Rina Mirdayanti “Membangun Kecerdasan Intelektual, Emosional dan Spiritual”

MEMBANGUN KECERDASAN

 INTELEKTUAL, EMOSIONAL DAN SPIRITUAL 

Oleh Rina Mirdayanti, S.Si, M.Si

Berbicara mengenai kecerdasan tidak lepas dari dunia pendidikan. Secara umum masyarakat masih menganggap orang-orang yang berpendidikan sudah pasti memiliki kecerdasan lebih baik dibandingkan dengan sebagian masyarakat lain. Dapat dikatakan kecerdasan identik dengan istilah umum yang biasa digunakan untuk menjelaskan sifat fikiran yang mencakup sebuah kemampuan, baik kemampuan penalaran, merencanakan, memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan serta  menggunakan bahasa dan belajar. Bahkan kecerdasan sangat erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki secara individu. Yang paling menarik disini adalah terdapat beberapa cara dalam mendefinisikan kecerdasan, dalam beberapa kasus kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan dan kebijaksanaan. Maka Dari pejelasan ini saya mencoba mendeskripsikan pengertian kecerdasan menurut pemahaman saya secara pribadi yang ada hubungannya antara kemampuan menyelesaikan masalah dan cara yang di ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam kasus yang lain kita sering mendengar seseorang yang sukses itu adalah seseorang yang paling pandai mempergunakan akalnya. Jika kita melihat kontex yang berhubungan langsung dengan isi dari perintah tuhan , berulang kali di dalam alquran banyak sekali redaksi ayat yang maknanya memerintahkan manusia agar menggunakan akalnya untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah dimuka bumi, sehingga manusia semakin bertaqwa kepada Allah pencipta alam semesta.

Dari penjelasan ini saya berfikir di dalam memaknai kecerdasan, terkadang seseorang yang di anggap sangat mumpuni pada bidang tertentu dapat dikatakan seseorang yang cerdas. Yang terus mengasah diri dengan potensi-potensi yang ia miliki. Tetapi terkadang kita sering terlupa begitu banyak orang-orang yang kita anggap cerdas dengan kualitas pendidikan yang tinggi tetapi tidak baik dalam mengelola emosi dan spiritual secara pribadi. Saya jadi teringat sekitar beberapa bulan yang lalu yang membuat saya terasa sangat miris, kecewa dan sedih, seseorang yang saya anggap memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi tetapi meruntuhkan dunia pendidikan dalam sekejap. Dengan mudahnya beliau marah dan mengatakan” untuk saat ini susah sekali membaca buku lebih dari 2 halaman setiap harinya, padahal dulu setiap harinya selalu bisa menyempatkan diri untuk mengerjakan skripsi orang lain dengan bayaran diatas rata-rata”.Yang menjadi pertanyaan saya adalah karakter orang-orang yang seperti ini, karena mereka adalah produk dari pendidikan yang mendapatkan predikat orang-orang cerdas. Ini sebenarnya fenomena yang harus digaris bawahi tentang pemahaman kita mengenai cerdas berfikir, bertindak dan berbuat agar fenomena seperti kasus diatas tidak terdengar lagi. Saya jadi teringat dengan kisah sahabat Rasulullah SAW yang bertanya kepada Rasullulah “ Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “ suatu hari aku duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi SAW dan bertanya, ‘wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama, Rasulullah menjawab, yang paling baik akhlaqnya,. Kemudian ia bertanya lagi, siapakah orang mukmin yang paling cerdas, Beliau menjawab, yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas. (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Albaniy dalam shahih Ibnu Majah). Jika saja standar yang kita gunakan adalah akhlaq yang utama yang menjadi barometer kecerdasan  dalam menentukan kecerdasan seseorang, mungkin wajar saja jika umat-umat yang awal yang hidup di zaman nabi disebut orang-orang yang cerdas. Lain lagi pepatah dari Aristoteles, ia mengungkapkan “ siapapun bisa marah karena marah itu mudah. Tetapi marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah “. Dan ini hampir bersinggungan dengan salah satu hadist nabi, ketika Rasulullah SAW diminta seorang sahabat untuk menasehatinya, maka nabi berkata jangan marah, lalu orang itu bertanya lagi apa lagi wahai Rasulullah, maka nabi menjawab jangan marah dan sahabat itu pertanya lagi, nabi tetap menjawab jangan marah. Disini ada tiga kali perulangan nasehat nabi kepada sahabatnya jangan mudah mengumbar kemarahan. Dari ilustrasi ini saya ingin menyimpulkan, bahwa tingkah laku yang baik, ucapan dan tindakan yang baik sangat berkenaan dengan akhlaq yang baik dan pengelolaan emosi yang benar. Dan dalam mempersiapkan diri menuju kehidupan yang baik juga sebuah pilihan yang tepat yang terencana. Ini semua sangat berkenaan dengan gambaran mental dari seseorang yang cerdas menganalisa, merencanakan dan menyelesaikan masalah mulai dari yang ringan hingga rumit. Dari sini sudah mulai terlihat keterkaitan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional. Dan bagaimana yang dikatakan kecerdasan emosional dengan istilah lain sebagian orang menyebutnya seseorang yang memiliki kecerdasan emosional adalah seseorang yang bisa memahami, mengenal dan memilih kualitas mereka sebagai insan manusia. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosi bisa memahami orang lain dengan baik dan membuat keputusan dengan bijak. Sehingga ketika dua hal ini berjalan beriringan akan menciptakan sebuah kondisi kepribadian yang cerdas dan matang. Jika diperluas apakah dua hal ini cukup untuk dikatakan seimbang, ternyata jawabannya belum, karena masih ada satu faktor penentu lagi yang disebut sebagai kecerdasan spiritual yang jauh lebih penting yaitu kecerdasan spiritual, apa itu kecerdasan spiritual, yaitu kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan, kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. Kecerdasan ini sangat erat kaitannya dengan keadaan jiwa, batin dan rohani seseorang. Bahkan kecerdasan ini disebut kecerdasan tertinggi dari kecerdasan lainnya. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual akan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan melihat permasalahan itu dari sisi positif.

Lalu apa yang terjadi jika ketiga unsur kecerdasan ini diterapkan di dalam dunia pendidikan, tentu saja akan menjadi perpaduan yang sangat berkesinambungan dalam melahirkan generasi-generasi yang siap pakai dan mampu bersaing secara global. Dan yang jauh lebih penting adalah kita yang berprofesi sebagai pendidik mau membangun, mengasah, menerapkan dan mengembangkan tiga unsur kecerdasan ini, dengan istilah lain yang biasa disebut EQ, SQ dan IQ agar kita menjadi pendidik yang berkualitas. Yang mampu  menghasilkan peserta didik yang tidak hanya cerdas dalam berfikir, namun juga memiliki rasa yang peka terhadap diri, orang lain dan lingkungannya. Serta memiliki tingkat religius yang tinggi terhadap tuhan pencipta alam.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *