Kisah Rusli Bintang; Hikmah di Balik Musibah (2 Habis)

BERPULANGNYA ke Rahmatullah ayah dan adiknya yang disayangi, memberi hikmah tersendiri dalam lindungan kehidupan Rusli Bintang. Sulitnya kehidupan sebagai anak yatim yang telah dilaluinya membuat pikiran dan hatinya semakin terang.

Penderitaan yang berkepanjangan sebagai anak yatim membuat dia bersimpati dan menyatu dengan penderitaan anak yatim lainnya yang ada dipelosok daerah. Akhirnya, muncul ide dan cita-cita untuk melindungi, menyantuni, membimbing dan mendidik setiap anak yatim yang tidak mampu agar menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

Untuk mewujudkan ide dan cita-citanya pada tahap awal, yaitu tahun 1970 Rusli Bintang bekerja disebuah pompa bensin di Banda Aceh. langkahnya belum lagi mujur. Ia memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya karena salah seorang dari keluarga pemilik pompa bensin merasa iri kepadanya. Melihat keadaan itu, Rusli yang begitu produktif dan usaha itu semakin maju, merekaa takut kalau pada suatu saat Rusli dapat menguasai usaha pompa bensin itu.

Melihat keadaan itu Rusli pun tidak datang lagi bekerja dan semula ia berkeinginan menjadi tukang batu di Blang Bintang. Keinginan itu pun tidak terlaksana karena beberapa orang teman Rusli di Banda Aceh, termasuk H.M. Saleh Syeh mengajak Rusli membantu pekerjaannya. Begitulah kehidupan Rusli berlangsung sampai tahun 1974. Dia menjadi buruh harian dengan tugas dan penghasilan yang tidak tetap pula.

Tak hanya di Banda Aceh, Rusli juga bekerja ke daerah-daerah lain, Di antaranya di Beureunun (Pidie), Lhokseumawe, Aceh Utara. Disana mula-mula ia menjadi buruh angkat pasir pada sebuah kontraktor proyek Resetlemen Mbang.

Berkat ketabahan, kesabaran, dan kejujurannya, setelah lima bulan bekerja dia angkat menjadi penjaga gudang, dan pada tahun itu juga dia diangkat pula menjadi mandor pada kontraktor itu. Cita-cita untuk mengasuh anak yatim terus menghantui pikirannya. Ia berpikir, dengan penghasilannya yang rendah itu sulit untuk mewujudkan cita-citanya. Oleh sebab itu tahun 1976 ia kembali ke desanya untuk mencari pekerjaan lain.

Rusli merencakan membuka kebun di Lamtamot, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. Rencananya dibatalkan setelah mendengar nasehat Ayahwanya (wawak), “Bersihkan niat mu Nak! Jangan membuka kebun, carilah pekerjaan lain, kami akan berhasil karena apa yang kamu mimpikan itu benar. Teruskan usahamu”. Ayahwanya pun melanjutkan nasehatnya, “Ingat, walaupun kamu memiliki kawan seribu orang, tetapi seorang musuhmu dapat menghancurkan kamu jika tidak kamu terima dengan ucapann Alhamdulillah. Sebaliknya, walaupun seribu musuhmu dan seorang kawan mu jika sikap musuh kamu terima dengan Alhamdulillah kamu akan berhasil”.

Rusli terkejut mendengarnya karena apa yang pernah dimimpikannya tidak pernah diceritakan kepada siapapun, termasuk kepada Ayahwanya itu. Dorongan itulah yang menyebabkan Rusli terus mencari pekerjaan lain.

Dengan pengalaman yang dimilikinya, pada tahun 1976 di Banda Aceh Rusli Bintang mencoba menjadi wiraswastawan yaitu sebagai pemborong (kontraktor kecil-kecilan). Usahanya semakin lama semakin membuahkan hasil yang diinginkan.

Tahun 1977, ia mulai mengambil borongan kerja bersamanya dengan seorang keturunan China yang diperkenalkan oleh Pak Karim dengan menggunakan CV Desa Jaya. Hasil usahanya semakin lama semakin maju sehingga beberapa proyek daerah diberikan kepadanya. Dia pun terus mengomunikasikan niat dan cita-citanya kepada Allah.

Bahkan pada saat keuntungan usahanya bertambah banyak, ia mempertegas lagi janjinya dengan Allah dalam sebuah nazarnya, “ Ya Allah, bila saya Engkau berikan rezeki akan saya bantu anak-anak yatim agar janganlah mereka mengalami pahit menjadi anak yatim sebagaimana yang saya alami”.

Di dalam menjalankan usahanya dengan CV Desa Jaya bersama join usahanya, Rusli Bintang banyak menerima nasehat dan bimbingan dari teman dan kenalannya, antara lain dari bapak M. Z Abidin, Kakanwil Depdikbud Daerah Istimewa Aceh saat itu.

Melihat kemampuan Rusli dalam menjalankan usahanya, mereka menyarankan agar Rusli lebih baik berusaha sendiri daripada terus bergabung dengan orang lain. Nasehat itu diindahkan Rusli, pada tahun 1978 ia membeli sebuah perusahaan CV Kumita Karya yang bergerak dibidang kontraktor dan leveransir. Tahun 1979 CV. Kumita Karya ditingkatkan statusnya menjadi PT. Kumita Karya dan Rusli Bintang mengemban tanggung jawab sebagai Direktur Utamanya.

Dalam menjalankan usahanya sehari-hari, Rusli didampingi oleh teman-temannya yang sangat setia yaitu Hasballah Yusuf dan Anwar Amin. Tahun 1980 dibantu pula oleh Joni Makmur yang kemudian menjabat sebagai sebagai sekretaris umum Yayasan Abulyatama.

Usaha Rusli semakin lama semakin maju dan tentu keuntungannya pun bertambah besar. Berkat hasil usaha itu, ia langsung memenuhi janjinya  kepada Allah, yaitu menyantuni anak yatim. Pada tahap awal, yaitu tahun 1980 ia mulai menyantuni 750 orang anak yatim yang ada di Kecamatan Kuta Baroe dan sekitarnya. Santunan yang diberikan pada waktu itu berupa daging lembu setiap hari megang, yaitu setahun tiga kali ; menjelang puasa, menjelang Hari Raya Idul Fitri dan menjelang Hari Raya Idul Adha.

Setiap hari raya, kepada mereka (anak yatim ) juga diberikan pakaian dan uang saku untuk lebaran. Kemudian Allah pun menambah rezekinya hingga kini. Begitulah kisah hidup salah seorang anak manusia. Lika-liku hidup yang dialaminya adalah juga rahmat Allah  yang berusaha merubah rahmat itu menjadi sebagian dari nikmat hidupnya. Ingin disaksikan anak-anak yatim hidup sebagaimana layaknya kehidupan anak-anak terdidik lainnya; hidup layak generasi penerus bangsa ini dengan kepandaian dan ketakwaan yang tinggi kepada Allah. Inilah abstraksi cita-citanya yang dijadikan dasar isnpirasi penyantunan anak yatim, pendirian yayasan  dan lembaga pendidikan Abulyatama.

Sumber : Tulisan ini (Kisah Rusli Bintang; Mengganti Peran Sang Ayah dan Kisah Rusli Bintang; Hikmah di Balik Musibah) disalin dari buku Yayasan dan Universitas Abulyatama dalam Lintasan Sejarah, edisi ke II (dua), yang ditulis oleh Helmy Z. Yunus (24 November 1994)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *