jalur sutra

Belajar Hingga ke Negeri China

WANLI Changcheng. Begitu istilah untuk Tembok Besar Tiongkok (Tembok Raksasa Tiongkok atau Tembok Panjang) disebut di negeri aslinya yang artinya Tembok Sepanjang 10.000 Li.

tembok-besar-chinaMenurut catatan sejarah, tembok itu mulai dibangun sejak 722 SM-481 SM. Negeri-negeri yang tercatat berkontribusi dalam konstruksi pertama antara lain negeri Chu, Qi, Yan, Wei dan Zhao. Mengunakan ratusan ribu pekerja paksa, pekerjaan pembangunan berlanjut di era kekuasaan Kaisar Qin Shi Huang pada 220 SM hingga berakhir di masa Dinasti Ming (1368-1644).

Tentu saja rakyat China bangga dengan bangunan bersejarah terpanjang yang pernah dibuat manusia, apalagi sudah masuk dalam Situs Warisan Dunia Unesco. Jadi tak heran jika lukisannya menghiasi ruang pertemuan di Capital Medical University, Beijing, China.

Di ruangan itulah, Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University, Profesor Dong Zhe menerima kedatangan Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi dan Rektor Universitas Abulyatama R Agung Efriyo Hadi PhD. Dua rektor ini ditemani Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki dan Wakil Rektor Universitas Malahayati Wahyu Dhani Purwanto MPd.

rektor kdv dan prof dong ze 2Pertemuan hangat menjelang petang pada 16 Oktober 2015 ini menghasilkan kesepakatan yang cukup bagus untuk Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama. “Kita bisa mengirim mahasiswa ke kampus ini untuk belajar,” kata Agung Efriyo Hadi. “Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.”

Agung menjelaskan, semula mereka hanya meminta untuk diberikan kesempatan dalam bentuk belajar yang singkat saja. “Namun malah mereka mereka menawarkan dalam bentuk lebih luas, berupa SKS. Jadi bisa sampai tiga bulan belajar di CMU (Capital Medical University),” katanya. Tentu saja, tawaran itu sangat baik. “Kita akan menjalani untuk peningkatan di kampus kita juga. Kita juga hendak ingin menunjukkan kepada mahasiswa proses akademik kita itu tiada henti-hentinya kita mengembangkannya,” katanya.

Kesempatan untuk belajar ke negeri China akan terbuka lebar untuk mahasiswa yang berprestasi. “Yang punya talenta punya kualitas punya mutu, mereka harusnya terpacu dengan potensi keilmuannya. Itu menjadi kunci bagi mereka. Mereka yang juga menjaga nama baik almamater dan nama baik Indonesia. Sebab bagaimana pun mahasiswa yang akan ke China nantinya tetap saja membawa nama negara, mereka di sana dengan wajah kampusnya,” kata Kadafi.

rektor di beijing 2Selain prestasi, mahasiswa yang akan dikirim ke negeri Tirai Bambu diwajibkan bisa berbahasa asing, seperti bahasa Inggris, dan juga belajar bahasa Mandarin. “Saya pernah bertanya pada CMU apakah mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia mengalami kesulitan dalam berbahasa Mandarin?Mereka katakan tidak ada. Bahkan tiga bulan mahasiswa Indonesia yang belajar di CMU sudah bisa berbahasa Mandarin, bahkan sudah mampu menulis arikel dalam bahasa Mandarin. Artinya soal itu tak menjadi kendala sama sekali,” katanya.

Belajar ke Capital Medical University  (CMU) tentu akan membawa dampak yang sangat bagus untuk dua kampus ini. CMU adalah sebuah universitas ternama di negeri China. Berdiri pada 1960, Capital University of Medical Sciences semula  bernama Beijing Second Medical College yang dipimpin Profesor Wu Jieping, seorang urolog terkenal di dunia, orang kedua di Chinese Academy of Sciences dan Chinese Academy of Engineering.  Saat ini, kampus ini dipimpin Profesor Lu Zhaofeng.

CMU terdiri dari 10 sekolah, 14 rumah sakit afiliasi dan 1 lembaga pengajaran. Universitas yang berafiliasi dengan rumah sakit ini memiliki 20.000 staf, lebih 1.000 dosen, dan sekitar 2.000 profesor asosiasi.

Universitas yang memiliki 9.000 mahasiswa aktif ini meliputi berbagai bidang. Di antaranya pelatihan general practitioner, clinical medicine, basic kedokteran, ilmu saraf, ophthalmology, geriatrics, urologi, kardiologi, pain medicine, toksikologi, teknik biomedis, pengobatan tradisional Cina, reproduksi, kebijakan kesehatan, dan sejumlah bidang ilmu kesehatan lainnya.

rektor agung unaya dan prof dong zheBahkan, beberapa bidang yang ada di CMU sudah mendapat pengakuan internasional. Misalnya  neurobiologi, cytobiology, imunologi, kedokteran ikonografi, neurologi, neurosurgery, kardiologi, bedah cardio-vaskular, transplantasi ginjal, penyakit pernafasan, pengobatan pencernaan, bedah oral-maksilofasial, mata, THT dan hematologi anak.

Saat ini, CMU menyelenggarakan program pertukaran internasional yang sangat baik. Memiliki kemitraan dan perjanjian dengan banyak universitas dan institusi dengan lebih dari 20 negara dan wilayah. Kerjasama yang terjalin antara lain seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, pendidikan bersama dan proyek-proyek penelitian bersama.

***

PENINGKATAN kualitas kampus memang perioritas Kadafi. Bekerjasama dengan berbagai perguruan tinggi ternama tentu ditempuhnya. Tak hanya dengan perguruan tinggi dari negara-negara lain, namun juga yang ada di dalam negeri.

Tak cuma dengan kampus-kampus di negeri China, sebelumnya Kadafi sudah menggandeng perguruan tinggi dari Malaysia dan Singapura. Bahkan di dua negara tetangga ini ikatan kerjamasa sudah berjalan dengan baik. Salah satu wujudnya adalah pengiriman mahasiswa D-IV kebidanan untuk studi banding ke National University Hospital Singapura pada 7-10 April 2015.

Wakil Rektor II Universitas Malahayati Lampung, Wahyu Dhani Purwanto MPd mengatakan praktik langsung mahasiswa di Singapura itu sebagai bentuk komitmen menghasilkan bidan-bidan yang tak hanya mampu bersaing di lokal atau nasional tetapi juga internasional. “Kami harapkan mereka mendapatkan pembelajaran dari pengalaman baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga dapat mendukung lulusan sebagai bidan yang profesional,” katanya.

Salah satu mahasiswa yang ikut program itu, Linda Agustina, mengatakan studi banding itu menambah pengalamannya.  “Kami mendapat pengarahan yang baik dan langsung dari perawat senior yang ada di sana, banyak pengetahuan dan pengalaman yang diberikan kepada kami,” kata Linda. Salah satu contohnya, ia bisa melihat langsung bagaimana Singapura sudah tidak menggunakan metode persalinan biasa. “Di sana sudah menggunakan metode persalinan di air dan metode kangaroo setelah anak itu dilahirkan langsung diletakkan di ibu nya,” katanya.

Linda juga melihat bagaimana sistem rumah sakit melayani pasiennya. “Setelah kelahiran anak, pihak rumah sakit berkunjung ke rumah pasiennya,” katanya. Mereka mengajarkan bagaimana cara merawat bayi yang benar, bagaimana cara persalinan itu dapat berjalan normal. “Singapore sendiri tidak dianjurkan untuk minum susu formula, jadi benar-benar menggunakan asi eksklusif,” ujarnya. “Rumah sakit sangat mengutamakan kesehatan, jadi wilayah rumah sakit hanya boleh dikunjungi orang-orang yang steril sekali.”

Lalu bagaimana dengan Universitas Malahayati? Kampus ini juga menjadi tempat studi banding para mahasiswa dari berbagai negara lain. Misalnya, mahasiswa  Cyberjaya University College of Medical Science di Malaysia yang pernah magang di Universitas Malahayati yaitu di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin pada Juli-September 2015. Ada 42 Mahasiswa dan 2 dosen pembimbing yang mengikuti kegiatan paramedic science clinical training, salah satunya Ezam.

Bagaimana pendapatnya tentang Universitas Malahayati? “Di sini kami merasa sedang di rumah sendiri, semuanya baik dan ramah, serta semuanya bekerja sama dengan baik. Bahkan, di sini kami dilayani lebih baik, dan diberikan fasilitas yang mendukung dengan sangat memuaskan di banding saat kami di tempat asal kami,” ujar Ezam. “Semoga Cyberjaya University dan Malahayati bisa terus berkolaborasi dan bisa saling berbagi pengalaman.”

Selain itu di bulan yang sama, Universitas Malahayati kedatangan tamu dari Malaysia, mereka adalah students/mahasiswa Keperawatan dari University Putra Malaysia (UPM). Ada tujuh orang yang datang. Tujuannya untuk praktikum. Kegiatan ini, di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa Malaysia itu melaksanakan kegiatannya di Kelurahan Sumber Sari Bantul Kota Metro.

Sebelum menuju ke lokasi, mereka ke Universitas Malahayati. Mahasiswa Malaysia ini berkeliling kampus, mulai dari ruangan skill lab sampai perpustakaan Universitas Malahayati.  Mereka sangat terkesan sekali ketika melihat fasilitas kampus yang begitu hebat.

Dari Eropa datang Kaye Jujnovich, seorang dekan di Whitireia University, New Zealand, 13 Juni 2015. Kunjungan Kaye Jujnovich perwakilan dari Whitireia ini untuk meneken memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Malahayati. Sebelum meneken MoU, Rektor Kadafi mengajak Kaye berkeliling kampus dan Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin. Kaye melihat sejumlah fasilitas dan penunjang akademik yang dimiliki Universitas Malahayati. Usai melihat kelengkapan fasilitas, Rektor Kadafi mengajak Kaye melihat gedung perpustakaan terpadu.

Kemudian, Kadafi membawa Kaye berkunjung ke Rumah Sakit RS Pertamina-Bintang Amin. Dalam kunjungan ini, ia sempat disuguhi beberapa alat kesehatan yang moderen, seperti CT scan 128 slice, chat lab, dan beberapa alat kesehatan terbaru lainnya. Tidak hanya melihat fasilitas rumah sakit, Kaye juga sempat bertemu dengan lima mahasiswa asing dari Malaysia. Keberadaan lima mahasiswa negeri jiran di RS Pertamina Bintang Amin, program pertukaran mahasiswa.

Usai meninjau beberapa fasilitas yang dimiliki oleh kampus, Kaye bersama rombongan sepertinya kepincut. Ia mewakili pimpinan kampus memutuskan untuk langsung melakukan kerjasama dengan Malahayati, padahal dalam agenda sebelumnya ia hanya berkunjung. Dari kerjasama ini, dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati bisa kuliah di Whitireia University, begitu juga sebaliknya. Kedua kampus juga bisa menjalani penelitian, dan pertukaran karya ilmiah.

***

KEMBALI ke China. Kadafi dan Agung tak hanya berada di Capital Medical University di Beijing, mereka juga diundang menjadi pembicara pada acara “The 2nd Silk Road Higher Education Cooperation Forum” yang berlangsung pada 16-18 Oktober 2015 di China University of Geosciences (CUG), Wuhan, Provinsi Hubei, China. Di sini mereka langsung disambut Professor Yanxin Wang, President of Chinese University of Geosience.

agung dan para rektorKegiatan ini disponsori oleh Silk Road Institute, International Education College of CUG, dan National Natural Science Foundation of China. Forum yang diselenggarakan bersamaan dengan The 2nd International Workshop on Tethyan Orogenesis and Metallogeny in Asia (IWTOMA) ini membahas dan bertukar informasi terbaru tentang evolusi tektonik, metallogeny, geologi minyak bumi, sumber daya air dan bahaya geologi di Asia.

Kegiatan ini adalah kelanjutan dari The 1st Silk Road Higher Education Forum yang diadakan  di China University of Geosciences, Wuhan, pada 12-16 Oktober 2014. Hampir 90 akademik peneliti, administrator dan mahasiswa dari lembaga pendidikan tinggi/universitas dari 15 negara berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Para delegasi disuguhi materi menarik yang disampaikan para rektor (presiden) dan dekan dari universitas terkenal di dunia. Di sini bisa disimak berbagai sudut pandang tentang kerjasama pendidikan tinggi, kualitas dan kemampuan yang diperlukan untuk pemimpin masa depan.

Dari kegiatan ini akan melahirkan berbagai kerjasama yang penting untuk pelatihan dan penelitian.  Dari Indonesia yang menghadiri forum  di China University of Geosciences (CUG) ini ada tiga universitas, selain Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama ada Universitas Indonesia, yang datang langsung rektornya Profesor Dr Ir Muhammad Anis MMet.

CUG adalah universitas negeri di China yang berada langsung di bawah  administrasi Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Cina. Universitas ini ada dua kampusnya, satu terletak di Kecamatan Haidian di Beijing, yang kedua terletak di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei, China. “Universitas ini paling berpengaruh dalam industri pertambangan dan minyak China,” kata Kadafi.

Benar, CUG memang salah satu perguruan tinggi sangat top di China. Salah satu alumni Universitas yang memiliki motto “Being austere and simple, keeping on practice and acting for truth” ini tak lain adalah Wen Jiabao, Perdana Menteri Dewan Negara China, yang terpilih pada 2003. Wen dianggap sebagai tokoh di balik kebijakan ekonomi China. Menjabat selama dua periode, Wen mengakhiri masa jabatannya pada 2013.

wuhan forum 2Rektor Universitas Abulyatama, Agung Efriyo Hadi menjelaskan di forum itu mereka membahas perkembangan “Jalur Sutra”. Ini adalah jalur yang sangat luas membelah dari utara ke selatan meluas dari pusat perdagangan China Utara dan China Selatan. Bahkan rutenya jika dari utara melintas hingga ke Eropa Timur tembus ke Laut Hitam. Jalur selatan sampai ke Laut Tengah, Mesir, dan Afrika Utara.

Penamaan Jalur Sutra sangat berkaitan arus perdagangan sutra di kawasan ini pada abad 19. Dari perdagangan sutra, kemudian berkembang ke berbagai komoditi lainnya, bahkan sampai pengembangan kebudayaan China, India dan Roma, bahkan disebut-sebut sebagai dasar dari dunia modern.

Nah jalur itulah yang hendak dihidupkan lagi oleh China. “Nanti melalui forum Rektor kita memiliki koneksi ke berbagai program yang ada di China itu. Yaitu jaur sutra perguruan tinggi. Artinya bukan saja perguruan tinggi dari China saja di jalur sutra ini, juga negara-negara lain yang berada di sepanjang jalur itu. Artinya kita punya peluang dan koneksi membuka kerjasama perguruan tunggi yang berbeda di lintas jalur sutra,” kata Agung.

jalur sutraKhusus untuk Aceh, kata Agung, memiliki koneksitas yang cukup kuat dengan Jalur Sutra. “Dalam forum rektor saya mengangkat sejarah Aceh Samudra Pasai dulu juga menjadi transit perdagangan jalur sutra yang sekarang letaknya di Lhokseumawe,” katanya. “Demi kemajuan pemuda Aceh, saya katakan sangat menyambut baik program itu. Jadi saya sampaikan juga, bahwa Indonesia itu sangat luas dan Aceh ada dalam Jalur Sutra sejak dulu,” katanya.

Nah, alasan Agung dan Kadafi sangat antusias hadir dalam forum ini memang pula da anilai historisnya. “Berbasis historis, di masa depan kerjasama akan lebih baik,” katanya.

Itulah sebabnya, Kadafi bilang sangat tepat menuntut ilmu meski sampai ke negeri China. “Seperti petuah dalam hadis Nabi Muhammad SAW,” katanya. []

rektor agung unaya dan prof dong zhe

Mahasiswa Unaya Belajar ke Beijing? Ini Penjelasan Rektor Agung

LAAWATAN Rektor Universitas Abulyatama (Unaya) Ir R Agung Efriyo Hadi PhD ke negeri China membawa dampak yang bagus bagi mahasiswanya. Kini telah terbuka ruang bagi mahasiswa Universitas Abulyatama untuk menimba ilmu di negeri Tirai Bambu itu. Salah satunya adalah kesempatan belajar di Capital Medical University yang berada di kota Beijing, ibukota negera China.

Agung berkunjung ke China bersama Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH, Wakil Rektor Wahyu Dhani Purwanti MPd, dan Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki.

Nah, dalam sebuah pertemuan dengan tim dari Capital Medical University yang dipimpin Profesor Zhe Dong, di kampus itu pada 16 Oktober 2015. Dari sinilah terbuka sebuah peluang yang menarik, yaitu belajar ke kampus yang ternama di China ini.

Bagaimana detailnya? Berikut petikan wawancara wartawan abulyatama.ac.id dengan Rektor Agung Efriyo Hadi yang berlangsung di Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin, Bandar Lampung, Kamis 22 Oktober 2015.

Perjalanan ke China, Beijing dan Wuhan, itu apakah bagus untuk Universitas Abulyatama?

Oh ya, jadi rombongan kita, Unaya (Universitas Abulyatama) dan Malahayati (Universitas Malahayati) ke China itu mempunyai dampak yang besar. Jadi dari situ kita bisa memperoleh beberapa kesepakatan yang positif.

Misalnya, tahun depan kita sudah bisa mengirimkan mahasiswa di sini untuk belajar di sana. Setidaknya untuk jangka waktu tiga bulan. Mungkin, nanti kita akan memilih waktu liburan akan kita kirim mahasiswa kita ke sana.

Tentu kesempatan ini kita berikan bagi mereka yang berprestasi, menjaga nama baik kampus, juga nama baik Indonesia. Sebab bagaimana pun mahasiswa yang akan ke China nantinya tetap saja membawa nama negara, mereka di sana dengan wajah kampusnya.

Maksudnya, kesempatan ini bisa diperoleh di Capital Medical University?

Iya. Sebenarnya kita semula hanya meminta pada mereka untuk diberi kesempatan dalam bentuk belajar yang singkat saja. Namun mereka menawarkan dalam bentuk lebih luas, berupa SKS. Jadi bisa sampai tiga bulan belajar di CMU (Capital Medical University).

Semua itu kitta jalani untuk peningkatan di kampus kita juga. Kita juga hendak ingin menunjukkan kepada mahasiswa proses akademik kita itu tiada henti-hentinya kita mengembangkannya. Yang punya talenta punya kualitas punya mutu, mereka harusnya terpacu dengan potensi keilmuaannya. Itu menjadi kunci bagi mereka.

Bisa digambarkan lebih detail manfaatnya mengambil kesempatan belajar ke negeri China itu?

Yang paling utama mereka punya wawasan global. Misalnya dalam konteks economic asean itu dampaknya luar biasa, mereka punya interaksi di kawasan asian aja, nantinya tidak ada lagi batas negara untuk hubungan perdagangan. Dalam tatanan lebih luas, mereka akan terbuka .

Seperti pengalaman ketika berkunjung ke sana, kita bisa melihat karakteristik pendidikan di China. Di sana fakultas kedokteran tidak mempersoalkan latar belakang pendidikan mahasiswanya, apakah itu IPA atau IPS tak menjadi persoalan.

Begitu kebijakan mereka. Tapi yang saya tangkap adalah pendidikan di China ternyata sudah lebih maju karena mereka yakin akan prosesnya berjalan dengan baik. Sehingga latar belakang apapun selama mereka bisa mengikuti proses dengan baik maka tidak jadi persoalan.

Beda dengan di Indonesia, basic atau dasar sangat menentukan, karena kita semua tahu basic atau dasar kita belum terlalu kuat. Sehingga pola pikir anak IPS kita pandang agak berbeda dengan pola pikir anak IPA, sehingga dasar-dasar itulah yang menjadi pijakan pengambil keputusan. Sementara ya sudah anak IPA dulu yang bisa masuk ke Fakultas Kedokteran. Tapi secara global sebenarnya bisa-bisa saja seperti yang di China itu.

Apakah yang kita bicarakan ini yang diterapkan di Capital Medical University?

Iya, mereka mempunyai 22 rumah sakit pendidikan. Jadi mau apalagi kita mau bantah?  Prestisenya kan luar biasa. Nah itulah sehingga jika mahasiswa Indonesia belajar di sana jadi nggak kaget, ternyata mereka bisa diterima di semua bidang yang luar biasa, ini akan menambah kepercayaan diri mahasiswa kita.

Apakah mungkin mereka membuka kelas internasional di sini?

Kalau itu mungkin masih menjadi isu yang dibicarakan dilevel Pemerintah, karena kebijakan kitakan sama saja kelas jauh, jadi yang kita lakukan adalah mensiasatinya dengan kerjasama SKS.

Jadi kalau mereka buka kampus di sini membuat kelas jauh  maka jadi ambigu dengan kebijakan-kebijakan Pemerintah. Di sisi lain, kita menjadi seperti dijajah dalam pendidikan. Saya juga kurang setuju kalau mereka membuka cabang di sini tetapi kalau kerjasama boleh.

Soal ini juga rentan isu di masyarakat. Terutama dalam hal nilai-nilai, mereka akan membawa nilai-nilai mereka. Sedangkan nilai-nilai kita adalah Indonesia. Kita harus pertahankan. Itulahmengapa saya tidak setuju jika mereka membuka cabang di Indonesia. Tapi kalau berkolaborasi trasfer kredit boleh. Sama penelitian boleh. Karena karakteristik bangsa harus kita jaga sendiri.

Apakah ada syarat-syarat khusus bagi mahasiswa yang akan dikirim ke Capital Medical University nantinya?

Tentu mereka harus memiliki prestasi yang cemerlang ya. Selain itu, mereka jelas wajib bisa berbahasa asing, seperti bahasa Inggris, dan juga belajar bahasa Mandarin. Saya pernah bertanya pada CMU apakah mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia mengalami kesulitan dalam berbahasa Mandarin?

Mereka katakan tidak ada. Bahkan tiga bulan mahasiswa Indonesia yang belajar di CMU sudah bisa berbahasa Mandarin, bahkan sudah mampu menulis arikel dalam bahasa Mandarin. Artinya soal itu tak menjadi kendala sama sekali. []

rektor agung unaya dan prof dong zhe

Tahun Depan, Mahasiswa Unaya Bisa Belajar ke Beijing

REKTOR Universitas Abulyatama (Unaya) Ir R Agung Efriyo Hadi PhD telah membuat terobosan baru untuk kampusnya. “Kita sudah mendapat kesempatan untuk mengirimkan mahasiswa Unaya bisa belajar di Beijing,” kata Agung kepada wartawan abulyatama.ac.id yang menemuinya di Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin, Bandar Lampung, Kamis 22 Oktober 2015.

Kesempatan belajar di Beijing, China, itu terbuka di Capital Medical University. “Untuk tahap ini kita mengambil short cuorse,” kata Agung lagi. Pendidikan ke Beijing itu direncanakan mulai tahun depan. “Jadi mahasiswa kita nanti bisa belajar di sana setidaknya bisa sampai tiga bulan,” Agung menambahkan.

Kepastian soal ini, kata Agung, diperolehnya setelah ia berkunjung ke Capital Medical University pada 16 Oktober lalu. Ia datang ke sana bersama Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH, Wakil Rektor Wahyu Dhani Purwanto MPd beserta Wakil Ketua Yayasan Alih Teknologi (badan hukum Universitas Malahayati) Muhammad Rizki.

Di Capital Medical University, Agung dan tim diterima Prof Dong Zhe, Direktur Kerjasama Internasional Capital Medical University, bersama dua stafnya. Mereka melangsungkan pertemuan di meeting room lantai dua gedung kampus itu.

Agung mengatakan  tim dari Capital Medical University akan segera berkunjung ke Universitas Abulyatama dan Universitas Malahayati di Bandar Lampung untuk visitasi. “Yang datang nanti adalah Vice President Capital Medical University, Direktur International Program dan dekan fakultas kedokterannya,” katanya.

Capital University of Medical Sciences, juga dikenal sebagai CUMS, CCMU atau CMU, adalah sebuah universitas di Beijing, China. Berdiri pada 1960, Capital Medical University (CMU) semula bernama Beijing Second Medical College yang dipimpin Profesor Wu Jieping, seorang urolog terkenal di dunia, orang kedua di Chinese Academy of Sciences dan Chinese Academy of Engineering.  Saat ini, kampus ini dipimpin Profesor Lu Zhaofeng.

CMU terdiri dari 10 sekolah, 14 rumah sakit afiliasi dan 1 lembaga pengajaran. Universitas dan rumah sakit yang berafiliasi memiliki staf sekitar 20.000. Di antaranya, ada 6 anggota Akademi Ilmu Pengetahuan China atau Chinese Academy of Engineering, lebih dari 1.000 dosen, dan lebih dari 2.000 profesor asosiasi. Universitas ini memiliki lebih dari 9.000 siswa.

Bahkan, beberapa bidang yang ada di CMU sudah mendapat pengakuan internasional. Misalnya  Neurobiologi, Cytobiology, Imunologi, Kedokteran Ikonografi, Neurologi, Neurosurgery, Kardiologi, Bedah Cardio-vaskular, Ginjal Transplantasi, Penyakit Pernafasan, Pencernaan Pengobatan, Oral-maksilofasial Bedah, Mata, THT dan Hematologi anak. []

wuhan forum 2

Forum Seperti Inilah yang Dihadiri Rektor Unaya di Hubei-China

THE 2nd Silk Road Higher Education Cooperation Forum telah berlangsung pada 16-18 Oktober 2015 di China University of Geosciences (CUG), Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kegiatan ini disponsori oleh Silk Road Institute, International Education College of CUG, dan National Natural Science Foundation of China.

Forum yang diselenggarakan bersamaan dengan The 2nd International Workshop on Tethyan Orogenesis and Metallogeny in Asia (IWTOMA) ini membahas dan bertukar informasi terbaru tentang evolusi tektonik, metallogeny, geologi minyak bumi, sumber daya air dan bahaya geologi di Asia.

Kegiatan ini adalah kelanjutan dari The 1st Silk Road Higher Education Forum yang diadakan  di China University of Geosciences, Wuhan, pada 12-16 Oktober 2014. Hampir 90 akademik peneliti, administrator dan mahasiswa dari lembaga pendidikan tinggi/universitas dari 15 negara berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Para delegasi disuguhi materi menarik yang disampaikan para rektor (presiden) dan dekan dari universitas terkenal di dunia. Di sini bisa disimak berbagai sudut pandang tentang kerjasama pendidikan tinggi, kualitas dan kemampuan yang diperlukan untuk pemimpin masa depan.

Dari kegiatan ini akan melahirkan berbagai kerjasama yang penting untuk pelatihan dan penelitian.  Di forum seperti itulah yang dihadiri Rektor Universitas Abulyatama Ir R Agung Afriyo Hadi PhD. Bersamanya turut hadir Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH dan Wakilnya Wahyu Dhani Purwanti MPd.

Bahkan acara itu juga dihadiri Rektor Universitas Indonesia Profesor Dr Ir Muhammad Anis MMet.

Berikut foto-foto kegiatan di forum itu:

wuhan forum 2wuhan forum 3wuhan forum 1wuhan forum 4wuhan forum 5

Rusli Bintang

Kisah Rusli Bintang; Hikmah di Balik Musibah (2 Habis)

BERPULANGNYA ke Rahmatullah ayah dan adiknya yang disayangi, memberi hikmah tersendiri dalam lindungan kehidupan Rusli Bintang. Sulitnya kehidupan sebagai anak yatim yang telah dilaluinya membuat pikiran dan hatinya semakin terang.

Penderitaan yang berkepanjangan sebagai anak yatim membuat dia bersimpati dan menyatu dengan penderitaan anak yatim lainnya yang ada dipelosok daerah. Akhirnya, muncul ide dan cita-cita untuk melindungi, menyantuni, membimbing dan mendidik setiap anak yatim yang tidak mampu agar menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

Untuk mewujudkan ide dan cita-citanya pada tahap awal, yaitu tahun 1970 Rusli Bintang bekerja disebuah pompa bensin di Banda Aceh. langkahnya belum lagi mujur. Ia memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya karena salah seorang dari keluarga pemilik pompa bensin merasa iri kepadanya. Melihat keadaan itu, Rusli yang begitu produktif dan usaha itu semakin maju, merekaa takut kalau pada suatu saat Rusli dapat menguasai usaha pompa bensin itu.

Melihat keadaan itu Rusli pun tidak datang lagi bekerja dan semula ia berkeinginan menjadi tukang batu di Blang Bintang. Keinginan itu pun tidak terlaksana karena beberapa orang teman Rusli di Banda Aceh, termasuk H.M. Saleh Syeh mengajak Rusli membantu pekerjaannya. Begitulah kehidupan Rusli berlangsung sampai tahun 1974. Dia menjadi buruh harian dengan tugas dan penghasilan yang tidak tetap pula.

Tak hanya di Banda Aceh, Rusli juga bekerja ke daerah-daerah lain, Di antaranya di Beureunun (Pidie), Lhokseumawe, Aceh Utara. Disana mula-mula ia menjadi buruh angkat pasir pada sebuah kontraktor proyek Resetlemen Mbang.

Berkat ketabahan, kesabaran, dan kejujurannya, setelah lima bulan bekerja dia angkat menjadi penjaga gudang, dan pada tahun itu juga dia diangkat pula menjadi mandor pada kontraktor itu. Cita-cita untuk mengasuh anak yatim terus menghantui pikirannya. Ia berpikir, dengan penghasilannya yang rendah itu sulit untuk mewujudkan cita-citanya. Oleh sebab itu tahun 1976 ia kembali ke desanya untuk mencari pekerjaan lain.

Rusli merencakan membuka kebun di Lamtamot, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. Rencananya dibatalkan setelah mendengar nasehat Ayahwanya (wawak), “Bersihkan niat mu Nak! Jangan membuka kebun, carilah pekerjaan lain, kami akan berhasil karena apa yang kamu mimpikan itu benar. Teruskan usahamu”. Ayahwanya pun melanjutkan nasehatnya, “Ingat, walaupun kamu memiliki kawan seribu orang, tetapi seorang musuhmu dapat menghancurkan kamu jika tidak kamu terima dengan ucapann Alhamdulillah. Sebaliknya, walaupun seribu musuhmu dan seorang kawan mu jika sikap musuh kamu terima dengan Alhamdulillah kamu akan berhasil”.

Rusli terkejut mendengarnya karena apa yang pernah dimimpikannya tidak pernah diceritakan kepada siapapun, termasuk kepada Ayahwanya itu. Dorongan itulah yang menyebabkan Rusli terus mencari pekerjaan lain.

Dengan pengalaman yang dimilikinya, pada tahun 1976 di Banda Aceh Rusli Bintang mencoba menjadi wiraswastawan yaitu sebagai pemborong (kontraktor kecil-kecilan). Usahanya semakin lama semakin membuahkan hasil yang diinginkan.

Tahun 1977, ia mulai mengambil borongan kerja bersamanya dengan seorang keturunan China yang diperkenalkan oleh Pak Karim dengan menggunakan CV Desa Jaya. Hasil usahanya semakin lama semakin maju sehingga beberapa proyek daerah diberikan kepadanya. Dia pun terus mengomunikasikan niat dan cita-citanya kepada Allah.

Bahkan pada saat keuntungan usahanya bertambah banyak, ia mempertegas lagi janjinya dengan Allah dalam sebuah nazarnya, “ Ya Allah, bila saya Engkau berikan rezeki akan saya bantu anak-anak yatim agar janganlah mereka mengalami pahit menjadi anak yatim sebagaimana yang saya alami”.

Di dalam menjalankan usahanya dengan CV Desa Jaya bersama join usahanya, Rusli Bintang banyak menerima nasehat dan bimbingan dari teman dan kenalannya, antara lain dari bapak M. Z Abidin, Kakanwil Depdikbud Daerah Istimewa Aceh saat itu.

Melihat kemampuan Rusli dalam menjalankan usahanya, mereka menyarankan agar Rusli lebih baik berusaha sendiri daripada terus bergabung dengan orang lain. Nasehat itu diindahkan Rusli, pada tahun 1978 ia membeli sebuah perusahaan CV Kumita Karya yang bergerak dibidang kontraktor dan leveransir. Tahun 1979 CV. Kumita Karya ditingkatkan statusnya menjadi PT. Kumita Karya dan Rusli Bintang mengemban tanggung jawab sebagai Direktur Utamanya.

Dalam menjalankan usahanya sehari-hari, Rusli didampingi oleh teman-temannya yang sangat setia yaitu Hasballah Yusuf dan Anwar Amin. Tahun 1980 dibantu pula oleh Joni Makmur yang kemudian menjabat sebagai sebagai sekretaris umum Yayasan Abulyatama.

Usaha Rusli semakin lama semakin maju dan tentu keuntungannya pun bertambah besar. Berkat hasil usaha itu, ia langsung memenuhi janjinya  kepada Allah, yaitu menyantuni anak yatim. Pada tahap awal, yaitu tahun 1980 ia mulai menyantuni 750 orang anak yatim yang ada di Kecamatan Kuta Baroe dan sekitarnya. Santunan yang diberikan pada waktu itu berupa daging lembu setiap hari megang, yaitu setahun tiga kali ; menjelang puasa, menjelang Hari Raya Idul Fitri dan menjelang Hari Raya Idul Adha.

Setiap hari raya, kepada mereka (anak yatim ) juga diberikan pakaian dan uang saku untuk lebaran. Kemudian Allah pun menambah rezekinya hingga kini. Begitulah kisah hidup salah seorang anak manusia. Lika-liku hidup yang dialaminya adalah juga rahmat Allah  yang berusaha merubah rahmat itu menjadi sebagian dari nikmat hidupnya. Ingin disaksikan anak-anak yatim hidup sebagaimana layaknya kehidupan anak-anak terdidik lainnya; hidup layak generasi penerus bangsa ini dengan kepandaian dan ketakwaan yang tinggi kepada Allah. Inilah abstraksi cita-citanya yang dijadikan dasar isnpirasi penyantunan anak yatim, pendirian yayasan  dan lembaga pendidikan Abulyatama.

Sumber : Tulisan ini (Kisah Rusli Bintang; Mengganti Peran Sang Ayah dan Kisah Rusli Bintang; Hikmah di Balik Musibah) disalin dari buku Yayasan dan Universitas Abulyatama dalam Lintasan Sejarah, edisi ke II (dua), yang ditulis oleh Helmy Z. Yunus (24 November 1994)

Prof. Safwan Idris

Catat! Mereka Pimpinan Pertama Universitas Abulyatama

UNIVERSITAS Abulyatama merupakan pengembangan dari STKIP Abulyatama. Berbeda dengan universitas lain pada umumnya, pendirian Universitas Abulyatama didasarkan pada beberapa pemikiran yang mendasar untuk menyantuni anak yatim dan meningkatkan kualitas umat sehingga pengembangannya dilakukan setahap demi setahap serta berkelanjutan. Saat ini, Universitas Abulyatama telah berkembang pesat. Lalu siapakah sosok yang pernah memimpin Universitas Abulyatama pada awal pendiriannya?

Dikutip dari Buku Yayasan dan Universitas Abulyatama dalam Lintasan Sejarah, edisi ke II (dua), yang ditulis oleh Helmy Z. Yunus (24 November 1994). Saat itu, Pada tanggal 1 Maret 1984, Yayasan Abulyatama menerbitkan SK dengan Nomor : 09/YAY/1984 tentang pengangkatan Rektor dan Pembantu Rektor Universitas Abulyatama yang akan didirikan. SK tersebut diterbitkan untuk melengkapi berkas permohonan pendirian Universitas Abulyatama yang telah disusun oleh Panitia Persiapan Pendirian Universitas Abulyatama yang dipimpin oleh H. Badruzzaman, S.H sebagai ketua, Drs. M. Ali Oesman sebagai sekretaris.

Berdasarkan SK dengan Nomor : 09/YAY/1984 tentang pengangkatan Rektor dan Pembantu Rektor Universitas Abulyatama, mereka yang diberi kepercayaan  untuk memimpin Universitas Abulyatama saat itu adalah :

Rektor                                                                 : Dr. Safwan Idris, M.A.

Pembantu Rektor I                                          : Drs. M. Ali Oesman

Pembantu Rektor II                                        : Drs. Athaillah Usman

Pembantu Rektor III                                       : H. Badruzzaman, S.H.

 

Dua hari setelah SK itu dikeluarkan, tanggal 3 Maret 1984 Rektor melengkapi permohonan pendirian Universitas Abulyatama tersebut dengan mengeluarkan SK-nya dengan nomor: 01/UTAMA/SK/1984 tentang pengangkatan dekan danpembantu dekan dalam lingkungan Universitas Abulyatama. Adapun nama-nama dekan dan pembantu dekan tersebut adalah :

  1. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

Dekan                                                 : Drs. T. Rusydi Ali

Pembantu Dekan I                           : Drs. Yusrizal

Pembantu Dekan II                         : Drs. Nasruddin AR

Pembantu Dekan III                        : Drs. Bakhtiar Nurdin

  1. Fakultas Teknik

Dekan                                                 : Dra. Cut Aisyah Z. Jamil

Pembantu Dekan I                          : Ir. Djakfar Syahbuddin

Pembantu Dekan II                         : Ir. Mohd. Isa T. Ibrahim

Pembantu Dekan III                        : Ir. Idris Ibrahim

  1. Fakultas Pertanian

Dekan                                                 : Drs. M. Diah Husin

Pembantu Dekan I                          : Ir. M. Yusuf Nyak Pha, M. Sc.

Pembantu Dekan II                         : Ir. M. Djamil Ali

Pembantu Dekan III                        : Ir. Zainuddin Usman, M. Sc.

  1. Fakultas Ekonomi

Dekan                                                 : Mohd. Isa KB, S.E.

Pembantu Dekan I                          : Anwar Amir, S.E.

Pembantu Dekan II                         : Abdullah Rayeuk, S.E.

Pembantu Dekan III                        : M. Yacob Abdi, S.E

Berdasarkan SK tersebut, Rektor saat itu juga telah menetapkan unsur pembantu pimpinan universitas, yaitu kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan, Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan, serta Direktur Diploma beserta sekretarisnya. Mereka adalah Muchlis Usman, S.E, Drs. Abdullah Faridan, Drs. Zainal Abidin dan Drs. Jalaluddin A. Aziz sebagai Direktur  dan Sekretaris Program Diploma. Selain itu, juga ditetapkan pembantu pimpinan Fakultas, Perpustakaan dan Laboratorium.

Rusli Bintang

Kisah Rusli Bintang; Mengganti Peran Sang Ayah (1)

“Besok adik Darmawan seharusnya mengikuti ujian akhir SMP bersama kawan-kawannya, tetapi apa daya saya tak mampu memberikan biaya”

LIMA tahun setelah Indonesia merdeka, yaitu tahun 1950, didesa Lam Asan, Kecamatan Kuta Baroe, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, berdiam sepasang suami istri bernama Bintang Amin dan Halimah. Bapak Bintang Amin dalam kehidupannya sehari-hari bekerja sebagai manteri kesehatan pada Rumah Sakit Umum Banda Aceh. Didalam mengemban tugas sehari-hari, beliau dikenal sebagai mantra yang ramah-tamah, simpatik, dan memiliki sifat sosial yang tinggi. Sampai tahun 1969, beliau telah dikaruniai Allah enam orang putra dan satu orang putri. Anak yang paling tua diberi nama Rusli, lahir jumat, 28 April 1950.

Hidup senang bersama orang tua dan seluruh anggota keluarga merupakansuatu dambaan bagi setiap anak, termasuk Rusli mendambakan hal itu. Namun, sebagai manusia, kita hanya dapat berharap, tetapi penentuan liku-liku kehidupan ada pada Allah Yang Maha Kuasa. Itulah yang dialami Rusli Bintang serta adik-adiknya. Pada saat mereka masih membutuhkan kasih sayang, tiba-tiba ayahnya, Bintang Amin, menghadap Allah SWT. Ketika itu tahun 1969, Beliau meninggal pada empat puluh tahun.

Kenyataan ini, harus diterima oleh Rusli dengan perasaan dan pikiran yang berat. Sebagai pemuda tanggung, yang pada saat itu ia masih duduk dikelas I SMA Muhammadiyah merasa tertekan batinnya. Oleh karena, sebagai anak tertua, peristiwa itu mengharuskan dia memilih melanjutkan sekolah atau menjadi kepala keluarga, menggantikan ayahnya. Ia kecewa karena tidak mungkin lagi melanjutkan pendidikannya seperti anak-anak yang lain dan cemas memikirkan masa depan adik-adiknya. Di dalam pikirannya terbayang bahwa tidak ada gambaran harapan masa depan yang cemerlang.

Sebagai anak yang telah mendapatkan pendidikan dan bimbingan agama yang kuat dari almarhum ayahnya, Rusli menyadari bahwa kehidupan ibu dan adik-adiknya merupakan tanggung jawabnya. Terlebih ayahnya tidak meninggalkan harta yang berharga untuk dijadikan modal kehidupan mereka. ia bertekat mencari nafkah untuk berbakti dan melayani kehidupan ibu dan adik-adiknya yang dicintainya.

Dengan bermodal semangat dan keikhlasan berbakti kepada ibu dan adik-adiknya, Rusli berusaha menyambung hidup sehari-hari sebagai pekerja kasar. Derap langkah kehidupannya ditelusurinya secara tabah karena semua itu merupakan tekat dan sadar bahwa berusaha dengan kesungguhan dan tekun serta dibarengi dengan doa ibunya merupakan jalan untuk mencari kecermelangan masa depan. Namun, dalam menempuh hidupnya penderitaan dan cobaan datang silih berganti.

Pada tahun 1970 percobaan serupa dialami lagi oleh Rusli. Adiknya yang tertua Darmawan meninggal dengan tiba-tiba. Darmawan merupakan adiknya yang sangat ia cintai. Ia merupakan harapan dan pusat perhatian bagi Rusli. Ia merupakan sosok adik yang lemah lembut dalam bertutur sapa, pandai mengambil hati keluarganya, mengerti kehidupan keluarganya sehingga dia juga merupakan tumpuan harapan dan pusat-pusat perhatian semua anggota keluarga.

Darmawan jatuh sakit dengan tiba-tiba tanpa ada gejala sekit sebelumnya dan akhirnya meninggal dunia. Kepergian Darmawan kesan perih bagi keluarga. Terutama Rusli Bintang sebagai abang kandungnya. Kepergian Darmawan membawa luka perih yang mendalam baginya, seolah-olah penyebab meninggalnya bersumber dari ketidak mampuan Rusli memenuhi harapannya.

Perasaan itu terus menghantui pikiran Rusli karena beberapa hari sebelum musibah itu terjadi, Darmawan pernah meminta kepada abangnya, Rusli, uang Rp. 1000 untuk membayar pendaftaran ujian akhir. Saat itu Darmawan bersekolah di SMP Iskandar Muda. Rusli tidak berdiam diri menanggapi permintaan adiknya, berbagai cara dan upaya ia lakukan dengan penuh rasa tanggung jawab, namun  apa hendak dikata, hingga berakhirnya jadwal pendaftaran ujian akhir, Rp. 1000 yang diminta oleh adiknya tak jua ia peroleh.

Rusli tak patah semangat, ia menjumpai kepala sekolah untuk meminta penangguhan waktu pembayaran uang pendaftaran tersebut. Bagi Rusli mencari uang Rp. 1000 pada waktu itu sangat berat, untuk memenuhi keperluan wajib berupa dua bamboo beras setiap harinya dia harus sekuat tenaga untuk memperolehnya, itu belum termasuk lauk-pauk dan kebutuhan harian lainnya. Menyisihkan uang Rp. 1000 pada saat itu sangat tidak mungkin dilakukan Rusli. Untuk mendapatakan uang tersebut semua usaha telah ia lakukan termasuk berusaha meminjam pada teman,  malah pada pamannya sendiri, Cut Yunus, namun hasilnya tetap nol.

“Besok adik Darmawan seharusnya mengikuti ujian akhir SMP bersama kawan-kawannya, tetapi apa daya saya tak mampu memberikan biaya” terbisik pada hati Rusli.

Seharian ia berusaha, Rusli hanya mampu membawa pulang kerumahnya satu bambu beras. Sesampai d irumah menjelang magrib, dilihat Darmawan sedang turun dari tangga rumahnya hendak pergi ke meunasah (surau) dan dengan suaranya yang sedikit rendah dia bertanya pada abangnya “Bagaimana Abang?”

Dengan nada berat, Rusli menjawab “Jangan putus asa Dik! Tahun depan Adik ikut ujian. Abang belum mampu mencari uang yang Adik perlukan,” Ujar Rusli kepada Darmawan, Adiknya.

Saat itu hati Rusli begitu pilu, semakin pilu ketika Rusli hanya bisa memberi harapan, bukan memenuhi kebutuhan yang diperlukan adiknya, uang sebesar Rp 1000.

Dalam keadaan gelisah, Rusli meninggalkan rumah dan pergi tidur bersama teman-temannya sekedar menghibur diri. Pada malam itu, Rusli diliput rasa gelisah dan semakin lama rasa itu semakin menjadi-jadi. Akhirnya ia putuskan pulang kerumahnya pukul 23.00 WIB. Secara kebetulan, adiknya yang tadi pergi ke Meunasah diantar oleh teman-temannya dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Dengan bantuan Ayah Cek Daud sebagai supir Bus PMAB No. 4, malam itu juga Darmawan dibawa ke Rumah Sakit Umum Banda Aceh, setelah diperiksa, Dokter mengatakan bahwa Darmawan dalam kondisi kritis dan kecil harapan untuk bisa ditolong.

Rusli bertanya kepada dokter tentang penyakit apa yang diderita adiknya. Kata dokter, adiknya mengalami stress yang sangat tinggi. Kala itu hati Rusli berkecamuk, rasa sedih, bersalah dan penyesalan menjadi satu. Ia merasa, mungkin karena ketidak mampuannya memenuhi permintaan adiknya adalah penyebab stres yang dialami Darmawan, adik yang sangat ia cintai.

Rusli tidak tahu apa yang harus ia lakukan, kepada siapa ia harus minta bantuan? Rasa sedih dan air mata terus berlinang. Ia hanya berserah diri kepada Allah, kepada Yang Maha Kuasa ia mengada nasib. Ia hanya teringat bahwa kemiskinanlah yang membuat ia tidak mampu memenuhi harapan kecil adiknya.

Sambil mendekatkan wajahnya ketelinga adiknya yang terbaring tidak sadarkan diri, Rusli memohon kepada Allah, “ Ya Allah, Ya Rabbi, berikan kehidupan kepada adik saya walaupun hanya sebentar saja. jangan Engkau ambil dulu nyawanya; saya rindu berbicara dengannya. Pada Mulah tempat saya meminta tolong”.

Dengan izin Allah, Darmawan yang sudah tidak sadar hampir sepuluh jam, berbicara “ Saya tidak apa-apa bang, saya tidak sakit, tetapi tidak tahu mengapa saya pening, mungkin saya akan pergi,” ujar Darmawan.

Allah berkehendak. Ketika matahari terbenam, menjelang waktu magrib Darmawan meninggal dunia.

Sesaat setelah Darmawan meninggal, ketika semua orang berdatangan menunduk kepala menyatakan duka citanya, Rusli bermunajah kepada Allah. “Ya Allah, kalau Engkau berikan rezeki, maka apa yang dialami adik saya jangan lagi dialami oleh anak yatim lainnya. Janganlah mereka mengalami pahit menjadi yatim sebagaimana yang saya alami.”

Pada malam itu Rusli berpikir akan tanggung jawabnya kepada keluarga. Rusli berpikir, sebelum meninggal, Darmawan merupakan tumpuan harapan untuk membantunya membagi derita, namun setelah ia meninggal, beban itu harus sepenuhnya ditanggungnya sendiri. Seketika itu keluar pertanyaan dalam batinnya, “mengapa ya Allah, nasib seperih ini menimpa saya?”

Selanjutnya : Cerita Hidup Rusli Bintang ; Hikmah di Balik Musibah (2)

perpus 4

Fundamental Perpustakaan

DEWASA ini, perpustakaan telah banyak dikenal oleh kalangan masyarakat dari pada masa-masa sebelumnya. Tempo dulu, sebagian besar masyarakat berasumsi bahwa perpustakaan hanyalah tempat yang digunakan untuk gudang buku. Masyarakat kurang mengetahui manfaat yang dapat diperoleh dari perpustakaan.

Perpustakaan kini lebih dikenal oleh masyarakat, berkat bantuan dari program pemerintah yaitu dengan cara mendirikan perpustakaan-perpustakaan sampai kepelosok pedesaan. Dan tidak terlepas juga dari usaha dan daya upaya para pustakawan yang dengan berbagai cara menperkenalkan kepada masyarakat tentang mamfaat adanya suatu perpustakaan.

Terkait pembahasan diatas. Mari kita selami dulu Ilmu tentang perpustakaan agar kita senantiasa dapat lebih memahami pengetahuan asal mula suatu perpustakaan.

Sesuai dengan judul pembahasan kita saat ini yaitu “fundamental perpustakaan” maka yang akan kita kupas hanyalah sekedar pengantar dari sepenggal ilmu terkait perpustakaan.

Dalam bahasa indonesia, istilah “perpustakaan” dibentuk dari kata dasar “pustaka” dengan ditambah awalan “per” dan akhiran “an”. Dalam bahasa asing, ada beberapa istilah yang artinya sama dengan perpustakaan antara lain:
– Library ( bahasa Inggris)
– Bibliotheek (bahasa Belanda)
– Bibliothek ( bahasa Perancis)
– Biblioteca (bahasa Italia)

Semua istilah ini mempunyai kata dasar yang berarti “buku”. “Pustaka” dalam bahasa Sanskerta, “liber” dari bahasa latin, dan “biblion” dari bahasa Yunani, semuanya berarti buku.

Pengertian perpustakaan dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang penerangan, penelitian, perencanaan, pendidikan, koleksi, gedung dan sebagainya. Penglihatan dari berbagai sudut pandang ini tentu saja menciptakan pengertian perpustakaan yang berbeda-beda. Hal ini dapat kita lihat dari karya tulis dan pendapat yang diungkapkan oleh beberapa seorang ahli kepustakaan yaitu;
1. Encyclopaedia Britanica (1968:1031) menyatakan pengertian perpustakaan sebagai berikut:
“A Library ( from Lat. Liber, “book”) is a collection of written, printed or other graphic material ( incliding film, slide, phonograph record and tapes) organized for use.”
Artinya: perpustakaan ( dari bahasa Latin liber., “buku”) adalah suatu himpunan bahan-bahan tertulis, tercetak ataupun grafis lainnya (termaksud film, slide, rekaman-rekaman fonografis dan tape-tape) yang diatur untuk digunakan.

2. Menurut Hornby, A.S. (1968:562) pengertian perpustakaan adalah: “Library : room or building for a collection of books kept there for reading : the books in such a room or building”.
Artinya: Perpustakaan : ruangan atau gedung untuk suatu koleksi buku yang disimpan disitu untuk bacaan; buku didalam ruangan atau gedung.

Standing disebut diatas hanya memberi penjelasan mengenai perpustakaan dari suatu sudut pandang saja yaitu, dari sudut pandang gedung ataupun koleksinya.

Selain itu ada pendapat lain yang diutarakan menurut M. Sabirin Nasution. Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang bertugas mengumpulkan, menyimpan, memelihara dan mengelola pemanfaatan bahan pustaka, dengan mempergunakaan sistem tertentu untuk tujuan bacaan ataupun penelitian.
Dari pengertian ini terlihat perbedaan perpustakaan dengan toko buku. Perpustakaan lebih berfungsi sosial dalam memberikan sumber informasi dengan cara yang mudah dan murah kepada masyarakat pengguna perpustakaan dengan tujuan mencerdaskan kehidupan masyarakat secara luas. Sedangkan toko buku lebih mengedepankan dalam segi ekonomisnya.

Berdasarkan pemahaman di atas dapat disimpulkan maksud dari perpustakaan adalah; suatu gedung dimana terdapat suatu unit kerja yang bertugas mengumpulkan, menyimpan, memelihara dan mengelola pemanfaatan bahan pustaka, dengan mempergunakan sistem tertentu untuk dipergunakan oleh pemakai perpustakaan sesuai dengan kebutuhan. Dan terlihat dengan jelas bahwa tugas perpustakaan tidaklah ringan. Dalam pelaksanaan tugasnya, mengumpulkan bahan pustaka saja merupakan tugas yang cukup berat, sebab tidak semua penerbit bersedia mengirimkan bahan pustaka yang diterbitkannya ke perpustakaan. Hal ini akan lebih terasa berat apabila pengguna perpustakaan membutuhkan bahan pustaka untuk literartur pendidikan dan penelitian.

Dalam perpustakaan terdapat perpaduan 7 unsur pokok yaitu:
– Unsur tujuan
– Unsur koleksi bahan pustaka
– Unsur gedung/ruang dan perlengkapan
– Unsur isi
– Unsur tenaga tertentu
– Unsur organisasi dan tata kerja
– Unsur masyarakat pemakai

Unsur tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai oleh perpustakaan. Perpustakaan harus beraktifitas, bergiat dan berproses untuk dapat tercapainya tujuan tersebut. tujuan perpustakaan berorientasi kepada kepentingan pemakai, bangsa dan negara.

Unsur koleksi bahan pustaka : koleksi perpustakaan adalah berupa informasi, pengetahuan, fakta, ide, dan sebagainnya, baik yang tercetak ataupun terekam. Informasi tersebut dapat berbentuk buku, majalah, brosur, surat kabar, piringan hitam, slide, film, kaset, foto dan sebagainya yang tercakup dalam istilah bahan pustaka.

Unsur gedung/ruangan dan perlengkapan : gedung perpustakaan hendaknya mempunyai bentuk khusus yang membedakannya dengan gedung-gedung yang lain. Begitu juga dengan ruangan-ruangan yang terdapat di dalamnya, garuslah disesuaikan dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh perpustakaan yaitu kegiatan pengadaan, pengolahan, pemiliharaan, pelayanan dan sebagainya. Perlengkapan perpustakaan disesuaikan juga, misalnya bentuk meja sirkulasi, rak-rak buku, rak majalah, meja/kursi untuk pemakai perpustakaan yang ingin belajar sendiri dan lain sebagainya.

Unsur sistem tertentu : sistem adalah tehnik, metode atau cara. Prasarana, sarana dan kegiatan perpustakaan semua ditata, dikelola dan dilaksnakan dengan sistem tertentu. Sistem ini yang antara lain membedakan perpustakaan dengan toko buku dan lain-lain. Sistem tertentu pada perpustakaan misalnya sistem katalogisasi, sistem klassifikasi, tajuk subjek, filing dan sebagainya.

Unsur organisasi dan tata kerja : perpustakaan mempunyai wadah, pembagian tugas dan sumber daya. Suatu perpustakaan merupakan suatu unit kerja atau suatu satuan organisasi yang mempunyai tugas sesuai dengan fungsi dan tujuan perpustakaan.

Unsur tenaga : perpustakaan haruslah dikelola oleh tenaga yang berpendidikan dan berketerampilan perpustakaan. Disamping mempuyai pengetahuan dan keterampilan perpustakaan, seorang tenaga perpustakaan juga harus mempunyai jiwa mengabdi untuk kepentingan masyarakat yang dilayaninya : berusaha untuk meningkatkanminat baca masyarakat, rajin, tekun, teliti, dan selalu siap sedia untuk memberikan bimbingan dan pengarahan tentang cara penggunaan perpustakaan, sehingga masyarakat akan tertarik untuk berkunjung ke perpustakaan dan menjamin bahan pustaka yang tersedia.

Unsur masyarakat yang dilayani : masyarakat ini berada diluar bentuk fisik perpustakaan, namun perpustakaan dibentuk dan diselenggarakan terutama untuk kepentingan masyarakat. Oleh kerena itu perpustakaan tanpa masyarakat yang dilayani, tidak akan ada manfaatnya. Masyarakat adalah suatu unsur terutama dalam penyelenggaraan perpustakaan.

Ketujuh unsur yang tersebut diatas terpadu dalam satu kesatuan yang disebut perpustakaan. Masing-masing unsur saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Sesuai dengan tujuan dan pengartian perpustakaan yang telah disebutkan diatas, maka akan dapat kita ketahui bahwa dari ketujuh unsur yang tersebut diatas yang paling utama adalah unsur bahan pustaka dan unsur masyarakat pengguna

BERSAMBUNG…

lambang abulyatama

Tahukah Anda Makna Lambang Abulyatama?

LAMBANG tak sekedar menjadi identitas, namun ia juga mengandung berbagai makna. Ia adalah dasar berdirinya sebuah lembaga, termasuk seperti Universitas Abulyatama yang diberi nama Lambang Abulyatama. Ini adalah simbul Universitas Abulyatama yang akan terus melekat, dan menjadi tonggak berdirinya sebuah kampus ayahnya anak yatim ini.

Tentu saja sebuah lambang bukan sekedar goresan tanpa makna. Untuk menciptakan simbol pastilah terjadi diskusi panjang, sebab ini menjadi identitas dari seluruh unsur yang melekat dengan kampus. Begitu juga dengan Lambang Abulyatama.

Dikutip dari buku berjudul “Yayasan dan Universitas Abulyatama dalam Lintasan Sejarah”, Lambang Abulyatama memiliki keterangan sebagai berikut:

1. Lambang bernama “Lambang Abulyatama”. Lambang Abulyatama merupakan Natijah/intisari dari:

  • back ground; kelahiran
  • citra; panutan dan pengalaman
  • ideal; perjuangan dan cita-cita

2. Lambang Abulyatama mengandung hikmah, hakekat, dan makna-makna sebagai berikut:

a. Segi lima Abulyatama didirikan atas dasar Rukun Islam dan Pancasila Ideologi Negara

  • Rukun Islam adalah fondamen Aqidah Islamiah sebagai ummat beragama wajib meyakini kebenara agama Islam dan mengamalkannya.
  • Pancasila adalah fondamen/azas, ideologi negara. Sebagai warga negara Indonesia wajib dijadikan sebagai pedoman dan pengamalan di dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

b. Dasar hijau adalah dasar kesucian, kedamaian, kesuburan dan kebahagiaan, baik dunia maupun akhirat.

c. Bintang adalah dasar wujud harapan dan cita-cita.

d. Allah di tengah-tengah bintang adalah harapan dan cita-cita harus bersumber untuk mendapat petunjuk dan ridha Allah SWT.

e. Dua bulan sabit mengapit bintang adalah adalah sumber inspirasi, ilham membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT, menuju pelaksanaan cita-cita dan mengharapkan ridha-Nya.

f. Dua rencong setengah tegak, gagang bertemu arah, cinta damai dan kerukunan.

g. Tulisan Abulyatama dasar huruf Arab menghubungkan dua gagang rencong adalah pertanda kesatuan dan persatuan dengan jiwa patriot serta cinta damai, penuh taqwa kepada Allah SWT, untuk membangun masyarakat beragama, berbangsa dan bernegara, kesatuan/keharmonisan yang bersumber dari keyakinan pada Allah SWT.

h. Segi lima dengan bentuk piramid kecil pertanda “benteng” pemagar, terhadap tantangan dan hambatan Abulyatama.

i. Dua kursi pertanda Abulyatama adalah tempat beramal, mengabdi dan menggali ilmu pengetahuan.

j. Tulisan Arab dalam bulan sabit yang berarti: bertolong-tolonglah kamu dalam berbuat baik dan taqwa, dan jangan bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan kejahatan.

3. Lambang Abulyatama dapat dipergunakan setiap Lembaga Perangkat Instansional serta berbagai atribut lainnya di lingkungan Yayasan Abulyatama sepanjang tidak bertentangan perundang-undangan, peraturan negara dan dalam hal-hal yang tidak mengurangi “martabat/citra” Abulyatama.

rusli-bintang2

Rektor Kadafi Memutar Memori Tentang Rusli Bintang

“JIKA diibaratkan manusia, Universitas Malahayati kini melangkah menuju kedewasaan, ia sudah mengarungi dan melalui jiwa kekanak-kanakan dan juga masa remaja yang penuh gejolak dalam mencari jati diri,” kata Rektor Universitas Malahayati, Dr Muhammad Kadafi SH MH, pada pidato malam puncak Dies Natalis Universitas Malahayati di Graha Bintang, tadi malam.

Pernyataan Kadafi itu disampaikan di hadapan seluruh dosen, mahasiswa, karyawan, dan juga keluarganya yang hadir pada malam itu. Suasana terasa hening tatkala Kadafi mengajak semua untuk sejenak memotar memori ke titik awal berdirinya Universitas Malahayati pada Jumat 27 Agustus 1993.

Keliharan sebuah kampus di Bandar Lampung dari seorang “bidan” bernama H. Rusli Bintang yang juga lahir pada hari Jumat pada 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Rusli yang menjadi bidan, melahirkan, dan kemudian membesarkan Universitas Malahayati.

Berawal dengan merangkak-rangkak dari beberapa ruko di Jalan Kartini, kini kampus ini berdiri megah di Jalan Pramuka Nomor 27, Bandar Lampung. Berada dalam lahan 84 hektare, di sini berdiri sejumlah gedung berlantai delapan.

Beragam fasilitas ada di sini, mulai dari fasilitas akademik seperti lab kesehatan hingga non akademik seperti sarana olah raga. Bahkan, ada rumah sakit yang melengkapinya yaitu Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin. Hingga kini Rusli masih sangat perhatian pada kampus ini.

Sedikit saja kampus ini meriang, maka Rusli akan merasakan demam, dan menjalar ke berbagai sendi-sendi kehidupannya. Bahkan ia juga pontang-panting mencari obat mujarab agar kita tetap segar.

Ia telah membuat tonggak dalam kehidupannya. Mendirikan sebuah menara kehidupan bagi jutaan orang, yaitu untuk dunia pendidikan dan juga anak-anak yatim. Sebuah menara kehidupan yang diisi dengan cinta kasih antar sesama manusia dan lingkungannya.

Itulah sebabnya, Kadafi mengajak semua untuk merenungi kilas balik jerih payah yang sudah dilakukan oleh semua tokoh-tokoh kampus agar bisa melangkah ke depan dengan mantap.

***

“PAK Rusli Bintang adalah orang tua kita bersama. Beliau membangun kampus ini dan juga beberapa kampus lainnya, bukanlah untuk kepentingan pribadi, tetapi adalah untuk pengabdian beliau dalam menjalani kehidupan. Itulah sebabnya, semua kampus yang didirikannya selalu mengutamakan kepentingan sosial, terutama untuk menyantuni anak-anak yatim.”

Kalimat itu juga dari Kadafi. Hanya saja itu disampaikannya pada Senin 17 Agustus 2015. Saat itu, Universitas Malahayati sedang memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-70, yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan HUT Universitas Malahayati.

Suasana pembukaan HUT Malahayati memang terasa lebih merasuk, sebab dilakukan di dekat Danau Yatim Universitas Malahayati, berlangsung sederhana, makan bersama di bawah tenda yang tersusun di jalan tepi danau. Kadafi mengatakan yang paling penting dari dies natalis ini tak lebih adalah sebuah perenungan dari sebuah perjalanan panjang kampus ini.

“Jejak kampus ini tak lepas dari langkah-langkah yang sudah ditempuh Pak Rusli. Jika kita lihat langkah-langkah yang ditempuhnya, tentu tak bisa kita cerna dengan logika sederhana. Bagaimana ia yang anak yatim, hanya sekolah tamatan SMA, namun bisa mendirikan empat kampus di berbagai daerah,” katanya.

Sejenak Kadafi menceritakan riwayat hidup Rusli Bintang. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga sederahana dan bahagia. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Dari ayahnya yang berjiwa sosial, dan sang ibu yang penyayang itulah tertanam rasa kasih sayang pada sesama.

Namun di saat usianya yang masih belia, Allah berkehendak lain. Bintang kembali kepangkuan Ilahi, tinggallah Rusli bersama ibunya dan enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Waktu itu, Rusli masih duduk di kelas satu SMA Muhammadiyah.

Sejak itu, Rusli menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja serabutan untuk membantu adik-adiknya bersekolah.

Hingga kemudian, ia menerima cobaan lagi, tatkala seorang adiknya, Darmawan Bintang, meninggal dunia lantaran stres tak bisa ikut ujian akhir sekolahnya di SMP Iskandar Muda, pada 1970. “Waktu itu, ia membutuhkan biaya sekolah hanya seribu rupiah. Saya minta waktu untuk mencarinya, saat uang saya dapatkan, adik saya sudah terlanjur sakit lantaran memikirkan sekolahnya,” katanya.

Melihat sang adik tergolek lemah di atas tikar. Anak yatim ini membopongnya membawa ke puskesmas terdekat. Rumah Rusli di Lampoh Keudee adalah kawasan perkampungan, saat itu kendaraan umum tak ada yang masuk kampung.

Jadilah Rusli menggendong adiknya untuk dibawa ke puskemas. Ia berjalan kaki berlari-lari membawa adiknya. Bahkan dalam perjalanan, pungung Rusli sudah dipenuhi kotoran dan muntah sang adik yang sakit parah. Setibanya di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi.

Sejak itu Rusli bertekad untuk mengubah nasib anak-anak yatim. Maka berbagai kerja dilakoninya, Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Hingga kemudian Rusli menjadi pengusaha konstruksi dengan menggunakan CV Desa Jaya pada 1977. Setahun kemudian, ia sudah memiliki perusahaan sendiri bernama CV Kumita Karya. Badan usaha ini, ditingkatkan statusnya menjadi badan hukum PT Kumita Karya pada 1979.

Setahun bersama PT Kumita Karya, Rusli sudah menyantuni 750 anak yatim di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Bisnis Rusli berkembang dengan pesat, bahkan menjadi satu-satunya pengusaha angkutan yang dipercaya menjadi pendistribusi semen hasil produksi PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis.

Sukses berbisnis tak membuat Rusli melupakan janji, lalu ia mendirikan Yayasan Abulyatama pada 1983. Dari sinilah ia kemudian mendirikan sekolah dasar, SMP, SMA, dan Pesantren Babun Najah di Ulee Kareng Banda Aceh. Hingga kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di Lampoh Keudee, Aceh Besar. Kampus ini kini sangat berkembang, dan berbagai fasilitas berada dalam lahan seluas 54 hektare.

Sebagaimana arti dari nama Abulyatama, maka Rusli pun menjadi ayahnya anak-anak yatim. Ia menyantuni anak yatim, menyekolahkan mereka, bahkan menampungnya bekerja di seluruh unit usaha yang didirikannya.

Kemudian, Rusli mendirikan Universitas Malahayati dengan badan hukum Yayasan Alih Teknologi di Bandar Lampung. Selanjutnya ia membangun Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

***

Di atas mimbar yang berada di sudut kiri panggung di Graha Bintang, Kadafi masih melanjutkan pidatonya. Ia mengatakan perjalanan panjang Universitas Malahayati tentu diwarnai berbagai dinamika.

Seperti halnya manusia, dalam sejarah peradabannya sering dipenuhi berbagai pertentangan dan sinergi. Laksana dua buah kutub medan magnet yang menimbulkan daya tolak satu sama lain atau dua muatan listrik yang saling tarik menarik yang menghasilkan energi, lalu dari sini bisa menjadi penerangan atau kerusakan.

“Pertanyaannya adalah bagaimana kita tetap menjaga dua muatan listrik ini tetap saling tarik menarik dan menghasilkan penerangan bagi kampus ini?” Kadafi bertanya.

Di kampus Universitas Malahayati ada ribuan orang dengan berbagai pola fikir yang berbeda-beda, dan juga sifat dan karakter yang beragam. Jadi, kata Kadafi, dari sini bisa menghasilkan sebuah energi besar untuk mendorong Universitas Malahayati menjadi lembaga pendidikan yang sangat diperhitungkan. “Intinya, adalah menyatukan pikiran ke arah yang positif,” katanya lagi.

“Saya percaya pada kekuatan berpikir ini. Jika kita sama-sama memadukan kekuatan berpikir, melahirkan ide-ide positif, dan kemudian mewujudkannya, maka Insya Allah akan berwujud pada sebuah makna kehidupan yang bernilai tinggi di Universitas Malahayati ini,” kata Kadafi.

Lalu, Kadafi mengajak seluruh civitas akademika untuk menghadirkan refleksi dari perjalanan kampus ini, atau yang paling singkat adalah perjalanan per individu kita di kampus ini.

Benar, refleksi dalam ilmu eksak adalah perubahan arah rambat cahaya ke arah sisi asalnya, setelah menumbuk antarmuka dua medium. Refleksi dalam kehidupan adalah proses merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan, tujuannya untuk mendapatkan kekuatan dalam melangkah ke depan.

Filsuf Yunani, Socrates, menyebutkan “hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi.” Mari kita merenungkannya, dan mari kita merasa-rasakannya, dan marilah kita wujudkan cita-cita kita bersama.

Cita-cita untuk mewujudkan makna keberadaan kita di Universitas Malahayati. Lalu, kita bisa mewujudkan makna keberadaan Universitas Malahayati di negeri ini. Dari sini, bisa menilai seperti apa sebenarnya diri kita ini.

Apakah kita sosok yang memancarkan cahaya yang menerangi kehidupan, atau kita adalah penyebab kegelapan. Mari merenungkannya. []