Sensasi Guha Ie

BAHWA gua berada di lereng gunung ataupun perbukitan cukup banyak di Aceh, tak ada yang menyangkalnya. Misalnya, gua Loyang Mandele, tempat ditemukannya kerangka manusia prasejarah di tepi Lut Tawar, Aceh Tengah. Ada juga Guha (gua) Tujoh di Laweueng, Pidie.

Namun bagaimana dengan gua bawah tanah seperti di Selandia Baru yang terkenal dengan Waitano? Berdekorasi megah, gua bawah tanah ini memiliki akustik yang luar biasa. Di belahan bumi Eropa ada lagi The Skocjan Caves. Berada di Slovenia, Skocjan Caves masuk daftar Unesco. Jelaslah, berada di tempat-tempat seperti itu da­pat menuai kepuasan jiwa.

Ternyata sensasi gua bawah tanah dapat juga ditemukan di Aceh. Cobalah sesekali datang ke Guha Ie di Indrapuri, Aceh Besar. Itulah yang kami lakukan. Ditemani dua pemandu dari komunitas pencinta alam, Universitas Muhammadiyah (Unmuha), Banda Aceh, Hendri dan Rinaldi, tim liputan majalah The Atjeh merancang perjalanan untuk mengaduk-aduk isi perut Guha Ie pada 7 November 2013.

Perjalanan berasa mudah sebab Hendri yang akrab disapa Abik adalah warga Desa Lamsie yang dekat dengan Guha Ie. Menggunakan dua motor, kami menempuh perjalanan singkat lintas Banda Aceh – Medan. Kami memacu kecepatan 80-90 km/jam. Tiba di Lambaro, kami membeli korek api, lilin, dan senter, untuk digunakan saat memasuki gua nanti.

Perjalanan berlanjut sampai memasuki Lampakuk, Indrapuri. Di sini ada perempatan. Jika melaju lurus ke depan itu adalah arah ke Medan. Berbelok ke kanan memasuki perkampungan. Pilihannya ke kiri menuju lokasi gua.

Tibalah saatnya memasuki jalan perkampu­ngan. Jangan berharap akan melewati jalan beraspal mulus. Begitu menemukan desa pertama, Lampoh Raja, jalannya berupa aspal keriting dan di sana-sini banyak lubang. Begitu juga ketika memasuki Desa Lamsie. Kendati jalanan hancur, mata terhibur melihat bentangan sawah bersama petani yang sedang asyik memanen padi.

Perjalanan masih panjang, hujan pun turun dengan lebatnya. Kami tetap melanjutkannya hingga tiba ke Desa Lam Alieng. Jalan desa itu tidak berbeda jauh dengan dua desa sebelum­nya. Bentuk permukaan desa berbukit yang dihiasi petak-petak sawah tadah hujan.

Kami memunggungi Gunung Seulawah yang puncaknya tampak dipikul awan. Nun di depan sana sudah terlihat deretan perbukitan tampak menjulang. Itulah Desa Leupung Bruek, yang menjadi tujuan perjalanan ini. Tiba di sini harus melalui jalanan berlumpur dan licin seperti sedang mengikuti offroad saja.

Hingga kemudian bertemu sebuah pondok kayu milik warga yang berkebun. Di sinilah ber­akhir perjalanan menunggangi sepeda motor. Selanjutnya, berjalan kaki. Karena hujan begitu deras, perjalanan tidak mungkin kami lanjutkan lagi.

Tak lama kemudian, hujan pun reda, tapi hari sudah sore. “Kita nggak akan bisa masuk gua, licin dan gelap sekali,” Rinaldi menjelaskan. Waktu paling tepat memasuki gua, kata dia, adalah siang hari.

“Malam ini kita nginap di tempat saya saja,” kata Hendri, pemuda asli Desa Lamsie ini. Tentu kami mengangguk, lalu balik kanan ke Desa Lamsie. Malamnya tidur di warung kopi milik Abik.

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun. Pukul 07.00 WIB, 8 November 2013, saatnya bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Guha Ie. Tentu terlebih dahulu kami mengisi perut dengan masakan Abik. Cuaca pagi itu cerah. Matahari bersinar sempurna. Dari warung kopi itu kami bergerak ke arah gua. Saat itu waktu menunjukkan pukul sembilan lebih.

Perjalanan kembali melewati jalan desa yang kemarin kami lewati. Tiba di pondok itu, kami langsung melanjutkan penelusuran berjalan kaki.

“Nanti harus hati-hati sama jeulatang,” Rinaldi berpesan setelah kami memarkirkan motor. Ia menjelaskan perihal jeulatang; sejenis tumbuhan ilalang yang jika tersentuh dengan kulit akan gatal. “Banyak jenisnya, yang paling bahaya bisa demam,” katanya.

Sembari mendengar penjelasan Rinaldi, kami memeriksa perlengkapan. Setelah yakin beres, ransel kami pasangkan di pundak. Abik membawa perlengkapan panjat tebing, seperti rope, carabiner, dan harness. Sementara fotografer memikul kamera lengkap dengan tripot.

Lalu, kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak penuh ilalang. Sejauh mata memandang, terlihat deretan bukit yang menjadi tujuan kami. Di sepanjang jalan adalah kebun warga. Mereka menanam kakao, pisang, dan mangga. Ada juga pohon jabon.

“Berapa lama kita sampai?”

“Setengah jam,” jawab Abik yang memimpin perjalanan.

Sepuluh menit berjalan, kami sudah me­nerobos hutan belantara. Air menetes dari daun-daun. Kicauan burung terdengar meramaikan. Hingga kemudian mencapai kaki bukit mulai berasa aroma hutan. Jalanan mulai menanjak. Kami menyusuri kaki bukit dan mengikuti jalan setapak yang diapit pohon-pohon besar. Cahaya matahari yang hanya menembus sela-sela dedaunan membuat ruang hutan remang-remang.

Meskipun dalam cuaca dingin, keringat kami tetap saja bercucuran. Selain karena menanjak, jalanan setapak sempit dan licin. Di lintasan kita harus menyibak semak atau menunduk menghindari belukar.

Berselang 20 menit, kami mengaso sejenak. Tiba-tiba teman kami, Syahrol, teringat akan lilin yang tertinggal di pondok. Kami semua melongo tak tahu hendak berkata apa.

Nggak bisa kalau nggak ada lilin. Bagaima­napun harus diambil,” kata Abik. “Lilin adalah hal wajib selain senter dan korek api.”

Namun tak ada yang mau balik ke pondok. Semua mengaku lelah. Untunglah Abik berbaik hati, ia kembali ke pondok seorang diri. Tak lama kemudian, Abik sudah balik dengan sekantong plastik lilin.

Kami bernafas lega, lalu melangkah lagi menelusuri lereng yang bersisian dengan lembah di antara dua bukit. Lembah mirip sungai selebar tiga meter dan kedalaman sekitar dua meter. Di sini perlu waspada, jika terpeleset, maka terperosok.

Abik rutin memberi isyarat jika menemukan sesuatu di jalan, seperti duri, kayu, tikungan, dan persimpangan. Begitu juga Rinaldi. Isyaratnya sederhana, hanya bersiul.

Lelah? Itu pasti. Namun deraannya seperti dicabut dari tubuh manakala Abik menunjuk sebuah lubang. “Itu Guha Ie,” katanya. Seperti mendapat suplemen tambahan tenaga, baru me­ngaso sejenak datanglah godaan mengaduk-aduk rasa ingin tahu apa gerangan di lubang bumi itu.

Lubang gua itu dikepung pepohonan dan semak belukar. Berasa sangat bersahabat dengan alam, hanya ada semilir angin yang menggoyang dedaunan, sesekali burung menunjukkan tingkahnya di pepohonan. Gua persis di kemiringan bukit. Pada area berbentuk lembah, mulut pintu gua mirip gelas dipotong miring.

Di dalamnya terlihat hampir serupa sumur yang dalamnya sekitar 25 meter. Di dasarnya ada dua pintu masuk. Pintu masuk pertama berbentuk bundar berdiameter sekitar dua meter, sedang­kan yang kedua lebih kecil lagi.

Saat kami sedang menikmati suasana sekitar gua, Abik dan Rinaldi mengeluarkan peralatan panjat tebing.

Abik menyambar climbing rope (tali panjat) dan mengaitkannya dengan benda-benda pendukung lain yang dibutuhkan untuk turun ke dasar gua.

HER_1779Ia mengganti baju kaos hitam yang tadi dikenakannya dan mengganti dengan kaos berwarna merah. Celana jeans ditanggalkannya, ia mengenakan celana tryning warna oranye de­ngan panjang sebatas lutut. Pada pinggangnya dipasangkan harness; tali pengaman yang diikatkan pada pinggang. Tak lupa memasang headlamp.

Setelah itu, dia membantu kami yang tak tahu apa-apa soal ilmu panjat tebing ini. Misalnya, dipasangkannya harness di pinggang kami. Lalu dia mengaitkannya pada climbing rope. Acara menuruni dasar gua bisa segera dimulai.

Abik mulai bergerak. Dia mendekati mulut gua dan mengikat tali (climbing rope) pada batang pohon di sekitar mulut gua, lalu melempar sisa tali ke dasar gua. Abik memanggil Rinaldi. Rinaldi segera mendekati Abik. Ia sudah siap dengan harness mencengkeram erat pada pinggangnya. Rinaldi tampak sudah berpengalaman. Dengan santai dia mengeluarkan gerakan-gerakan manis saat menuju dasar gua.

Selanjutnya kami menyusul turun satu per satu ke dasar gua. Proses penurunan mulai lambat saat giliran Fikri yang memiliki bobot tubuh di atas rata-rata. Selain itu, ketika turun wajahnya juga mulai pucat. Begitupun, dia tiba juga ke dasar gua. Abik yang paling akhir, ia turun setelah kami di dasar gua.

Semua terpana dengan dekorasi alam di dalam gua. Menakjubkan. Kami seperti berada di dasar sumur raksasa dengan luas sekitar 17 meter persegi. Suasana hening. Penerangan samar-samar. Cahaya matahari kurang leluasa menyelusup ke dalam. Di dinding tampak ornamen hamparan batu nan indah.

Mendongak ke atas tampak pohon-pohon kayu besar menjulang mengepung mulut gua. Akar-akar sebesar lengan bocah menjalar dari semak belukar memilin turun ke dasar gua. Sebatang pohon seukuran batang kelapa tumbuh menjulang di tengah-tengah lantai dasar. Pucuknya mencapai mulut gua.

Lantai gua yang miring itu beralas bebatuan. Ada yang berukuran sebesar buah kelapa, dan sekepalan tangan. Sebagian bercampur tanah. Ada bebatuan yang berserakan; bisa diangkat atau dipindahkan.

Lantai gua yang miring mengarah ke pintu masuk ke inti gua. Ada dua pintu masuk. Di sekitar pintu ada sebuah mangkuk tua terbuat dari tanah yang sudah sompel. Di dekat mangkuk tergeletak satu sweeter(baju hujan) loreng sudah lapuk berlumur lumpur.

Tepat pukul 13.00 WIB, cahaya matahari mulai menusuk celah-celah pepohonan di atas gua. Sinar yang berhasil masuk membentuk garis-garis yang indah. Kami memandangnya sembari menyesap kopi dan air mineral.

Sesaat kemudian, cahaya perlahan meredup. Di balik dedaunan samar terlihat langit hitam tersaput awan yang disusul hujan turun dengan lebatnya. Kami mencari tempat perlindungan merapat ke dinding gua. Sekitar satu jam, hujan berhenti mengguyur, tetapi wajah langit masih kelam.

Kami menyiapkan alat utama untuk masuk ke gua inti, seperti senter dan korek api. Abik dan Rinaldi menginstruksikan agar kami berhati-hati. Kami dipimpin Abik bergerak merangsek masuk ke gua inti. Rupanya hanya pintu masuk­nya saja yang berukuran kecil, sementara lorong di dalamnya berukuran lebar, sekitar lima meter. Satu meter berjalan langsung berada di dalam kegelapan. Ruangan pengap. Ada turunan terjal di sana. Itu adalah bentuk gua diagonal yang panjangnya 15 meter.

Perlahan-lahan, Abik mengikuti irama lantai yang menurun. Cahaya headlamp di kepala Abik menyibak kegelapan. Lalu kami mengikutinya. Di dasar gua, kami menyalakan lilin dan meletakkannya di dinding batu. Setelah ke 14 batang lilin dinyalakan, terlihat teranglah bagian dasar gua. Tampak lorong dasar inti gua berbentuk horizontal yang melurus ke depan. Di ujung sana tersamar terlihat belokan mengarah ke kiri. Kami berhenti di posisi itu. Dinding gua adalah hamparan batu indah.

Di lantai gua ada air tergenang sebatas lutut. Rasanya tawar. Bebatuan karang menyembul dari permukaan air. Genangan air itu memenuhi lorong gua. Semakin lurus di depan, genangan air tampak semakin dalam. Batas bekas genangan air berada pada ketinggian tiga meter.

Di dalam air ada makhluk yang berenang ke­rap menabrak kaki. Itu adalah ikan.

Langit-langit gua tampak seperti berbentuk kubah-kubah di puncak masjid. Ada kumpulan hitam berbintik-bintik putih, itu jelmaan ribuan kelelawar yang bergelantungan. Setiap cahaya senter mengarah, kelelawar beterbangan. “Awas ditabrak,” teriak Abik saat ribuan kelelawar mulai bergerak.

Kepak sayap ribuan kelelawar mengeluarkan bunyi serupa gemuruh laju angin.

Sekitar satu jam di dalam inti gua, kami ke­luar. Mendaki tebing diagonal sepanjang 15 meter terasa lebih susah daripada menuruninya. Keluar dari lubang inti gua, kami kembali beristirahat di “sumur raksasa”.

Selanjutnya, Abik dan Rinaldi menyiapkan perlengkapan tali untuk memanjat tebing mulut gua (sumur raksasa). Tentu masalah di awal masuk kembali terjadi, yaitu tubuh tambun Fikri. Setelah beberapa kali gagal, dia akhirnya bisa naik juga. Kemudian kami semua menyusul naik dan pulang meninggalkan hutan lebat itu.

Sore itu, kami telah meninggalkan gua. Kami sudah menikmati sensasi Guha Ie. Memang lelah, tetapi sungguh menyenangkan.[] Majalah The Atjeh

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *