin mengabdi di negeri sendiri. Jadi alangkah baiknya jika ilmu yang saya dapat juga dari dalam negeri,” katanya.

Rizki berkata bukan tanpa alasan. Menurut Rizki, di setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Bahkan termasuk karakter kumannya pun berbeda. Misalnya, seseorang yang terkena infeksi di Malaysia, akan berbeda unsur bakterinya dengan orang di Indonesia. “Jadi saya memilih pendidikan dengan tempat penerapan yang sesuai juga,” katanya.

Namun, saya masih penasaran untuk mencari tahu inti dari pendidikan yang ditekuninya ini. Sehingga timbul pertanyaan, “apa sebetulnya yang menarik dari ilmu kedokteran?”

Rizki kembali merenungkannya. Ia lalu menghela nafasnya secara perlahan. Kami beradu pandang saat ia menoleh, dan menjawab pertanyaan saya.

“Sangat menarik, semakin saya mendalaminya semakin saya memahami bahwa kehidupan di alam ini ada yang mengaturnya. Pada akhirnya saya ingin menjadi dokter yang Rahmatan lil Alamin,” kata Rizki. Sejenak kami berdua terdiam.

****

JENUH duduk di tepi lapangan golf, kami sepakat beranjak ke tempat lain. Pilihannya jatuh ke lapangan futsal di lantai tujuh gedung rektorat. Kami berjalan dan menaiki tangga menuju lapangan futsal. Di sana ada tiga lapangan futsal.

Setelah dari lapangan futsal, kami berdiri di balkon lantai tujuh. Rizki memandang hamparan gedung-gedung perkuliahan di kompleks Universitas Malahayati ini. Berada di lahan 84 hektar, gedung-gedung ini bertebar di antara pepohonan rimbun dipayungi awan bak lukisan berkanvaskan langit biru.

Di sini, Rizki mengutarakan harapannya. “Saya berharap kampus ini lebih baik lagi, dari segi fasilitas, dan juga kualitasnya. Kita jangan menutup diri pada kekurangan, ini perlu kita minimalisir, sedangkan kelebihannya perlu kita eksplor lebih jauh,” katanya.

Ia juga memesan kepada khalayak yang berkaitan dengan Universitas Malahayati untuk betul-betul menjaga nama baik almamater. “Jika ada kekurangan, mari perbaiki bersama-sama. Jika kita sudah menjadi almamater, otomatis dalam kehidupan bermasyarakat pun kita tidak lagi membawa diri kita sendiri. Pada diri kita melekat almamater juga,” kata Rizki.

Soal almamater ini, Rizki pernah mendapat nasihat dari seorang guru besar. “Beliau memesan jangan kita mengumbar keburukan almamater, sebab itu sama saja dengan memperburuk diri sendiri,” katanya.

Selain itu, Rizki juga memesan agar mahasiswa di Universitas Malahayati segera memprakarsai ikatan alumni. “Ini sangat berguna. Selain memperkuat tali persaudaraan, juga mempermudah komunikasi berbagai hal yang berkaitan dengan berbagai informasi,” katanya.

Usai berbincang singkat di balkon, kami turun. Di teras rektorat kami pun berpisah. Rizki kembali mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Ia, pemuda yang rendah hati. []

Afrah, Mahasiswi Abulyatama di Pentas Duta Wisata

MAHASISWI Universitas Abulyatama, Nurul Afrah, terpilih sebagai Juara Favorit Duta Wisata Aceh Besar, Sabtu (23/5/2015).

Kegiatan yang bertujuan mempromosikan Aceh Besar dari sektor pariwisata ini dilaksanakan di Gedung SKB Lubuk, Ingin Jaya, Aceh Besar. Acara yang dibuka langsung oleh Bupati Aceh Besar Mukhlis Basyah itu diikuti oleh 80 orang peserta yang kemudian disaring kembali hingga tersisa sebanyak 8 pasangan calon duta wisata.

Nurul Afrah yang bersaing ketat dengan finalis lainnya dalam vote melalui akun Instagram @dutarayeuk tersebut semakin sengit menjelang penutupan voting. Hingga pukul 16.00 WIB jumlah lover Nurul Afrah sebanyak 533 sementara Siti Zuhra yang menjadi saingannya berada dipuncak dengan total lover sebanyak 536 lover yang kemudian lolos ke babak 5 besar.

Vote bertahan hingga pengumuman pemenang duta wisata diumumkan. Akhirnya Nurul Afrah terpilih sebagai duta wisata favorit Aceh Besar tahun 2015 yang bertugas untuk mempromosikan pusat-pusat wisata yang ada di Aceh Besar.

Sosok Nurul Afrah memang sudah tidak asing lagi dilingkungan Universitas Abulyatama, wanita hitam manis ini terkenal ramah dan cekatan.  Selain aktif sebagai aktivis mahasiswa di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai Wakil Gubernur Fakultas Kedokteran Periode 2014-2015, wanita kelahiran Montasik 22 tahun Silam ini juga sering tampil sebagai moderator dalam setiap even yang diselenggarakan oleh kampus.

Tidak hanya itu, Afrah, begitu biasa dia dipanggil, juga memiliki segudang prestasi lainnya, sebut saja juara 3 lomba puisi se Aceh, Kategori 10 besar lomba regional Medical Olympiade se sumatra cabang cardio_respi tahun 2011.

Di bidang olah raga, gadis ramah ini sangat menyukai tenis meja, hal ini dibuktikannya dengan meraih juara di pekan olahraga HIMAB Poltekes dan pertandingan tenis meja se Poltekes tahun 2011.

Setelah terpilih sebagai duta wisata Aceh Besar, Afrah berharap setiap elemen baik dari pihak pemerintah dan masyarakat dapat sama-sama mengembangkan lagi potensi-potensi wisata yang ada di Aceh Besar.

Ia menyebutkan contohnya dengan pemenuhan sapta pesona guna menunjang Aceh Besar sebagai “Rumoh Wisata” yang mngedepankan syariat sehingga terbentuk penduduk yang bersih, tempat yang asri akan keindahan alam dangan eko wisata yang sinergis.

Untuk Abulyatama, Anak ke 4 dari 7 bersaudara pasangan H. Nurdin dan Hj. Suryati, S.Pd ini punya harapan khusus agar dapat memberikan distribusi yang maksimal. “Yaitu membangun jiwa-jiwa muda dengan sasaran pada semua pelajar mengenai sadar akan alam, sadar akan adat, sadar akan sejarah dan budaya, yang berprinsip pada bergenggam tangan dengan jiwa yang tenang,” katanya.

“Tentu saya ingin mempromosikan kampus Abulyatama dimata dunia bahwa Abulyatama adalah tempat yang tepat untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya mengakhiri pembicaraan.

Laporan: Muslim

LPPM Abulyatama Selenggarakan Seminar Internasional

LEMBAGA Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Abulyatama selenggarakan seminar Internasional di Balee Nyak Syech Universitas Abulyatama (25/05/2015).

Acara yang diikut oleh 100 peserta ini dibuka langsung oleh Rektor Universitas Abulyatama R. Agung Efriyo Hadi, Ph.D.

Ketua Panitia, Murni, Ph.D dalam laporan panitia menyampaikan bahwa peserta seminar internasional ini diikuti oleh berbagai profesi, baik dari kalangan dosen, guru maupun mahasiswa.

Selain itu, Cakupan peserta seminar internasional ini meliput wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. “Pemakalah pada hari ini sebanyak 12 orang,” ujarnya.

Seminar internasional yang berlangsung sehari tersebut mengadirkan keynote speeker Prof. Mohd. Ismail dari Universitas Malaysia Perlis, dari Malaysia, Prof. Dr. Jamaluddin, M.Ed dari Kopertis Wilayah XIII Aceh, Dr. Asmawati dari Universitas Abulyatama dan Dr. Said Munzir dari Universitas Syiah Kuala. Sorenya, Seminar di tutup oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Abulyatama Faisal, ST., MT.[]

Laporan: Muslim

HMI Komisariat Abulyatama Laksanakan Basic Training LK-I

HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Abulyatama laksanakan Basic Training Latihan Kader I (LK-I) di Aula Insan Cita,Badko HMI Aceh, Kamis (16/04/2015).

Kegiatan yang dimulai pada pukul 21.00 wib tersebut dibuka langsung oleh tokoh HMI Arlan Farlan mewakili KAHMI Cabang Jantho. Basic Training LK-I kali ini mengangkat tema “Melahirkan kader-kader yang kritis dan peka terhadap permasalahan ummat.

Ketua Panitia Sandri Amin dalam laporannya menyampaikan bahwa peserta Basci Training LK-I yang mengikuti screening test berjumlah sebanyak 30 orang namun yang mengikuti basic training berjumlah 23 orang “ peserta terdiri dari 17 orang mahasiswa Universitas Abulyatama, 1 orang dari Universitas Serambi Mekah dan 5 orang dari Fakultas Hukum Unsyiah” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Komisariat Universitas Abulyatama, Suar Sri Herdi dalam sambutannya mengharapkan bahwa para peserta yang mengikuti Basic Training LK-I tersebut agar dapat mengikuti kegiatan sampai tuntas dan mematuhi aturan-aturan forum yang dibuat, sehingga tidak ada kesan yang tidak baik dari para peserta.

Suar juga menyampaikan bahwa HMI Komisariat Abulyatama memang sudah lama tidak melaksanakan Basic Training LK-I sendiri namun mereka tetap aktif mengirimkan kader-kader dari Abulyatama untuk mengikuti basic training ditempat-tempat lain dalam wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh.

Benahi kondisi internal

Merespon sambutan ketua HMI Cabang Jantho Afzal yang diwakili oleh Kabid PA Zamzami yang menyatakan bahwa seharusnya dari beberapa kampus yang ada dilingkungan Cabang Jantho mestinya sudah mampu memekarkan lebih banyak lagi komisariat tetapi itu tidak terjadi karena memang ada beberapa kampus yang komisariatnya vakum.

Terkait itu, Arlan Farlan mewakili tokoh HMI Cabang Jantho menyatakan mestinya cabang HMI Jantho punya solusi tekriat hal tersebut, kondisi yang terjadi saat ini adalah kekurangan bersama, mestinta kondisi internal harus dibenahi sehingga kedepan di Cabang Jantho bisa mekar beberapa komisariat lagi “Kondisi ini bukan untuk diceritakan, harusnya cabang cari solusi” katanya. (El Yamani)