Milyaran Peluang dan Jutaan Tantangan, Maka Berorganisasilah !

SEBENARNYA ini hanya hasil retorika lawas, di era globalisasi dalam reformasi yang berkembang di Indonesia hampir semua mahasiswa sudah tidak tahu dan paham apa sebenarnya manfaat berorganisasi selama kuliah. Alasannya jelas, dengan arus kehidupan hedonisme kemahasiswaan sekarang berorganisasi sudah dilupakan seharusnya mahasiswa tidak hanya duduk manis di dalam ruang, mendengarkan dosen, mencatat argumen toeritis yang disampaikan oleh dosen, lalu pulang ke kosan mempelajari ulang teori teori yang sudah dibuat, dan saat Final/Midtem mereka hanya menuliskan teori teori dari referensi yang telah dipelajari. Tentu tidak !

Poros roda kemahasiswaan tersimpan jutaan peluang dan milyaran tantangan. Sangat banyak hal hal yang bisa dicari saat kita berlabel mahasiswa. Tentu kita bisa bertemu dengan tokoh dan sosok yang luar biasa, dari mulai sesama mahasiswa, lalu dosen, pejabat, peneliti, aktivis, praktisi, akademisi, pengusaha, dan lain lain.

Tidak hanya itu kamu juga bisa berburu beasiswa yang keren, ikut summer camp internasional, student exchange ke luar negeri, dan kesempatan magang di perusahaan impian karirmu. Ingin cari uang? Beragam lomba inovatif banyak tersedia hanya bagi mereka yang mahasiswa, begitupun hibah penelitian/riset yang tentunya bisa mengasah kemampuan ilmiahmu.

Nah, kemudian, bagaimana cara menggali harta karun yang hanya bisa didapat oleh seorang mahasiswa yang tersimpan jutaan peluang dan milyaran tantangan? Perlu diingat pula bahwa sebagai mahasiswa, secara idealis kita adalah kaum intelektual yang diberi kesempatan oleh bangsa ini untuk mencicipi level pendidikan yang lebih tinggi daripada sebagian besar manusia di muka bumi.

Kuliah pada dasarnya adalah sebuah jenjang pendidikan dimana kita seharusnya menjadi manusia dengan wawasan dan keterampilan yang hebat. Tentunya semua itu akan sia sia jika tidak diimbangi dengan bersosialisasi dialam terbuka. Nantinya, dengan wawasan dan keterampilan ini, kamu harus siap untuk bekerja dan berbakti untuk masyarakat melalui pos-pos pekerjaan dari disiplin ilmu masing-masing.

Oke, pertanyaan kembali berulang. Lantas, bagaimana cara kita menggali jutaan peluang dan milyaran tantangan? Cukupkah hanya dengan pagi-siang-sore belajar di kelas/perpustakaan dan malamnya belajar di kosan, berbulan-bulan lamanya hingga Final/Medtem menjemput? Tentu tidak jawabannya.

dalam roda perkuliahan, kita akan bertemu beragam organisasi, komunitas, kegiatan, dan wadah-wadah minat dan bakat lainnya. Umumnya di tiap Perguruan Tinggi ada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baik tingkatnya fakultas maupun universitas, yang bergerak di bidang olahraga, seni, kerohanian, jurnalisme, wirausaha, pecinta alam, keilmuan, dan lain sebagainya yang beragam organisasi tersebut merupakan miniatur dari apa yang dijalankan sistem oleh suatu negara, provinsi, bahkan kabupaten.

Nah kemudian, haruskah mahasiswa ikut organisasi tersebut? Perlukah kita punya kegiatan selain belajar dan kuliah di dalam ruang? TENTU SAJA PERLU! Oke, memangnya apa saja manfaat berorganisasi atau berkegiatan di luar kuliah? Kenapa kita harus berorganisasi? Berikut beberapa poinnya:

  • Berorganisasi itu, mengasah soft skill

soft-skills-1

Pernah dengar istilah Hard Skill dan Soft Skill? Gampangnya, Hard Skill itu kemampuan teknis yang kita pelajari melalui disiplin ilmu. Misalnya, kamu jago ngutak-ngatik komputer, bisa ngerakit mesin mobil sendiri, paham Undang-undang Ketenagakerjaan, tahu cara menanam cabai yang baik, ahli dalam membuat novel sastra, dan lain sebagainya.

Pentingkah Hard Skill? Penting! Mahasiswa Ilmu Komputer jelas harus bisa ngutak-ngatik komputer, mahasiswa Teknik Mesin jelas jago ngerakit mobil, bagaimana mungkin mahasiswa Sarjana Hukum bisa jadi pengacara handal kalau tidak paham UU? Mahasiswa Pertanian pastilah tahu iklim seperti apa yang cocok untuk menanam cabe, serta Mahasiswa Sastra adalah sastrawan masa depan.

Namun yang sering dilupakan adalah Soft Skill, yaitu kemampuan manajemen diri maupun manajemen orang lain. Soft Skill contoh mudahnya adalah bagaimana kamu bekerja dalam tim,bagaimana kamu mengatur bawahan, bekerja sama dengan rekan sepantaran, maupun menerima perintah dari atasan. Bagaimana kamu mengatur waktu, bagaimana kamu berdisiplin, bagaimana kamu mengatur target yang luar biasa tapi realistis.

Dalam Soft Skill tiba-tiba materi kurikulum buku kuliah dan komat-kamit dosen tidak banyak bermanfaat, karena sekarang kamu berkutat dalam hal-hal kecil namun esensial seputar hubungan antar manusia. Kamu belajar dipimpin di suatu saat, dan memimpin di saat lain. Bagaimana caranya berdisiplin mengerjakan tugas yang telah diamanahkan? Bagaimana caranya memberi amanah pada orang lain? Lalu, bagaimana caranya menangani konflik yang pasti terjadi dalam sebuah kelompok? Itulah Soft Skill, dan tentunya tidak tercantum di dalam pasal UU manapun, dan tidak pula ada hubungannya dengan cabe.

Ini adalah sesuatu yang hanya bisa kamu dapatkan kalau kamu mau keluar kelas kampusmu yang pengap itu, dan berorganisasi! Semua organisasi selalu menyimpan edukasi Soft Skill yang sama baiknya. Di semua organisasi kamu akan bekerja dalam tim, kamu akan mendapat tugas dari pengurus organisasimu, dan kelak kamu akan menjadi pengurus organisasimu dan memberi tugas pada anggota baru.

Contohlah jika kamu masuk ke UKM Bulutangkis, sebagai anggota baru kamu diminta untuk membentuk tim kesebelasan bersama anggota baru yang lain. Formasi apa yang mau diterapkan? Siapa jadi Tunggal Putra, Tunggal Putri, dan Ganda Putra? atau Ganda Campuran? dan Siapa jadi kapten Tim?

Ternyata kamulah yang ditunjuk jadi kapten Tim, otomatis kamulah leader tim kesebelasan yang  baru bayi ini. Bisakah kamu memimpin forum briefing strategi tim ini? Apa saja target program latihan kalian? Tiap hari apa saja kalian bisa latihan? Tentunya saat latihan sebelas orang ini harus hadir, karena kalau ada satu saja yang tidak hadir, tentu kerjasama dalam permainan tidak terbentuk.

Alkisah, semisalnya kamu adalah mahasiswa Jurusan Pertanian, kamu sadar bahwa di kampus kamu tidak pernah diajari bagaimana caranya menyatukan jadwal sebelas orang agar bisa kumpul latihan bulutangkis seminggu sekali.

  • Berorganisasi Itu, Memperluas Jaringan!

img1-200516214021

Oke, jadi bayangkan sekarang kamu sudah berorganisasi. Alhamdulilah, temanmu pun tambah banyak, tidak seperti dulu saat temanmu hanyalah anak-anak satu jurusan dan satu fakultas.

Sebagai anak Jurusan Hukum, kini kamu punya teman dari Jurusan Teknik Mesin, Akuntansi, Peternakan, dan Bahasa Inggris. Hidupmu tiba-tiba lebih berwarna karena kamu punya teman diskusi yang topik pembicaraannya variatif, tidak melulu membahas manuver UU hukuman mati pasca narkotika. Kini jaringanmu bertambah luas! Teman fesbukmu bertambah dan follower instagramu juga bertambah, kini kamu punya jaringan!

Bayangkan di saat kamu kuliah, ada temanmu yang Jurusan Pertanian membutuhkan referensi tentang Ilmu Hukum. Temanmu kebingungan karena ia tidak punya teman yang berasal dari jurusan Ilmu Hukum. Dengan mudahnya kamu memberikan nomor handphone temanmu yang Jurusan Ilmu Hukum, yang kamu temui di UKM Bulutangkis.

Di kesempatan yang lain, sehabis latihan bulutangkis, kamu bersama tim makan bersama di warung terdekat. Kemudian temanmu yang jurusan Teknik Sipil curhat, ia mengungkapkan bahwa ia ingin sekali berwirausaha, ia punya keahlian dalam membuat manajemen keuangan dan juga punya modal jutaan rupiah hasil dia magang di Perusahaan beberapa waktu yang lalu, namun kini dia tidak punya ide mau wirausaha apa.

Lantas temanmu yang lain, yang jurusan Kedokteran ikut menimpali. Dari dulu dia ingin sekali bikin warung masakan Padang di Banda Aceh, namun sebagai inovasi, ia ingin warung tersebut desainnya adalah angkringan, yang merupakan khas kota ini. Ide yang luar biasa!

Bagaimana dengamnu? Kamu tidak paham apa-apa tentang Padang, tidak jago mengelola keuangan juga, tapi kamu sangat ingin berwirausaha! Lalu kamu ingat, kamu adalah mahasiswa semester akhir yang punya banyak waktu luang! Akhirnya kamu menawarkan diri menjadi pelayan angkringan itu secara full-time. Di luar dugaan, ternyata kedua temanmu mengangkatmu menjadi manajer utama dari usaha kalian bersama, alasannya karena kamu sudah dianggap pemimpin mereka sejak menjadi kapten tim saat di UKM bulutangkis sejak kuliah.

  • Berorganisasin itu, mewadahi minat, mempertajam bakat

bakat-anak

Seperti halnya pada poin satu, bahwa dengan berorganisasi maka soft skill akan terasah, begitu pun hard skillmu! Kembali ke contoh bahwa kamu mahasiswa Jurusan Pertanian, maka dengan ikut UKM Buluitangkis, bakatmu dalam bermain bulutangkis pun terasah, siapa tahu kamu malah jadi atlet!

Atau jika pun mungkin kamu tidak akan berkarir di dunia Bulutangkis seperti Taufik Hidayat, minimal minat hobimu tersalurkan dan kamu terhibur melakukan sesuatu yang kamu suka. Coba kalau kamu tidak ikut UKM ini, apa mungkin di kampus ada yang bisa mengajarimu bermain dengan tekniknya? Tentu tidak, karena di kampus kamu hanya diajari teori kultur jaringan dan Pertanian modern Subalternnya Cyrus Hall McCormick

Intinya, kamu jadi bisa mempelajari ilmu interdisipliner dengan berorganisasi. Jika kamu anak Kedokteran Umum, kamu bisa ikut organisasi Pers Mahasiswa dan paham tentang jurnalisme. Lumayan menghibur setelah seharian ini kamu melototin sel darah.

Sebaliknya, jika kamu mahasiswa Ekonomi, kamu bisa ikut Unit Kesehatan dan belajar cara memberi nafas buatan, yang mungkin tidak diajari oleh Adam Smith pelopor Ilmu Ekonomi .

  • Berorganisasi itu, Putting Theory Into Practice

5-Alasan-Mengapa-Berorganisasi-Itu-Menyenangkan

“Percuma saja berteori, tanpa ada praktek nyata.” So, sebenarnya persepsi ini mesti direvisi sedikit. Pada dasarnya teori lahir berkat praktek empiris di lapangan, dan praktek tentu hanya akan jadi omong kosong bila dilakukan tanpa ada dasar teori yang jelas. Jadi keduanya penting.

Ada teori yang mengatakan bahwa Indonesia perlu dikembangkan sebagai negara maritim, bukan agraris. Tahu darimana? Tentu dilihat dari data di lapangan tentang proporsi laut dan darat yang ada di Indonesia , serta penelitian empiris yang mengidentifikasi peluang apa yang selama ini belum digali bangsa ini.

Kemudian, bagaimana cara mempraktekkan pemberdayaan maritim yang baik? Tidak bisa asal jalan.Semua teori pun harus dikeluarkan, dari mulai teori transportasi laut, keanekaragaman hayati, manajemen eksplorasi hasil laut, pariwisata bahari, hingga pelestarian laut yang anti perusakkan ekosistem.

Teori dan praktek berjalan sinkron, dan di kampus, kita sebagai mahasiswa mempelajari teori dari disiplin ilmu masing-masing, dan bertanggungjawab untuk mempraktekkan semua teori itu untuk kemajuan bangsa. Jadi, mari membaca buku kuliah sebanyak mungkin dan diskusi dengan dosen serajin mungkin, karena buku adalah hasil observasi lapangan, dan dosen adalah ahli yang telah lebih banyak berpengalaman dari kamu.

Lalu bagaimana prakteknya? Bisa dengan cara berorganisasi.

Memang tidak bisa digeneralisir bahwa semua mahasiswa dari semua disiplin ilmu bisa mendapatkan praktek yang nyata dari organisasi di kampus. Namun, tidak jarang ada organisasi/komunitas yang bekerja sesuai dengan sebuah disiplin ilmu.

Misalnya Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI), yang umumnya terdiri dari anak-anak Fakultas Pertanian se Indonesia. Organisasi ini memiliki misi mempersatukan mahasiswa Pertanian dan megadvokasi isu isu di daerah-daerah yang mengalami permasalahan bidang Pertanian.

Dengan megadvokasi isu isu di daerah-daerah yang mengalami permasalahan bidang Pertanian, mahasiswa Fakultas Pertanian membantu masyarakat di desa yang semisalnya kekeringan dengan melakukan advokasi kepada pemerintah agar membuat desa tersebut memiliki akses air yang cukup.

Di organisasi Pers Mahasiswa yang bergerak di bidang jurnalistik, mahasiswa Jurusan Komunikasi bisa menyalurkan ilmu mereka tentang media dengan memproduksi media yang nyata. Semua teori pun terpakai: teori penulisan berita, desain komunikasi visual, desain grafis, fotografi jurnalistik, jurnalisme presisi, periklanan, manajemen keuangan media, dan sebagainya

Kemudian di Koperasi Mahasiswa (Kopma), mahasiswa Jurusan Akuntansi bisa mempraktekkan ilmu mereka untuk mengatur keuangan, mahasiswa Jurusan Komputer bisa membantu merancang software untuk operasional Kasir di swalayan Koperasi, mahasiswa Jurusan Kearsipan bisa mengurus perpustakaan dan dokumen lembaga, dan lain sebagainya.

Bahkan si mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum pun, bisa saja gabung di Kopma dan bikin kajian mengenai UU no.17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian yang dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Tentunya akan menjadi diskursus yang menarik bagi gerakan Koperasi nasional.

  • Berorganisasi itu, Peduli dengan Lingkungan Sosial

bantuan-rohingya

Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah Itu Candu pernah mengeluarkan kritik tajam. Menurutnya, orang-orang akademisi seringkali berjarak dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Tembok-tembok tinggi sekolah dan kampus membuat akademisi, pelajar, ataupun mahasiswa,terkurung dalam dunia “Pendidikan Formal” masing-masing. Setiap hari mereka hanya berkutat pada tumpukan buku dan catatan pelajaran, dan jarang sekali tahu fenomena sosial apa yang terjadi di sekitar mereka.

Tahukah kita bahwa ada gelandangan di depan kosan yang tiap malam tidur di trotoar? Tahukah kita bahwa ada anak kecil kelaparan yang menggigil kedinginan di malam yang hujan ini?

Tahukah kita bahwa masyarakat Aceh tengah jengah dengan pendirian hotel dan bangunan yang tengah menjamur? Lebih lanjut lagi, tahukah kita, sekedar tahu saja, bahwa masyarakat di Kabupaten Aceh Jaya, sedang berjuang menolak pendirian pabrik emas di daerah mereka, karena pendirian pabrik di lingkungan tersebut bisa menyebabkan rusaknya sumber air bagi penghidupan mereka? Tentunya masih banyak lagi kasus konflik agraria antara korporasi dan masyarakat setempat yang terjadi di Indonesia.

Tanpa bermaksud untuk mengajak anda berpolitik praktis, namun memiliki dan memahami wawasan sosial adalah kewajiban kita sebagai manusia, apalagi mahasiswa.

Kepedulian sosial itu, sekali lagi, bisa diwadahi dengan berorganisasi. Bukan berarti kamu harus ikut organisasi gerakan keras dan demo besar-besaran waktu harga BBM naik, kepedulian sosial selalu bisa diawali dari kegiatan kecil dan bertahap. Ketika kamu gabung di organisasi kerohanian/keagamaan, akan sering sekali kamu akan mengadakan kegiatan bakti sosial (baksos), galang dana saat terjadi bencana, dimana kamu bisa bagi-bagi nasi bungkus untuk pengemis di tengah jalan. Kamu juga berkesempatan melakukan kunjungan ke Panti Asuhan dan mengajar anak-anak Yatim Piatu.

  • Berorganisasi itu, menambah nilai Curriculum Vitage Mu

pemimpin-ideal-8790216813

Sudah jadi rahasia umum juga bahwa mencantumkan pengalaman berorganisasi dalam CV akan menambah nilai jualmu di hadapan sang reviewer personalia. Dengan punya pengalaman berorganisasi, perusahaan yang merekrutmu pasti akan mempertimbangkanmu baik-baik, karena itu artinya kamu dianggap sudah punya pengalaman dalam bekerja dalam kelompok, alias punya Softskill.

Kamu bukan sekedar mahasiswa ber-IPK tinggi tapi kerjanya cuma bolak-balik kuliah-pulang-kuliah-pulang (istilah lawas, “mahasiswa kupu-kupu”). IPK itu penting untuk dipertahankan, untuk menunjukkan bahwa kamu serius dalam studimu, tapi jangan sampai kamu mendewakkan IPKmu sehingga tidak mengembangkan diri di luar perkuliahan. Bahkan, ada dua orang teman saya yang pernah melamar kerja (dan diterima) di perusahaan PT. Wijaya Karya dan PT. Astra International bercerita, ketika mereka melamar kerja, dalam seleksi wawancara, reviewer justru malah sering menanyakan kegiatan organisasi ketimbang pelajaran yang dipelajari di bangku kuliah.

Reviewer suka bertanya seperti: “Kamu Jurusan Teknik Sipil? Oke. Saya baca CV kamu, selama di kuliah kamu ikut organisasi XXX ya? Apa jabatanmu di sana? Apa inovasi yang kamu lakukan di organisasi itu? Kenapa kamu melakukan inovasi itu? Apakah akhirnya berhasil?” dan sebagainya.

  • Berorganisasi itu, mungkin bisa mempertemukanmu dengan jodoh

1455622284790

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seringkali kita bertemu dengan jodoh hidup kita di bangku kuliah. Untuk mencapai misi mulia itu, tentunya kita harus punya jaringan pertemanan yang luas. Kalau kamu hanya berteman dengan anak-anak sejurusan dan sefakultas, tentu kemungkinan untuk mendapat jodoh jadi tidak terlalu luas, karena opsi yang ada sangat terbatas.

Bayangkan kalau kamu berorganisasi, kamu akan punya banyak teman lintas jurusan lintas fakultas.Selain opsimu jadi tambah banyak, PDKTmu pun jadi tambah segar dan dinamis karena kini kamu bergaul dengan orang yang tidak sejurusan.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *