Ayo Daftar Tim Terbaikmu Di Turnamen Sepakbola Find Work Cup Ke IV

MAHASISWA Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan & Rekreasi (Penjaskesrek) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Abulayatama resmi membuka pendaftaran turnamen sepakbola Find Work Cup ke IV tahun 2015.

Turnamen antar fakultas se Universitas Abulyatama tersebut dibuka dari tanggal 1-14 Desember 2015, kegiatan turnamen sepakbola tersebut merupakan agenda rutin tiap tahun yang diselenggarakan oleh mahasiswa prodi Penjaskesrek sesuai dengan angkatan karena salah satu tuntutan mahasiswa untuk melaksanakan tugas dari mata kuliah wajib yang ada di prodi Penjaskesrek.

Turnamen sepakbola find work cup tersebut merupakan tahun ke 6 nantinya seluruh klub yang ada di Universitas Abulyatama akan bertanding di lapangan sepakbola Abulyatama memperebutkan piala dan sejumlah uang pembinaan jutaan rupiah.

Bagi team/klub yang ingin berminat segera mendaftarsaya di kantin induk Unaya, atau bisa hubungi langsung ke Rizki 085277206316 atau Hindra 082277023186

Hancur Karena Hal Sepele

Annie Taylor tercatat menjadi orang pertama yang terjun dari air terjun Niagara. Namun namanya kalah populer dengan Bobby Leach, padahal pria ini baru terjun di tahun 1911 setelah Annie.

Saat Bobby Leach i terjun bebas dari air terjun Niagara dengan pelindung karet seadanya,  Ia hanya terluka ringan di bagian lutut serta rahangnya. Setelah itu, ia menjadi terkenal. Bahkan, ia menjadi lebih terkenal dari Annie Taylor.

Foto: wikimedia.
Di restorannya yang dibangun di Bridge Street, ia selalu sesumbar bahwa apapun yang dilakukan oleh Annie Taylor, ia bisa melakukannya lebih baik.

Ironis, beberapa tahun kemudian, Bobby Leach diberitakan meninggal. Penyebabnya, sangat sepele! Dalam turnya di Selandia Baru, ia terpeleset kulit jeruk lalu ia terjatuh kemudian mengalami infeksi. Dan akibatnya, kakinya harus diamputasi dan diapun meninggal di rumah sakit beberapa bulan kemudian.

Tragis! Itulah kesimpulannya. Orang yang berani menerjang bahaya terjun dari salah satu air terjun tertinggi di dunia, mati gara-gara hal yang sepele, kulit jeruk.

Sebuah pembelajaran penting. Ketika sukses, janganlah sombong. Dan kedua, kehancuran kita, baik reputasi, karir, kesuksesan, kadang-kadang bisa disebabkan oleh hal yang sepele. Karena itu, waspadai pula dengan hal-hal kecil yang kadang bisa menghancurkan kita, seperti: kebiasaan, pertemanan, sikap buruk, sopan santun, kata-kata serta tindakan kita.

Semua Orang Itu Jenius, Termasuk Anda !

Sering sekali kita mendengar orang-orang mengkategorikan orang lain berdasarkan kepintarannya, dimulai dari orang bodoh, biasa saja, hingga jenius. Pada kenyataannya, persepsi seperti itu tidaklah benar karena semua orang itu jenius termasuk diri Anda, hanya saja dalam cara yang berbeda. Inilah berbagai tipe kejeniusan manusia:

Secara singkat, makna dari kata “Genius” atau “Jenius” adalah seseorang dengan kapasitas kecerdasan di atas rata-rata. Ironisnya, masyarakat sekitar kita melihat kapasitas tersebut hanya dalam nilai akademik, yang sebenarnya harus disadari bahwa tidak semua kejeniusan manusia itu sama.

Contoh nyata dapat dilihat dari sebuah permisalan Pablo Picasso dan Albert Einstein. Ya, banyak dari Anda pasti sudah sering mendengar kedua nama ini, Pablo Picasso sebagai pelukis ternama dunia dan Albert Einstein sebagai ilmuwan ternama dunia.

Apabila kita hanya melihat dari sisi bidang fisika, Albert Einstein adalah seseorang yang sangat jenius tapi Pablo Picasso mungkin tidak pernah akan dapat disebut jenius dalam bidang ini.

Berbeda halnya jika kita melihat dari sisi kesenian lukisan. Namun kedua orang ini nyatanya memang adalah 2 orang yang jenius hanya saja dalam bidang masing-masing mereka sendiri. Jadi apakah Anda sudah dapat gambarannya?

9 Tipe Kejeniusan Manusia

Untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini, seorang psikolog ternama, Howard Gardner menjelaskan bahwa kepintaran atau kecerdasan manusia yang lebih lanjut lagi disebut sebagai jenius ini, dapat dibagi menjadi 9 tipe kecerdasan.

1. Kecerdasan Logik Matematik
Kemampuan seseorang dalam mengatur, mengukur, dan memahami simbol numerik, abstraksi dan logika. Kepintaran inilah yang biasanya diukur secara akademis di sekolah-sekolahan.

2. Kecerdasan Linguistik
Kemampuan pengolahan bahasa baik dalam hal pemahaman atau implementasinya secara tertulis ataupun lisan. Sama halnya denga kepintaran logik matematik, kepintaran ini juga biasanya diukur secara akademis

3. Kecerdasan Visual Spasial
Diartikan sebagai kemampuan untuk mempersepsikan dunia visual dan bagaimana hubungan posisi satu benda dengan yang lain. Hal ini mungkin terdengar agak membingungkan, namun singkatnya dapat dijelaskan sebagai kepintaran terkait melukis, memecahkan puzzle, fotografi dan sejenisnya.

4. Kecerdasan Kinestestik
Kemampuan yang terkaitkan atas bagaimana seseorang memanfaatkan anggota tubuhnya dalam sebuah cara yang terampil. Di sinilah para atlit olahraga fisik termasuk ahli pantonim unggul dibandingkan orang-orang lainnya.

5. Kecerdasan Musikal
Sebagaimana namanya, kecerdasan ini adalah mengenai kemampuan seseorang mengenali dan menciptakan nada, ritme, dan pola suara hingga apa yang kita kenal sebagai “musik.”

6. Kecerdasan Intrapersonal
Menjelaskan mengenai seberapa tinggi tingkat kesadaran diri yang dimiliki seseorang. Dimulai dari menyadari kelemahan, kekuatan, hingga perasaan dirinya sendiri. Seorang pemimpin yang sukses setidaknya pasti memiliki kecerdasan interpersonal yang cukup baik baik untuk perkembangan diri ataupun visi kesuksesan mereka.

7. Kecerdasan Interpersonal
Berlawanan dengan kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain dimulai dari memahami perasaan orang lain hingga kemampuan mempengaruhi orang tersebut.

8. Kecerdasan Naturalis
Merupakan kategori kecerdasan tambahan yang berkaitan dengan kemampuan mengolah informasi lingkungan baik alam ataupun lingkungan sekitar Anda. Contoh sderhana adalah Anda suka di alam bebas, berelasi dengan hewan, atau lebih lanjut lagi dapat meklasifikasikan kehidupan liar seperti tumbuhan dan binatang dengan mudah.

9. Kecerdasan Eksistensial
Mereka yang mendalami teori kecerdasan ini menyarankan bahwa seharusnya ada tambahan kategori kecerdasan lainnya yang berkaitan dengan kesadaran beragama dan spiritual.

Tapi walaupun diri Anda lebih ahli dalam kecerdasan yang satu dibandingkan yang lain, perlu diketahui bahwa sebenarnya semua manusia memiliki semua 9 kecerdasan ini hanya dalam taraf yang berbeda. Yang satu mungkin ahli melukis, sedangkan yang lain mungkin ahli dalam perhitungan matematis.

Jenius Yang Manakah Anda?

Alm. Steve Jobs, adalah sebuah tokoh yang dipandang dan disebut-sebut sebagai seorang jenius dan pemimpin berkarisma terlebih lagi sebagai pendiri Apple. Dengan berbagai produk visionarisnya, ia membawa peradaban teknologi telepon genggam menjadi suatu kemajuan terbesar di tahunnya.

Namun apakah Steve Jobs merupakan seorang yang jenius? Menurut seorang ahli biografi ternyata Steve Jobs tidak memiliki tingkat kejeniusan yang dapat dikatakan luar biasa, ia hanya dikategorikan memiliki kepintaran rata-rata. Akan tetapi, bagaimana ia memanfaatkan kepintaran intrapersonalnya membuat dirinya menjadi seorang jenius.

Dari sini kita dapat melihat bahwa penting sekali untuk kita termasuk Anda mengetahui pada kecerdasan manakah kita lebih baik dibandingkan orang-orang sekitar kita. Selalu cobalah hal-hal baru dan mungkin saja Anda akan menemukan inspirasi hidup Anda yang baru.

Pemuda Inggris Berjihad ke Suriah Menyebar Cinta

Jihad, sebuah kata yang bermakna dalam. Tergantung bagaimana tiap individu beragama Islam meresapi filosofi di dalamnya.
Tulisan Ahmed Aboulenein tentang kisah pemuda Muslim di Inggris berikut ini mungkin bisa memberi gambaran, bagaimana dunia barat memandang Islam, dan sikap apa yang seharusnya dimiliki para penyeru kalimat tauhid.
Beginilah kehidupan pengungsi Suriah, berbulan-bulan mereka hidup di kamp dan jauh dari kata “kesejahteraan”. (REUTERS/Osman Orsal )
Dari sebuah kantor di Birmingham, Waseem Iqbal dan temannya merencanakan perjalanan ke Yordania melakukan jihad. Tidak, mereka bukan bergabung dalam perang, melainkan membawa paket bantuan untuk pengungsi Suriah.
“Bagaimana Anda menyelamatkan warga tak bersalah di Suriah? Dengan pergi ke medan perang lalu mati terbunuh? Atau… mengirim pompa air untuk masyarakat, membantu sekolah, dan membawa paket makanan? Inilah yang (sesungguhnya) menyelamatkan mereka,” ujar Iqbal.
Pemuda 27 tahun itu tahu, ada Muslim Inggris yang mengambil jalan berbeda. Dua temannya ditangkap beberapa waktu lalu dan dijerat hukum terorisme Inggris. Bagi Iqbal, itu adalah pilihan hidup yang berbeda. Meski diakuinya, semua pilihan itu memiliki satu kesamaan, yakni kemarahan.
Sebagian Muslim Inggris menginterpretasikan kemarahan dengan pergi ‘berjihad’ ke Suriah atau Irak dan ikut berperang bersama kelompok fundamentalis IS/ISIS. Perdana Menteri David Cameron memperkirakan setidaknya lebih dari 500 warga Muslim Inggris pergi ke Timur Tengah menjadi bagian dari terorisme.
Ya, Iqbal menyadari “kemarahan” itu…Di kota tempat tinggalnya, sebagai kota kedua terbesar setelah London, kehidupan kaum Muslim tidaklah mudah. Kecurigaan dan sikap rasisme kerap ditunjukkan warga kepada pemeluk Islam.

Abdul Waheed, seorang rekan Iqbal menceritakan kisah muram dalam hidupnya. Saat Waheed berusia 8 tahun, ia menyaksikan dari jendela rumahnya, sang paman dipukuli di jalan depan rumah yang didominasi warga kulit putih — dan anti Muslim.
Masalah tersebut memaksa Waheed dan pamannya pindah ke Sparkhill, sebuah permukiman kumuh dengan rumah bergaya Victoria dan gang berliku layaknya model perumahan Inggris di cerita “Tom Sawyer”.
 Waseem Iqbal/Foto: REUTERS/Darren Staples.
Iqbal dan Waheed memiliki beragam cerita serupa tentang rasisme. Mereka pernah dilemparkan berkaleng-kaleng bir di lapangan sepak bola, atau makian-makian bernada rasis oleh banyak anak sebaya di jalanan.
Isolasi komunitas Muslim itu menyebabkan munculnya mentalitas di kalangan pemuda Muslim, bahwa mereka merasa tidak menjadi bagian dari sebuah negeri, Inggris Raya. Dan sebaliknya, mereka semakin merasa menjadi bagian dari bangsa Muslim global. Maka, ketika perang berkecamuk di Timur Tengah, begitulah panggilan ‘berjihad’ dalam perang menguasai benak mereka.

Iqbal memahami kemarahan banyak pemuda Muslim di Inggris karena perlakuan yang mereka terima. Namun Iqbal tak mau berdiri di atas cara pandang yang sama tentang jihad.

Kesadaran Iqbal bangkit untuk gerakan kemanusiaan, ketika ia ‘terpanggil’ untuk itu.

Ia pernah bekerja di sebuah klub malam, juga akrab dengan hingar-bingar pesta, maupun lingkaran narkoba.
Kakak sepupunya meninggal karena over dosis di tahun 2010. Sahabatnya tewas ditikam dalam perkelahian jalanan.
Entah, karena pengalaman tersebut… yang pasti Iqbal berubah total pada suatu malam.
“Saya duduk dan mengisap ganja di flat saya sambil melihat hiruk-pikuk kota di malam hari, dan mulai bertanya pada diri sendiri, apakah batasannya, di (titik) mana semua ini akan berhenti? Saya menghabiskan sepanjang malam menangis dan menyadari…. ada yang hilang dalam diri saya: Islam,” kisah Iqbal.
“Saya berjanji pada diri saya untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik, dan berheni dari semua hal (buruk) ini.”
Kini, dalam balutan jubah panjang (thawb) serta mukanya tertutup jenggot lebat, Iqbal berada di kantor amal Yayasan Bantuan Kemanusiaan (Human Relief Foundation) selama sebulan.
Iqbal telah menemukan jalan ‘jihad’-nya. Sebuah jalan membela Allah SWT yang lebih bercahaya, dan juga indah.

Rina Mirdayanti “Membangun Kecerdasan Intelektual, Emosional dan Spiritual”

MEMBANGUN KECERDASAN

 INTELEKTUAL, EMOSIONAL DAN SPIRITUAL 

Oleh Rina Mirdayanti, S.Si, M.Si

Berbicara mengenai kecerdasan tidak lepas dari dunia pendidikan. Secara umum masyarakat masih menganggap orang-orang yang berpendidikan sudah pasti memiliki kecerdasan lebih baik dibandingkan dengan sebagian masyarakat lain. Dapat dikatakan kecerdasan identik dengan istilah umum yang biasa digunakan untuk menjelaskan sifat fikiran yang mencakup sebuah kemampuan, baik kemampuan penalaran, merencanakan, memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan serta  menggunakan bahasa dan belajar. Bahkan kecerdasan sangat erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki secara individu. Yang paling menarik disini adalah terdapat beberapa cara dalam mendefinisikan kecerdasan, dalam beberapa kasus kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan dan kebijaksanaan. Maka Dari pejelasan ini saya mencoba mendeskripsikan pengertian kecerdasan menurut pemahaman saya secara pribadi yang ada hubungannya antara kemampuan menyelesaikan masalah dan cara yang di ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam kasus yang lain kita sering mendengar seseorang yang sukses itu adalah seseorang yang paling pandai mempergunakan akalnya. Jika kita melihat kontex yang berhubungan langsung dengan isi dari perintah tuhan , berulang kali di dalam alquran banyak sekali redaksi ayat yang maknanya memerintahkan manusia agar menggunakan akalnya untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah dimuka bumi, sehingga manusia semakin bertaqwa kepada Allah pencipta alam semesta.

Dari penjelasan ini saya berfikir di dalam memaknai kecerdasan, terkadang seseorang yang di anggap sangat mumpuni pada bidang tertentu dapat dikatakan seseorang yang cerdas. Yang terus mengasah diri dengan potensi-potensi yang ia miliki. Tetapi terkadang kita sering terlupa begitu banyak orang-orang yang kita anggap cerdas dengan kualitas pendidikan yang tinggi tetapi tidak baik dalam mengelola emosi dan spiritual secara pribadi. Saya jadi teringat sekitar beberapa bulan yang lalu yang membuat saya terasa sangat miris, kecewa dan sedih, seseorang yang saya anggap memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi tetapi meruntuhkan dunia pendidikan dalam sekejap. Dengan mudahnya beliau marah dan mengatakan” untuk saat ini susah sekali membaca buku lebih dari 2 halaman setiap harinya, padahal dulu setiap harinya selalu bisa menyempatkan diri untuk mengerjakan skripsi orang lain dengan bayaran diatas rata-rata”.Yang menjadi pertanyaan saya adalah karakter orang-orang yang seperti ini, karena mereka adalah produk dari pendidikan yang mendapatkan predikat orang-orang cerdas. Ini sebenarnya fenomena yang harus digaris bawahi tentang pemahaman kita mengenai cerdas berfikir, bertindak dan berbuat agar fenomena seperti kasus diatas tidak terdengar lagi. Saya jadi teringat dengan kisah sahabat Rasulullah SAW yang bertanya kepada Rasullulah “ Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “ suatu hari aku duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi SAW dan bertanya, ‘wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama, Rasulullah menjawab, yang paling baik akhlaqnya,. Kemudian ia bertanya lagi, siapakah orang mukmin yang paling cerdas, Beliau menjawab, yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas. (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Albaniy dalam shahih Ibnu Majah). Jika saja standar yang kita gunakan adalah akhlaq yang utama yang menjadi barometer kecerdasan  dalam menentukan kecerdasan seseorang, mungkin wajar saja jika umat-umat yang awal yang hidup di zaman nabi disebut orang-orang yang cerdas. Lain lagi pepatah dari Aristoteles, ia mengungkapkan “ siapapun bisa marah karena marah itu mudah. Tetapi marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah “. Dan ini hampir bersinggungan dengan salah satu hadist nabi, ketika Rasulullah SAW diminta seorang sahabat untuk menasehatinya, maka nabi berkata jangan marah, lalu orang itu bertanya lagi apa lagi wahai Rasulullah, maka nabi menjawab jangan marah dan sahabat itu pertanya lagi, nabi tetap menjawab jangan marah. Disini ada tiga kali perulangan nasehat nabi kepada sahabatnya jangan mudah mengumbar kemarahan. Dari ilustrasi ini saya ingin menyimpulkan, bahwa tingkah laku yang baik, ucapan dan tindakan yang baik sangat berkenaan dengan akhlaq yang baik dan pengelolaan emosi yang benar. Dan dalam mempersiapkan diri menuju kehidupan yang baik juga sebuah pilihan yang tepat yang terencana. Ini semua sangat berkenaan dengan gambaran mental dari seseorang yang cerdas menganalisa, merencanakan dan menyelesaikan masalah mulai dari yang ringan hingga rumit. Dari sini sudah mulai terlihat keterkaitan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional. Dan bagaimana yang dikatakan kecerdasan emosional dengan istilah lain sebagian orang menyebutnya seseorang yang memiliki kecerdasan emosional adalah seseorang yang bisa memahami, mengenal dan memilih kualitas mereka sebagai insan manusia. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosi bisa memahami orang lain dengan baik dan membuat keputusan dengan bijak. Sehingga ketika dua hal ini berjalan beriringan akan menciptakan sebuah kondisi kepribadian yang cerdas dan matang. Jika diperluas apakah dua hal ini cukup untuk dikatakan seimbang, ternyata jawabannya belum, karena masih ada satu faktor penentu lagi yang disebut sebagai kecerdasan spiritual yang jauh lebih penting yaitu kecerdasan spiritual, apa itu kecerdasan spiritual, yaitu kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan, kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. Kecerdasan ini sangat erat kaitannya dengan keadaan jiwa, batin dan rohani seseorang. Bahkan kecerdasan ini disebut kecerdasan tertinggi dari kecerdasan lainnya. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual akan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan melihat permasalahan itu dari sisi positif.

Lalu apa yang terjadi jika ketiga unsur kecerdasan ini diterapkan di dalam dunia pendidikan, tentu saja akan menjadi perpaduan yang sangat berkesinambungan dalam melahirkan generasi-generasi yang siap pakai dan mampu bersaing secara global. Dan yang jauh lebih penting adalah kita yang berprofesi sebagai pendidik mau membangun, mengasah, menerapkan dan mengembangkan tiga unsur kecerdasan ini, dengan istilah lain yang biasa disebut EQ, SQ dan IQ agar kita menjadi pendidik yang berkualitas. Yang mampu  menghasilkan peserta didik yang tidak hanya cerdas dalam berfikir, namun juga memiliki rasa yang peka terhadap diri, orang lain dan lingkungannya. Serta memiliki tingkat religius yang tinggi terhadap tuhan pencipta alam.

 

Potret Kuliah Pelatihan Pembelajaran Berbasis Edmodo Bersama Rina Mirdayanti

Program pelatihan pembelajaran berbasis Edmodo merupakan metode pembelajaran yang aman bagi mahasiswa yang berbasis sosial media atau berbasis online. Dimana sistem ini memudahkan interaksi mahasiswa dan dosen.

Rina Mirdayanti selaku dosen Fisika menyampaikan, dalam pelatihannya mengenai sistem Edmodo  di laboratorium komputer Universitas Abulyatama, Kamis (3/11/2016).

” Pelatihan dibuat dengan tujuan memudahkan mahasiswa secara online, sistem Edmodo, sistem yang pembelajaran secara virtual, tidak nyata, atau dengan kata lain dunia maya. Pelatihan Edmodo ini bersifat khusus karena terkait dengan pembelajaran saya “. Ucap Rina

Sebagai dosen, Rina mengatakan bahwa “ Internet merupakan salah satu media pembelajaran yang bisa digunakan untuk pengembangan metode belajar dan perkuliahan dimana Edmodo adalah sebuah sistem yang memudahkan interaksi antara mahasiswa dan dosen, walaupun tatap muka tetap dilakukan, saya menggunakan edmodo ini untuk membiasakan mahasiswa menggunakan teknologi dan melek dengan perkembangan zaman. untuk memberikan informasi lebih cepat kepada mahasiswa dengan sistem edmodo ini. Dan terbukti khususnya mahasiswa saya yang ikut pelatihan sudah bisa menggunakannya “.

” Harapan saya, kita bisa menjadikan edmodo ini sebagai sebuah media pembelajaran, tatap muka tetap dilakukan karena bagaimanapun pembentukan karakter tidak bisa dibentuk dari dunia maya “. tutup Rina sambil tersenyum saat diwawancarai.

Berikut potret kuliah pelatihan pembelajaran berbasis Edmodo :

14890476_991272574318237_6763985181046560870_o 14917085_991272844318210_3093724113751505531_o 14939348_991272580984903_3044974657956865642_o 14939958_991272577651570_8234436916237054834_o

Marzukri Mahasiswa Pertanian Prodi Agroteknologi Membuat Hidroponik

SEIRING waktu perkuliahan, pada tahun 2016 ini,  Marzukri mahasiswa semester 7 (tujuh) prodi agroteknologi Universitas Abulyatama telah memasuki tahapan Praktek Lapangan (PL) sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studinya. Dalam prakteknya Marzukri membuat teknik budidaya hidroponik. Selasa,(11/10) di laboratorium fakultas pertanian Universitas Abulyatama.

Saat di wawancarai Marzukri mengatakan. “ Jangan mengira budidaya hidroponik membutuhkan biaya pembuatan yang mahal serta bahan-bahan yang sulit didapat. Budidaya hidroponik semakin tenar lantaran ideal untuk masyarakat yang tinggal di apartemen maupun rumah tapak yang tidak dibekali lahan memadai. Layout-nya pun bisa disesuaikan dengan pola ruangan, baik secara vertikal maupun horizontal. Menyoal tanaman yang akan dibudidayakan, bibit sayuran bisa dibeli seperti selada, sawi, seledri, serta tomat cabe dan lainnya “.

“ Yang menyenangkan dari budidaya ini adalah hasil panennya nanti bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga, sehingga dapat sedikit menghemat pengeluaran belanja kebutuhan dapur “. Ucap Ukri.

Saat ini teknik budidaya hidroponik yang telah dibuat oleh Marzukri telah mencapai tahap pertama yaitu tahapan pembuatan rak dan pemasangan pipa paralon. Dan selanjutnya akan diselesaikan secara bertahap.

2016-10-22-14-04-14 2016-10-22-14-04-36 2016-10-25-16-41-48 2016-10-25-16-47-11

Mahasiswa Keperawatan Unaya Membuat “Penyuluhan Imunisasi”

ACEH-BESAR, mahasiswa program studi ilmu keperawatan fakultas kedokteran universitas Abulyatama memaparkan penyuluhan Imunisasi. Jum’at (07/10) di Menasah Gampong Cot Peutano Kecamatan Kutabaro Aceh Besar.

cimg0559

Kegiatan penyuluhan yang di buat oleh mahasiswa keperawatan Unaya ini di paparkan langsung oleh pihak puskesmas Kutabaro selaku koordinator imunisasi.

Didalam pemaparannya kepada masyarakat berisi tentang apa itu imunisasi, tujuan imunisasi, jenis-jenis imunisasi kemudian jadwal imunisasi.

“ Obat yang kami kasih sebagai juru imunisasi, obat itu akan disuntik untuk membangun suatu tentara di dalam tubuh yang akan melawan penyakit, imunisasi adalah hak anak, sangat di sayangkan jika anak-anak tidak diberi imunisasi “. Kata pihak puskesmas Kutabaro

Sesuai dengan UU.n023/2002 tentang imunisasi “ Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual dan sosial ”.

Potret Pelepasan Mahasiswa Prodi Teknologi Hasil Perikanan

Hampir semua kampus saat ini menginginkan para mahasiswanya memiliki kemampuan yang baik sebelum lulus. Hal ini juga diusahakan Universitas Abulyatama (Unaya).

Mahasiswa magang di lepas oleh Wakil Rektor III, dr Iziddin Fadhil sebanyak 9 mahasiswa fakultas perikanan prodi teknologi hasil perikanan. Dan di antar langsung ke lokasi oleh wakil dekan fakultas perikanan Universitas abulyatama dwi Aprilliani ags, S.Pi,M.Si. Diterima oleh manajer aceh food fish jelly yaitu ibu Salawati, perwakilan dinas kelautan dan perikanan  provinsi Aceh oleh Cut Sri Haswirna ,S.Pi,M.Si.

Berikut beberapa potret pelepasan mahasiswa perikanan prodi teknologi hasil perikanan:

img-20161013-wa0010 img-20161013-wa0011 img-20161013-wa0012 img-20161013-wa0013  img-20161013-wa0014     img-20161013-wa0007

Warek III Unaya, Melepas Mahasiswa Perikanan Magang

SEIRING waktu perkuliahan, pada tahun 2016 ini, mahasiswa semester 5 (lima) prodi teknologi hasil perikanan Universitas Abulyatama telah memasuki tahapan Praktek Kerja Lapangan (PKL) atau magang sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studinya.

Wakil Rektor III, dr Iziddin Fadhil melepas sebanyak 9 mahasiswa fakultas perikanan prodi teknologi hasil perikanan. Selasa,(11/10) di Aceh food fish jelly Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh.

Mahasiswa magang di antar langsung ke lokasi oleh wakil dekan fakultas perikanan Universitas abulyatama dwi Aprilliani ags, S.Pi,M.Si dan diterima oleh manajer aceh food fish jelly yaitu ibu Salawati dan perwakilan dinas kelautan dan perikanan  provinsi Aceh oleh Cut Sri Haswirna ,S.Pi,M.Si.

Wakil Dekan Perikanan mengharapkan “ Semoga program magang ini menambah pengetahuan, menambah soft skills mahasiswa nantinya dan juga ilmu pengetahuan dan pengalaman yang belum di dapat selama di bangku kuliah dapat di peroleh saat magang serta dapat bermanfaat menambah wawasan, keterampilan mahasiswa dalam melakukan pengolahan hasil perikanan “.

Magang ini dilakukan bertujuan, untuk melatih berbagai pengetahuan tentang produk olahan hasil perikanan.

Belajar Bahagia dari Negeri di Tebing Himalaya

Mungkin tak banyak publik di Indonesia yang mengenal negeri ini, negeri ini dijuluki “Shangri-La di bumi” karena keindahannya, juga sering disebut ““Land Of The Thunder Dragon” atau “Negeri Naga Guntur”. Bhutan namanya. Negara di tebing Himalaya yang ukurannya kira-kira seluas Propinsi Jawa Tengah ini dikenal karena rakyatnya yang sangat sopan, halus, suka menolong, dan ramah. Para turis asing yang pernah ke Bhutan selalu menceritakan hal tersebut. Sebuah sifat yang sepertinya sudah menjadi karakter utama mereka. Dan mereka melakukannya, karena mereka sendiri adalah masyarakat yang paling bahagia di dunia.

tigers-nest-taktsang-lhakhang-bhutan_l

Paro tagshang (tiger nest), Bhutan

Salah satu yang unik dari Bhutan ini adalah bagaimana mereka tak begitu mengejar pertumbuhan ekonomi (yang menurut mereka akan menganggu harmoni manusia dan alamnya), mereka benar-benar hanya ingin membuat rakyatnya bahagia. Karena mereka meyakini, kebahagiaan manusia adalah elemen terpenting bagi masa depan yang sustainable.

Ada lagi yang unik.
Negara ini adalah negara satu-satunya diunia yang memiliki Gross National Happiness (GNH) index. Sesuai namanya, GNH memang mengukur tingkat kebahagiaan rakyatnya, termasuk kualitas hidup mereka, dan memastikan bahwa pembangunan spiritual dan material berjalan beriringan.

Dan Bhutan berhasil melakukannya, mencari keseimbangan di antara keduanya. Negara ini selalu berada di peringkat atas di antara negara-negara Asia yang rakyatnya paling bahagia. Ketika ekonomi negara ini tumbuh sangat cepat di tahun 2007, mereka juga berhasil menjaga identitas budaya dan lingkungan hidupnya.

TO GO WITH Bhutan-politics-economy-health-labour-social-youth,FEATURE by Rachel O'BRIEN Schoolgirls wear traditional Bhutanese dresses before a cultural event to celebrate the birth date of Bhutan's fourth king at a local school in Thimphu on June 2, 2013.   It is known as "the last Shangri-La" -- a remote Himalayan nation, rich in natural beauty and Buddhist culture, where national happiness is prioritised over economic growth. But urban youngsters in the kingdom of Bhutan are quick to challenge its rosy reputation.  AFP PHOTO/ROBERTO SCHMIDT        (Photo credit should read ROBERTO SCHMIDT/AFP/Getty Images)

Anak-anak sekolah di bhutan

Negara yang diapit 2 raksasa Asia (India dan China) ini kini menjadi laboratourium besar bagaimana menjadi sebuah bangsa yang tumbuh seimbang antara pembanguan fisik dan spiritualnya.

Tapi apa sebenarnya yang membuat rakyat Bhutan begitu bahagia?
Pertama dan yang terutama, orang Bhutan bahagia dan puas akan hidupnya di negeri tersebut. Mereka memilih tinggal dan hidup berdekatan dengan ‘akar’ mereka, tidak materialis, dan memilih ketenangan.

Dan sepertinya, pemerintah Bhutan, para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan, benar-benar menjalankan konsep dan semangat dari GNH. Bagi mereka, kebahagiaan rakyatnya dan karunia alam yang dianugerahkan pada mereka, adalah hal yang paling penting untuk masa depan yang sustainable di Bhutan. Mereka tanpa ragu menolak investasi atau rencana pembangunan yang menganggu keseimbangan alamnya, yang pada akhirnya akan menodai kebahagiaan orang Bhutan.

Undang-undang Bhutan menyebutkan bahwa 60% kawasan negara tersebut harus selamanya berbentuk hutan, dan hal ini meresap kuat di sanubari rakyatnya. Saat putra mahkota lahir, 108 ribu pohon ditanam oleh rakyatnya untuk menghormati kelahiran tersebut. Di negara lain, penghormatan mungkin dilakukan dengan pesta pora. Pada Juni 2015 lalu mereka membuat rekor dunia dengan memberdayakan 100 sukarelawan untuk menanam 49.672 pohon selama satu jam.

nw-bhutan-forest

Hutan lebat di bhutan, 60 % dari seluruh wilayah negeri

Semua negara di dunia menghasilkan emisi karbon. Semua negara di dunia juga berniat untuk mengurangi jejak karbon tersebut. Sebagai pengawal, Bhutan dinobatkan sebagai negara pertama yang jejak karbonnya negatif.
Menjadi negara dengan jejak karbon negatif sendiri berarti mereka menyerap lebih banyak karbon dioksida ketimbang membuang. Secara spesifik, tiap tahun Bhutan menghasilkan emisi 1,5 juta ton karbon dioksida sedangkan hutan mereka berhasil menyerap 6 juta ton karbon dioksida.

Di dunia yang kini didominasi oleh globalisasi, negara-negara berkembang bisa mengambil manfaat darinya, – ekonomi yang makin kuat, akses ke teknologi-teknologi terkini, pelayanan kesehatan yang lebih baik, ..dan tentu saja ada yang dikorbankan. Diakui atau tidak, globalisasi juga datang bersama dengan budaya barat atau budaya bangsa-bangsa lain. Dengannya, ada resiko hilangnya bahasa tradisional, budaya dan adat istiadat , juga ‘korban’ lain.

5321560-1

Paling bahagia di dunia

Intinya, globalisasi memang menguntungkan bagi GDP, tapi akankah memberi manfaat pada GNH? Dalam banyak kasus, negara-negara berkembang kehilangan identitasnya, budayanya, asal muasalnya, cara hidup, dan kekayaan alamnya atas nama globalisasi. Kehidupan masyarakat beserta budayanya, juga ekonominya, akan terhubung langsung langsung ke dunia. Ide-ide global dari mengalir tanpa henti, dan kadang menghilangkan budaya negara bersangkutan, demi tumbuhnya ekonomi dan pendapatan.
Yang paling ideal adalah, globalisasi tetap diterima tanpa harus kehilangan identitas nasionalnya.

Dan Bhutan telah menemukan keseimbangan yang sempurna. Beberapa tahun terakhir ini, internet, TV kabel, handphone, dan teknologi-teknologi dan ide-ide modern lain telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Bhutan. Tapi keinginan masyarakatnya untuk melestarikan nilai-nilai budaya, juga dalam menjaga lingkungan hiduonya telah berhasil menjaga mereka dari ‘kerusakan’ akibat globalisasi yang telah sampai ke mereka.

Ekonomi dan budaya Bhutan tumbuh, berkembang, dan juga berubah. Namun indentitas nasional tetap lestari. Strategi Bhutan yang unik ini telah menjadi buah bibir dunia, dan dianggap sebagai solusi terhadap globalisasi. Mereka mampu beradaptasi dengan globalisasi; memperkuat ekonomi mereka, sambil terus melestarikan tradisi dan budaya yang telah berusia ribuan tahun.

Bhutan adalah satu-satunya kerajaan Buddha di dunia, namun juga negara dimana teknologi, dan budaya negara lain juga bisa dinikmati. Kita bisa menonton film barat di tv kabel di hotel di sana, dan di saat yang sama para biksu Buddha sedang bersembahyang di rungan lain di hotel yang sama.

kingjigmekhesarnamgyelwangchucklbhutan1o32porw5a0l

Raja jigme dan ratu

Pada tahun 2008, pemilu demokratis pertama memunculkan Jigme Khesar Namgyel Wangchucks sebagai pemimpin negeri tersebut. Dia masih muda, baru 28 tahun. Sat penobatannya, dia berikrar untuk “menjaga Bhutan dari aspek terburuk dari globalisasi, melestarikan “Gross National Happiness”. Meski begitu, Jigme tidaklah anti globalisasi. Dia sendiri adalah lulusan Phillips Academy dan Wheaton College dan kemudian lulus dari Oxford. Jigme sekarang sedang menyusun formula untuk menyempurnakan keseimbangan antara melestarikan nilai tradisi dan budaya dan pada saat uang sama menumbuhkan ekonomi.