Perempuan emas dalam lukisan Gustav Klimt

Di lukisan potretnya, sulit untuk membaca yang sedang terjadi di balik pandangan mata hitam yang jernih dari Adele Bloch-Bauer. Bukan hanya sekali Adele dilukis oleh seniman Austria, Gustav Klimt, tapi dua kali.

Adele jelas merupakan sosok perempuan yang misterius. Dalam sebuah pameran bertajuk Klimt and the Women of Vienna’s Golden Age di Neue Galerie New York yang akan berlangsung hingga Januari 2017, kedua lukisan tersebut yaitu Adele Bloch-Bauer I (1907) yang kontroversial serta Adele Bloch-Bauer II (1912), yang tak terlalu terkenal, diperlihatkan berdampingan untuk pertamakalinya dalam 10 tahun terakhir.

Pameran ini melibatkan juga lukisan potret perempuan lain, tetapi lukisan diri Adele tetap yang paling ikonik.

Adele sebagai ‘perempuan berbalut emas’ yang menjadi jangkar dari karya-karya yang mewakili puncak ‘fase keemasan’ dari Gustav Klimt.

Adele adalah sosok yang menjadi wujud bagi kerapuhan sekaligus kekuatan perempuan dalam peralihan abad di Wina, sebuah masyarakat yang tengah mengalami perubahan besar-besaran pada masa itu.

Dalam era Wina di masa pasca-Perang Dunia II, imaji Adele menjadi simbol budaya Austria dan Adele Bloch-Bauer sudah lama dikenal sebagai ‘Mona Lisa-nya Austria’.

Lukisan itu belakangan hari menjadi ikon bagi keadilan – dalam film Woman in Goldyang diedarkan tahun 2015.

Film itu menceritakan kisah penyitaan lukisan tesebut dari keluarga Yahudi Bloch-Bauer dalam masa Perang Dunia Kedua, serta upaya keras merebutnya kembali oleh keponakan Bloch-Bauer, Maria Altmann. Dan sepanjang abad lalu, banyak penonton bertanya-tanya siapa Adele Bloch-Bauer?

Simfoni emas

Adele terlahir sebagai Adele Bauer di Wina pada tahun 1881. Sebagai anak seorang direktur bank dan perusahaan kereta api, hidupnya berkecukupan dan masa kecil merupakan kehidupan yang berbudaya.Pada usia 19 ia menikah dengan Ferdinand Bloch, seorang pengusaha gula yang berumur 17 tahun lebih tua darinya.

Ferdinand mengagumi perempuan muda yang menjadi istrinya itu dan karena amat kagum sehingga membuatnya menambahi nama belakang sang perempuan ke namanya sendiri.

(Nama keduanya menjadi Bloch-Bauer, dan saudara mereka berdua juga saling menikah sehingga kedua pasangan itu memiliki nama belakang yang sama persis).

Mereka keluarga yang bersemangat untuk menjadi pelindung kehidupan seni di Wina, tidak hanya mengoleksi tetapi juga membiayai pembuatan lukisan. Dan pelukis pemberontak Gustav Klimt merupakan salah satu seniman favorit mereka.

Lukisan diri pertama Adele awalnya didiskusikan dalam sebuah surat ketika Adele yang berusia 22 tahun menulis kepada Klimt pada tahun 1903.

Ferdinand lalu memerintahkan pembuatannya sebagai hadiah untuk ulang tahun pernikahan orang tua Adele beberapa tahun sesudah Klimt ikut mendirikan Vienna Secession. Lukisan itu juga dibuat tak lama sesudah Klimt membuat sebuah lukisan dinding penuh skandal -yang diduga bermuatan pornografi- sehingga membuat University of Vienna memasukkannya ke dalam daftar hitam yang tak akan menerima pekerjaan melukis dari negara.

Adele Bloch-BauerImage copyrightGUSTAV KLIMT NEUE GALERIE
Image captionAdele Bloch-Bauer II (1912).

Adele Bloch-Bauer I pertama kali dipajang untuk umum pada tahun 1907. Sebuah pemandangan menakjubkan dalam minyak dan daun emas, dengan memperlihatkan bahu terbuka Adele dalam gaun yang bergaya memberi gambaran kerapuhan sekaligus kebanggan diri.

Tangan perempuan di lukisan itu menangkup di depan, salah satu jarinya tak sempurna, yang tampak ia upayakan untuk disembunyikan ketika sedang duduk bersama dengan pelukisnya, yang menghasilkan 200 sketsa kajian untuk lukisan potret diri tersebut.

Latar belakang lukisan adalah simbolisme Oriental dan erotik yang riuh rendah dan berkilau: segitiga, mata, dan telur.

“Imaji emas Adele Bloch-Bauer I memunculkan getar pada saya, sebagai seorang mahasiswa sejarah seni,” kata Tobias Natter, seorang sejarawan dan kurator asal Wina yang bertanggungjawab terhadap pameran di Neue Galerie.

“Bagi saya, ini sebuah simfoni dalam emas, sebuah kemenangan yang unik dan simbolis.”

Karya ini dianggap sebagai mahakarya aliran seni Art Noouveau.

Lukisan satu lagi yang merupakan sebuah titik menuju hal yang berbeda secara dramatis.

“Bagaimana Klimt bisa berkembang dari lukisan sebelumnya?” tanya Natter.

“Dengan Adele Bloch-Bauer II, ia melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda, evolusi gaya besar-besaran yang jelas.”

Lukisan itu menggambarkan diri Adele dalam rambut hitam seperti gagak, memakai topi lebar berwarna hitam berdiri dengan anggun, secara frontal menghadap orang yang memandang lukisan itu. Latar belakangnya adalah kertas dinding berpola warna cerah.

“Yang membuat saya terkesan dengan lukisan ini adalah pembaharuan melalui kekuatan warna,” kata Natter.

Yang berkilauan

Maria AltmannImage copyrightAP
Image captionMaria Altmann dan lukisan bibinya.

Di sini Bloch-Bauer tampak seperti seorang nyonya besar, tetapi matanya memperlihatkan melankoli yang lebih dewasa.

Alih-alih memperlihatkan posisi yang diuntungkan, tampak bahwa kehidupannya tidak selalu berlaku baik terhadapnya.

Altmann, yang wafat pada tahun 2011, mengenang bibinya sebagai seorang yang ‘agak dingin’, perempuan intelektual yang sangat sadar politik dan menjadi seorang sosialis.

“Ia tidak bahagia. Ia menikah karena dijodohkan, dan tidak punya anak. Ia mengalami dua kali keguguran dan sekali ditinggal mati anaknya ketika bayi. Saya ingat ia sangat anggun, tinggi, gelap dan kurus. Ia selalu memakai baju putih halus serta menggenggam tangkai pemegang rokok panjang dari emas.”

Perempuan dalam lukisan Gustav Klimt tidak hanya memancarkan erotisme yang dalam, tetapi juga kekuatan dan kepercayaan diri.

Kritikus dan sejarawan seni selama beberapa dekade menjuluki karya Klimt sebagai “Frauenversteher” -“mengerti perempuan” dan banyak yang berspekulasi bahwa Adele dan Klimt berselingkuh. Namun hal tersebut tak pernah dikukuhkan. Dalam lukisannya, Bloch-Bauer selalu muncul berdaulat, agung bahkan tampak mulia.

Setidaknya dalam satu wilayah hidupnya, ia memang mulia. Seperti karya-karya lain yang ditampilkan di pameran di Neue Galerie, karya ini dimiliki oleh keluarga borjuis Yahudi -yang kaum perempuannya memiliki kekuasaan sosial dan intelektual dengan menjadi tuan rumah di ruang tamu menyambut kedatangan para teman-teman kelas menengah.

Misalnya Berta Zuckerkandl, yang punya status sosial yang agak rendah tetapi dikenal sebagai ‘dalang kebudayaan Wina’ karena koneksinya, menghubungkan Klimt dengan pematung terkenal Auguste Rodin. Dan gerakan seni Secession ternyata dilahirkan dalam percakapan di ruang tengah rumah Berta.

Banyak perempuan tokoh masyarakat di Wina seperti Szeréna Lederer (yang selama 40 tahun mengoleksi karya Klimt) dan anaknya Elisabeth, muncul dalam lukisan diri Klimt, yang mulai memusatkan sepenuhnya pada subyek perempuan sesudah tahun 1900.

Ruang tamu Bloch-Bauer yang dibuka sepekan sekali memiliki tamu tetap seperti komposer Gustav Mahler dan Richard Strauss maupun penulis Stefan Zweig.

Belakangan dokter Julius Tandler –yang juga politisi, penganjur perumahan rakyat dan negara kesejahteraan Austria– mempengaruhi Adele melalui reformasi sosial dan gerakan perempuan.

Pameran di Neue Galerie tidak hanya berfokus pada berubahnya peran perempuan saat itu, tetapi jugapada pentingnya fashion dan desain. Tidak hanya pada karya Klimt tetapi juga pada kehidupan modern perempuan Austria.

Bloch-Bauer wafat karena meningitis tahun 1925, pada umur 43 tahun. Nasib mungkin memberinya peluang untuk tidak sampai mengalami masa kegelapan Austria sepanjang dekade 1930-an. Sesudah ia wafat, kamarnya menjadi semacam kuil bagi visi Klimt tentang dirinya.

Sesudah Austria dikuasai oleh National Sosialis pada tahun 1938, karya seni milik Bloch-Bauer –sejumlah lukisan Klimt, beberapa gambar pemandangan, serta tentu saja lukisan Adele– disita dan tidak jelas kepemilikannya hingga muncul di museum Belvedere di Wina setelah Perang.

Lukisan-lukisan itu tetap berada di sana hingga tahun 2006, dan setelah serangkaian sidang kembali ke tangan Altmann, satu-satunya orang yang punya hubungan darah langsung dengan Ferdinand Bloch-Bauer yang masih hidup.

Tak sanggup menanggung biaya asuransi dan penyimpanan, Altmann menjual Adele Bloch-Bauer I kepada Ronald Lauder –pewaris kerajaan kosmetik Estée Lauder, dan pendiri sekaligus direktur Neue Galerie– dengan ketentuan lukisan itu harus terus dipajang. Adapun lukisan kedua dijual di balai lelang Christie pada tahun 2006 dan kini menjadi bagian dari karya-karya yang dipinjamkan secara khusus kepada Museum of Modern Art di New York.

“Tidak mudah untuk meminjam lukisan kedua,” kata Natter, menjelaskan jarangnya kedua lukisan itu muncul bersama.

Bulan April 2016 kawasan di sekitar stasiun kereta api Wina yang sedang direnovasi mendapat sebuah jalan baru, yaitu Bloch-Bauer Promenade, yang diambil dari nama Adele dan Ferdinand.

Austria ‘sangat merindukan’ kedua lukisan itu, khususnya Adele Bloch-Bauer I, kata Natter. Namun kini mereka menjadi ‘milik seluruh dunia’.

sumber : www.bbc.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *