Muhaimin Mahasiswa FT: Unaya Beda Dengan Perguruan Tinggi Yang Lain

UNIVERSITAS Abulyatama didirikan sejak tahun 1983 yang pada mulanya universitas ini berbentuk sekolah tinggi yang dikelola dan didirikan oleh yayasan abulyatama dipegang oleh ayahda Rusli Bintang sebagai salah satu kampus swasta yang tertua diAceh, sudah banyak melahirkan lulusan – lulusannya yang sukses diberbagai bidangnya baik dalam berwirausaha maupun di institusi pemerintahan baik di Aceh maupun diluar Aceh itu sendiri sendiri.

Universitas Abulyatama dalam hal ini selain melahirkan alumni-alumni terbaik, yang menbedakan Unaya dengan perguruan yang lain adalah, lokasi Kampus Unaya yang masih asri dengan menampilkan banyak pohon-pohon besar yang rindang sehingga mahasiswanya betah berlama-lama nongrong diUnaya, Tutur Muhaimin.

Secara bersamaan, pada saat sesi wawancara sore ini bersama salah satu mahasiswa tingkat akhir semester 8 program studi teknik sipil fakultas teknik Universitas Abulyatama, Kita akan coba membedah profilnya dan kegiatan yang ia lakukan selama hampir 4 tahun menimba ilmu di Universitas Abulyatama.

Sosok Mahasiswa murah senyum dan berbadan tegab dari Geumpang, Pidie ini memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang sangat beragam dan sangat ekstensif, bahkan ia pernah membawa nama Unaya diberbagai event ditingkat Nasional maupun lokal pada masa saat masih aktif di BEM Unaya periode 2013-2014 dengan jabatan Menteri Sosial dan Politik.

Beberapa pertanyaan menurut Muhaimin sekilas tentang Universitas Abulyatama.

Mengapa anda memilih menimba ilmu diUnaya ?

“Unaya telah banyak melahirkan alumni yang sukses, bahkan didaerah tempat tinggal saya 85% alumni unaya yang memengang kendali baik jadi pengusaha maupun PNS, oleh sebab itu saya berfikir untuk bisa mengikuti jejak-jejak alumni unaya yang sukses dengan menimba ilmu dikampus hijau ini”
Apa Kelebihan Unaya dimata anda ?
“Unaya punya daya saing yang tinggi ditingkat perguruan tinggi swasta maupun negeri diAceh Kemudian suasana kampusnya yang paling saya suka, bisa dikatakan ruang terbuka hijau yang perlu dipertahankan bahkan tidak salah Unaya dijuluki kampus Hijau dan Akreditasi tiap-tiap jurusan diUnaya jelas, tidak ada yang dirahasiakan” Imbuhnya sembari memegang Handphone Selulernya.
Apa saja yang sudah didapat selama kuliah diUnaya ?
“Banyak, terutama pengalaman dibidang organisasi. Organisasi Mahasiswa diUnaya walau anggaran sedikit dikucurkan, tetapi ormawa diUnaya punya Gaung diluar baik dievent-event maupun pergerakan mahasiswanya sendiri dalam menyikapi pemerintah, kemudian Unaya punya fasilitas ruang belajar yang nyaman dan dosen-dosen yang care terhadap mahasiswa”
Kenapa lebih memilih Unaya sebagai modal masa depan anda kelak ?
“Jujur saya katakan, Unaya punya nilai plus sebagai pilihan saya dalam menggapai cita-cita, Unaya mempunyai dosen yang berkualitas otomatis lulusannya juga berkualitas dan berdaya saing tinggi, makanya Unaya pilihan saya sebagai modal masa depan nanti”.
Dengan demikian, untuk melanjutkan pendidikan dilevel perguruan tinggi pendidikan, mempunyai pilar penting dalam membangun peradaban yang didasarkan atas jati diri dan karakter sebuah bangsa. Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang multi guna menunjang perannya di masa yang akan datang. Upaya pendidikan yang dilakukan suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan dengan prediksi bangsa tersebut di masa mendatang.
Profil Muhaimin
 
Nama Lengkap             : Muhaimin
Tempat/Tgl Lahir        : Bangkeh, 18 Agustus 1990
Alamat                            : Desa Kajhu
Asal                                 : Geumpang, Pidie
Hobi                                : Sepakbola
Anak dari                       : Ak Gani
Pekerjaan Ayah            : Wiraswata
Pekerjaan Ibu               : IRT
Masa Kuliah                  : Semester 8
Pendidikan
1. SDN 1 Bangkeh
2. MTSN 1 Geumpang
3. SMAN 1 Geumpang
Cita-cita                           : Menteri Pekerjaan Umum
Harapan untuk Unaya  : Fasilitas lebih lengkap sebagai salah satu penunjang akreditasi.

Perkenalkan, Razi! Kami Bangga..

Yap, dengan bangga saya persembahkan, that’s him, itulah Muhammad Razi, atlit atletik lompat tinggi! Ia membuat kami di Universitas Abulyatama, Banda Aceh, sangat bangga padanya. 

Pemuda berkacamata, berperawakan biasa, bahkan bisa dibilang memiliki porsi tubuh yang biasa saja, bahkan masih belum bisa mencapai ambang batas threshold 50 kilogram.

Alumnus SMAN Ragunan Jakarta ini memiliki pandangan yang visioner, karakter yang kuat, tatapan mata yang tajam. Kiprahnya di dunia atletik jangan ditanya, hingga tahun terakhir ini Insya Allah sudah aman mewakili Aceh di ajang POMNAS XIV 2015.

Soal prestasi? Mulai dari antar PPLP, PPLM tingkat daerah, nasional sampai tingkat Internasional, ia kerap mendulang prestasi yang membanggakan, bahkan ia pernah memecahkan rekor remaja pada 2010 dengan lompatan 2,05. Sebut saja prestasi diajang internasioanl yang pernah ia raih, antara lain: perak di Asianship Thailand dan Emas di Malaysia Asian School .

“Menjadi atlet lompat tinggi berawal dari hobby saat kecil,” tutur Razi mengawali sesi wawancara siang itu. Seiring berjalannya waktu, Ia merasa memiliki bakat di bidang atletik lompat tinggi.

Tiada henti mengembangkan potensi dan mempelajari teknik-teknik yang baik, membuat dia semakin yakin melanjutkan hobinya menjadi lebih serius.

Begitu banyak pengalaman yang Ia lewati, ada suka dan duka. “Kalau sukanya, senang ketika menang mendapat juara, untuk dukanya ya saat cedera sih, saya pernah cedera di kaki, tulang saya sampai bengkok pada saat saya mengikuti pertandingan antar pelajar,” jelas Razi, yang kini menjadi mahasiswa FKIP Penjaskesrek di Universitas Abulyatama itu. []

Laporan: Aldian Ilham

Ketua LPPM Unaya: Kami Siap Bantu Penelitian Mahasiswa

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Abulyatama mendorong para mahasiswa untuk giat melakukan penelitian karya ilmiah.

Untuk itu, LPPM menyatakan siap membantu para mahasiswa baik secara moril maupun materil yang terdapat dari berbagai sumber, hal itu disampaikan ketua LPPM Unaya, Murni, Ph.D, dalam acara pembekalan mahasiswa KKN di Aula Lantai II kampus Abulyatama, Sabtu (30/05/2015).

Murni menyampaikan bahwa bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian tersedia banyak sumber yang bisa membantu untuk menyukseskan penelitian tersebut. “Banyak sumber pendanaan yang bisa kita manfaatkan untuk itu baik dari kementerian maupun sumber-sumber lainnya,” katanya.

Tidak hanya itu, Murni menyatakan kesiapannya untuk membantu mahasiswa dalam setiap proses yang diperlukan dalam rangka penelitian karya ilmiah.  “Kita akan dampingi mahasiswa baik dalam penulisan maupun pengusulan pendanaan,” ujarnya. | laporan: muslim

Abulyatama Siapkan Mahasiswa Perkuat Pembangunan Gampong

Menyikapi pemberlakuan Undang-undang nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, Universitas Abulyatama persiapkan mahasiswa untuk mendampingi Tim Perencanaan Pembangunan Gampong sebanyak 281 orang.

Para mahasiswa yang akan diterjunkan ke lapangan dalam pogram Kuliah Kerja Nyata terlebih dahulu diberikan pembekalan dengan melibatkan sejumlah narasumber dari unsur kecamatan, dan rektorat, di Aula Lantai II, Sabtu (30/05/2015)

Sebelum diturunkan, Para mahasiswa diharapkan melakukan observasi terhadap potensi gampong (desa) sehingga fokus pendampingan akan tercapai sesuai dengan yang diarahkan.

Ketua Panitia KKN, Drs Akhyar, M.Si menyampaikan bahwa fokus KKN tahun ini pada penguatan tim penyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Gampong (RPJMG) “Mahasiswa harus menggali potensi-potensi yang terdapat di desa tersebut,” ujar Akhyar.

Tidak hanya itu, diharapkan setelah KKN selesai maka desa tersebut akan menjadi desa binaan. Bagi dosen yang menjadi supervisor maka hasil observasi itu akan diusulkan untuk mendapatkan dana penelitian lebih lanjut dari Dikti atau pun Kopertis Wilayah XIII Aceh. | Laporan: Muslim

Tabun Ini, 281 Mahasiswa Abulyatama Ikuti Kuliah Kerja Nyata

SEBANYAK 281 orang mahasiswa Universitas Abulyatama mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang difokuskan di Kecamatan Kuta Baroe.

Kepastian jumlah peserta KKN ini disampaikan oleh Panitia Pelaksana KKN Ahkyar, M.Si dalam pembukaan pembekalan KKN di Aula lantai II, Universitas Abulyatama, Sabtu (30/05/2015).

Sebanyak KKN tahun ini berbeda dengan tahun lalu dimana setiap gampong akan dibagi sebanyak 18 orang mahasiwa dan didampingi oleh dua orang suvervisor dari pihak dosen.

Selain itu, KKN dengan tema Penguatan kapasitas Tim Perencanaan Pembangunan Gampong Dalam Menyongsong UU Desa No. 6 Tahun 2014 itu akan disebarkan di 15 desa “kegiatannya akan di mulai dua minggu sebelum puasa, dan dua minggu dalam bulan puasa” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dr. Iziddin Fadhil dalam sambutannya menyampaikan setiap peserta harus mengikuti pembekalan ini. Sebab, ia melanjutkan, ini sangat penting bagi peserta untuk menghadapi dinamika yang terjadi dilapangan nantinya.

Izzidin juga berharap agar setiap kendala disampaikan kepada suvervisor sehingga setiap masalah ada bisa langsung dicarikan solusinya. “Sebelj  dan sesudah kehadirian kita haruslah memberikan kesan yang positif bagi masyarakat dan kampus,” katanya seraya mengetuk palu sebagai tanda resmi pembukaan Pembekalan KKN tahun 2015.

Selain itu, Pelaksanaan KKN ini akan dimulai dari tanggal 6 Mei sampai dengan 6 Juni 2015. | Laporan: Muslim

Dua Atlet Bulutangkis Unaya Lolos Seleksi Pomnas Aceh 2015

Dua pebulutangkis Miranda (Tunggal Putra) dan Mega Purnamasari Zainal (Tunggal Putri) dari Universitas Abulyatama lolos pada gelaran selekda POMNAS tahun 2015 yang berlangsung selama satu hari di GOR KONI Aceh pada hari selasa, 26 mei 2015.

Kedua Pebulutangkis dari Unaya tersebut berhak mengikuti Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIV yang akan dilaksanakan pada 14-21 november 2015 mendatang.Selekda ini diikuti 10 PTN/PTS yaitu Unaya, Unsyiah, UIN Ar-Raniry, Unimal, Unimus, USM, Unsam, Stain Malikussaleh, Politeknik Aceh dan Stkip Bina Bangsa Getsampena.

“Tadi mainnya fokus satu persatu piont, walaupun saya sendiri sempat grogi baru pertama main diseleksi tingkat seperti ini, dan keberhasilan diselekda kali ini berkat pelatihan juga secara intensif.” ujar Pebulutangkis putri, Mega Purnamasari.

Sementara itu, ditempat yang sama miranda mengatakan, ” tadi saya mainnya tidak buru-buru, jadi dapat pointnya juga mudah”. Sementara 2 atlit tunggal putra lainnya harus terhenti dan tidak lolos selekda POMNAS.

Universitas Abulyatama sendiri mengirim 4 Atlet andalannya dengan rincian 3 tunggal putra dan 1 tunggal putri. Masing – masing adalah : Miranda, Zulkarnaen, Aldian Ilham (tunggal putra), dan Mega Purnamasari (tunggal putri. []

Laporan: Aldian

Rizki, Dokter yang Rahmatan Lil Alamin

JANJI bertemu dipenuhinya tepat waktu, itu mengisyaratkan kedisiplinannya menjalani hidup. Caranya berdiskusi; mendengar dengan seksama, berfikir sebelum menjawab, menerangkan dengan struktur kalimat yang runut dan jelas, itu menunjukkan kecermatannya dalam mengambil keputusan dan bertindak.

Ketika ia menyebutkan tokoh idolanya adalah Ibnu Sina, maka ia menyingkap identitasnya. “Siapapun yang menggeluti ilmu kedokteran tentu tahu Ibnu Sina. Sampai sekarang saya masih membaca bukunya tentang kedokteran,” kata Muhammad Rizki, alumni Universitas Malahayati yang kini adalah seorang dokter dan sedang mengabdi di pelosok perkampungan di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Ibnu Sina yang disebut Rizki itu tak lain adalah ilmuan Islam yang paling terkenal di dunia. Tokoh ini bernama lengkap Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina (980-1037). Ia seorang filsuf, ilmuan, dan juga dokter yang berasal dari Persia (Uzbekistan), yang dikenal sebagai Bapak Pengobatan Modern.

Selama hidupnya, Ibnu Sina telah mengarang 450 buku. Karyanya yang sangat terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb). Buku-buku itulah yang didalami Rizki ketika menimba ilmu kedokteran di Universitas Malahayati. “Sungguh luar biasa. Ibnu Sina menulis bukunya berabad-abad yang lalu, sampai kini kita masih membaca dan mempelajarinya,” kata Rizki.

****

LAPANGAN Golf itu terletak di sebelah kanan Gedung Rektorat Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Di sinilah Rizki menerima saya untuk ngobrol ringan akhir pekan pada pukul 12,00, Sabtu 30 Mei 2015. Kami memilih kursi di pojok kiri tempat yang bernama Rizki Golf ini.

Pemuda kelahiran Lampoh Keudee, Aceh Besar, pada 1989 ini, berpenampilan sederhana. Mengenakan t-shirt biru dan celana gelap serta sepatu sport warna hitam. Ketika bersua, ia langsung tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk salaman. Berkulit putih, ia membiarkan kumis dan janggutnya tumbuh begitu saja.

Saya memulai pembicaraan dengan bertanya, “apa sebenarnya yang dicari dalam hidup Ini?”. Sejenak Rizki memandang hamparan rerumputan yang terpangkas rapi lapangan golf. “Sejatinya saya ingin membahagiakan orang tua, saya ingin berada dalam kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain, bagi masyarakat luas,” katanya.

Kehidupan yang seperti itu pula yang kemudian mengantarkan Rizki menempuh pendidikan kedokteran. Ia mengawali pendidikan dasarnya di Aceh, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati pada 2008. Empat tahun kemudian ia menyelesaikannya.

Selanjutnya ia koas di Kuningan, Jawa Barat. Setelah itu ia mengabdi di Muaro Jambi, di Rumah sakit tipe D, sejak Februari 2015. Ini rumah sakit yang stratanya paling bawah. Di sinilah Rizki menemukan realita kehidupan yang paling mendasar. “Banyak hal yang kita temukan dalam realitas kehidupan. Dan itu tidak kita temukan dalam buku di kuliahan,” kata Rizki.

Tempat Rizki mengabdi sekarang adalah perkampungan yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup sebagai buruh perkebunan. Mereka rata-rata hidup pas-pasan. “Ketika mereka sakit dan membutuhkan pertolongan, maka kita juga harus memikirkan bagaimana mereka bisa berobat hingga sembuh namun jangan sampai keluarganya malah kelaparan,” kata Rizki.

Menyangkut masalah sosial ekonomi seperti itu, Rizki dan sejawatnya yang bertugas di pelosok menempuh solusi dengan membuat semacam celengan. Mereka mengumpulkan uang yang digunakan saat ada anggota masyarakat membutuhkannya. “Dengan itulah kita membeli obat dan membiyai pengobatan,” kata Rizki.

Dinamika sosial seperti itu, kata Rizki, pasti akan bersentuhan dengan seorang dokter. Selain itu, kata Rizki, ada juga soal budaya. “Misalnya, pengalaman saya sendiri, tentu menemukan perbedaan budaya yang tajam di Kuningan, Jawa Barat, dan di Jambi. Perbedaan karakter orang Jawa dan Sumatera, maka berbeda pula cara menanganinya,” katanya.

Itulah sebabnya, kata Rizki, penting bagi seorang dokter untuk mengetahui dan memahami kearifan lokal di setiap daerah yang akan dilaluinya. “Jangan sampai, kita yang berniat baik malah nanti ditanggapi berbeda,” katanya.

“Begitu juga soal bahasa daerah, setidaknya ketika berada di satu daerah kita juga memahami bahasa lokalnya. Minimal bahasa percakapan yang paling dasar. Sehingga tak ada kendala saat kita berada di lapangan.”

Bagi Rizki, ilmu kedokteran adalah penggabungan seni dan ilmu pengetahuan. Sehingga, menjadi sesuatu yang sangat menarik didalami dalam kehidupan ini. “Tak semata-mata materi. Intinya adalah bagaimana dalam kehidupan ini kita menjadi sangat berarti. Kita benar-benar hidup dalam arti yang sebenarnya,” katanya.

Karena itu, Rizki ingin menambah perbendaharaan ilmunya dengan melanjutkan pendidikan ke tingkat lanjutan. Namun ia bukan orang yang berkemauan berlebihan, ia belum ingin melanjutkan sampai ke luar negeri. “Di Indonesia saja, sebab saya ingin mengabdi di negeri sendiri. Jadi alangkah baiknya jika ilmu yang saya dapat juga dari dalam negeri,” katanya.

Rizki berkata bukan tanpa alasan. Menurut Rizki, di setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Bahkan termasuk karakter kumannya pun berbeda. Misalnya, seseorang yang terkena infeksi di Malaysia, akan berbeda unsur bakterinya dengan orang di Indonesia. “Jadi saya memilih pendidikan dengan tempat penerapan yang sesuai juga,” katanya.

Namun, saya masih penasaran untuk mencari tahu inti dari pendidikan yang ditekuninya ini. Sehingga timbul pertanyaan, “apa sebetulnya yang menarik dari ilmu kedokteran?”

Rizki kembali merenungkannya. Ia lalu menghela nafasnya secara perlahan. Kami beradu pandang saat ia menoleh, dan menjawab pertanyaan saya.

“Sangat menarik, semakin saya mendalaminya semakin saya memahami bahwa kehidupan di alam ini ada yang mengaturnya. Pada akhirnya saya ingin menjadi dokter yang Rahmatan lil Alamin,” kata Rizki. Sejenak kami berdua terdiam.

****

JENUH duduk di tepi lapangan golf, kami sepakat beranjak ke tempat lain. Pilihannya jatuh ke lapangan futsal di lantai tujuh gedung rektorat. Kami berjalan dan menaiki tangga menuju lapangan futsal. Di sana ada tiga lapangan futsal.

Setelah dari lapangan futsal, kami berdiri di balkon lantai tujuh. Rizki memandang hamparan gedung-gedung perkuliahan di kompleks Universitas Malahayati ini. Berada di lahan 84 hektar, gedung-gedung ini bertebar di antara pepohonan rimbun dipayungi awan bak lukisan berkanvaskan langit biru.

Di sini, Rizki mengutarakan harapannya. “Saya berharap kampus ini lebih baik lagi, dari segi fasilitas, dan juga kualitasnya. Kita jangan menutup diri pada kekurangan, ini perlu kita minimalisir, sedangkan kelebihannya perlu kita eksplor lebih jauh,” katanya.

Ia juga memesan kepada khalayak yang berkaitan dengan Universitas Malahayati untuk betul-betul menjaga nama baik almamater. “Jika ada kekurangan, mari perbaiki bersama-sama. Jika kita sudah menjadi almamater, otomatis dalam kehidupan bermasyarakat pun kita tidak lagi membawa diri kita sendiri. Pada diri kita melekat almamater juga,” kata Rizki.

Soal almamater ini, Rizki pernah mendapat nasihat dari seorang guru besar. “Beliau memesan jangan kita mengumbar keburukan almamater, sebab itu sama saja dengan memperburuk diri sendiri,” katanya.

Selain itu, Rizki juga memesan agar mahasiswa di Universitas Malahayati segera memprakarsai ikatan alumni. “Ini sangat berguna. Selain memperkuat tali persaudaraan, juga mempermudah komunikasi berbagai hal yang berkaitan dengan berbagai informasi,” katanya.

Usai berbincang singkat di balkon, kami turun. Di teras rektorat kami pun berpisah. Rizki kembali mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Ia, pemuda yang rendah hati. []

Rusli Bintang, Sang Peduli Anak Yatim

Tulisan Kabul Budiono, Pimpinan di Direktorat Program dan Produksi RRI, tentang Rusli Bintang.

Kami tidak merencanakan pertemuan itu. Berangan angan pun tidak. Namun, kami memang bertemu. Dari pertemuan itu saya belajar banyak tentang kebaikan hati dan keikhlasan luar biasa. Di mana ? Di dalam pesawat terbang yang membawa kami ke Banda Aceh.

Karenanya, saya percaya Allah lah yang mempertemukan kami. Allah yang berkehendak agar saya mendengar dan melihat apa yang dilakukan laki laki yang bernama Rusli Bintang.

“Bapak, tinggal di Aceh?” Demikian tanya laki-laki di sebelah saya. Itulah awal perbincangan kami. Sayapun akhirnya tahu bahwa laki-laki berusia 65 tahun itu bernama Rusli Bintang. Saya sesungguhnya sudah melihatnya di depan pintu masuk pesawat Garuda Indonesia.

Dari cara dia memalingkan muka, saya berkesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan lehernya. Pun saya tidak menduga bahwa laki-laki berkaos sederhana itu akan duduk di samping saya di kelas bisnis.

“Ya Bapak lihat, saya tidak biasa memalingkan muka dengan benar. Ini karena dulu saya sering memanggul beras “.

Ya, Rusli Bintang, yang sekarang naik pesawat bersama saya, telah melewatkan hidupnya dengan kerja keras. Ia adalah anak sulung dari 9 bersaudara. Ia dan saudara saudara menjadi anak yatim karena Allah memanggil pulang bapaknya ketika ia masih remaja.

Ia pernah menjadi tukang bersih bersih salah satu kantor Ia juga pernah menjadi tukang angkat barang di pasar Ulee Kareeng tidak jauh dari rumahnya.

Namun, kini, apa yang terjadi ? Rusli Bintang yang tidak pernah menamatkan Madrasah Ibtidaiyah yang setingkat SD itu kini pulang ke tanah kelahirannya untuk membagi bagi uang untuk ratusan anak yatim dan ibunya.

“Selama  bulan Ramadhan ini, kami jalan terus. Saya langsung datangi anak anak yatim ke rumahnya. Saya bagikan uang untuk beli baju lebaran. Habis dari Aceh kami ke Padang, kemudian ke Ujung Pandang. Setiap bulan kami keluarkan uang 2 milyar untuk sedekah anak anak yatim “

Mengapa demikian ? Ia meminta saya mengingat ayat 261 Surat Al Baqarah. “Bapak baca ayat itu “ Demikian pintanya. Ayat 261 Surat Al Baqarah adalah permintaan Allah agar seorang Muslim menyedekahkan hartanya untuk anak yatim. “ Coba Bapak hitung.

Sekali memberi, akan berlipat tujuh ratus kali. Tetapi Bapak harus yakin, harus ikhlas. Bahagia sekali memberi anak yatim itu… “
Saya menanyakan mengapa ia peduli betul sama anak yatim ? Ia bercerita bagaimana derita hidupnya ketika menjadi anak anak yatim ketika ditinggal mati ayahnya saat ia masih remaja. Ia adalah sulung dari adik adiknya.

“Saya sedih sekali pak. Adik saya meninggal gara gara uang 1000 rupiah dan saya tidak dapat memberinya. Adik saya itu, mau ujian SMP harus membayar uang untuk ujian. Ia sudah belajar dengan sungguh sungguh. Tetapi ia tidak bisa ikut karena tidak bayar.”

“Sayapun mencari uang. Tetapi susah sekali. Akhirnya saya dapat uang itu dan saya berikan uang itu untuk bayar uang ujian. Tetapi….”

Tiba-tiba suaranya tersendat. Air matanya menetes. “Malam itu adik saya sakit. Ia mencret mencret. Saya gendong dia ke rumah sakit. Punggung saya belepotan kotorannya itu. Sampai di rumah sakit. Ia sudah lemah sekali. Akhirnya dia meninggal…… Saya sedih sekali pak. Karena kata dokter ia sakit karena stress. Sedih dan panik karena tidak bisa ikut ujian,” Rusli pun menyeka air matanya. Saya terhenyak mendengar ceritanya. Karena itulah ia sangat berempati pada anak anak yatim dan berusaha membantunya.

Rusli Bintang sejak muda, sudah membiasakan diri bersedekah untuk anak-anak yatim. Ketika Allah telah memberi rizki dengan mengubah kehidupannya dari seorang buruh menjadi pengusaha, terus menggelontorkan sebagian hartanya untuk para yatim piatu.

Dari hasil usahanya, di Banda Aceh dia mempunyai perguruan tinggi yang diberinama Abu Yatima, yang berarti ayah anak yatim. Di Lampung berdiri megah Universitas Malahayati, dan di Jakarta perguruan tingginya ada di kawasan Kelapa Gading.

Selain terhenyak mendengar kisah hidupnya pertemuan saya dengan Rusli menyebabkan kekagetan lain. Ketika saya bercerita bahwa saya ke Banda Aceh untuk membuka Pekan Tilawatil Qur’an tingkat Nasional dan bercerita bahwa tahun lalu ada dermawan yang memberi hadiah umrah untuk juara 1, di atas pesawat itu Pak Rusli bilang, “kali ini saya yang akan membiayai umrah untuk para pemenang itu “.

Seungguh, saya tidak meyakini apa yang dikatakannya itu. Tetapi begitu sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda, di pintu keluar ia bertemu Mirza Musa Kepala RRI Banda Aceh, pak Rusli Bintangpun bbilang, “untuk juara yang lima itu, umrahnya dari saya “. Mirza kelihatan bingung. Ia baru percaya ketika saya menceritakan pembicaraan kami di pesawat.

Dalam mobil yang membawa saya dari bandara Mirza berkata, “Pak Rusli itu dulu bekerja, sama bapak saya. Ia yang membuka pintu pagi pagi dan bersih bersih kantor bapak saya. “

Subhanallah, Allahhu Akbar…….

Afrah, Mahasiswi Abulyatama di Pentas Duta Wisata

MAHASISWI Universitas Abulyatama, Nurul Afrah, terpilih sebagai Juara Favorit Duta Wisata Aceh Besar, Sabtu (23/5/2015).

Kegiatan yang bertujuan mempromosikan Aceh Besar dari sektor pariwisata ini dilaksanakan di Gedung SKB Lubuk, Ingin Jaya, Aceh Besar. Acara yang dibuka langsung oleh Bupati Aceh Besar Mukhlis Basyah itu diikuti oleh 80 orang peserta yang kemudian disaring kembali hingga tersisa sebanyak 8 pasangan calon duta wisata.

Nurul Afrah yang bersaing ketat dengan finalis lainnya dalam vote melalui akun Instagram @dutarayeuk tersebut semakin sengit menjelang penutupan voting. Hingga pukul 16.00 WIB jumlah lover Nurul Afrah sebanyak 533 sementara Siti Zuhra yang menjadi saingannya berada dipuncak dengan total lover sebanyak 536 lover yang kemudian lolos ke babak 5 besar.

Vote bertahan hingga pengumuman pemenang duta wisata diumumkan. Akhirnya Nurul Afrah terpilih sebagai duta wisata favorit Aceh Besar tahun 2015 yang bertugas untuk mempromosikan pusat-pusat wisata yang ada di Aceh Besar.

Sosok Nurul Afrah memang sudah tidak asing lagi dilingkungan Universitas Abulyatama, wanita hitam manis ini terkenal ramah dan cekatan.  Selain aktif sebagai aktivis mahasiswa di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai Wakil Gubernur Fakultas Kedokteran Periode 2014-2015, wanita kelahiran Montasik 22 tahun Silam ini juga sering tampil sebagai moderator dalam setiap even yang diselenggarakan oleh kampus.

Tidak hanya itu, Afrah, begitu biasa dia dipanggil, juga memiliki segudang prestasi lainnya, sebut saja juara 3 lomba puisi se Aceh, Kategori 10 besar lomba regional Medical Olympiade se sumatra cabang cardio_respi tahun 2011.

Di bidang olah raga, gadis ramah ini sangat menyukai tenis meja, hal ini dibuktikannya dengan meraih juara di pekan olahraga HIMAB Poltekes dan pertandingan tenis meja se Poltekes tahun 2011.

Setelah terpilih sebagai duta wisata Aceh Besar, Afrah berharap setiap elemen baik dari pihak pemerintah dan masyarakat dapat sama-sama mengembangkan lagi potensi-potensi wisata yang ada di Aceh Besar.

Ia menyebutkan contohnya dengan pemenuhan sapta pesona guna menunjang Aceh Besar sebagai “Rumoh Wisata” yang mngedepankan syariat sehingga terbentuk penduduk yang bersih, tempat yang asri akan keindahan alam dangan eko wisata yang sinergis.

Untuk Abulyatama, Anak ke 4 dari 7 bersaudara pasangan H. Nurdin dan Hj. Suryati, S.Pd ini punya harapan khusus agar dapat memberikan distribusi yang maksimal. “Yaitu membangun jiwa-jiwa muda dengan sasaran pada semua pelajar mengenai sadar akan alam, sadar akan adat, sadar akan sejarah dan budaya, yang berprinsip pada bergenggam tangan dengan jiwa yang tenang,” katanya.

“Tentu saya ingin mempromosikan kampus Abulyatama dimata dunia bahwa Abulyatama adalah tempat yang tepat untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya mengakhiri pembicaraan.

Laporan: Muslim

Ini Kata Rektor Abulyatama di Seminar Internasional

REKTOR Universitas Abulyatama R. Agung Efriyo Hadi, Ph.D bertermikasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung terlaksananya seminar internasional yang diselenggarakan kampus yang dipimpinnya.

Seminar internasional itu dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Abulyatama. Seminar yang diikuti 100 peserta ini di Balee Nyak Syech Universitas Abulyatama (25/05/2015).

Dalam sambutannya, Rektor mengatakan pelaksanaan seminar internasional ini bisa berlangsung dengan baik lantaran mendapat dukungan berbagai pihak. “Kami memyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yagg telah bekerja keras dalam menyukseskan kegiatan tersebut,” katanya.

Di hadapan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah XIII Aceh, Prof. Dr. Jamaluddin , M.Ed yang juga sebagai salah satu key note speeker, Rektor Unaya menyampaikan kegiatan semacam ini akan terus digalakkan di Universitas Abulyatama.

“Ini akan sangat baik bagi iklim akademik, kedepan kegiatan seperti ini bukan lagi sebuah program biasa, tetapi menjadi kebiasaan di Universitas Abulyatama nantinya,” katanya.

Seminar internasional yang berlangsung sehari tersebut mengadirkan keynote speeker Prof. Mohd. Ismail dari Universitas Malaysia Perlis, dari Malaysia, Prof. Dr. Jamaluddin, M.Ed dari Kopertis Wilayah XIII Aceh, Dr. Asmawati dari Universitas Abulyatama dan Dr. Said Munzir dari Universitas Syiah Kuala. Sorenya, Seminar di tutup oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Abulyatama Faisal, ST., MT.

Laporan: Muslim