mega purnama

Mega, Satu-satunya Perempuan di Teknik Mesin Unaya

Di tengah aktifitas di Lab Teknik Mesin Universitas Abulyatama, Aceh Besar, terlihat seorang gadis berkulit sawo matang tengah duduk santai dengan sebuah gadgetnya yang ia pegang. Bernama lengkap Mega Purnama Zainal, ia mahasiswi Teknik Mesin Universitas Abulyatama semester 7. Dialah satu-satunya perempuan yang ada di Program Studi Teknik Mesin.

Menjadi satu satunya mahasiswi yang ada di teknik mesin, sebuah tantangan tersendiri bagi mega, sapaan akrabnya. “Tantangannya adalah bagaimana saya bisa beradaptasi dengan teman-teman saya yang didominasi laki-laki, tapi semuanya baik-baik dan sudah terbiasa, jadi saya enjoy saja,” ujarnya samil tersenyum lepas.

Gadis kelahiran 7 Desember 1994 ini sudah lama melekat dengan hal yang berbau teknik, bahkan pada saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas ia juga tercatat seorang siswa SMK 2 Banda Aceh juga jurusan teknik otomotif. Maka sudah tidak heran bagi gadis cantik ini sudah terbiasa bermain kotor-kotoran di lab teknik mesin yang biasanya lakukan oleh laki-laki.

“Kalau kotor-kotoran dengan alat-alat dilab sih sudah biasa, dan itu yang membuat saya nyaman karena saya benar-benar suka dengan aktifitas seperti itu. Ujarnya. Ketika ditanya apa planning kedepan setelah lulus nanti, ia menjawab, “kalau ada rezeki saya akan sambung S2, yah kalu bisa di luar negerilah,” jawabnya sembari tersenyum manis.

Gadis asal Aceh Besar ini mempunyai aktifitas yang lumayan padat, tidak hanya kuliah setelah pulang kuliah ia harus membuka lapak jualan martabak. “Biasanya dari jam 06:00 sore sampai malam hingga jam 10:00 malam,” jawabnya.

Selain kuliah dan berjualan martabak, ia juga memiliki hobi bermain bulu tangkis bersama teman-teman satu kampusnya. Prestasinya di cabang olahraga bulutangkis pun lumayan, ia lulus seleksi pada saat selekda Pomnas Aceh pada 2 bulan yang lalu.[]

rifki abulyatama

Mengapa Pemuda Bogor Ini Memilih Fakultas Kedokteran Unaya?

SUASANA yang cerah di pagi Jumat  di ruang kuliah gedung utama Universitas Abulyatama, Aceh Besar, seketika rami dipenuhi calon-calon mahasiswa Universitas Abulyatama. Terlihat seorang pria imut muncul dengan membawa map alat tulis dan lainnya untuk mengikuti ujuan tes tulis di Universitas Abulyatama.

Mimik wajahnya terlihat bersemangat, setelah selesai mengikuti ujian tes tulis bersama kawan-kawannya yang akan menjadi mahasiswa Universitas Abulyatama. Pemuda asal Bogor bernama M Rifki  ini memilih Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama, dengan alasan kelak akan menjadi dokter yang bisa membanggakan dan membantu orang banyak.

Pria yang memiliki hobi berenang ini sudah tidak asing lagi dengan Universitas Abulyatama, sejak ia dibogor banyak sanak saudaranya yang menjadi dokter yang merupakan lulusan Universitas Abulyatama, dari situlah ia banyak tau tentang Universitas Abulyatama.

Setelah keluar ruangan tes ujian tertulis, tim abulyatama.ac.id berkesempatan berwawancara dengan Rifki, Jumat 28 Agustus 2015 berikut detailnya :

Bagaiman soal testnya? 

“Soalnya lumayan mudah, saya enjoy dan santai dalam menjawab soal tadi.

Mengapa Kedokteran?

Saya dari dulu sudah tertarik dan bercita-cita menjadi dokter, dan kedoteran unaya bagus dan fasilitasnya juga cukup lengkap

Kenapa Abulyatama?

Selain lulusannya berkualitas dan banyak yang sukses, tempatnya yang bikin saya suka banget, pokoknya bener-bener adem dan nyaman seharian terus berada dikampus” ungkapnya sambil tertawa. []

IMG_0521

Rizal Fahmi; Juara Kompetisi Teknologi Beton se-Aceh

NAMA lengkapnya Rizal Fahmi, Putra Aceh Jaya tersebut adalah mahasiswa semester akhir Fakultas Teknik Jurusan Sipil, Universitas Abulyatama, Aceh. Sosoknya dikenal mudah bergaul dan memiliki banyak teman tidak hanya di lingkungan kampus tetapi juga di luar kampus.

Pada November 2014, ia dipercayakan mewakili Fakultas Teknik Unaya bersama dua temannya mengikuti kompetisi teknologi beton se Aceh yang diselenggarakan PT Semen Padang Wilayah Aceh di LAB Konstruksi Unsyiah. Saat itu, ia juga dipercayai sebagai ketua tim.

Berkat kerjasama dan usaha yang keras, akhirnya ia berhasil memperoleh juara harapan II setelah menyisihkan lima belas tim. Satu tim, terdiri dari 3 orang. Menariknya, peserta kompetisi tidak hanya dari mahasiswa tetapi juga perusahaan dan kontraktor se Aceh.

Kompetisi tersebut menerapkan kriteria penilaian terhadap daya tekan beton, dengan sampel beton berbentuk kubus berukuran 15x15x15 cm harus bisa dihancurkan dengan beban seberat mungkin. Saat itu, timnya berhasil memperoleh nilai tekan seberat 114 Ton.

“Ketelitian dan kemampuan dalam membuat komposisi campuran beton adalah faktor yang sangat menentukan kekuatan dari beton tersebut” ujarnya.

Anak pertama dari tiga bersaudara tersebut juga aktif di organisasi kampus. Pada periode 2013-2014 namanya tercatat sebagai menteri komunikasi dan informasi Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Universitas Abulyatama dibawah kepemimpinan Indah Pinta Sari dan Muhammad Reza selaku Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa.

Selain itu, lelaki dengan kulit sawo matang tersebut juga mahir dalam hal desain grafis dan gambar kerja bangunan. Tak jarang, jasanya sering dipakai oleh kontraktor.

“selama ini saya telah mendesain gedung asrama Teunom, jalan usaha tani di Aceh Besar, jalan terobosan kelapa sawit di Aceh Utara dan beberapa lainnya” ujar lelaki kelahiran Teunom, 23 Tahun silam.

Menurutnya, selama kuliah di Universitas Abulyatama banyak pengalaman yang telah ia peroleh “kampusnya nyaman dengan suasana kekeluargaan” katanya.

Ia berharap, ke depan Universitas Abulyatama menjadi kampus swasta terkemuka di Aceh maupun nasional. “Setahu saya, banyak alumni Abulyatama yang telah sukses, baik dipemerintahan maupun disektor swasta,” kata pemuda yang memiliki hobi traveling dan memotret dengan kamera amatir.

Biodata Pribadi :

Nama Lengkap : Rizal Fahmi

Tempat/Tgl Lahir : Teunom, Aceh Jayar/28 November 1991

Alamat : Jalan Utama Rukoh, Darussalam Banda Aceh.

Nama orang tua :

Ayah : Samsul Jamil Ay

Ibu : Mahsuri

Pekerjaan Orang Tua : Pedagang Mie

Cita-cita : Pengusaha

IG : Rizal_F

khaidir sp

Khaidir; Dosen Pertanian Unaya yang Juga Pengusaha Peternakan

SUASANA Minggu pagi di tengah suasana kampus Universitas Abulyatama yang sepi dan sunyi, terlihat salah satu sosok dosen yang sedang duduk di ruang tunggu biro. Rupanya ia sedang beristirahat setelah rapat akreditasi, di sela-sela kesibukannya yang inilah abulyatama.ac.id ,menyempatkan mewawancarai dosen muda Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama ini.

Ia adalah Khaidir SP, Dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Aulyatama. Ia tak hanya seorang dosen, namun juga seorang pengusaha peternakan sapi Aceh di Desa Blang Ulam Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar

Khaidir SP sosok dosen yang cukup muda, lahir di Aceh Besar, 1 April 1982 (32 tahun). Saat ini ia sedang menyelesaikan program pasca sarjana master pertanian di Unsyiah. Khaidir  ingin memajukan pendidikan di bidang ilmu pertanian terutama bidang Ilmu agroteknologi dan Ilmu hama penyakit tanaman.

Karena keseriusannya itulah maka, ia  sangat menguasai materi yang akan disampaikan kepada seluruh mahasiswanya. Selain masih cukup muda, banyak mahasiswa/i mengaku senang dan akrab setelah bertemu dan belajar dengannya. Ia juga sering memberikan motivasi bagi mahasiswa di mana saja baik diruang kuliah maupun di luar kampus.

Dalam bidang keprofesian, Khaidir SP adalah salah seorang pendiri sekolah advokasi masyarakat pesisir sebagai wujud pengabdian anak bangsa.

Khaidir dikenal mahasiswa sebagai dosen yang bersahabat. Mahasiswa tidak segan-segan berkonsultasi terkait perkuliahan dengannya. Bahkan mahasiswanya kerap diajak ngopi bareng dan mengikuti kegiatan bersamanya.

Berkaitan dengan peningkatan mutu akademik di Fakultas Pertanian, Khaidir sangat mendorong agar program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian terakreditasi di tingkat nasional dan internasional. Ia juga sangat menaruh perhatian terhadap peningkatan fasilitas pendidikan yang dipercayainya sangat berpengaruh terhadap kualitas lulusan.

Khaidir kerap membawa mahasiswanya ke lapangan praktikum yang menjadikan sebagai sarana pendidikan dan penelitian andalan. Caranya dengan membentuk pengabdian masyarakat dalam bentuk desa binaan dan kuliah bersama petani. Mendorong mahasiswanya agar dekat dengan masyarakat dan dapat berwirausahan kelak nantinya

Dengan tekadnya itu, ia membantu mahasiswa untuk dapat memaksimalkan potensinya dalam meningkatkan kualitas lulusan.

Mantan wartawan  ini merupakan salah satu dosen berprestasi . Khaidir berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya 4 tahun di Fakultas Pertanian Unsyiah pada 2007.

Pengalamannya bekerja pun sangat beragam, pada 2005 pernah menjadi mentor penampungan anak-anak pasca tsunami, 2006 menjadi relawan radio komunitas Krueng Raya, 2007 pernah menjadi direktur Koperasi Syariah Malahayati di Kreung Raya.

Prestasi Khaidir juga pernah juara 1 penulisan skripsi tingkat kampusnya pada 2002 dan pernah menjadi mentor UP3I.[]

emil

Emil; Wakil Presiden, Calon Dokter, dan Vokalis

ALUMNUS Mas Ruhul Islam Anak Bangsa Sigli, kabupaten Pidie ini bernama lengkap Muzammil. Lahir di Sigli, 9 September 1994, ia kini mahasiswa semester enam Fakultas Kedokteran Umum Universitas Abulyatama, Aceh Besar.

Emil, begitu ia biasa disapa, termasuk mahasiswa yang aktif di organisasi. Itu sudah dimulainya sejak masih menjadi siswa di sekolah hingga menjadi mahasiswa. Kini ia menjabat sebagai Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Abulyatama.

Hari itu, Kamis 20 Agustus 2015, Emil tengah berada di tengah-tengah hiruk pikuk kantin induk Unaya. Mengenakan kemeja dengan jas kedokteran dipadu dengan celana coklat, raut wajah yang terlihat lelah. Namun ia tetap bersemangat saat menjawab beberapa pertanyaan dari wartawan  abulyatama.ac.id (RB Media Center).

Ia menjelaskan, selain berkutat dengan diktat kuliah juga hobi bermusik. Penyuka musik pop ini bahkan sudah melakoni dunia vokalis sejak duduk di bangku sekolah sampai sekarang. “Selain saya bergelut di Organisasi, saya juga punya hobi dibidang musik dan bernyanyi”

Jadi jangan heran jika melongok ke akun instagram calon dokter ini (@muuzammil) kerap kali mengunggah video bernyanyinya, “saya senang bernyanyi, apalagi jika sudah ngeband bikin enjoy aja sama teman-teman”.

Ketika ditanya nama band dan kapan terbentuk, ia menjawab ” sebenarnya band ini baru terbentuk dan belum ada nama yang pasti”. Band yang digawangi Emil dan kawan-kawan juga baru perform pertama kali di acara Cardinal Art dan Culture. []

murthalamuddin_20150810_194445

Inilah Sosok Pejabat Dinas Pendidikan Alumni Abulyatama

PEJABAT satu ini adalah alumni Universitas Abulyatama (Unaya). Bernama Murthalamuddin SPd MSP, ia kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Pidie. Sebelumnya, ia adalah Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh.

Dilantik menjadi Kepala Dinas Pendidikan Pidie pada 10 Agustus 2015, Bang Mur —begitu ia biasa disapa—adalah lulusan Universitas Abulyatama pada 2001. Ia adalah mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra FKIP Unaya. “Saya bangga jadi alumni Unaya,” kata Bang Mur kepada wartawan abulyatama.ac.id yang mewawancarainya melalui telepon selular pada Rabu 19 Agustus 2015.

Bang Mur mengatakan, Abulyatama adalah universitas swasta terkemuka di Aceh. “Saat saya kuliah dosennya banyak dari Universitas Syiah Kuala dan Institut Agama Islam Negeri (sekarang UIN),” kata pria kelahiran Alue Bili Rayeuk, Aceh Utara, pada 30 November 1970 ini lagi.

Murthala berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, M Kaseem, adalah seorang guru, sedangkan ibunya, Raziah, ya ibu rumah tangga. Anak keempat dari 10 bersaudara ini menjalani hidup layaknya anak-anak di pedesaan Aceh.

Setiap hari sepulang sekolah ia menggembala ternak dan ke sawah. Namun Murthala kecil adalah anak yang rajin membaca. Dan ia bertekad menimba pendidikan tinggi. Itulah sebabnya selepas menjalani sekolah lanjutan atas ia masuk ke perguruan tinggi.

Mengikuti jejak ayahnya yang seorang guru, Murtahala pun masuk ke FKIP Unaya dengan cita-cita menjadi guru juga. Selesai kuliah, Murthala memang menjadi seorang guru sekolah dasar di Aceh Utara. Ia menyambi berbisinis dengan membuka toko elektronik.

Bahkan, Murthala yang juga suka menulis menyempatkan dirinya untuk menjadi juru warta di sebuah media mingguan di Aceh. Belakangan bahkan, ia ikut mendirikan sebuah koran harian di Aceh.

Namun, prestasinya yang menonjol adalah di dunia pendidikan. Dari seorang guru, ia kemudian ditarik ke kabupaten Aceh Utara dan menjadi salah seorang kepala bidang di Dinas Pendidikan Aceh Utara.

Dari sini kemudian ia menjadi Kepala Bagian Pendidikan dan Kebudayaan di Biro Istimewa dan Kesra Pemerintah Aceh. Setahun lalu ia dilantik menjadi Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh. Di Biro Humas, Murthala mampu membuat sejumlah terobosan. Bahkan, banyak membuat kegiatan yang mendongkrak pencitraan Pemerintah Aceh.

Setelah dari Biro Humas Pemerintah Aceh, ia ditarik ke Kabupaten Pidie untuk menjadi Kepala Dinas Pendidikan di sana. Adalah Bupati Sarjani Abdullah yang melihat potensinya dan menempatkannya sebagai tampuk pendidikan di Pidie.

Tentu, pada Murtahala diharapkan akan membuat sejumlah terobosan untuk meningkatkan dunia pendidikan di Pidie. Murthala sendiri pernah mengatakan, tugas utama yang paling berat untuk meningkatkan mutu pendidikan di Aceh harus dimulai dari titik awal. “Yaitu mengembalikan roh pendidikan pada generasi muda Aceh. Sebab itulah akar persoalan pendidikan di Aceh,” katanya.

Bagi Universitas Abulyatama, sosok suami dari Aulia Malahayati ini tentu saja membanggakan. Diharapkan, prestasi ayah dari empat anak ini semakin meningkat, dan itu tentu saja menambah harum nama Universitas Abulyatama.

Murthala juga mengirim pesan kepada mahasiswa Abulyatama untuk meningkatkan terus prestasinya. “Saya kira, untuk saat ini mahasiswa Abulyatama harus menjaga marwah lembaga dan kembali menjadi perguruan tinggi swasta terkemuka di Aceh,” katanya. []

ruslibintang-detik

22 Tahun Universitas Malahayati; Sebuah Renungan Rusli Bintang

UNIVERSITAS Malahayati boleh dikata adalah salah satu perguruan tinggi swasta yang  mentereng di negeri ini. Berada di Jalan Pramuka, Kemiling, Bandar Lampung, kampus berwarna hijau ini berada di atas lahan 84 hektare yang dikelilingi rerimbunan pohon. Di dalam enam blok gedung berlantai delapan bertabur fasilitas akademik yang sangat memadai, bahkan melebihi dari yang dibutuhkan.

Tak hanya fasilitas akademik, juga ada sarana pendukungnya. Misalnya asrama, sarana olahraga seperti golf, badminton, futsal, hingga kolam renang, pencucian pakaian, hingga kuliner.

Bahkan disediakan fasilitas rumah sakit yang terletak beberapa meter di sebelah kiri gerbang kampus yang diberi nama Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin. Sangat panjang jika meguraikan satu per satu fasilitasnya. (Agar Lebih Jelas, Silahkan Klik; Fasilitas Universitas Malahayati).

Didirikan pada 27 Agustus 1993, berjalanlah universitas ini dimulai dari deretan ruko Jalan Kartini, Bandar Lampung, kini kampus ini sudah menempati lahan puluhan hektare dengan berbagai fasilitas. Pada Agustus ini, Universitas Malahayati kembali merayakan ulang tahunnya. (Klik di sini untuk membaca Profil Universitas Malahayati)

Membandingkan antara fasilitas dan riwayat pendirinya, kenyataan ini hampir-hampir mustahil terjadi, namun begitulah fakta yang kita lihat sekarang ini.

Pendirinya, Rusli Bintang, adalah seorang anak yatim yang mengawali kehidupannya dengan sangat berat.

Rusli kecil lahir pada Jumat 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Sedangkan ibunya, ya ibu rumah tangga biasa.

Walau masa kecilnya bukanlah dari kalangan berada, ia mengawali kehidupan yang bahagia. Iya ingat, ayahnya yang mantri kesehatan itu hampir setiap hari keluar masuk kampung mengayuh sepeda untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongannya.

Maklum, mantri kesehatan di perkampungan tentu sangat jarang. Bahkan di masa itu dokter pun belum ada. Jadilah Bintang harapan masyarakat. Tanpa perduli waktu, kadang tengah malam, pun ia tetap akan keluar rumah jika warga membutuhkannya.

Kerab kali, Bintang membonceng Rusli untuk menemaninya membantu orang-orang kampung. “Saya pernah bingung melihat ayah saya sering tak mendapat bayaran apa-apa setelah mengobati orang sakit. Saya pernah menanyakan itu, tapi ia malah menasehati saya agar mengisi hidup dengan rasa sosial. Sebab di situlah letak makna kehidupan yang sesungguhnya. Keberadaan kita berguna bagi sesama manusia,” kata Rusli.

Namun Rusli tak bisa mendengar nasehatnya sampai ia dewasa. Allah berkehendak lain. Bintang kembali ke pangkuan Ilahi di masa usia Rusli masih terlalu dini, ia belum sempat menginjakkan kakinya ke sekolah menengah.

Di tengah-tengah kehilangan seorang ayah, Rusli tiada pilihan lain. Ia sebagai anak sulung harus merawat enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Maka, ia meminta izin dari ibundanya untuk membantu mencari rezeki buat sekolah adik-adiknya.

Maka jadilah Rusli bekerja serabutan.  Ia membagi waktu, siang mengambil upah memanjat kelapa, malam sampai dini hari memanggul pasir di kali. “Kadang-kadang kuli lain heran mengapa punya saya sudah banyak pas mereka datang. Padahal saya mengangkutnya malam hari, mereka mengangkutnya pagi,” kata Rusli tersenyum mengenang masa pahit hidupnya itu.

Namun senyum Rusli mendadak hilang ketika bercerita tentang kisah selanjutnya. Kendati bekerja keras seperti itu, ia ternyata masih kesulitan dalam memenuhi biaya sekolah salah satu adiknya yang saat itu sedang mau menghadapi ujian akhir sekolah SMP. Padahal yang dibutuhkan adalah uang seribu rupiah.

Rusli meminta pada adiknya bersabar. “Ia adik saya yang pintar di sekolah,” kata Rusli. Bercerita soal ini, Rusli mulai meneteskan air matanya. Sang adik tak bisa ikut ujian jika belum membayar uang sekolah. Maka Rusli pun berusaha mencari uang ke sana ke mari, hingga uang sekolah adiknya didapat.

Namun sang adik sudah terlanjur depresi, ketakutan, dan kesedihan. Si adik ketakutan tidak bisa mengikuti ujian gara-gara belum bayar uang sekolah, kondisi tersebut semakin menyiksanya dan membuatnya sakit. Rusli pun datang ke sekolah membayar uang sekolah itu.

Ketika Rusli pulang ke rumah, ia melihat adiknya sudah tergeletak di atas tikar. Melihat adiknya yang terlanjur sakit parah, Rusli sedih bukan main. Apalagi ketika ia melihat adiknya muntah-muntah.

Sambil menangis, anak yatim ini menggendong adiknya. Ia membawanya ke puskesmas dengan berjalan kaki pada malam hari. Bahkan adiknya yang dalam gendongannya mulai mengeluarkan cairan kotoran sampai berlepotan di punggung Rusli.

Rusli terus berlari agar cepat tiba, namun sesampai di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi. “Dokter mengatakan jika stres, sedih, dan ketakutan tidak bisa mengikuti ujian yang dialami adiknya membuat dia sakit dan meninggal,” kata Rusli. Cerita itu memang membuat hancur hati Rusli. Ia tak mampu melanjutkan kisah hidupnya.

Sejumlah teman-teman dekat Rusli bercerita, sejak itu ia bertekat untuk mendirikan sekolah dan membantu anak-anak yatim. Maka berbagai kerja pun dilakoni. Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Kerja keras Rusli mengantarnya ke sebuah perusahaan konstruksi. Dari sini ia belajar menjadi kontraktor. Belakangan ia menjadi pengusaha konstruksi. Bahkan, sebuah perusahaan semen PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis, mempercayai Rusli sebagai satu-satunya pengusaha yang mendistribusikan semen.

Belakangan Rusli menjual semua truknya dan asset perusahaan, lalu mendirikan pesantren. Di sini ia mulai menampung anak-anak yatim. Kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di dekat rumahnya di Lampoh Keudee, Ulee Kareng Aceh Besar. Ini menjadi perguruan tinggi swasta tertua di Aceh.

Setelah itu barulah ia mendirikan Universittas Malahayati di Bandar Lampung pada 27 Agustus 1993, menyusul kemudian Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

Kini puluhan ribu mahasiswa belajar di berbagai kampus yang di dirikannya. Di antara para mahasiswa itu sungguh ramai anak-anak yatim yang mendapat beasiswa. Biaya kuliah digratiskan, biaya hidup pun ditanggung. Setelah selesai kuliah pun mereka ditawarkan pekerjaan di tempatnya.

Anak-anak yatim yang belum masuk bangku kuliah disantuninya. Bahkan, ibu-ibu anak yatim pun dibantu, mereka bekerja dan mendapat gaji bulanan—apapun yang bisa dikerjakan tak masalah— di kampus-kampus yang didirikannya itu.

Di setiap bulan ramadhan, tim dari kampus-kampus di terjun ke berbagai daerah untuk menyalurkan santunan. Mereka datang ke berbagai rumah anak yatim. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH pada ramadhan tahun ini yang berkeliling dari Aceh, Sumut, Padang, dan Lampung, untuk menyalurkan santunan anak yatim.

Miliaran rupiah per bulan untuk anak-anak yatim di berbagai tempat di negeri ini kini menikmati hasil dari kerja keras Rusli Bintang.

Selamat ulang tahun Universitas Malahayati. Renungkanlah jejak-jejak yang pernah dilalui pendirinya; Rusli Bintang. Sebuah jejak panjang mengurai cerita yang sarat makna kehidupan. []

lyra

Lira Nurvita: Unaya adalah Rumoh Ilmu dan Budaya Aceh

SUASANA kampus hijau Universitas Abulyatama (Unaya), Aceh Besar, sangat tenang. Hari itu, Kamis 13 Agustus 2015, cuaca di sini sedang cerah. Birunya langit ditingkahi awan yang terbang searah beriringan laksana lukisan yang melingkupi kampus ini.

Pemandangan ini tampak serasi dengan rerimbunan pohon yang daunnya menari-nari digelitik embusan angin sepoi-sepoi makin menambah nuansa kesejukan di kampus kami. Mahasiswa yang hilir mudik laksana kembang yang mewarnai kampus nan permai ini.

Di salah satu pojok ada seorang mahasiswi yang sedang menyibak lembaran buku di tangannya. Matanya menyoroti kata demi kata yang tersusun berbaris-baris di dalamnya. Sesekali ia membenahi letak hijab yang menutupi kepalanya. Berkulit bersih, ia menjadi daya tarik tersendiri.

Hari itu, Wartawan abulyatama.ac.id menghampirinya untuk berbincang-bincang. Kendati mengusik keseriusannya membaca buku, namun ia tak keberatan diajak bicara.  “Lira Nurvita,” ia menyebut nama lengkapnya sembari tersenyum.

Lira, begitu ia biasa disapa. Mahasiswi semester tahap akhir ini sedang menyelesaikan skripsi, mengambil kosentrasi Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama. Ia juga aktivis kampus, gadis cantik dan muslimah ini juga tercatat sebagai Bendahara Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM Unaya) dan sangat sukses dalam hal akademik, sebut saja pada saat semester 4 dan 6 ia mendapatkan IP 4,00. Wow sungguh luar biasa bukan.

Ia berbagi cerita tentang Unaya. Bagi Lira, Unaya punya karakter yang unik dibandingkan dengan kampus-kampus swasta lain yang ada di Aceh. Ia menyebut Unaya memiliki banyak dosen senior maupun dosen muda, mereka rata-rata punya sifat lowprofile selalu membuka diri bagi mahasiswa untuk bisa sharing baik masalah internal kampus maupun eksternal kampus.

Berikut hasil wawancara Lira dengan Aldian Makara dari web abulyatama.ac.id (RB Media Center).

Mengapa memilih kuliah di Universitas Abulyatama (Unaya)?

Menurut kacamata saya sebagai mahasiswi, Unaya tidak diragukan lagi kualitasnya dari segala sisi, Unaya sudah punya nama besar dari dulu sampai sekarang, jadi Unaya benar-benar the real “Rumoh Ilmu dan Budaya” nya Aceh. Jadi tidak hanya ilmu yang bisa didapatkan tetapi juga tentunya budayanya juga selalu melekat diberbagai sisi.

Apa kelebihan kuliah di Unaya?

Pastinya areal kampusnya yang cukup luas, ilmunya sangat lengkap, banyak prestasi juga, banyak ukm, Fasilitas juga sangat memuaskan. Tidak hanya itu yang pastinya kekuatan alumni setiap tahunnya yang tersebar di Aceh maupun diluar. Dan yang paling saya suka di Unaya sangat banyak tanaman bunga-bunga dan pepohonan yang rimbun dan indah, pokoknya cocok buat cewek-cewek yang bisa eksis untuk berfoto ria disini hehe.

Apa saja yang sudah didapat selama kuliah di Unaya ?

Yang pasti ilmunya dulu ya, karena ini niat yang paling dasar, juga pengalaman berorganisasi baik ditingkat program studi, fakultas maupun universitas.

Kenapa memilih unaya sebagai modal masa depan ?

Bukan hanya yakin, saya juga banyak bertemu alumni Unaya khususnya alumni Fakultas Pertanian yang sudah sukses, ada yang jadi kepala dinas, konsultan, dan pengusaha tentunya berkualitas, berjiwa besar, dan berakhlak mulia serta bertqwa kepada Allah SWT.

Intinya saya sangat terpukau sama Universitas Abulyatama, umurnya boleh sudah tua tetapi jiwanya masih bersemangat muda dalam membangun Aceh.

Profil Lira Nurvita :

Nama : Lira Nurvita (C’Lyra Putri Yusra)

Nama Panggilan : Lira

Tempat, Tgl/Lahir : Idi, 07 Agustus 1993

Alamat Sekarang : Dusun Barat, Kopelma Darussalam, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh

Asal : Aceh Timur

Pendidikan :

1. SD Negeri 1 Peudawa Puntong

2. SMP Negeri 1 Idi Rayeuk Aceh Timur

3. SMK Negeri 1 Peureulak

Nama Ayah : Yusra Sulaiman

Pekerjaan : Petani

Cita-Cita : Entrepreneur Pertanian

Hobi : Baca Buku

Wiratmadinata-2-1

Wiratmadinata; Dekan Fakultas Hukum yang Penyair Juga Penulis

DI Universitas Abulyata, Aceh Besar, ada sosok tokoh yang menarik. Bernama lengkap Wiratmadinata SH MH, ia adalah Dekan Fakultas Hukum Universtas Abulyatama.

Sederet pengalaman telah dia lalui baik selaku seniman, wartawan serta pegiat Lembaga Swadaya Masyarakat.

Sebagai seniman, ia sudah berprestasi di level nasional, selaku wartawan ia memulainya di Serambi Indonesia kemudian pernah menjadi Wartawan GATRA dan GAMMA di Jakarta. Ia juga pernah di Lembaga Swadaya Masyarakat.

Sebagai akademisi, ia adalah seorang dosen yang meniti karier di Universitas Abulyatama hinggi kini telah menjadi dekan fakultas hukum di sini.

Pria kelahiran Takengon pada 29 Juli 1968 ini punya latar belakang keilmuan dibidang Hukum dengan memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Muhammadiyah Banda Aceh, tahun 2000 silam serta beroleh gelar Magister Hukum dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh di tahun 2009.

Untuk lebih mengenal siapa Wiratmadinata, berikut daftar Riwayat Hidup (Curriculum Vitae) nya:

1.   Name WIRATMADINATA

2.   Date of Birth :  July 29th 1968 –Nationality: Indonesian

3.   Education : Law Magister (Indonesia)

Institution, country Degree(s) obtained Date of obtainment
Faculty of Law, Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh Magister of Law (Magister Hukum) 2009
Faculty of law, Muhammadiyah University of Aceh, Banda Aceh Bachelor of Law (Sarjana Hukum) 2000
School for English Teacher Training, Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh Teacher Training Diploma program 1991

4.   Membership of Professional Associations:

  • Executive Secretary (Facilitator) of Forum Silaturahmi dan Komunikasi Peserta Pemilu Aceh 2009 (Aceh Political Party Forum for Peace Election in Aceh 2009)
  • Advisory Board Member of Aceh Reintegration Body (BRA-Badan Reintegrasi Aceh) 2005-2009
  • Trustee Board of Komunitas Tikar Pandan (Tikar Pandan Community). 2005-present.
  • Vice Coordinator of Indonesian Journalist Association-Reformation (PWI-Reformasi) 2002-20005.
  • Chairman of SAJAK (The Union of Aceh Artist in Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi), Jakarta, 2000-2003
  • First Chairman of Banda Aceh Art Council (DKB), Banda Aceh. 1997-2000

Awards:

  • H.B. Jassin Award from The H.B. Jassin Museum and The Jakarta Arts Institute (1993)
  • Award from The Ministry Of Cultural and Educational Affair of Republic Indonesia (1989)

5.  Other Training:

Institution, country Title of Training Date of training
Germany Foreign Department/Europe Academy Berlin, Berlin, Federal Republic of Germany. “Coming to terms with history”-Learning from the Germany past history under the two dictatorship. 7-17 November 2010
University Of Maryland, College Park, USA Training in advance conflict management at CIDCM (Centre for International Development and Conflict Management, six (months) intensive Spring and Summer program (February to August) February-July 2008
University of New South Wales, Sydney, Australia Training in International Human Rights Law and Peoples Diplomacy at Diplomacy Training Program (An intensive program; January and February). January-February 2000
The Asia Foundation, Cirebon Gender Training for Male Activists 2007
The Asia Foundation, Bogor TOT Gender Training 2008
INSPIRIT, Bali Vibrant Training for Facilitator 2007
INSPIRIT, Medan Vibrant Training for Facilitator (Advanced) 2008
IMPACT-UNDP, Medan Training System Dynamic, and Regional Analysis 2006
Various Other various training on; NGO Management, journalism, and creative writing 1989-2000
YLBHI-Jakarta, Indonesia International Human Rights Law and UN System 1998

 

Participation to International Forums
Hosted by CMI, Helsinki and Tampere, Finlandia Keynote Speaker in International Seminar on Future of Aceh; Sustainability Peace and Economic Development for Aceh (with Indonesian and GAM delegation) 2008
Jakarta, Indonesia International Conference on “Promoting Financial Accountability in Managing Funds Related to Tsunami, Conflict and Other Disasters 25-27 April 2005
Triple Eleven, Brussels, Belgium International Conference on ECOSOC 2000
UN, Geneva, Swiss The Annual Meeting of the High Commission of the Human Rights (intervention session) 2000
Negeri Sembilan, Malaysia Hari Puisi National (the 4th National Poetry Day) 1998
PRESS, Singapore, Malaysia, Thailand, Hong Kong Various press assignment 2002 – 2004
Educational Decade (UN Katmandu, Nepal) UN’s Conference on Human Rights 1998
Centre for International Development and Conflict Management & TAF Washington, College Park-MD-USA Keynote speaker; “An evolving model for Aceh conflict transformation” 2008
Hosted by TAF San Francisco San Francisco, CA-USA Keynote speaker “ An evolving model for Aceh conflict transformation and Peace Building in Aceh)”. 2008
Hosted by King Pradjadiphok Institute, Thailand &TAF Thailand Keynote Speaker; “An evolving model for Aceh Conflict Transformation and Peace Building in Aceh” 2008
Hosted by The Bangsamoro Institute and TAF Manila Mindanao, The Philippines Keynoted Speaker; “An evolving model for Aceh conflict transformation and Peace Building in Aceh”. 2008

6.   Countries of Work Experience:

Country Date from – Date to
Indonesia 1989-present
Singapore, Malaysia, Thailand, Hongkong 1998, 2002, 2003, 2004
U S A Feb- 2009-august 2009

7.   Languages:

Language Speaking Reading Writing
Indonesian Excellent Excellent Excellent
English Good good Good
Aceh (Aceh Coastal) Excellent Excellent Excellent
Gayo (Aceh Highland) Excellent Excellent Excelent
Java Good good good

8.   Employment Record:

Date From – Date to Employer Positions held
April 2009- to date International Centre for Transitional Justice (ICTJ) Aceh Program Coordinator
June 2009—January 2010 Aceh Justice Project (AJP)-United Nations Development Program (UNDP) in cooperation with Faculty of Law Syiah Kuala University, Banda Aceh Program Manager
2008 University IAIN Ar-Ranirry, Darussalam, Banda Aceh; “Seminar on Peace Journalism” Visiting Lecturer
2008 The Asia Foundation Fellows in Conflict Resolution Fellows in Conflict Resolution
June 2006-June 2009 Forum LSM Aceh (an umbrella organization of 60 local NGO, Aceh) Executive Director
2005  to date IMPACT, Banda Aceh (Part-Time) Trainer/facilitator/consultant AssociateSpecialist in; Peace building Training, Human rights training, Conflict Study Consultant, CSO/NGO Management training, Training for Trainer, Creative Writing training, negotiation and mediation and media training.
2005-2006 Forum LSM Aceh Deputy Director
2002-2005 GATRA Weekly News Magazine, Jakarta Advertorial Editor
2000-2002 GAMMA Weekly News Magazine, Jakarta News Editor
1998-2001 Aceh NGO Coalition for Human rights Campaign and networking manager
1998-2000 Harian Suara Pembaruan, Banda Aceh Journalist
1994-1998 Local and international media, Banda Aceh Freelancer
1989-1993 Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh Journalist

Dosen FT

Ini Dosen Unaya Peneliti Reaktor Fluidisasi Biomasa

DI bangku di depan Fakultas Teknik beberapa orang sedang asik berdiskusi, entah apa yang dibicarakan tetapi dari jauh sudah terlihat bahwa diantara orang-orang tersebut terdapat beberapa orang mahasiswa dan juga dua orang dosen.

Saya mendekati kelompok orang tersebut dan kemudian menyalami salah satu dari mereka yaitu Muhtadin, ST., MT. sebenarnya disana masih ada satu orang dosen lagi untuk saya sapa yaitu Mahyudin, ST., MT tetapi karena melihat beliau sedang asik berdiskusi dengan mahasiswa maka saya tidak menyapa beliau karena takut terganggu konsentrasinya.

Memakai baju kemaja berwarna putih dengan lengan digulung sampai ke siku, Bang Muhtadin, begitu ia biasa dipanggil memulai pembicaraan dengan menanyakan apa kabar kepada saya. Tampilan wajah yang serius dan santai menemani pembicaraan kami dibangku yang terbuat dari beton tersebut, Rabu (9/06/2015).

Tak lama, kami pun pindah menuju ruang beliau yang ada di fakultas Teknik. Setalah mengambil posisi duduk yang nyaman, kami melajutkan pembicaraan, beliau bercerita banyak tentang fakultas Teknik Unaya semenjak masih mahasiswa hingga sekarang sebagai dosen di tempat yang sama.

Kala itu, Bang Muhtadin melanjutkan, Muhtadin melakukan penelitian terhadap reaktor Fluidisasi Biomasa yang berfungsi untuk menghasilkan uap dibawah bimbingan Ir. Hamdani, MT., bersama Muhtadin kala itu, Faisal, ST MT, dan Mahyudin, ST.,MT, sebagai tim mereka secara bersama-sama melakukan penelitian.

Bang Muhtadin sendiri melakukan penelitian dibidang uji eksperimental pembakaran biomasanya. Pria kelahiran Idi, 23 September 42 Tahun silam itu menuturkan, Reaktor Fluidisasi Biomasa tersebut merupakan kepunyaan dari Dr. Mahidin dosen Teknik Kimia Unsyiah yang dipercayakan untuk diteliti kepadanya, mereka terus berkreasi melalui serangkaian percobaan terhadap alat tersebut, hasilnya sangat memuaskan

Pembimbing mereka saat itu menyampaikan dari beberapa penelitian yang pernah dilakukannya pada alat yang sama, baru kali bisa terjadi pembakaran dengan hasil diatas 1000 derjat celsius.

Untuk mendapatkan hasil demikian, Muhtadin melakukan modivasi didasarnya bernama Perforated Plate, dimana alat tersebut merupakan lempengan-lempengan plate yang dimodifikasi berupa lubang-lubang untuk meneruskan udara yang ditiupkan dari blower. Kemudian ada satu alat didalamnya yang saya buat untuk mengarahkan udara yang ditiup menjadi cukup, dan ini mempercepat proses pembakaran “untuk 2,5 kilogram bahan bakar, kami hanya membutuhkan waktu dalam hitungan detik” ujarnya.

********

Sosok Muhtadin memang dikenal dekat dengan mahasiswa, suami dari Maryati, ST., MT ini sering diajak berdiskusi oleh mahasiswa “bahkan yang tidak penting pun didiskusikan” katanya sambil tertawa.

Gayanya yang santai dengan badan berisi ditambah berpakaian yang tampil apa adanya menampakkan ciri khasnya sebagai orang teknik, namun begitu, dia adalah sosok yang terbuka terhadap siapa saja.

Tidak hanya dilingkungan kampus, di Ajuen Lamhasan, tempat dia menetap saat ini juga aktif dikegiatan-kegiatan kemasyarakatan, iya pernah menjabat sebagai ketua pemuda dan panitia Pemilu dan juga pemilihan Geuchik setempat. Selain itu, awal-awal Tsunami Muhtadin juga aktif di memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat melalui Australia Indonesia Partnership for Reconstruction and Development-LOGICA medio 2006 sampai 2007. Saat ini Muhtadin dipercayakan sebagai Kepala Laboratorium Jurusan Teknik Mesin Universitas Abulyatama.

Menghadapi mahasiswa di perkuliahan, pria yang pernah aktif di Senat Fakultas Teknik Unaya tahun 1994-1995 ini punya metode tersendiri, meski berlatar belakang Teknik, Muhtadin selalu menggunakan pendekatan moral “ini sangat penting menurut saya, karena pendekatan moral akan selalu berbekas kepada mahasiswa tersebut” ujarnya.

Soal pengalaman mengikuti training, Muhtadin punya segudang pengalaman, Teknologi of Partisipation (TOP) Training, AIPRD-LOGICA Porject in PT. ARUN LNG Housing Complex, di Lhokseumawe tahun 2006, Village Spatial Planning and Photographer Orientation Training AIPRD-LOGICA di Banda Aceh tahun 2006, Job Training in PT.AAF Lhokseumawe tahun 1997 adalah beberapa dari sekian banyak training yang pernah diikutinya.

Muhtadin punya pandangan khusus untuk pemuda, regenarasi adalah satu hal yang menjadi kewajiban baginya, baginya regenarasi kepemudaan harus disiapkan dari sekarang, baik itu di lembaga pendidikan maupun ditempat lainnya, karena hidup ini akana ada akhirnya, “ jadi visi saya jelas, bahwa sesorang itu harus tahu berasal dari mana dan akan berakhir dari mana” tutupnya.

Biodata :
Nama : Muhtadin, ST., MT
Tempat Tgl. Lahir : Idi, 23 September 1973
Pendidikan : STM Negeri Bireuen Tahun 1991
S1 Teknik Mesin Unaya Tahun 2000
S2 Teknik Mesin Unsyiah Tahun 2013
Alamat : Komplek Perumahan Ajuen Lamhasan. Lr. Dahlia No. 3 Kec. Peukan Bada Kab. Aceh Besar.
Email : adeenisme@gmail.com