Rizki, Dokter yang Rahmatan Lil Alamin

JANJI bertemu dipenuhinya tepat waktu, itu mengisyaratkan kedisiplinannya menjalani hidup. Caranya berdiskusi; mendengar dengan seksama, berfikir sebelum menjawab, menerangkan dengan struktur kalimat yang runut dan jelas, itu menunjukkan kecermatannya dalam mengambil keputusan dan bertindak.

Ketika ia menyebutkan tokoh idolanya adalah Ibnu Sina, maka ia menyingkap identitasnya. “Siapapun yang menggeluti ilmu kedokteran tentu tahu Ibnu Sina. Sampai sekarang saya masih membaca bukunya tentang kedokteran,” kata Muhammad Rizki, alumni Universitas Malahayati yang kini adalah seorang dokter dan sedang mengabdi di pelosok perkampungan di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Ibnu Sina yang disebut Rizki itu tak lain adalah ilmuan Islam yang paling terkenal di dunia. Tokoh ini bernama lengkap Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina (980-1037). Ia seorang filsuf, ilmuan, dan juga dokter yang berasal dari Persia (Uzbekistan), yang dikenal sebagai Bapak Pengobatan Modern.

Selama hidupnya, Ibnu Sina telah mengarang 450 buku. Karyanya yang sangat terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb). Buku-buku itulah yang didalami Rizki ketika menimba ilmu kedokteran di Universitas Malahayati. “Sungguh luar biasa. Ibnu Sina menulis bukunya berabad-abad yang lalu, sampai kini kita masih membaca dan mempelajarinya,” kata Rizki.

****

LAPANGAN Golf itu terletak di sebelah kanan Gedung Rektorat Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Di sinilah Rizki menerima saya untuk ngobrol ringan akhir pekan pada pukul 12,00, Sabtu 30 Mei 2015. Kami memilih kursi di pojok kiri tempat yang bernama Rizki Golf ini.

Pemuda kelahiran Lampoh Keudee, Aceh Besar, pada 1989 ini, berpenampilan sederhana. Mengenakan t-shirt biru dan celana gelap serta sepatu sport warna hitam. Ketika bersua, ia langsung tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk salaman. Berkulit putih, ia membiarkan kumis dan janggutnya tumbuh begitu saja.

Saya memulai pembicaraan dengan bertanya, “apa sebenarnya yang dicari dalam hidup Ini?”. Sejenak Rizki memandang hamparan rerumputan yang terpangkas rapi lapangan golf. “Sejatinya saya ingin membahagiakan orang tua, saya ingin berada dalam kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain, bagi masyarakat luas,” katanya.

Kehidupan yang seperti itu pula yang kemudian mengantarkan Rizki menempuh pendidikan kedokteran. Ia mengawali pendidikan dasarnya di Aceh, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati pada 2008. Empat tahun kemudian ia menyelesaikannya.

Selanjutnya ia koas di Kuningan, Jawa Barat. Setelah itu ia mengabdi di Muaro Jambi, di Rumah sakit tipe D, sejak Februari 2015. Ini rumah sakit yang stratanya paling bawah. Di sinilah Rizki menemukan realita kehidupan yang paling mendasar. “Banyak hal yang kita temukan dalam realitas kehidupan. Dan itu tidak kita temukan dalam buku di kuliahan,” kata Rizki.

Tempat Rizki mengabdi sekarang adalah perkampungan yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup sebagai buruh perkebunan. Mereka rata-rata hidup pas-pasan. “Ketika mereka sakit dan membutuhkan pertolongan, maka kita juga harus memikirkan bagaimana mereka bisa berobat hingga sembuh namun jangan sampai keluarganya malah kelaparan,” kata Rizki.

Menyangkut masalah sosial ekonomi seperti itu, Rizki dan sejawatnya yang bertugas di pelosok menempuh solusi dengan membuat semacam celengan. Mereka mengumpulkan uang yang digunakan saat ada anggota masyarakat membutuhkannya. “Dengan itulah kita membeli obat dan membiyai pengobatan,” kata Rizki.

Dinamika sosial seperti itu, kata Rizki, pasti akan bersentuhan dengan seorang dokter. Selain itu, kata Rizki, ada juga soal budaya. “Misalnya, pengalaman saya sendiri, tentu menemukan perbedaan budaya yang tajam di Kuningan, Jawa Barat, dan di Jambi. Perbedaan karakter orang Jawa dan Sumatera, maka berbeda pula cara menanganinya,” katanya.

Itulah sebabnya, kata Rizki, penting bagi seorang dokter untuk mengetahui dan memahami kearifan lokal di setiap daerah yang akan dilaluinya. “Jangan sampai, kita yang berniat baik malah nanti ditanggapi berbeda,” katanya.

“Begitu juga soal bahasa daerah, setidaknya ketika berada di satu daerah kita juga memahami bahasa lokalnya. Minimal bahasa percakapan yang paling dasar. Sehingga tak ada kendala saat kita berada di lapangan.”

Bagi Rizki, ilmu kedokteran adalah penggabungan seni dan ilmu pengetahuan. Sehingga, menjadi sesuatu yang sangat menarik didalami dalam kehidupan ini. “Tak semata-mata materi. Intinya adalah bagaimana dalam kehidupan ini kita menjadi sangat berarti. Kita benar-benar hidup dalam arti yang sebenarnya,” katanya.

Karena itu, Rizki ingin menambah perbendaharaan ilmunya dengan melanjutkan pendidikan ke tingkat lanjutan. Namun ia bukan orang yang berkemauan berlebihan, ia belum ingin melanjutkan sampai ke luar negeri. “Di Indonesia saja, sebab saya ingin mengabdi di negeri sendiri. Jadi alangkah baiknya jika ilmu yang saya dapat juga dari dalam negeri,” katanya.

Rizki berkata bukan tanpa alasan. Menurut Rizki, di setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Bahkan termasuk karakter kumannya pun berbeda. Misalnya, seseorang yang terkena infeksi di Malaysia, akan berbeda unsur bakterinya dengan orang di Indonesia. “Jadi saya memilih pendidikan dengan tempat penerapan yang sesuai juga,” katanya.

Namun, saya masih penasaran untuk mencari tahu inti dari pendidikan yang ditekuninya ini. Sehingga timbul pertanyaan, “apa sebetulnya yang menarik dari ilmu kedokteran?”

Rizki kembali merenungkannya. Ia lalu menghela nafasnya secara perlahan. Kami beradu pandang saat ia menoleh, dan menjawab pertanyaan saya.

“Sangat menarik, semakin saya mendalaminya semakin saya memahami bahwa kehidupan di alam ini ada yang mengaturnya. Pada akhirnya saya ingin menjadi dokter yang Rahmatan lil Alamin,” kata Rizki. Sejenak kami berdua terdiam.

****

JENUH duduk di tepi lapangan golf, kami sepakat beranjak ke tempat lain. Pilihannya jatuh ke lapangan futsal di lantai tujuh gedung rektorat. Kami berjalan dan menaiki tangga menuju lapangan futsal. Di sana ada tiga lapangan futsal.

Setelah dari lapangan futsal, kami berdiri di balkon lantai tujuh. Rizki memandang hamparan gedung-gedung perkuliahan di kompleks Universitas Malahayati ini. Berada di lahan 84 hektar, gedung-gedung ini bertebar di antara pepohonan rimbun dipayungi awan bak lukisan berkanvaskan langit biru.

Di sini, Rizki mengutarakan harapannya. “Saya berharap kampus ini lebih baik lagi, dari segi fasilitas, dan juga kualitasnya. Kita jangan menutup diri pada kekurangan, ini perlu kita minimalisir, sedangkan kelebihannya perlu kita eksplor lebih jauh,” katanya.

Ia juga memesan kepada khalayak yang berkaitan dengan Universitas Malahayati untuk betul-betul menjaga nama baik almamater. “Jika ada kekurangan, mari perbaiki bersama-sama. Jika kita sudah menjadi almamater, otomatis dalam kehidupan bermasyarakat pun kita tidak lagi membawa diri kita sendiri. Pada diri kita melekat almamater juga,” kata Rizki.

Soal almamater ini, Rizki pernah mendapat nasihat dari seorang guru besar. “Beliau memesan jangan kita mengumbar keburukan almamater, sebab itu sama saja dengan memperburuk diri sendiri,” katanya.

Selain itu, Rizki juga memesan agar mahasiswa di Universitas Malahayati segera memprakarsai ikatan alumni. “Ini sangat berguna. Selain memperkuat tali persaudaraan, juga mempermudah komunikasi berbagai hal yang berkaitan dengan berbagai informasi,” katanya.

Usai berbincang singkat di balkon, kami turun. Di teras rektorat kami pun berpisah. Rizki kembali mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Ia, pemuda yang rendah hati. []

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *