Mahasiswa Unaya Belajar ke Beijing? Ini Penjelasan Rektor Agung

LAAWATAN Rektor Universitas Abulyatama (Unaya) Ir R Agung Efriyo Hadi PhD ke negeri China membawa dampak yang bagus bagi mahasiswanya. Kini telah terbuka ruang bagi mahasiswa Universitas Abulyatama untuk menimba ilmu di negeri Tirai Bambu itu. Salah satunya adalah kesempatan belajar di Capital Medical University yang berada di kota Beijing, ibukota negera China.

Agung berkunjung ke China bersama Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH, Wakil Rektor Wahyu Dhani Purwanti MPd, dan Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki.

Nah, dalam sebuah pertemuan dengan tim dari Capital Medical University yang dipimpin Profesor Zhe Dong, di kampus itu pada 16 Oktober 2015. Dari sinilah terbuka sebuah peluang yang menarik, yaitu belajar ke kampus yang ternama di China ini.

Bagaimana detailnya? Berikut petikan wawancara wartawan abulyatama.ac.id dengan Rektor Agung Efriyo Hadi yang berlangsung di Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin, Bandar Lampung, Kamis 22 Oktober 2015.

Perjalanan ke China, Beijing dan Wuhan, itu apakah bagus untuk Universitas Abulyatama?

Oh ya, jadi rombongan kita, Unaya (Universitas Abulyatama) dan Malahayati (Universitas Malahayati) ke China itu mempunyai dampak yang besar. Jadi dari situ kita bisa memperoleh beberapa kesepakatan yang positif.

Misalnya, tahun depan kita sudah bisa mengirimkan mahasiswa di sini untuk belajar di sana. Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.

Tentu kesempatan ini kita berikan bagi mereka yang berprestasi, menjaga nama baik kampus, juga nama baik Indonesia. Sebab bagaimana pun mahasiswa yang akan ke China nantinya tetap saja membawa nama negara, mereka di sana dengan wajah kampusnya.

Maksudnya, kesempatan ini bisa diperoleh di Capital Medical University?

Iya. Sebenarnya kita semula hanya meminta pada mereka untuk diberi kesempatan dalam bentuk belajar yang singkat saja. Namun mereka menawarkan dalam bentuk lebih luas, berupa SKS. Jadi bisa sampai tiga bulan belajar di CMU (Capital Medical University).

Semua itu kitta jalani untuk peningkatan di kampus kita juga. Kita juga hendak ingin menunjukkan kepada mahasiswa proses akademik kita itu tiada henti-hentinya kita mengembangkannya. Yang punya talenta punya kualitas punya mutu, mereka harusnya terpacu dengan potensi keilmuaannya. Itu menjadi kunci bagi mereka.

Bisa digambarkan lebih detail manfaatnya mengambil kesempatan belajar ke negeri China itu?

Yang paling utama mereka punya wawasan global. Misalnya dalam konteks economic asean itu dampaknya luar biasa, mereka punya interaksi di kawasan asian aja, nantinya tidak ada lagi batas negara untuk hubungan perdagangan. Dalam tatanan lebih luas, mereka akan terbuka .

Seperti pengalaman ketika berkunjung ke sana, kita bisa melihat karakteristik pendidikan di China. Di sana fakultas kedokteran tidak mempersoalkan latar belakang pendidikan mahasiswanya, apakah itu IPA atau IPS tak menjadi persoalan.

Begitu kebijakan mereka. Tapi yang saya tangkap adalah pendidikan di China ternyata sudah lebih maju karena mereka yakin akan prosesnya berjalan dengan baik. Sehingga latar belakang apapun selama mereka bisa mengikuti proses dengan baik maka tidak jadi persoalan.

Beda dengan di Indonesia, basic atau dasar sangat menentukan, karena kita semua tahu basic atau dasar kita belum terlalu kuat. Sehingga pola pikir anak IPS kita pandang agak berbeda dengan pola pikir anak IPA, sehingga dasar-dasar itulah yang menjadi pijakan pengambil keputusan. Sementara ya sudah anak IPA dulu yang bisa masuk ke Fakultas Kedokteran. Tapi secara global sebenarnya bisa-bisa saja seperti yang di China itu.

Apakah yang kita bicarakan ini yang diterapkan di Capital Medical University?

Iya, mereka mempunyai 22 rumah sakit pendidikan. Jadi mau apalagi kita mau bantah?  Prestisenya kan luar biasa. Nah itulah sehingga jika mahasiswa Indonesia belajar di sana jadi nggak kaget, ternyata mereka bisa diterima di semua bidang yang luar biasa, ini akan menambah kepercayaan diri mahasiswa kita.

Apakah mungkin mereka membuka kelas internasional di sini?

Kalau itu mungkin masih menjadi isu yang dibicarakan dilevel Pemerintah, karena kebijakan kitakan sama saja kelas jauh, jadi yang kita lakukan adalah mensiasatinya dengan kerjasama SKS.

Jadi kalau mereka buka kampus di sini membuat kelas jauh  maka jadi ambigu dengan kebijakan-kebijakan Pemerintah. Di sisi lain, kita menjadi seperti dijajah dalam pendidikan. Saya juga kurang setuju kalau mereka membuka cabang di sini tetapi kalau kerjasama boleh.

Soal ini juga rentan isu di masyarakat. Terutama dalam hal nilai-nilai, mereka akan membawa nilai-nilai mereka. Sedangkan nilai-nilai kita adalah Indonesia. Kita harus pertahankan. Itulahmengapa saya tidak setuju jika mereka membuka cabang di Indonesia. Tapi kalau berkolaborasi trasfer kredit boleh. Sama penelitian boleh. Karena karakteristik bangsa harus kita jaga sendiri.

Apakah ada syarat-syarat khusus bagi mahasiswa yang akan dikirim ke Capital Medical University nantinya?

Tentu mereka harus memiliki prestasi yang cemerlang ya. Selain itu, mereka jelas wajib bisa berbahasa asing, seperti bahasa Inggris, dan juga belajar bahasa Mandarin. Saya pernah bertanya pada CMU apakah mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia mengalami kesulitan dalam berbahasa Mandarin?

Mereka katakan tidak ada. Bahkan tiga bulan mahasiswa Indonesia yang belajar di CMU sudah bisa berbahasa Mandarin, bahkan sudah mampu menulis arikel dalam bahasa Mandarin. Artinya soal itu tak menjadi kendala sama sekali. []

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *