Wisata Social Ecotourism Di Kampung Nusa, Aceh Besar

Nusa merupakan salah satu kampung di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Berpenghunikan kurang lebih 1000 orang penduduk, kampung Nusa terus berbenah dan berproses guna mewujudkan Green Village.  Hamparan sawah, luasan kebun, hunian tradisional masyarakat dan ramahnya penduduk adalah sisi tersendiri yang dapat di jumpai ketika berkunjung ke Gampong Nusa.

Nusa Ecotourism adalah gerakan sadar wisata yang diinisiasi oleh kelompok  muda Kampung Nusa. Belajar, belajar dan terus belajar  memupuk pengalaman dan pengetahuan lokal dengan dikombinasi referensi menuju gampong wisata adalah cara kami membangun desa.

Wisata Alam

Pemandangan hamparan sawah yang menghijau kala musim tanam, bentangan bukit-bukit dan gunung di sisi kiri desa, menciptakan sebuah wahana wisata yang berbeda. Keramah-tamahan penduduk desa membuat saya begitu nyaman menyambangi desa ini. Hampir semua orang yang saya temui, mereka tersenyum kepada saya. Sesekali, mereka menyapa hangat. Rupanya, di desa ini, masyarakatnya sudah terbiasa menerima tamu. Bukan saja dari sekitar desa, melainkan dari manca Negara. Mungkin, hal ini pula yang membuat desa ini menyediakan Home Stay atau dasa wisma yang tergolong murah. Bayangkan, hanya dengan 1,5 juta/minggu, kita sudah bisa menginap di sebuah kamar, lengkap dengan makan tiga kali sehari. Tidur dengan suasana desa yang begitu tenang, jauh dari hiruk pikuk kota. Desingan suara mesin berganti sesuara burung yang bernyanyi.

Wisata Seni dan Budaya

Kampung ini, juga menawarkan wisata budaya. Beberapa kearifan local tetap di jaga dengan baik. Kala adzan magrib berkumandang, jangan harap anda akan mendengar orang-orang tertawa gaduh di sudut-sudut warung kopi. Bubar. Mereka semua bubar, ada yang menuju surau atau mushalla desa, ada juga yang pulang ke rumah. Lalu, mulailah setiap rumah terdengar lantunan-lantunan ayat-ayat suci yang di bacakan oleh manusia yang mendiami rumah tersebut. Ini suasana Aceh ketika masih di era 90an. Dan, di desa ini, semuanya masih terjaga dengan baik.

Beberapa permainan tradisional juga masih terjaga dengan baik. Sebut saja, main sandal batok. Sambar elang, atau mungkin, main sembunyi-sembunyian. Semuanya masih terjaga dengan baik. Menurut informasi, ternyata, setiap minggu, saya bisa menyaksikan anak-anak di hari kamis dan sabtu sore. Selain untuk menjaga kelangsungan kesenian asli Aceh, ternyata anak-anak itu juga berlatih untuk event-event internasional. Tahun lalu, mereka berhasil menjajaki Perancis selama dua minggu. Tahun ini, anak-anak tersebut akan ke jepang untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam bernari tarian tradisional Aceh.

Nusa Festival

Ini dia yang unik dari semua yang unik. Event ini mulai tahun 2007 lalu, sebagai refleksi dua tahun setelah tsunami. Beberapa pemuda/I gampong Nusa bersama teman NGO yang peduli anak,, memberi kegiatan pada anak-anak untuk melupakan trauma akibat bencana. Salah satu rangkaian Nusa Festival ini adalah Nusa Award yang semua konsepnya digagas oleh anak-anak. Kegiatan yang diselenggarakan di bulan Desember setiap tahunnya adalah upaya bagaimana mengajak anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan desa.

Ternyata, ide mereka kreatif. Ada beberapa kategori yang mereka lombakan, yaitu orang yang paling disegani anak, orang yang paling lucu, rumah paling bersih, dan anak kreatif. Untuk pemilihan pemenang, anak-anak sendiri yang jadi juri.

Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, Gampong Nusa juga menjadi salah satu Gampong yang pertama kali melakukan kegiatan recycle sampah menjadi sebuah handicraft. Mulai dari sandal plastic, sampai tas. Mulai dari bunga sampai kotak tissue.

Wisata Kuliner

Sebut saja makanan atau masakan asli Aceh, Mie Aceh, Ayam tangkap, Gulai Pliek U, Gulai Ikan Sawah, Asam Udang, dan Ikan Kayu. Semuanya tersedia disini. Tapi, tunggu dulu, semua ini bisa menjadi satu paket di home stay desa tersebut. Jadi, siapapun tamunya, semuanya bisa request. Tentunya untuk beberapa masakan tertentu, kita masih harus nego harga.

Kopi Aceh juga tersedia. Tenang, lagi-lagi anda tidak perlu repot-repot ke warung. Adat dan budaya Aceh yang selalu memuliakan tamunya, ini akan menjadi sebuah poin lebih sekaligus ajang berhemat. Kita akan disajikan kopi saban sore hari. Di seduh dengan air mendidih, di masak diatas tungku. Semuanya serba manual dan tradisional. Lalu, timphan, dan pulot pun akan duduk manis tersaji bersama segelas kopi Aceh di sore hari.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *