GENERASI MILINIAL DALAM PEMAHAMAN SEJARAH ACEH

Aceh identik dengan Islam, dikenal dengan Serambi Mekkah, banyak pakar dan ilmuan lahir di Aceh, seperti Hamzah Fansuri, Nurdin Ar-Raniry, Sultan Malik (Meurah Silu), Tgk Syiah Kuala (Syeck Abdurauf Asingkili), Tgk Syiek Pante Kulu, Tgk Syiek Di Tiro, Tgk Syiek Lung Bata dan sebagainya. Mereka menyebarkan konsep-konsep ketuhanan, syariah, tasauf, dengan memadukan konsep sosial budaya, politik, tata negara, ekonomi dan strategi perang fisabililah.

Mereka dihormati, disegani, jadi panutan dan konsisten dalam berjuang menyebarkan konsep konsep ketuhanan dengan berbagai pendekatan sosial dalam kehidupan masyarakat. Namun kiprah mereka sangat sedikit ditemukan dalam referensi sejarah nasional dan lokal yang bisa di baca oleh para generasi Aceh.

Dalam setiap pertemuan kelas dengan mahasiswa dari berbagai kampus, sering kami uji pemahaman mahasiswa terhadap sejarah Aceh (Lokal), terbukti mahasiswa sangat dangkal sekali pemahaman sejarah Aceh. Mereka kurang dan malah tidak tau sepak terjang tokoh-tokoh tersebut. Mereka sulit menemukan referensi dan sangat sedikit buku buku menulis sejarah para tokoh tersebut. Mereka tidak tau Samudra Pase, Pedir, Lamuri, Kerajaan Jaya, Kerajaan Kuala Bate, Kluet, dan sebagainnya. Di tambah parah lagi kampus namanya pelaku sejarah Nurdin Ar-Raniry dan Syiah Kuala sangat susah didapatkan referensi oleh mahasiswa. Yang seharusnya semua mahasiswa di dua lembaga tersebut paham, mengerti, dan mengetahui kilas balik dua tokoh besar Aceh, Nyatanya foto mereka hanya bisa lihat hanya di Biro Rektorat, tapi tidak terlihat di fakultas dan prodi. Ini sebuah bukti bahwa Aceh gelap gulita dalam sejarah.

Fakta fakta lain, coba lihat seputaran jalan krueng raya, disitu ada beberapa situs sejarah, benteng indrapatra, benteng Sultan Iskandar Muda, Benteng Inong Balee, Makam Malahayati dan Situs Lamuri, tidak ada perhatian pemerintah daerah sedikitpun, terbengkalai, tak terurus, tidak ada informasi apapun di benteng2 tersebut, bila datang para pendatang dari luar Aceh tidak ada informasi dan penjelasan benteng tersebut, hancur lebur situs situs sejarah, malah batu nisan, banyak memberkan informasi di situs lamuri di rusak, malah ada yang di jual.

Aceh terus di kaburkan dengan sejarah, karena aceh (pemerintah) tak peduli dengan sejarah, tidak ada program melestarikan sejarah, malah banyak situs dirusak hanya dibangun gedung baru, kantor dan sebagainya. Tidak ada perawatan situs-situs makam raja2 Aceh, para ulama aceh, para pejuang Aceh, dibiarkan rusak dan hancur..(Usman Wakil Rektor Bidang Akademik)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *