rusli-bintang2

Rektor Kadafi Memutar Memori Tentang Rusli Bintang

“JIKA diibaratkan manusia, Universitas Malahayati kini melangkah menuju kedewasaan, ia sudah mengarungi dan melalui jiwa kekanak-kanakan dan juga masa remaja yang penuh gejolak dalam mencari jati diri,” kata Rektor Universitas Malahayati, Dr Muhammad Kadafi SH MH, pada pidato malam puncak Dies Natalis Universitas Malahayati di Graha Bintang, tadi malam.

Pernyataan Kadafi itu disampaikan di hadapan seluruh dosen, mahasiswa, karyawan, dan juga keluarganya yang hadir pada malam itu. Suasana terasa hening tatkala Kadafi mengajak semua untuk sejenak memotar memori ke titik awal berdirinya Universitas Malahayati pada Jumat 27 Agustus 1993.

Keliharan sebuah kampus di Bandar Lampung dari seorang “bidan” bernama H. Rusli Bintang yang juga lahir pada hari Jumat pada 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Rusli yang menjadi bidan, melahirkan, dan kemudian membesarkan Universitas Malahayati.

Berawal dengan merangkak-rangkak dari beberapa ruko di Jalan Kartini, kini kampus ini berdiri megah di Jalan Pramuka Nomor 27, Bandar Lampung. Berada dalam lahan 84 hektare, di sini berdiri sejumlah gedung berlantai delapan.

Beragam fasilitas ada di sini, mulai dari fasilitas akademik seperti lab kesehatan hingga non akademik seperti sarana olah raga. Bahkan, ada rumah sakit yang melengkapinya yaitu Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin. Hingga kini Rusli masih sangat perhatian pada kampus ini.

Sedikit saja kampus ini meriang, maka Rusli akan merasakan demam, dan menjalar ke berbagai sendi-sendi kehidupannya. Bahkan ia juga pontang-panting mencari obat mujarab agar kita tetap segar.

Ia telah membuat tonggak dalam kehidupannya. Mendirikan sebuah menara kehidupan bagi jutaan orang, yaitu untuk dunia pendidikan dan juga anak-anak yatim. Sebuah menara kehidupan yang diisi dengan cinta kasih antar sesama manusia dan lingkungannya.

Itulah sebabnya, Kadafi mengajak semua untuk merenungi kilas balik jerih payah yang sudah dilakukan oleh semua tokoh-tokoh kampus agar bisa melangkah ke depan dengan mantap.

***

“PAK Rusli Bintang adalah orang tua kita bersama. Beliau membangun kampus ini dan juga beberapa kampus lainnya, bukanlah untuk kepentingan pribadi, tetapi adalah untuk pengabdian beliau dalam menjalani kehidupan. Itulah sebabnya, semua kampus yang didirikannya selalu mengutamakan kepentingan sosial, terutama untuk menyantuni anak-anak yatim.”

Kalimat itu juga dari Kadafi. Hanya saja itu disampaikannya pada Senin 17 Agustus 2015. Saat itu, Universitas Malahayati sedang memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-70, yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan HUT Universitas Malahayati.

Suasana pembukaan HUT Malahayati memang terasa lebih merasuk, sebab dilakukan di dekat Danau Yatim Universitas Malahayati, berlangsung sederhana, makan bersama di bawah tenda yang tersusun di jalan tepi danau. Kadafi mengatakan yang paling penting dari dies natalis ini tak lebih adalah sebuah perenungan dari sebuah perjalanan panjang kampus ini.

“Jejak kampus ini tak lepas dari langkah-langkah yang sudah ditempuh Pak Rusli. Jika kita lihat langkah-langkah yang ditempuhnya, tentu tak bisa kita cerna dengan logika sederhana. Bagaimana ia yang anak yatim, hanya sekolah tamatan SMA, namun bisa mendirikan empat kampus di berbagai daerah,” katanya.

Sejenak Kadafi menceritakan riwayat hidup Rusli Bintang. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga sederahana dan bahagia. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Dari ayahnya yang berjiwa sosial, dan sang ibu yang penyayang itulah tertanam rasa kasih sayang pada sesama.

Namun di saat usianya yang masih belia, Allah berkehendak lain. Bintang kembali kepangkuan Ilahi, tinggallah Rusli bersama ibunya dan enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Waktu itu, Rusli masih duduk di kelas satu SMA Muhammadiyah.

Sejak itu, Rusli menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja serabutan untuk membantu adik-adiknya bersekolah.

Hingga kemudian, ia menerima cobaan lagi, tatkala seorang adiknya, Darmawan Bintang, meninggal dunia lantaran stres tak bisa ikut ujian akhir sekolahnya di SMP Iskandar Muda, pada 1970. “Waktu itu, ia membutuhkan biaya sekolah hanya seribu rupiah. Saya minta waktu untuk mencarinya, saat uang saya dapatkan, adik saya sudah terlanjur sakit lantaran memikirkan sekolahnya,” katanya.

Melihat sang adik tergolek lemah di atas tikar. Anak yatim ini membopongnya membawa ke puskesmas terdekat. Rumah Rusli di Lampoh Keudee adalah kawasan perkampungan, saat itu kendaraan umum tak ada yang masuk kampung.

Jadilah Rusli menggendong adiknya untuk dibawa ke puskemas. Ia berjalan kaki berlari-lari membawa adiknya. Bahkan dalam perjalanan, pungung Rusli sudah dipenuhi kotoran dan muntah sang adik yang sakit parah. Setibanya di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi.

Sejak itu Rusli bertekad untuk mengubah nasib anak-anak yatim. Maka berbagai kerja dilakoninya, Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Hingga kemudian Rusli menjadi pengusaha konstruksi dengan menggunakan CV Desa Jaya pada 1977. Setahun kemudian, ia sudah memiliki perusahaan sendiri bernama CV Kumita Karya. Badan usaha ini, ditingkatkan statusnya menjadi badan hukum PT Kumita Karya pada 1979.

Setahun bersama PT Kumita Karya, Rusli sudah menyantuni 750 anak yatim di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Bisnis Rusli berkembang dengan pesat, bahkan menjadi satu-satunya pengusaha angkutan yang dipercaya menjadi pendistribusi semen hasil produksi PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis.

Sukses berbisnis tak membuat Rusli melupakan janji, lalu ia mendirikan Yayasan Abulyatama pada 1983. Dari sinilah ia kemudian mendirikan sekolah dasar, SMP, SMA, dan Pesantren Babun Najah di Ulee Kareng Banda Aceh. Hingga kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di Lampoh Keudee, Aceh Besar. Kampus ini kini sangat berkembang, dan berbagai fasilitas berada dalam lahan seluas 54 hektare.

Sebagaimana arti dari nama Abulyatama, maka Rusli pun menjadi ayahnya anak-anak yatim. Ia menyantuni anak yatim, menyekolahkan mereka, bahkan menampungnya bekerja di seluruh unit usaha yang didirikannya.

Kemudian, Rusli mendirikan Universitas Malahayati dengan badan hukum Yayasan Alih Teknologi di Bandar Lampung. Selanjutnya ia membangun Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

***

Di atas mimbar yang berada di sudut kiri panggung di Graha Bintang, Kadafi masih melanjutkan pidatonya. Ia mengatakan perjalanan panjang Universitas Malahayati tentu diwarnai berbagai dinamika.

Seperti halnya manusia, dalam sejarah peradabannya sering dipenuhi berbagai pertentangan dan sinergi. Laksana dua buah kutub medan magnet yang menimbulkan daya tolak satu sama lain atau dua muatan listrik yang saling tarik menarik yang menghasilkan energi, lalu dari sini bisa menjadi penerangan atau kerusakan.

“Pertanyaannya adalah bagaimana kita tetap menjaga dua muatan listrik ini tetap saling tarik menarik dan menghasilkan penerangan bagi kampus ini?” Kadafi bertanya.

Di kampus Universitas Malahayati ada ribuan orang dengan berbagai pola fikir yang berbeda-beda, dan juga sifat dan karakter yang beragam. Jadi, kata Kadafi, dari sini bisa menghasilkan sebuah energi besar untuk mendorong Universitas Malahayati menjadi lembaga pendidikan yang sangat diperhitungkan. “Intinya, adalah menyatukan pikiran ke arah yang positif,” katanya lagi.

“Saya percaya pada kekuatan berpikir ini. Jika kita sama-sama memadukan kekuatan berpikir, melahirkan ide-ide positif, dan kemudian mewujudkannya, maka Insya Allah akan berwujud pada sebuah makna kehidupan yang bernilai tinggi di Universitas Malahayati ini,” kata Kadafi.

Lalu, Kadafi mengajak seluruh civitas akademika untuk menghadirkan refleksi dari perjalanan kampus ini, atau yang paling singkat adalah perjalanan per individu kita di kampus ini.

Benar, refleksi dalam ilmu eksak adalah perubahan arah rambat cahaya ke arah sisi asalnya, setelah menumbuk antarmuka dua medium. Refleksi dalam kehidupan adalah proses merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan, tujuannya untuk mendapatkan kekuatan dalam melangkah ke depan.

Filsuf Yunani, Socrates, menyebutkan “hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi.” Mari kita merenungkannya, dan mari kita merasa-rasakannya, dan marilah kita wujudkan cita-cita kita bersama.

Cita-cita untuk mewujudkan makna keberadaan kita di Universitas Malahayati. Lalu, kita bisa mewujudkan makna keberadaan Universitas Malahayati di negeri ini. Dari sini, bisa menilai seperti apa sebenarnya diri kita ini.

Apakah kita sosok yang memancarkan cahaya yang menerangi kehidupan, atau kita adalah penyebab kegelapan. Mari merenungkannya. []

ruslibintang-detik

22 Tahun Universitas Malahayati; Sebuah Renungan Rusli Bintang

UNIVERSITAS Malahayati boleh dikata adalah salah satu perguruan tinggi swasta yang  mentereng di negeri ini. Berada di Jalan Pramuka, Kemiling, Bandar Lampung, kampus berwarna hijau ini berada di atas lahan 84 hektare yang dikelilingi rerimbunan pohon. Di dalam enam blok gedung berlantai delapan bertabur fasilitas akademik yang sangat memadai, bahkan melebihi dari yang dibutuhkan.

Tak hanya fasilitas akademik, juga ada sarana pendukungnya. Misalnya asrama, sarana olahraga seperti golf, badminton, futsal, hingga kolam renang, pencucian pakaian, hingga kuliner.

Bahkan disediakan fasilitas rumah sakit yang terletak beberapa meter di sebelah kiri gerbang kampus yang diberi nama Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin. Sangat panjang jika meguraikan satu per satu fasilitasnya. (Agar Lebih Jelas, Silahkan Klik; Fasilitas Universitas Malahayati).

Didirikan pada 27 Agustus 1993, berjalanlah universitas ini dimulai dari deretan ruko Jalan Kartini, Bandar Lampung, kini kampus ini sudah menempati lahan puluhan hektare dengan berbagai fasilitas. Pada Agustus ini, Universitas Malahayati kembali merayakan ulang tahunnya. (Klik di sini untuk membaca Profil Universitas Malahayati)

Membandingkan antara fasilitas dan riwayat pendirinya, kenyataan ini hampir-hampir mustahil terjadi, namun begitulah fakta yang kita lihat sekarang ini.

Pendirinya, Rusli Bintang, adalah seorang anak yatim yang mengawali kehidupannya dengan sangat berat.

Rusli kecil lahir pada Jumat 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Sedangkan ibunya, ya ibu rumah tangga biasa.

Walau masa kecilnya bukanlah dari kalangan berada, ia mengawali kehidupan yang bahagia. Iya ingat, ayahnya yang mantri kesehatan itu hampir setiap hari keluar masuk kampung mengayuh sepeda untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongannya.

Maklum, mantri kesehatan di perkampungan tentu sangat jarang. Bahkan di masa itu dokter pun belum ada. Jadilah Bintang harapan masyarakat. Tanpa perduli waktu, kadang tengah malam, pun ia tetap akan keluar rumah jika warga membutuhkannya.

Kerab kali, Bintang membonceng Rusli untuk menemaninya membantu orang-orang kampung. “Saya pernah bingung melihat ayah saya sering tak mendapat bayaran apa-apa setelah mengobati orang sakit. Saya pernah menanyakan itu, tapi ia malah menasehati saya agar mengisi hidup dengan rasa sosial. Sebab di situlah letak makna kehidupan yang sesungguhnya. Keberadaan kita berguna bagi sesama manusia,” kata Rusli.

Namun Rusli tak bisa mendengar nasehatnya sampai ia dewasa. Allah berkehendak lain. Bintang kembali ke pangkuan Ilahi di masa usia Rusli masih terlalu dini, ia belum sempat menginjakkan kakinya ke sekolah menengah.

Di tengah-tengah kehilangan seorang ayah, Rusli tiada pilihan lain. Ia sebagai anak sulung harus merawat enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Maka, ia meminta izin dari ibundanya untuk membantu mencari rezeki buat sekolah adik-adiknya.

Maka jadilah Rusli bekerja serabutan.  Ia membagi waktu, siang mengambil upah memanjat kelapa, malam sampai dini hari memanggul pasir di kali. “Kadang-kadang kuli lain heran mengapa punya saya sudah banyak pas mereka datang. Padahal saya mengangkutnya malam hari, mereka mengangkutnya pagi,” kata Rusli tersenyum mengenang masa pahit hidupnya itu.

Namun senyum Rusli mendadak hilang ketika bercerita tentang kisah selanjutnya. Kendati bekerja keras seperti itu, ia ternyata masih kesulitan dalam memenuhi biaya sekolah salah satu adiknya yang saat itu sedang mau menghadapi ujian akhir sekolah SMP. Padahal yang dibutuhkan adalah uang seribu rupiah.

Rusli meminta pada adiknya bersabar. “Ia adik saya yang pintar di sekolah,” kata Rusli. Bercerita soal ini, Rusli mulai meneteskan air matanya. Sang adik tak bisa ikut ujian jika belum membayar uang sekolah. Maka Rusli pun berusaha mencari uang ke sana ke mari, hingga uang sekolah adiknya didapat.

Namun sang adik sudah terlanjur depresi, ketakutan, dan kesedihan. Si adik ketakutan tidak bisa mengikuti ujian gara-gara belum bayar uang sekolah, kondisi tersebut semakin menyiksanya dan membuatnya sakit. Rusli pun datang ke sekolah membayar uang sekolah itu.

Ketika Rusli pulang ke rumah, ia melihat adiknya sudah tergeletak di atas tikar. Melihat adiknya yang terlanjur sakit parah, Rusli sedih bukan main. Apalagi ketika ia melihat adiknya muntah-muntah.

Sambil menangis, anak yatim ini menggendong adiknya. Ia membawanya ke puskesmas dengan berjalan kaki pada malam hari. Bahkan adiknya yang dalam gendongannya mulai mengeluarkan cairan kotoran sampai berlepotan di punggung Rusli.

Rusli terus berlari agar cepat tiba, namun sesampai di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi. “Dokter mengatakan jika stres, sedih, dan ketakutan tidak bisa mengikuti ujian yang dialami adiknya membuat dia sakit dan meninggal,” kata Rusli. Cerita itu memang membuat hancur hati Rusli. Ia tak mampu melanjutkan kisah hidupnya.

Sejumlah teman-teman dekat Rusli bercerita, sejak itu ia bertekat untuk mendirikan sekolah dan membantu anak-anak yatim. Maka berbagai kerja pun dilakoni. Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Kerja keras Rusli mengantarnya ke sebuah perusahaan konstruksi. Dari sini ia belajar menjadi kontraktor. Belakangan ia menjadi pengusaha konstruksi. Bahkan, sebuah perusahaan semen PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis, mempercayai Rusli sebagai satu-satunya pengusaha yang mendistribusikan semen.

Belakangan Rusli menjual semua truknya dan asset perusahaan, lalu mendirikan pesantren. Di sini ia mulai menampung anak-anak yatim. Kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di dekat rumahnya di Lampoh Keudee, Ulee Kareng Aceh Besar. Ini menjadi perguruan tinggi swasta tertua di Aceh.

Setelah itu barulah ia mendirikan Universittas Malahayati di Bandar Lampung pada 27 Agustus 1993, menyusul kemudian Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

Kini puluhan ribu mahasiswa belajar di berbagai kampus yang di dirikannya. Di antara para mahasiswa itu sungguh ramai anak-anak yatim yang mendapat beasiswa. Biaya kuliah digratiskan, biaya hidup pun ditanggung. Setelah selesai kuliah pun mereka ditawarkan pekerjaan di tempatnya.

Anak-anak yatim yang belum masuk bangku kuliah disantuninya. Bahkan, ibu-ibu anak yatim pun dibantu, mereka bekerja dan mendapat gaji bulanan—apapun yang bisa dikerjakan tak masalah— di kampus-kampus yang didirikannya itu.

Di setiap bulan ramadhan, tim dari kampus-kampus di terjun ke berbagai daerah untuk menyalurkan santunan. Mereka datang ke berbagai rumah anak yatim. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH pada ramadhan tahun ini yang berkeliling dari Aceh, Sumut, Padang, dan Lampung, untuk menyalurkan santunan anak yatim.

Miliaran rupiah per bulan untuk anak-anak yatim di berbagai tempat di negeri ini kini menikmati hasil dari kerja keras Rusli Bintang.

Selamat ulang tahun Universitas Malahayati. Renungkanlah jejak-jejak yang pernah dilalui pendirinya; Rusli Bintang. Sebuah jejak panjang mengurai cerita yang sarat makna kehidupan. []

kantin abulyatama

Kantin Abulyatama; Tak Sekedar Makan dan Minum

SALAH satu yang bisa membuat anda nyaman ketika berada di suatu kampus adalah keberadaan sebuah kantin yang bersih dengan menu yang lengkap pula. Hal ini bukan tanpa alasan, terlebih bagi tamu yang ingin berkunjung di kampus tersebut tentu kantin juga menjadi salah satu tujuan utama.

Nah, di Universitas Abulyatama (Unaya) anda dapat menjumpai hal tersebut. Sebuah kantin dengan luas 160 m2 terletak persis ditengah-tengah kampus, dengan letak yang strategis ini menjadikannya sebagai tempat bertemu seluruh mahasiswa dan tamu yang berkunjung ke kampus.

Berbeda dengan kampus lain, kantin biasanya berada dimasing-masing fakultas, di Unaya kantin menghubungkan setiap fakultas yang ada sehingga setiap mahasiswa dari lintas fakultas bisa bertemu tidak hanya sekedar makan dan minum, tetapi juga tempat berdiskusi. Tak jarang pula berbagai kegiatan kemahasiswaan juga dilaksanakan disini.

Bagi mahasiswa, jadwal kuliah yang padat atau terlambat datang ke kampus bisa menjadi kendala tersendiri terlebih yang tinggalnya jauh dari lokasi kampus, misalnya tidak sempat sarapan pagi atau bagaimana harus makan siang. Dikantin Unaya anda tidak perlu khawatir karena disini tersedia makanan seperti Nasi putih dan Mie Aceh dengan harga yang terjangkau untuk ukuran dompet mahasiswa, begitu juga dengan tamu yang datang.

Selain itu, kantin ini juga menyediakan berbagai macam jenis kue yang dapat anda nikmati, untuk satu potongnya anda hanya mengeluarkan seribu rupiah saja. Begitu juga dengan minumnya, berbagai jenis minuman juga tersedia mulai dari yang botol hingga aneka juice, tentunya kopi juga tak ketinggalan.

Bagaimana jika anda harus segera masuk kuliah sementara makan siang belum dan bahan kuliah juga harus di perbanyak? Ini menariknya, anda bisa mengerjakannya dalam waktu yang bersamaan, masih dalam satu kantin juga terdapat tempat foto copy yang siap melayani anda. Bukan hanya itu, anda juga bisa berselancar di dunia maya karena fasilitas Wifi juga tersedia.

Jadi, dalam waktu yang bersamaan tiga pekerjaan bisa anda lakukan dikantin Abulyatama, kondisi lingkungan juga sangat mendukung, karena kampus Abulyatama sering juga dijuluki dengan kampus hijau karena terdapat banyak pepohonan yang mengelilingi lingkungan kampus sehingga membuat udara menjadi sejuk.

Nah, dengan kondisi dan semua kemudahan tersebut, anda dijamin akan betah untuk berlama-lama di sana. []

Muhammad Razi

Razi Atlet Atletik: Unaya Menjadi Nafas Saya

MUHAMMAD Razi, mahasiswa FKIP Universitas Abulyatama, Aceh, kiprahnya di dunia olahraga telah menciptakan kebanggaan bagi kampusnya. Ia adalah atlet atletik lompat jauh yang reputasinya sudah teruji. Bahkan ia pernah memecahkan rekor remaja pada 2010 dengan lompatan 2,05 meter.

Presitasi lainnya, meraih medali perak di Asianship Thailand dan Emas di Malaysia Asian School. Ia adalah jebolan SMA Ragunan Jakarta, namun kemudian memilih kuliah di Universitas Abulyatama. “Unaya sudah menjadi nafas saya, kata Razi.

Berprestasi dibidang olah raga dan juga menjadi seorang mahasiswa adalah nilai plus bagi dia. Karena seperti yang kita ketahui, kebanyakan atlet hanya fokus pada prestasi non akademiknya saja tanpa meneruskan pendidikan formal akademik.

Namun, tidak demikian dengan Razi. ”Saya kali ini seorang atlet dan juga seorang mahasiswa, bertekad untuk menyelesaikan studi S1-nya bahkan akan meneruskan ke jenjang selanjutnya untuk menggapi cita-cita dan meningkatkan kualitas diri,” katanya.

Berikut petikan bincang-bincang Razi dengan Aldian Ilham dari web abulyatama.ac.id (RB Media Center).

Mengapa memilih kuliah di Universitas Abulyatama (Unaya)?

Saya senang kuliah di Universitas Abulyatama, selain SPP saya dibiayai penuh mulai dari semester pertama sampai sekarang (semester 6), Unaya juga memberi perhatian penuh bagi atlit yang berprestasi, pokoknyaa untuk atlit dibanggakanlah.

Apa kelebihan kuliah di Unaya?

Untuk atlit yang berprestasi, pokoknya Unaya lebih spesial dari pada yang lain.

Apa saja yang sudah didapat selama kuliah di Unaya ?

Selain perhatian penuh bagi atlit berprestasi, saya rasa Unaya telah banyak memberikan fasilitas bagi atlit atletik lompat tinggi untuk bisa berprestasi di ajang nasional sampai internasional, bukan hanya akademik bahkan non-akademik juga bisa didapatkan di Unaya.

Kenapa memilih kuliah di Unaya sebagai modal untuk masa depan?

Unaya telah banyak melahirkan alumni FKIP yang sukses, Unaya juga memberikan ruang kerja yang lebih bagi atlit yang berprestasi setelah tamat di Unaya.

Profil Muhammad Razi

Nama Lengkap                  : Muhammad Razi
Nama Panggilan                : Razi
Tempat, Tgl/Lahir              : Desa Reng, 23 Juni 1994
Alamat Sekarang               : Asrama PPLP, Lhong Raya Banda Aceh
Asal                                  : Kabupaten Pidie
Pendidikan                         :
SD Keumala
SMP Ragunan Jakarta
SMA Ragunan Jakarta
Hobby                                  : Altetik dan Sepak Bola
Anak ke dua                         : dari 5 bersaudara
Nama Ayah                          : Ramli
Pekerjaan Orang Tua             : Sopir
Cita-cita                                : Pelatih Atletik lompat tinggi

Prestasi Atletik Cabang Lompat Tinggi

PPLP Bandung                          : Juara 1
PPLP Jakarta                            : Juara 1
PPLP Bangka Belitung               : Juara 1
PPLP Papua                              : Juara 1
PON Riau                                  : Perunggu
Porwil Aceh                               : Perak
Asianship Thailand 2009             : Perak
Malaysia Asian School 2008        : Emas
Rekor Remaja 2009                     : Lompatan 2,05

image

Rizki, Dokter yang Rahmatan Lil Alamin

JANJI bertemu dipenuhinya tepat waktu, itu mengisyaratkan kedisiplinannya menjalani hidup. Caranya berdiskusi; mendengar dengan seksama, berfikir sebelum menjawab, menerangkan dengan struktur kalimat yang runut dan jelas, itu menunjukkan kecermatannya dalam mengambil keputusan dan bertindak.

Ketika ia menyebutkan tokoh idolanya adalah Ibnu Sina, maka ia menyingkap identitasnya. “Siapapun yang menggeluti ilmu kedokteran tentu tahu Ibnu Sina. Sampai sekarang saya masih membaca bukunya tentang kedokteran,” kata Muhammad Rizki, alumni Universitas Malahayati yang kini adalah seorang dokter dan sedang mengabdi di pelosok perkampungan di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Ibnu Sina yang disebut Rizki itu tak lain adalah ilmuan Islam yang paling terkenal di dunia. Tokoh ini bernama lengkap Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina (980-1037). Ia seorang filsuf, ilmuan, dan juga dokter yang berasal dari Persia (Uzbekistan), yang dikenal sebagai Bapak Pengobatan Modern.

Selama hidupnya, Ibnu Sina telah mengarang 450 buku. Karyanya yang sangat terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb). Buku-buku itulah yang didalami Rizki ketika menimba ilmu kedokteran di Universitas Malahayati. “Sungguh luar biasa. Ibnu Sina menulis bukunya berabad-abad yang lalu, sampai kini kita masih membaca dan mempelajarinya,” kata Rizki.

****

LAPANGAN Golf itu terletak di sebelah kanan Gedung Rektorat Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Di sinilah Rizki menerima saya untuk ngobrol ringan akhir pekan pada pukul 12,00, Sabtu 30 Mei 2015. Kami memilih kursi di pojok kiri tempat yang bernama Rizki Golf ini.

Pemuda kelahiran Lampoh Keudee, Aceh Besar, pada 1989 ini, berpenampilan sederhana. Mengenakan t-shirt biru dan celana gelap serta sepatu sport warna hitam. Ketika bersua, ia langsung tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk salaman. Berkulit putih, ia membiarkan kumis dan janggutnya tumbuh begitu saja.

Saya memulai pembicaraan dengan bertanya, “apa sebenarnya yang dicari dalam hidup Ini?”. Sejenak Rizki memandang hamparan rerumputan yang terpangkas rapi lapangan golf. “Sejatinya saya ingin membahagiakan orang tua, saya ingin berada dalam kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain, bagi masyarakat luas,” katanya.

Kehidupan yang seperti itu pula yang kemudian mengantarkan Rizki menempuh pendidikan kedokteran. Ia mengawali pendidikan dasarnya di Aceh, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati pada 2008. Empat tahun kemudian ia menyelesaikannya.

Selanjutnya ia koas di Kuningan, Jawa Barat. Setelah itu ia mengabdi di Muaro Jambi, di Rumah sakit tipe D, sejak Februari 2015. Ini rumah sakit yang stratanya paling bawah. Di sinilah Rizki menemukan realita kehidupan yang paling mendasar. “Banyak hal yang kita temukan dalam realitas kehidupan. Dan itu tidak kita temukan dalam buku di kuliahan,” kata Rizki.

Tempat Rizki mengabdi sekarang adalah perkampungan yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup sebagai buruh perkebunan. Mereka rata-rata hidup pas-pasan. “Ketika mereka sakit dan membutuhkan pertolongan, maka kita juga harus memikirkan bagaimana mereka bisa berobat hingga sembuh namun jangan sampai keluarganya malah kelaparan,” kata Rizki.

Menyangkut masalah sosial ekonomi seperti itu, Rizki dan sejawatnya yang bertugas di pelosok menempuh solusi dengan membuat semacam celengan. Mereka mengumpulkan uang yang digunakan saat ada anggota masyarakat membutuhkannya. “Dengan itulah kita membeli obat dan membiyai pengobatan,” kata Rizki.

Dinamika sosial seperti itu, kata Rizki, pasti akan bersentuhan dengan seorang dokter. Selain itu, kata Rizki, ada juga soal budaya. “Misalnya, pengalaman saya sendiri, tentu menemukan perbedaan budaya yang tajam di Kuningan, Jawa Barat, dan di Jambi. Perbedaan karakter orang Jawa dan Sumatera, maka berbeda pula cara menanganinya,” katanya.

Itulah sebabnya, kata Rizki, penting bagi seorang dokter untuk mengetahui dan memahami kearifan lokal di setiap daerah yang akan dilaluinya. “Jangan sampai, kita yang berniat baik malah nanti ditanggapi berbeda,” katanya.

“Begitu juga soal bahasa daerah, setidaknya ketika berada di satu daerah kita juga memahami bahasa lokalnya. Minimal bahasa percakapan yang paling dasar. Sehingga tak ada kendala saat kita berada di lapangan.”

Bagi Rizki, ilmu kedokteran adalah penggabungan seni dan ilmu pengetahuan. Sehingga, menjadi sesuatu yang sangat menarik didalami dalam kehidupan ini. “Tak semata-mata materi. Intinya adalah bagaimana dalam kehidupan ini kita menjadi sangat berarti. Kita benar-benar hidup dalam arti yang sebenarnya,” katanya.

Karena itu, Rizki ingin menambah perbendaharaan ilmunya dengan melanjutkan pendidikan ke tingkat lanjutan. Namun ia bukan orang yang berkemauan berlebihan, ia belum ingin melanjutkan sampai ke luar negeri. “Di Indonesia saja, sebab saya ingin mengabdi di negeri sendiri. Jadi alangkah baiknya jika ilmu yang saya dapat juga dari dalam negeri,” katanya.

Rizki berkata bukan tanpa alasan. Menurut Rizki, di setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Bahkan termasuk karakter kumannya pun berbeda. Misalnya, seseorang yang terkena infeksi di Malaysia, akan berbeda unsur bakterinya dengan orang di Indonesia. “Jadi saya memilih pendidikan dengan tempat penerapan yang sesuai juga,” katanya.

Namun, saya masih penasaran untuk mencari tahu inti dari pendidikan yang ditekuninya ini. Sehingga timbul pertanyaan, “apa sebetulnya yang menarik dari ilmu kedokteran?”

Rizki kembali merenungkannya. Ia lalu menghela nafasnya secara perlahan. Kami beradu pandang saat ia menoleh, dan menjawab pertanyaan saya.

“Sangat menarik, semakin saya mendalaminya semakin saya memahami bahwa kehidupan di alam ini ada yang mengaturnya. Pada akhirnya saya ingin menjadi dokter yang Rahmatan lil Alamin,” kata Rizki. Sejenak kami berdua terdiam.

****

JENUH duduk di tepi lapangan golf, kami sepakat beranjak ke tempat lain. Pilihannya jatuh ke lapangan futsal di lantai tujuh gedung rektorat. Kami berjalan dan menaiki tangga menuju lapangan futsal. Di sana ada tiga lapangan futsal.

Setelah dari lapangan futsal, kami berdiri di balkon lantai tujuh. Rizki memandang hamparan gedung-gedung perkuliahan di kompleks Universitas Malahayati ini. Berada di lahan 84 hektar, gedung-gedung ini bertebar di antara pepohonan rimbun dipayungi awan bak lukisan berkanvaskan langit biru.

Di sini, Rizki mengutarakan harapannya. “Saya berharap kampus ini lebih baik lagi, dari segi fasilitas, dan juga kualitasnya. Kita jangan menutup diri pada kekurangan, ini perlu kita minimalisir, sedangkan kelebihannya perlu kita eksplor lebih jauh,” katanya.

Ia juga memesan kepada khalayak yang berkaitan dengan Universitas Malahayati untuk betul-betul menjaga nama baik almamater. “Jika ada kekurangan, mari perbaiki bersama-sama. Jika kita sudah menjadi almamater, otomatis dalam kehidupan bermasyarakat pun kita tidak lagi membawa diri kita sendiri. Pada diri kita melekat almamater juga,” kata Rizki.

Soal almamater ini, Rizki pernah mendapat nasihat dari seorang guru besar. “Beliau memesan jangan kita mengumbar keburukan almamater, sebab itu sama saja dengan memperburuk diri sendiri,” katanya.

Selain itu, Rizki juga memesan agar mahasiswa di Universitas Malahayati segera memprakarsai ikatan alumni. “Ini sangat berguna. Selain memperkuat tali persaudaraan, juga mempermudah komunikasi berbagai hal yang berkaitan dengan berbagai informasi,” katanya.

Usai berbincang singkat di balkon, kami turun. Di teras rektorat kami pun berpisah. Rizki kembali mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Ia, pemuda yang rendah hati. []

IMG_1136-copy-1

Rusli Bintang, Sang Peduli Anak Yatim

Tulisan Kabul Budiono, Pimpinan di Direktorat Program dan Produksi RRI, tentang Rusli Bintang.

Kami tidak merencanakan pertemuan itu. Berangan angan pun tidak. Namun, kami memang bertemu. Dari pertemuan itu saya belajar banyak tentang kebaikan hati dan keikhlasan luar biasa. Di mana ? Di dalam pesawat terbang yang membawa kami ke Banda Aceh.

Karenanya, saya percaya Allah lah yang mempertemukan kami. Allah yang berkehendak agar saya mendengar dan melihat apa yang dilakukan laki laki yang bernama Rusli Bintang.

“Bapak, tinggal di Aceh?” Demikian tanya laki-laki di sebelah saya. Itulah awal perbincangan kami. Sayapun akhirnya tahu bahwa laki-laki berusia 65 tahun itu bernama Rusli Bintang. Saya sesungguhnya sudah melihatnya di depan pintu masuk pesawat Garuda Indonesia.

Dari cara dia memalingkan muka, saya berkesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan lehernya. Pun saya tidak menduga bahwa laki-laki berkaos sederhana itu akan duduk di samping saya di kelas bisnis.

“Ya Bapak lihat, saya tidak biasa memalingkan muka dengan benar. Ini karena dulu saya sering memanggul beras “.

Ya, Rusli Bintang, yang sekarang naik pesawat bersama saya, telah melewatkan hidupnya dengan kerja keras. Ia adalah anak sulung dari 9 bersaudara. Ia dan saudara saudara menjadi anak yatim karena Allah memanggil pulang bapaknya ketika ia masih remaja.

Ia pernah menjadi tukang bersih bersih salah satu kantor Ia juga pernah menjadi tukang angkat barang di pasar Ulee Kareeng tidak jauh dari rumahnya.

Namun, kini, apa yang terjadi ? Rusli Bintang yang tidak pernah menamatkan Madrasah Ibtidaiyah yang setingkat SD itu kini pulang ke tanah kelahirannya untuk membagi bagi uang untuk ratusan anak yatim dan ibunya.

“Selama  bulan Ramadhan ini, kami jalan terus. Saya langsung datangi anak anak yatim ke rumahnya. Saya bagikan uang untuk beli baju lebaran. Habis dari Aceh kami ke Padang, kemudian ke Ujung Pandang. Setiap bulan kami keluarkan uang 2 milyar untuk sedekah anak anak yatim “

Mengapa demikian ? Ia meminta saya mengingat ayat 261 Surat Al Baqarah. “Bapak baca ayat itu “ Demikian pintanya. Ayat 261 Surat Al Baqarah adalah permintaan Allah agar seorang Muslim menyedekahkan hartanya untuk anak yatim. “ Coba Bapak hitung.

Sekali memberi, akan berlipat tujuh ratus kali. Tetapi Bapak harus yakin, harus ikhlas. Bahagia sekali memberi anak yatim itu… “
Saya menanyakan mengapa ia peduli betul sama anak yatim ? Ia bercerita bagaimana derita hidupnya ketika menjadi anak anak yatim ketika ditinggal mati ayahnya saat ia masih remaja. Ia adalah sulung dari adik adiknya.

“Saya sedih sekali pak. Adik saya meninggal gara gara uang 1000 rupiah dan saya tidak dapat memberinya. Adik saya itu, mau ujian SMP harus membayar uang untuk ujian. Ia sudah belajar dengan sungguh sungguh. Tetapi ia tidak bisa ikut karena tidak bayar.”

“Sayapun mencari uang. Tetapi susah sekali. Akhirnya saya dapat uang itu dan saya berikan uang itu untuk bayar uang ujian. Tetapi….”

Tiba-tiba suaranya tersendat. Air matanya menetes. “Malam itu adik saya sakit. Ia mencret mencret. Saya gendong dia ke rumah sakit. Punggung saya belepotan kotorannya itu. Sampai di rumah sakit. Ia sudah lemah sekali. Akhirnya dia meninggal…… Saya sedih sekali pak. Karena kata dokter ia sakit karena stress. Sedih dan panik karena tidak bisa ikut ujian,” Rusli pun menyeka air matanya. Saya terhenyak mendengar ceritanya. Karena itulah ia sangat berempati pada anak anak yatim dan berusaha membantunya.

Rusli Bintang sejak muda, sudah membiasakan diri bersedekah untuk anak-anak yatim. Ketika Allah telah memberi rizki dengan mengubah kehidupannya dari seorang buruh menjadi pengusaha, terus menggelontorkan sebagian hartanya untuk para yatim piatu.

Dari hasil usahanya, di Banda Aceh dia mempunyai perguruan tinggi yang diberinama Abu Yatima, yang berarti ayah anak yatim. Di Lampung berdiri megah Universitas Malahayati, dan di Jakarta perguruan tingginya ada di kawasan Kelapa Gading.

Selain terhenyak mendengar kisah hidupnya pertemuan saya dengan Rusli menyebabkan kekagetan lain. Ketika saya bercerita bahwa saya ke Banda Aceh untuk membuka Pekan Tilawatil Qur’an tingkat Nasional dan bercerita bahwa tahun lalu ada dermawan yang memberi hadiah umrah untuk juara 1, di atas pesawat itu Pak Rusli bilang, “kali ini saya yang akan membiayai umrah untuk para pemenang itu “.

Seungguh, saya tidak meyakini apa yang dikatakannya itu. Tetapi begitu sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda, di pintu keluar ia bertemu Mirza Musa Kepala RRI Banda Aceh, pak Rusli Bintangpun bbilang, “untuk juara yang lima itu, umrahnya dari saya “. Mirza kelihatan bingung. Ia baru percaya ketika saya menceritakan pembicaraan kami di pesawat.

Dalam mobil yang membawa saya dari bandara Mirza berkata, “Pak Rusli itu dulu bekerja, sama bapak saya. Ia yang membuka pintu pagi pagi dan bersih bersih kantor bapak saya. “

Subhanallah, Allahhu Akbar…….

image

Ke Unaya, Menteri Nasir Disambut Anak Yatim

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir, mengunjungi kampus Universitas Abulyatama, Lampoh Keudee, Aceh Besar, Minggu 5 April 2015. Ia datang menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Yayasan Abulyatama yang dipimpin Dr. Muhammad Kadafi SH MH.

Tiba ke kompleks kampus pukul 12.00, Menristek Nasir disambut pendiri Abulyatama H. Rusli Bintang, Ketua Yayasan Alih Teknologi (Universitas Malahayati) Ruslan Junaidi, pengelola Institut Kesehatan Indonesia – Jakarta Musa Bintang, dan Rektor Universitas Abulyatama Ir. R. Agung Efrino PhD yang didampingi para dekan.

Terlihat ratusan anak-anak yatim di lingkungan Banda Aceh dan Aceh Besar juga ikut menyambut Menristek Nasir. Bersama menteri tampak sejumlah pejabat di Aceh ikut mendampingi, di antaranya Sekda Aceh Dharmawan, pejabat Polda Aceh dan Kodam Iskandar Muda, juga ada Kepala Dinas Pendidikan Aceh Hasanuddin Dardjo.

Sejumlah penari cilik, ikut menyambut kedatangan Menteri dengan menyuguhkan tarian Ranub Lam Puan. Mereka menyuguhkan sirih kepada Menteri Nasir. Setelah itu, beberapa ulama Aceh Besar menempungtawari Menteri Nasir.

Bersama anak-anak yatim, Menteri dan para pejabat makan siang bersama. Terlihat Menteri ikut mengambil lauk nasi dan menaruhnya ke piring anak-anak yatim yang duduk berdampingan dengannya. Tampak wajah Menteri Nasir sangat sumringah duduk bersimpuh bersama anak yatim makan siang bersama.

Adapun tuan rumah, Rusli Bintang, justru berperan menjadi pelayan. Ia yang mengambil lauk pauk, dan juga piring, minum, untuk mereka. Ia makan sembari jongkok di belakang anak-anak yatim yang sedang makan.

81026476

Sekilas Universitas Abulyatama Aceh

Universitas Abulyatama (UNAYA) merupakan salah satu Perguruan Tinggi Swasta diaceh yang terus berkembang menuju universitas terkemuka di Indonesia. Didirikan oleh Yayasan Abulyatama Aceh, dengan tujuan membawa dampak yang positif dalam usaha pembangunan dan turut serta mencerdaskan bangsa melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi. Universitas Abulyatama didirikan pada tahun 1983 dan memiliki gedung dan fasilitas belajar lainnya yang berada dalam satu kompleks […]