Keurajeun Lhee Sagoe; Jejak Jati Diri Orang Aceh

BERDIRI di puncak bukit Lamteuba, Lamreh, Masjid Raya, Aceh Besar, mata bebas menyorot seluruh penjuru angin. Dari ujung barat terlihat gelombang ombak menggoda teluk. Ada lidah pelabuhan Krueng Raya menjulur menjilat laut. Sementara di sepanjang pantai, bulir-bulir riak berbuih putih seakan menggumul pasir.

Berpaling ke selatan, gugusan perbukitan membujur laksana benteng tempat Gunung Seulawah gagah menampakkan puncaknya. Sebelah timur, tersembul bukit berkarang tampak berundak-undak.

Memandang ke utara terbentang hamparan luas Selat Melaka yang mengepung Pulau Weh. Diramaikan burung mengepakkan sayap menggelitik bayu yang ditingkahi lambaian nyiur. Angin mendesau, kadang menyemilir, kerap juga bertiup kencang. Terasa nyaman.

Suasana seperti itulah yang kami rasakan pada akhir September 2013. Terpesona keindahan alam membuat kaki enggan beranjak. Apalagi bukit-bukit itu tak hanya menawarkan keindahan, juga menyimpan cerita penting tentang sejarah Aceh.

Berjarak sekitar 36 kilometer dari kota Banda Aceh, areal ini terletak di sisi kiri Jalan Krueng Raya. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit mengendarai kendaraan roda empat yang dipacu rata-rata 60 km/jam.

Hanya jalan setapak yang bisa dilewati satu mobil menuju ke kaki bukit. Berbatu. Setelah itu ada semak belukar yang harus dilalui saat mendaki.

Tiba di puncak berasa berdiri di pos penjagaan kota pinggir pantai. Semua aktivitas di bawahnya terawasi dengan mudah.

Bahkan undakan yang di sana-sini terdapat batu mirip tembok kokoh seperti menegaskan bukit ini adalah bangunan kuno yang menyimpan rahasia sejarah. Kesan itu makin kuat sebab ada bebatuan tertata rapi seperti susunan dinding. Sebagian besar tatanan tertimbun tanah ditumbuhi rumput liar di kawasan gersang yang mirip atap gedung terlantar.

Beragam tembikar berserak di sela-sela batu kapur. Di antaranya diduga terbuat dari tanah liat berwarna coklat kemerah-merahan, ada juga berbahan keramik hijau muda dan kuning agak gelap. Beberapa tembikar berhias lukisan ornamen bunga.

Pecahan beling itu tak hanya di puncak bukit, tetapi berserak di hampir seluruh area hingga ke jalan setapak. Kami juga menemukan batu nisan berukir kaligrafi Arab dipadu ornamen bunga.

Terkubur tepat di kaki kami berpijak, kepingan-kepingan inilah yang meriwayatkan Kerajaan Lamuri.

***

KEBERADAAN Kerajaan Lamuri diduga ada sejak terbentuknya jaringan lalu lintas internasional. Sejumlah penulis telah mencatatnya sejak abad ke-8. Di antaranya penulis Arab, Ibnu Khordadhbeh (844-848), menuliskan Lamuri dengan nama Ramni. Dia menyebut Lamuri tempat kapur barus serta hasil bumi.

Sejumlah catatan dari China menyebutkan Lamuri (Lan-wu-li) sebagai jajahan Sriwijaya (San-fo-ts’i). Cerita ini terdapat dalam tulisan Chau-Yu-Kwa dalam bukunya Chu Fan-Shi yang terbit pada 1225 Masehi.

Buku ini menukilkan Lan-wu-li belum menganut Islam. Sehari-hari sang raja mengendarai gajah. “Di istananya ada dua ruangan untuk menerima tamu.”

Cerita Chau-Yu-Kwa berbeda dengan Marco Polo yang pernah singgah ke Pulau Sumatera pada 1292. Dia menemukan Kerajaan Lamuri yang tunduk pada Kaisar Cina dan wajib membayar upeti.

Keterangan Marco Polo sesuai dengan buku Dinasti Ming yang mencatat pernah mengirim sebuah cap dan surat ke Lam-bu-li pada 1405 M. Enam tahun kemudian, kerajaan Lamuri mengirim utusan ke China berikut dengan upetinya.

Laksamana Cheng Ho pun pernah singgah ke Lamuri untuk memberikan hadiah dari China pada 1430.

Beragam cerita menarik itulah yang menggoda minat ilmuan untuk meneliti Kerajaan Lamuri. Misalnya, M. J. C. Lucardie dalam bukunya berjudul “Mevelies de Lindie”, penerbitan van der Lith pada 1836, menuliskan tentang Lamreh yang dikatakan peninggalan Kerajaan Lamuri.

Belakangan, peneliti Inggris, E. Edwards McKinnon, menelusuri bukit Lamreh usai tsunami 2004, sebelumnya pada 1975 dia juga sempat menelusuri jejak Sejarah Aceh. Aktivitasnya diceritakan dalam sebuah makalahnya tentang Sejarah Aceh. Dia bilang Lamreh adalah wujud pemukiman kuno yang jejaknya masih terkubur.

“Puing-puing bersejarah tersingkap saat bulldozer sedang membuka lahan di kawasan Lamreh pada 2011,” begitu Edwards menulis.

Selain temuan beling, masih menurut tulisan Edwards, sebuah penelitian mengungkap jejak tsunami kuno yang terjadi pada 1390 dan 1450. Diperkirakan beberapa kawasan Lamreh hancur digulung tsunami.

Kendati demikian, kepingan pemukiman kuno masih berjejak. “Kami turun ke pantai di Lhok Cut dan di sana langsung menemui banyak beling tembikar, bekas crucible (tempat pemasakan logam) dan batuan keramik Cina dari masa Yuan (1278-1360 M),” tulis Edwards.

Berbagai temuan itu menambah keyakinan Edwards bahwa Lamreh pemukiman yang cukup ramai. Bahkan, dari jejak yang ditemukan menggambarkan Lamuri berada dalam lalulintas perdagangan dunia di masa itu.

Lalu siapa yang memimpin Kerajaan Lamuri? “Dari beberapa catatan, Lamuri dipimpin putra Raja Harsya yang melarikan diri dari Srilanka. Dia kalah perang melawan Bangsa Huna tahun 604,” begitu kutipan dari buku Ragam Citra Kota Banda Aceh yang ditulis Dr. Kamal A. Arief, seorang dosen di Unpar Bandung yang ikut mempelajari arsitektur bangunan kuno di Banda Aceh, salah satunya Lamuri.

Dalam bukunya itu, Kamal mengutip hikayat Aceh yang menyebut raja Lamuri bernama Rahwana. “Nama Rahwana memperjelas hubungan Lamuri dengan Srilanka karena Rahwana dalam cerita Ramayana adalah Raja Srilanka,” kata Kamal kepada The ATJEH.

Adapun Direktur Pusat Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya Universitas Syiah Kuala-Banda Aceh, Doktor Husaini Ibrahim, lebih suka menyebut Lamuri sebagai Kerajaan Indrapurba.

“Dalam perkembangannya lebih dikenal dengan Kerajaan Lamuri. Penyebutan itu karena letaknya berada di Lamreh Krueng Raya, Aceh Besar. Jadi orang condong menyebut Kerajaan Lamuri,” katanya.

Catatan kebesaran Lamuri, menurut Husaini, bisa dilihat pada prasasti Tanjore di India. Dari sini tersembul kisah Raja Radjendra Cola menyerang Illamuridesang (Lamuri) pada abad ke-11. Disebutkan Lamuri sebagai Kerajaan Hindu yang memiliki pertahanan sangat kuat.

Sebagai bukti kedigdayaan Kerajaan Lamuri, Husaini menunjuk tiga artefak di Aceh Besar, yaitu Indrapatra di jalan Krueng Raya, tak jauh dari pusat kerajaan Lamuri. Kemudian Indrapurwa di Ujong Pancu, Lamteh, Ulee Lheue dan terakhir di Indrapuri. “Jika ditarik garis maka cenderung berbentuk segitiga sama sisi,” katanya.

Hasil penelitian Husaini, di artefak itu dia mendapatkan atap berbentuk blok. “Ini ciri khas Hindu. Jadi juga berfungsi sebagai tempat ibadah,” katanya. “Ciri khas lainnya tentang hindu adalah formasi tiga segi posisi bangunan. Termasuk penamaannya.”

***

EMPAT bangunan purba berdiri terpisah di tepi Selat Malaka. Terletak di Gampong Ladong, Masjid Raya, Aceh Besar, tepat di tepi pantai. Berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Banda Aceh bangunan itulah yang disebut benteng Indrapatra.

Berada dalam komplek seluas lima hektare, dua dari empat bangunan itu masih berdiri kokoh.

Bangunan paling besar berbentuk segi empat. Di dinding bangunan yang mirip benteng ada beberapa lubang seperti corong meriam. Tanpa atap, hanya ada satu pintu dengan tangga masuk setinggi dua meter. Di dalam ada empat kubah mengelilingi bangunan inti. Hanya satu yang berwujud utuh, lainnya berupa puing. Kendati berjarak 100 meter dari laut, di dalam kubah berpucuk mirip sanggul ini ada sumur berisi air tawar.

Sepuluh meter dari sini, ada satu lagi benteng dengan ukuran lebih kecil. Tinggi dinding bangunan sekitar 10 meter dengan panjang sisi-sisinya sekitar 30 meter. Untuk masuk ke dalam bangunan tersedia satu tangga kayu 13 anak tangga.

Di dalam bangunan ada tiga lubang setengah bundar di dalamnya menghadap ke utara. Sedangkan lubang-lubang kecil tempat pengintai di arahkan ke hamparan laut Selat Malaka yang berada di sebelah utara.

Di sebelah barat, matahari mengambil ancang-ancang untuk tenggelam dengan pancaran lembayung senjanya. Di sebelah selatan, perbukitan memanjang seperti benteng alam. Di timur, ada teluk Krueng Raya.

Dua bangunan lain hanya berwujud reruntuhan batu. Di atas reruntuhan ada tiga batang Mimba. Daunnya lebat dengan angin sepoi Selat Malaka yang membelainya.

Menyusuri pantai di kawasan ini, beberepa benteng buatan Jepang teronggok di sini. Di antaranya ada yang berada di dalam laut. Bangunan militer jaman Perang Dunia Kedua itu terbengkalai.

Berjarak 20 kilometer di sebelah selatan ada artefak lain yang diperkirakan berdiri masa Kerajaan Lamuri. Terlihat masih utuh, inilah Indrapuri yang berada di kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Bangunan ini ada empat undakan.

Mengelilingi benteng ini, tampak lumut telah menyelubung tembok. Berbentuk persegi, tembok menjulang sekitar sembilan meter. Sebuah sumur tua diapit dua kolam berada di sudut kanan area dasar. Berdiameter 1,5 meter dinding sumur bercincin batu tersusun rapi.

Sekaliling bangunan tampak hijau rerumputan. Di beberapa sudut ada pohon mangga dan rambutan. Daun pisang dan nyiur kelapa melambai-lambai menambah keindahan.

Di sebelah barat, air di sungai Krueng Aceh keruh mengalir antara bebatuan dan mengitari pasir di tengah-tengah seperti pulau. Di selatan ada kebun penduduk. Di timur, ada jalan menuju ke pasar Indrapuri. Rimbun pohon menyembul di sela-sela atap perumahan warga di sebelah utara.

Seorang warga Indrapuri, Adnan Musa, bercerita tentang masa kecilnya yang suka bermain di sekitar benteng Indrapuri. “Kami mendapat cerita turun temurun, bahwa pertapakan Masjid Indrapuri adalah bekas kuil yang dibangun oleh Kerajaan Hindu,” kata pria kelahiran 1932.

Adnan mengatakan, masyarakat kampung percaya di dalam bangunan benteng itu ada ruang yang berupa bilik-bilik. “Seperti tempat penyimpanan barang,” katanya. “Tapi setelah Belanda masuk, pintu ruangan yang terdapat di salah satu sudut lantai masjid ditutup.”

Nun di bukit Goh Leumo yang berjarak 20 kilometer dari Benteng Indrapuri ada bangunan masjid. Di pintu masuk ada tulisan Masjid Indrapurwa. Terletak di Gampong Lamguron, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, tempat ibadah itu dibangun setelah tsunami 2004.

Di belakang masjid ada galian tanah dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter. Berbentuk persegi dengan panjang sembilan meter dan lebar delapan meter ini adalah sisa-sisa bangunan yang materinya mirip dengan Indrapuri dan Indrapatra, dapat dipastikan di sini sisa bangunan Indrapurwa.

Dikelilingi perbukitan dan lautan, di seberang jalan depan gerbang masjid terlihat hamparan rawa. Tampak tumbuhan bakau menghijau. Menyusuri rawa saat laut surut maka dengan mudah menemukan berbagai tembikar berserakan.

Di sebelah kiri gerbang ada tugu beton setinggi satu meter. Didirikan oleh Yayasan Bustanussalatin dan Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh-Nias, tugu ini menjadi tanda bahwa di lokasi masjid inilah jejak Indrapurwa.

Di sinoe na tom geupeudong salah saboh dari lhe keurajeun Hindu di Aceh (seulaen Indrapatra ngon Indrapurwa). Bah lhe boh Indra nyan meuhubongan lam bangon Aceh Lhee Sagoe. (Di sini pernah berdiri salah satu dari tiga Kerajaan Hindu di Aceh –dua lainnya adalah Indrapatra dan Indrapuri- ketiganya saling berhubungan dalam bentuk Segitiga Aceh).

Ketua Majelis Adat Aceh Wilayah Jawa Barat, Kamal A. Arief, mengatakan keterkaitan antar ketiga benteng itu bisa dilihat konstruksinya yang sederhana. “Terbuat dari batu kali dengan ukuran tak beraturan dengan spesi kapur, tanah liat dan pasir sebagai perekat,” kata Kamal yang adalah seorang arsitek ini. “Pelataran di dalam benteng Indrapuri adalah bekas candi.”

Sedangkan titik posisi bangunan yang membentuk formasi segitiga sama sisi itu menyimpan makna. “Itu simbol piramida yang menjadi representasi dari the world mountain (dunia gunung). Bisa diartikan sebagai penjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam,” kata Kamal lagi.

Kamal menerjemahkan artikata tiga “Indra” itu sebagai penentu bangunan mana yang pertama dibangun. “Dan itu adalah Indrapurwa (purwa berarti purba), lalu mereka mendirikan Indrapatra (kemakmuran), terakhir Indrapuri (istana). Dari sini bisa kita ketahui bahwa raja bermukim di Indrapuri,” katanya.

“Tiga benteng itu merupakan datum penghubung sehingga wilayah Aceh Lheesagoe menjadi jelas secara fisik,” katanya. Adapun perbukitan Lamreh, menurut Kamal, boleh jadi itu sebagai kawasan perdagangan atau pemukiman penduduk.

Indrapuri yang terletak di pedalaman dan jauh dari pesisir, kata Kamal, menunjukkan kesesuaian konsep kerajaan hindu. Dari pegunungan ini, Raja Lamuri memimpin negerinya. Dia mengatur manajemen pertemuran menghadapi gempuran Raja Cola. Dalam bukunya, Kemal menulis, Lamuri mampu bangkit dari gempuran Cola dan berjaya hingga abad ke-14. “Kisahnya dapat kita baca dalam Negarakartagama tahun 1365 yang mencatat penyerangan Majapahit ke Lamuri.

***

MASJID itu berada di puncak benteng Indrapuri. Menuju ke masjid perlu manapaki 16 anak tangga yang ada di samping kanan. Dari pintu pagar, masjid yang berada di atas empat undakan tembok kokoh itu nampak megah. Atapnya bersusun tiga undakan berbentuk limas segi empat. Persegi di dasarnya dan mengerucut di tampuk.

Bale-bale dan tempat wudhu berada di halaman depan masjid. Terlihat rapi dengan bunga asoka, kembang sepatu, dan pohon asam. Di sebelah kanan masjid berdiri menara kontruksi kayu berisi kentung kayu.

Masuk ke dalam, 36 tiang kayu segi delapan menopang tiga undakan atap. Di bagian barat, mihrab dan tempat mimbar menyatu dengan tembok dinding setinggi 1,5 meter berukir relief sederhana. Tiga lemari kayu menempel di dinding sebelah kiri mimbar. Lemari tersebut berisi Al-Qur’an dan ratusan kitab.

Warga Indrapuri, Adnan, yang berbincang-bincang dengan The ATJEH mengatakan banyak penduduk sekitar yang paham riwayat masjid Indrapuri. “Jameun sigolom keurajeun Iskandar Muda nyan meuseujid nyan cit kuil. Dudoe baroe diubah jeut keu meuseujid. Nyan bangunan ka jameun ka lagee nyan, adak pih ka keunong rehab bacut-bacut sapat (Dulu sebelum Kerajaan Iskandar Muda, masjid itu adalah kuil. Belakangan baru diubah menjadi masjid. Bangunan itu tak berubah sejak jaman dulu. Hanya direhab sedikit),” katanya.

Menurut pria berusia 81 tahun masjid Indrapuri merupakan saksi sejarah peradaban Aceh. Sebelum Islam menyebar di masyarakat Aceh, Hindu telah terlebih dahulu ada. “Selama kerajaan Hindu sampai kerajaan Islam masih berkuasa, bangunan itu menjadi salah satu titik sentral dari istilah Aceh Lhee Sagoe, dimana dua titik lainnya lagi yaitu Indrapurwa dan Indrapatra,” katanya.

Cerita yang hidup di tengah masyarakat ini mirip dengan catatan sejarah. Adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang berkuasa pada  1496 yang memulai Kerajaan Aceh. Dialah yang menunduukan Kerajaan Lamuri lalu menyatukan beberapa wilayah kerajaan sekitarnya mencakup Daya, Pedir, Lidie, Nakur. Selanjutnya pada 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

“Dalam perkembangan berikutnya, tiga benteng ini menjadi inti atau daerah pokok dari kerajaan Aceh berikutnya. Makanya Aceh dikenal dengan tiga daerah yaitu daerah inti, daerah takluk dan daerah asal,” kata Husaini. Sebab Kerajaan Aceh adalah Islam, maka di atas benteng peninggalan Kerajaan Hindu yang dijadikan kawasan daerah inti kerajaan itu didirikan masjid.

Pola manajemen kerajaan seperti itu, Husaini menjelaskan, dimulai sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636). Di masa kekuasaan Iskandar Muda inilah lahir  Undang-Undang dalam pemerintahan yaitu Qanun Meukuta Alam al Asyi. “Sistem pemerintahan Iskandar Muda  diperkuat penerusnya yaitu Sultan Iskandar Tsani. Begitu juga Sri Ratu Safiatuddin dan Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam yang menerapkan sistem serupa,” katanya.

Berkuasa selama tiga tahun, dari 1675-1978, Naqiatuddin membuat perubahan mendasar pada sistem pemerintahannya.  Dia membentuk tiga sagi dengan istilah mukim. Yaitu mukim 22 di Indrapuri, mukim 26 di Indrapatra dan mukim 25 di Indrapurwa. Angka-angka mukim melambangkan jumlah gampong di masing-masing wilayah itu. “Di tiap-tiap mukim diangkat seorang panglima yang disebut Panglima Sagoe. Mereka mempunyai hak menentukan sah atau tidaknya seorang raja,” kata Husaini.

Cerita Keurajeuen Lhee Sagoe (Kerajaan Segitiga Aceh) ini runtuh setelah Aceh bertempur dengan Belanda. Bahkan ketika Aceh menyatu dengan Indonesia, Keurajeuen Lheesagoe ini hanya menjadi catatan sejarah, meskipun dalam kondisi pemerintahan sekarang ini Keurajeuen Lheesagoe mirip dengan sistem federasi ataupun otonomi daerah. | Malajah The Atjeh

Sensasi Guha Ie

BAHWA gua berada di lereng gunung ataupun perbukitan cukup banyak di Aceh, tak ada yang menyangkalnya. Misalnya, gua Loyang Mandele, tempat ditemukannya kerangka manusia prasejarah di tepi Lut Tawar, Aceh Tengah. Ada juga Guha (gua) Tujoh di Laweueng, Pidie.

Namun bagaimana dengan gua bawah tanah seperti di Selandia Baru yang terkenal dengan Waitano? Berdekorasi megah, gua bawah tanah ini memiliki akustik yang luar biasa. Di belahan bumi Eropa ada lagi The Skocjan Caves. Berada di Slovenia, Skocjan Caves masuk daftar Unesco. Jelaslah, berada di tempat-tempat seperti itu da­pat menuai kepuasan jiwa.

Ternyata sensasi gua bawah tanah dapat juga ditemukan di Aceh. Cobalah sesekali datang ke Guha Ie di Indrapuri, Aceh Besar. Itulah yang kami lakukan. Ditemani dua pemandu dari komunitas pencinta alam, Universitas Muhammadiyah (Unmuha), Banda Aceh, Hendri dan Rinaldi, tim liputan majalah The Atjeh merancang perjalanan untuk mengaduk-aduk isi perut Guha Ie pada 7 November 2013.

Perjalanan berasa mudah sebab Hendri yang akrab disapa Abik adalah warga Desa Lamsie yang dekat dengan Guha Ie. Menggunakan dua motor, kami menempuh perjalanan singkat lintas Banda Aceh – Medan. Kami memacu kecepatan 80-90 km/jam. Tiba di Lambaro, kami membeli korek api, lilin, dan senter, untuk digunakan saat memasuki gua nanti.

Perjalanan berlanjut sampai memasuki Lampakuk, Indrapuri. Di sini ada perempatan. Jika melaju lurus ke depan itu adalah arah ke Medan. Berbelok ke kanan memasuki perkampungan. Pilihannya ke kiri menuju lokasi gua.

Tibalah saatnya memasuki jalan perkampu­ngan. Jangan berharap akan melewati jalan beraspal mulus. Begitu menemukan desa pertama, Lampoh Raja, jalannya berupa aspal keriting dan di sana-sini banyak lubang. Begitu juga ketika memasuki Desa Lamsie. Kendati jalanan hancur, mata terhibur melihat bentangan sawah bersama petani yang sedang asyik memanen padi.

Perjalanan masih panjang, hujan pun turun dengan lebatnya. Kami tetap melanjutkannya hingga tiba ke Desa Lam Alieng. Jalan desa itu tidak berbeda jauh dengan dua desa sebelum­nya. Bentuk permukaan desa berbukit yang dihiasi petak-petak sawah tadah hujan.

Kami memunggungi Gunung Seulawah yang puncaknya tampak dipikul awan. Nun di depan sana sudah terlihat deretan perbukitan tampak menjulang. Itulah Desa Leupung Bruek, yang menjadi tujuan perjalanan ini. Tiba di sini harus melalui jalanan berlumpur dan licin seperti sedang mengikuti offroad saja.

Hingga kemudian bertemu sebuah pondok kayu milik warga yang berkebun. Di sinilah ber­akhir perjalanan menunggangi sepeda motor. Selanjutnya, berjalan kaki. Karena hujan begitu deras, perjalanan tidak mungkin kami lanjutkan lagi.

Tak lama kemudian, hujan pun reda, tapi hari sudah sore. “Kita nggak akan bisa masuk gua, licin dan gelap sekali,” Rinaldi menjelaskan. Waktu paling tepat memasuki gua, kata dia, adalah siang hari.

“Malam ini kita nginap di tempat saya saja,” kata Hendri, pemuda asli Desa Lamsie ini. Tentu kami mengangguk, lalu balik kanan ke Desa Lamsie. Malamnya tidur di warung kopi milik Abik.

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun. Pukul 07.00 WIB, 8 November 2013, saatnya bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Guha Ie. Tentu terlebih dahulu kami mengisi perut dengan masakan Abik. Cuaca pagi itu cerah. Matahari bersinar sempurna. Dari warung kopi itu kami bergerak ke arah gua. Saat itu waktu menunjukkan pukul sembilan lebih.

Perjalanan kembali melewati jalan desa yang kemarin kami lewati. Tiba di pondok itu, kami langsung melanjutkan penelusuran berjalan kaki.

“Nanti harus hati-hati sama jeulatang,” Rinaldi berpesan setelah kami memarkirkan motor. Ia menjelaskan perihal jeulatang; sejenis tumbuhan ilalang yang jika tersentuh dengan kulit akan gatal. “Banyak jenisnya, yang paling bahaya bisa demam,” katanya.

Sembari mendengar penjelasan Rinaldi, kami memeriksa perlengkapan. Setelah yakin beres, ransel kami pasangkan di pundak. Abik membawa perlengkapan panjat tebing, seperti rope, carabiner, dan harness. Sementara fotografer memikul kamera lengkap dengan tripot.

Lalu, kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak penuh ilalang. Sejauh mata memandang, terlihat deretan bukit yang menjadi tujuan kami. Di sepanjang jalan adalah kebun warga. Mereka menanam kakao, pisang, dan mangga. Ada juga pohon jabon.

“Berapa lama kita sampai?”

“Setengah jam,” jawab Abik yang memimpin perjalanan.

Sepuluh menit berjalan, kami sudah me­nerobos hutan belantara. Air menetes dari daun-daun. Kicauan burung terdengar meramaikan. Hingga kemudian mencapai kaki bukit mulai berasa aroma hutan. Jalanan mulai menanjak. Kami menyusuri kaki bukit dan mengikuti jalan setapak yang diapit pohon-pohon besar. Cahaya matahari yang hanya menembus sela-sela dedaunan membuat ruang hutan remang-remang.

Meskipun dalam cuaca dingin, keringat kami tetap saja bercucuran. Selain karena menanjak, jalanan setapak sempit dan licin. Di lintasan kita harus menyibak semak atau menunduk menghindari belukar.

Berselang 20 menit, kami mengaso sejenak. Tiba-tiba teman kami, Syahrol, teringat akan lilin yang tertinggal di pondok. Kami semua melongo tak tahu hendak berkata apa.

Nggak bisa kalau nggak ada lilin. Bagaima­napun harus diambil,” kata Abik. “Lilin adalah hal wajib selain senter dan korek api.”

Namun tak ada yang mau balik ke pondok. Semua mengaku lelah. Untunglah Abik berbaik hati, ia kembali ke pondok seorang diri. Tak lama kemudian, Abik sudah balik dengan sekantong plastik lilin.

Kami bernafas lega, lalu melangkah lagi menelusuri lereng yang bersisian dengan lembah di antara dua bukit. Lembah mirip sungai selebar tiga meter dan kedalaman sekitar dua meter. Di sini perlu waspada, jika terpeleset, maka terperosok.

Abik rutin memberi isyarat jika menemukan sesuatu di jalan, seperti duri, kayu, tikungan, dan persimpangan. Begitu juga Rinaldi. Isyaratnya sederhana, hanya bersiul.

Lelah? Itu pasti. Namun deraannya seperti dicabut dari tubuh manakala Abik menunjuk sebuah lubang. “Itu Guha Ie,” katanya. Seperti mendapat suplemen tambahan tenaga, baru me­ngaso sejenak datanglah godaan mengaduk-aduk rasa ingin tahu apa gerangan di lubang bumi itu.

Lubang gua itu dikepung pepohonan dan semak belukar. Berasa sangat bersahabat dengan alam, hanya ada semilir angin yang menggoyang dedaunan, sesekali burung menunjukkan tingkahnya di pepohonan. Gua persis di kemiringan bukit. Pada area berbentuk lembah, mulut pintu gua mirip gelas dipotong miring.

Di dalamnya terlihat hampir serupa sumur yang dalamnya sekitar 25 meter. Di dasarnya ada dua pintu masuk. Pintu masuk pertama berbentuk bundar berdiameter sekitar dua meter, sedang­kan yang kedua lebih kecil lagi.

Saat kami sedang menikmati suasana sekitar gua, Abik dan Rinaldi mengeluarkan peralatan panjat tebing.

Abik menyambar climbing rope (tali panjat) dan mengaitkannya dengan benda-benda pendukung lain yang dibutuhkan untuk turun ke dasar gua.

HER_1779Ia mengganti baju kaos hitam yang tadi dikenakannya dan mengganti dengan kaos berwarna merah. Celana jeans ditanggalkannya, ia mengenakan celana tryning warna oranye de­ngan panjang sebatas lutut. Pada pinggangnya dipasangkan harness; tali pengaman yang diikatkan pada pinggang. Tak lupa memasang headlamp.

Setelah itu, dia membantu kami yang tak tahu apa-apa soal ilmu panjat tebing ini. Misalnya, dipasangkannya harness di pinggang kami. Lalu dia mengaitkannya pada climbing rope. Acara menuruni dasar gua bisa segera dimulai.

Abik mulai bergerak. Dia mendekati mulut gua dan mengikat tali (climbing rope) pada batang pohon di sekitar mulut gua, lalu melempar sisa tali ke dasar gua. Abik memanggil Rinaldi. Rinaldi segera mendekati Abik. Ia sudah siap dengan harness mencengkeram erat pada pinggangnya. Rinaldi tampak sudah berpengalaman. Dengan santai dia mengeluarkan gerakan-gerakan manis saat menuju dasar gua.

Selanjutnya kami menyusul turun satu per satu ke dasar gua. Proses penurunan mulai lambat saat giliran Fikri yang memiliki bobot tubuh di atas rata-rata. Selain itu, ketika turun wajahnya juga mulai pucat. Begitupun, dia tiba juga ke dasar gua. Abik yang paling akhir, ia turun setelah kami di dasar gua.

Semua terpana dengan dekorasi alam di dalam gua. Menakjubkan. Kami seperti berada di dasar sumur raksasa dengan luas sekitar 17 meter persegi. Suasana hening. Penerangan samar-samar. Cahaya matahari kurang leluasa menyelusup ke dalam. Di dinding tampak ornamen hamparan batu nan indah.

Mendongak ke atas tampak pohon-pohon kayu besar menjulang mengepung mulut gua. Akar-akar sebesar lengan bocah menjalar dari semak belukar memilin turun ke dasar gua. Sebatang pohon seukuran batang kelapa tumbuh menjulang di tengah-tengah lantai dasar. Pucuknya mencapai mulut gua.

Lantai gua yang miring itu beralas bebatuan. Ada yang berukuran sebesar buah kelapa, dan sekepalan tangan. Sebagian bercampur tanah. Ada bebatuan yang berserakan; bisa diangkat atau dipindahkan.

Lantai gua yang miring mengarah ke pintu masuk ke inti gua. Ada dua pintu masuk. Di sekitar pintu ada sebuah mangkuk tua terbuat dari tanah yang sudah sompel. Di dekat mangkuk tergeletak satu sweeter(baju hujan) loreng sudah lapuk berlumur lumpur.

Tepat pukul 13.00 WIB, cahaya matahari mulai menusuk celah-celah pepohonan di atas gua. Sinar yang berhasil masuk membentuk garis-garis yang indah. Kami memandangnya sembari menyesap kopi dan air mineral.

Sesaat kemudian, cahaya perlahan meredup. Di balik dedaunan samar terlihat langit hitam tersaput awan yang disusul hujan turun dengan lebatnya. Kami mencari tempat perlindungan merapat ke dinding gua. Sekitar satu jam, hujan berhenti mengguyur, tetapi wajah langit masih kelam.

Kami menyiapkan alat utama untuk masuk ke gua inti, seperti senter dan korek api. Abik dan Rinaldi menginstruksikan agar kami berhati-hati. Kami dipimpin Abik bergerak merangsek masuk ke gua inti. Rupanya hanya pintu masuk­nya saja yang berukuran kecil, sementara lorong di dalamnya berukuran lebar, sekitar lima meter. Satu meter berjalan langsung berada di dalam kegelapan. Ruangan pengap. Ada turunan terjal di sana. Itu adalah bentuk gua diagonal yang panjangnya 15 meter.

Perlahan-lahan, Abik mengikuti irama lantai yang menurun. Cahaya headlamp di kepala Abik menyibak kegelapan. Lalu kami mengikutinya. Di dasar gua, kami menyalakan lilin dan meletakkannya di dinding batu. Setelah ke 14 batang lilin dinyalakan, terlihat teranglah bagian dasar gua. Tampak lorong dasar inti gua berbentuk horizontal yang melurus ke depan. Di ujung sana tersamar terlihat belokan mengarah ke kiri. Kami berhenti di posisi itu. Dinding gua adalah hamparan batu indah.

Di lantai gua ada air tergenang sebatas lutut. Rasanya tawar. Bebatuan karang menyembul dari permukaan air. Genangan air itu memenuhi lorong gua. Semakin lurus di depan, genangan air tampak semakin dalam. Batas bekas genangan air berada pada ketinggian tiga meter.

Di dalam air ada makhluk yang berenang ke­rap menabrak kaki. Itu adalah ikan.

Langit-langit gua tampak seperti berbentuk kubah-kubah di puncak masjid. Ada kumpulan hitam berbintik-bintik putih, itu jelmaan ribuan kelelawar yang bergelantungan. Setiap cahaya senter mengarah, kelelawar beterbangan. “Awas ditabrak,” teriak Abik saat ribuan kelelawar mulai bergerak.

Kepak sayap ribuan kelelawar mengeluarkan bunyi serupa gemuruh laju angin.

Sekitar satu jam di dalam inti gua, kami ke­luar. Mendaki tebing diagonal sepanjang 15 meter terasa lebih susah daripada menuruninya. Keluar dari lubang inti gua, kami kembali beristirahat di “sumur raksasa”.

Selanjutnya, Abik dan Rinaldi menyiapkan perlengkapan tali untuk memanjat tebing mulut gua (sumur raksasa). Tentu masalah di awal masuk kembali terjadi, yaitu tubuh tambun Fikri. Setelah beberapa kali gagal, dia akhirnya bisa naik juga. Kemudian kami semua menyusul naik dan pulang meninggalkan hutan lebat itu.

Sore itu, kami telah meninggalkan gua. Kami sudah menikmati sensasi Guha Ie. Memang lelah, tetapi sungguh menyenangkan.[] Majalah The Atjeh

Jejak Chik di Tiro di Willem Toren

Willem’s Toren 1875

Gesticht in oorlogstijd

Den vrede gewyd

Tevens een blijvende eerezuil voor al de dapperen en braven, die ter bereiking van dit doel des vredes hun bloed en leven ten offer gaven

(Menara Willem 1875

Didirikan pada masa perang

Sebuah kenangan abadi untuk setiap keberanian dan para pemberani, untuk mencapai tujuan damai ini darah dan nyawa telah dikorbankan).

Ditulis pada sebuah plakat besi, tulisan dalam bahasa Belanda itu menempel di menara, pada ketinggian sekitar lima meter dari permukaan tanah. Posisinya tepat di atas pintu masuk mercusuar yang dikenal dengan nama Willem III  Torren.

Kami menapak kaki di bawah menara itu ketika hari telah bergerak senja, awal Januari lalu. Menjulang gagah sekitar 80 meter ke arah langit, mercusuar bundar itu dicat putih dan merah. Ketebalan dindingnya mencapai satu meter.

Berdiri di utara Pulo Breueh, Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar, menara itu kini dikelilingi hutan lebat pada sayap gunung yang menjorok ke Samudera Hindia.  Di kakinya bangunan lain berupa rumah-rumah berjejer membentuk garis lurus mengarah ke hutan. Dahulunya kawasan itu merupakan pangkalan militer, korps  marinir Belanda.

Kami bergerak mencapai puncak mercusuar dan mulai menaiki ratusan anak tangga yang melingkar dari lantai dasar hingga lantai terakhir di puncak. Setiap akhir deretan anak tangga melingkar terbuat dari besi, diselingi sebuah ruang berlantai papan kayu yang masih asli, seperti ketika ditinggal serdadu Belanda. Pada setiap ruang kami juga menyaksikan sebuah jendela dengan posisi menghadap laut lepas.

Pada puncak tertinggi bangunan mercusuar terdapat sebuah ruang berdinding kaca tebal. Di dalamnya sebuah lampu dengan ukuran lebih besar dari talam. Lampu tebal itulah yang mengirim cahaya terang hingga ke perairan Internasional Samudera Hindia. Sumber energinya berasal dari mesin diesel di ruang mesin di bawah sana. Tepat pukul 18.30 WIB mesin dihidupkan dan lampu mercusuar itu menyala terang sambil berputar. Namun itu kenangan dulu. Sekarang lampu besar itu hanya tinggal fosil dan tak lagi berfungsi. Sebagai pengganti, dipasang lampu dengan bentuk serupa namun ukurannya lebih kecil.

Sementara itu, pada puncak mercusuar; di bawah ruangan kaca,  juga dibuat lantai yang melingkar mengikuti bentuk bundar bangunan mercusuar. Lantai dipagari jeruji besi setinggi 1.5 meter. Barangkali itulah lokasi terindah dari bangunan mercusuar.

Di sana, di lantai bundar itu, hembusan angin menerpa wajah dan menyibak rambut kami. Dari ketinggian itu tampak jelas laut biru bergelombang. Di arah barat, pulau Sabang bagai mengapung di atas gelombang. Pada arah yang hampir sama juga samar terlihat ujung pulau Sumatera, yaitu sekitar kawasan Ujoeng Batee. Sementara beberapa pulau batu berukuran kecil terlihat seperti mengapung diseret ombak di pinggir pulau di sekitar mercusuar. Di arah barat daya, Pulau Rondo seperti berusaha muncul dari balik Samudera yang membenamnya. Tampak samar sekali.

Menoleh ke belakang, ke arah hutan, terlihat deretan bangunan tua berada di dasar kaki mercusuar. Bangunan itu lurus menjalar hingga rumah jenderal di puncak itu.

Pada perjalanan tahun 2012, saya sempat bermalam di puncak mercusuar itu. Suasana indah di malam hari memang memunculkan kesan tersendiri. Menikmati kopi di puncak sambil meresap dingin angin malam sungguh seperti sebuah rayuan kepada mata untuk terus terjaga. Nun di laut lepas, kapal berukuran besar dengan pendar cahaya terang tampak berlalu. Perahu kecil milik nelayan juga bertabur di seantero laut di kawasan itu.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh mencatat, ketinggian menara Willem Toren mencapai 85 meter, pada areal seluas 20 hektare. Penamaan Willem’s Toren untuk menara itu mengadopsi nama raja Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk, penguasa Luxemburg  ketika itu. Konon bangunan mercusuar juga dibuat sebagai penghormatan kepada raja karena giat membangun infrastruktur di wilayah Hindia Belanda, termasuk Aceh.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh menyebutkan Belanda membangun mercusuar  untuk menyiapkan Pulo Weh (Sabang) sebagai pelabuhan transit Selat Malaka karena serikat dagang Hindia Belanda,  VOC,  telah berdiri. “Infrastruktur pelabuhan dan sarana navigasi jadi kebutuhan dasar saat itu  dan  Belanda bercita-cita ingin membuat pelabuhan transit Sabang seperti Negara Singapura.”

Disebutkan, di dunia  hanya terdapat tiga  mecusuar  yang dibangun Raja Willem ketika itu. Yaitu di Aceh, Kepulauan Karibia dan di Belanda.  Hanya mercusuar di Aceh dan Kepulauan Karibia yang masih berfungsi, sementara mercusuar di Belanda telah berubah fungsi menjadi museum.

“Tim BPCB Aceh dalam survei maritim  tahun 2012 mendata  aset – asset  tinggalan sejarah  dan tinggalan purbakala termasuk Mercusuar yang masih baik kondisinya dan dijaga petugas dari Departemen Perhubungan Laut Distrik Navigasi II Sabang untuk  memastikan mercusuar tetap berfungsi  dengan baik  karena arus laut kencang di Selat Malaka juga banyaknya karang bawah permukaan  air  antara Sabang dan Pulo Aceh , mercuar ini merupakan  alat pandu paling vital perjalanan laut.”

***

BERDIRI di puncak mercuar, aku seperti terlempar ke bulan November 1887, berselang 16 tahun setelah menara itu berdiri. Ketika itu, para opsir Belanda melewati malam dengan jantung berdegup. Lengah sedikit saja, alamat menjadi santapan senjata para pejuang Aceh yang sewaktu-waktu muncul bagai siluman dari balik hutan lebat.

Begitulah kesaksian Mayor Jenderal G.F.W Borel dalam bukunya Onze Vestiging in Atjeh.  Sejak dibangun pada 1874, entah berapa kali para pejuang Aceh di bawah pimpinan Teungku Chik di Tiro menyerbu Pulau Breueh –Belanda menyebutnya Pulo Bras.

Catatan serupa juga muncul dalam buku “Teungku Thjik di Tiro; hidup dan perdjuangannja” yang ditulis Ismail Jacob tahun 1960.

“Teungku Syik di Tiro melakukan penyerangan baru dari Lampager ke Pulau Beras pada malam 9 jalan 10 November tahun 1887. Ke Kuala Pantjar datang pula serangan dari Teungku Chik di Tiro, kompeni terpaksa memakai meriam, tetapi dalam catatan kompani, barisan Tengku Chik di Tiro dapat merusakkan 40 rumah, perahu dan 4 meriam besar,“ tulis Ismail Jacob.

Sejarah mencatat, Teungku Chik di Tiro adalah ulama besar sekaligus panglima perang yang memimpin pasukan Aceh melawan Belanda pada kurun waktu 1881 hingga 1891.  Lahir pada 1836 dengan nama asli Muhammad Saman, Chik di Tiro mengobarkan semangat perang sabil bersama Teungku Chik Pante Kulu. Datang dari Tiro, Pidie, ia menjadikan Meureu, Indrapuri, Aceh Besar, sebagai benteng pertahanan. Untuk menaikkan semangat pejuang, ia memperkenalkan semboyan mati syahid untuk mengusir Belanda dari bumi Aceh.

Kedatangan pasukan Aceh tercium pasukan Belanda. Dua hari berselang, pada 12 November, Belanda menambah pasukan. Sekitar 300 prajurit dari Batalyon Infanteri 14 Koeta Raja dikirim ke Pulo Breueh. Dipimpin Mayor JWStemfoort, bala bantuan diperkuat dengan kapal uap

Zr.Ms. Merapi , Zr.Ms. Banda dan Zr.Ms. Bali. Sehari kemudian, tiba lagi 150 pasukan yang dibekali amunisi lengkap.

Pada 14 November, operasi besar dilakukan di Pulo Breuh. Hasilnya, Belanda mendeteksi keberadaan sekitar 300 pasukan Aceh di kawasan Lampuyang, beberapa kilometer dari mercusuar. Mereka sedang mengintai, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang pangkalan marinir dan kawasan mercusuar.

Besoknya, perang pecah. Pasukan Aceh keluar dari Lampuyang dan bergerak menyerang pasukan Belanda. Belanda melancarkan serangan balasan pada malam hari. Oleh Belanda, serangan balasan itu disebut sebagai hukuman bagi pasukan Aceh.

Tepat pukul 12 malam, pasukan Belanda bergerak mengepung Lampuyang. Dari darat, 540 perwira dan prajurit bersenjata lengkap merapat ke Lampuyang. Sementara dari laut, tiga kapal uap yaitu, Zr.Ms. Merapi , Zr.Ms. Banda dan Zr.Ms. Bali ikut mengepung dengan moncong meriam siap ditembakkan.

Dalam dokumen yang dirilis Belanda menggambarkan betapa gempuran malam itu menjadikan susana Lampuyang terang-benderang. Dentam senajata bersahutan sepanjang malam diselingi ledakan mortar yang ditembakkan dari kapal dan itu menjadi pukulan berat bagi pasukan Aceh. Ledakan mortar itu ditulis Belanda sebagai sebuah tembakan yang ‘indah’ lantaran hutan di sekitar Lampuyang menjadi terang dan kapal berguncang hebat.

Di atas ombak yang digambarkan sangat besar, sepanjang malam itu kapal terus meraung di sekitar pantai dengan menghujam tembakan ke Lampuyang. Bagaimanapun, pertahanan gerilya pasukan Aceh membuat pertempuran berlangsung dari tengah malam itu sampai pagi hingga sore harinya.

Peperangan terus berlanjut hingga malam hari membuat Belanda mengakui kehilangan banyak prajurit dan seorang sersan dinyatakan terbunuh. Sementara prajurit dengan luka berat diangkut ke armada di dekat mercusuar untuk mendapat perawatan medis.

Menyadari kondisi itu, Belanda melakukan serangan dengan kekuatan penuh yang dimulai 17 November hingga 20 November. Di tengah hujan lebat yang mengguyur Puloe Breuh, terdengar jerit sakit para korban di sela suara tembakan.

Sebenarnya, dua tahun sebelumnya, Teungku Chik di Tiro juga pernah menyerang Pulau Breueh. “Pada Desember 1885, Teungku di Tiro mendarat di Kuala Cangkoi dan Pulau Beras, 40 tentara kompeni yang menjaga pos di situ tewas semuanya,” tulis Ismail Jacob.

Dalam sejumlah dokumen setelah perang, Belanda merilis pengakuan bahwa mereka tidak pernah mampu menghancurkan pertahanan pasukan Aceh secara keseluruhan. Bagaimanapun, setelah perang dahsyat itu, serangan demi serangan terus dilakukan pasukan Aceh sehingga pengamanan mercusuar selalu membutuhkan pasukan militer yang kuat.

Pada Maret 1888, pangkalan militer sebagai pusat penyalur batubara itu resmi ditutup. Namun fungsi pangkalan militer sebagai penjaga mercusuar tetap berlanjut sampai Belanda hengkang dari bumi Aceh.

Sementara Teungku Chik di Tiro, panglima besar Aceh itu, meninggal karena diracun pada 21 Januari 1891 dalam usia 55 tahun di Aneuk Galong. Jasadnya dikebumikan di Meureu, Indrapuri. Aceh Besar. Sepeninggal Chik di Tiro, perjuangannya diteruskan oleh pejuang lain.

***

MAYOR Jenderal G.F.W Borel menyebut, pembangunan mercusuar dimulai tahun 1874 ketika Belanda menyadari pentingnya menjaga keselamatan pelayaran bagi kepentingan militer mereka di jalur strategis di sekitar pertemuan Selat Malaka dengan Samudera Hindia.

Alasan lain adalah pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869 yang telah membuat lalu lintas maritim internasional meningkat pesat.

Disebutkan, lebih dari seribu prajurit dan bintara dari korp mariner dikirim ke Pulo Breuh untuk mengamankan pembangunan mercusuar itu. Keberadaan pasukan Aceh yang terus mengintai dan kerap melakukan serangan dadakan membuat pangkalan marinir turut di bangun di Teluk Ujoeng Peunenung, berjarak 1.5 Kilometer dari mercusuar. Sebuah pangkalan yang lebih besar juga dibangun di Luengbale. Sekitar enam Kilometer dari mercusuar. Dua pangkalan militer itu juga sebagai dermaga penyalur batubara untuk seluruh wilayah Aceh.

Proses pembangunan mercusuar itu sendiri melibatkan lima orang insinyur, dan dikerjakan oleh 489 orang yang dibawa dari Ambon serta sebanyak 698 penduduk pribumi Pulo Aceh. Di bawah kontrol penuh angkatan laut, pembangunan yang tiada mengenal letih itu akhirnya siap pada tanggal 20 Juni 1875. Selang satu bulan, yaitu tanggal 23 Juli 1875 mercusuar itu diresmikan.

Kini, mercusuar Willem’s Toren berada di bawah Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut – Distrik Navigasi Kelas II Sabang. Lima petugas ditempatkan menjaga mercusuar dan memastikan lampu menara itu tetap menyala.

“Kami akan diganti per dua bulan sekali,” kata Bustami, Kepala Teknisi Mercusuar yang menerima kedatangan kami hari itu. Sementara fungsi mercusuar masih dijaga dengan utuh seperti sediakal, yaitu sebagai penunjuk arah bagi kapal-kapal yang melintasi laut di kawasan itu.

Kepala Distrik Navigasi Kelas II Sabang, Abdul Rahman yang dihubungi The Atjeh, mengatakan akan mengupayakan perbaikan mercusuar serta bangunan-bangunan penunjang lainnya di komplek itu. “Di antara mercusuar lainnya di bawah Distrik Navigasi Kelas II Sabang, inilah yang memiliki nilai sejarah tinggi dan berumur paling tua,” kata Abdul Rahman.

***

TURUN dari mercusuar, kami menuju ke komplek perumahan di sekitar mercusuar. Salah satu bangunannya adalah rumah tinggal perwira yang dilengkapi sebuah aula besar. Posisinya di rumah paling ujung dari mercusuar. Berbalut hutan basah yang lebat, rumah berlantai dua itu terlihat kokoh. Bentuknya  persegi empat. Dindingnya beton dengan material batu-bata berplaster semen. Namun, atapnya telah ambruk.

Menuju ke bangunan itu, kami harus menapak puluhan anak tangga. Tinggi bangunan berkisar sepuluh meter dengan luas lebih dari lapangan bulu tangkis. Ia tampak hampir sempurna menyatu dengan alam; warnanya yang telah luntur ikut menyamarkan keberadaan bangunan itu di balik pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya.

Posisi ruang dansa berada persis di tengah bangunan persegi empat itu. Ia menjelma seperti aula setelah diapit dua ruang yang lebih kecil yang terdapat di sisi kiri dan dua di kanan. Begitu juga dengan terdapatnya bekas ruangan di lantai dua; maka ruang dansa tampak juga bagai lobi sebuah hotel.

Berdiri di tengah ruangan dan mendongak ke atas, tampaklah langit biru di antara celah daun. Di sana juga bertebar akar pohon kayu seukuran kaki orang dewasa yang menjalar ke mana-mana. Dengan ganas akar itu menembus pada hampir seluruh dinding bangunan dan masuk ke ruang dansa. Anak kayu dan ilalang juga berhasil masuk lalu tumbuh hidup di dalam bangunan itu. Akibatnya, bangunan itu terlihat gelap, terasa sejuk dan terkesan angker.

Rumah jenderal itu memiliki dua lantai. Lubang tempat menancap balok kayu sebagai alas lantai dua terlihat masih menyisakan bekas. Pada beberapa bagian bangunan juga masih terdapat sisa tangga menuju lantai dua. Selain itu, pada dinding bangunan juga dipenuhi lobang-lobang jendela.

Mematuhi nasihat Bustami, si lelaki penjaga komplek, saya berjalan berhati-hati pada lantainya yang terbuat dari semen. Saya menyadari posisi kami saat itu berada di atas lumut tebal yang menimbun lantai. Begitupun material kayu untuk penyangga lantai  dua; semua telah lapuk dan ambruk menimpa lantai dasar. Wujudnya benar telah lapuk sehingga  hanya terlihat seperti sampah hutan yang kusut. Namun pada beberapa bagian, lantai dengan semen original masih dengan mudah terlihat.

“Hati-hati dengan ular.” Bustami mengulang lagi kata-kata itu. Sebuah kalimat yang telah diucap beberapa kali sejak kami memasuki bangunan itu. Tapi beruntung, kami tidak menemukan ular di sana, kami hanya menyaksikan burung-burung kecil liar yang berkicau; sambil hinggap sekejap pada dahan di atas kepala kami lalu hilang terbang begitu saja.

Sementara mendengar cerita Bustami tentang pahit-getirnya bertugas menjaga komplek di pulau terpencil itu, kami terus berjalan menyusuri ruangan dengan perlahan. Kami melangkah ke bagian ruangan lain hingga keluar ke bagian belakang bangunan, lalu menyusur berkeliling bangunan; melangkahi pohon kayu yang tumbang dan menyibak ilalang yang tumbuh menghalang jalan.

Keseluruhan puncak gunung yang merupakan pondasi rumah itu telah disemen. Jika saja tidak terhalang tumbuhan hutan dan ilalang, kita bisa dengan mudah berkeliling bangunan dengan menapak pada semen yang dicor melingkar itu. Terdapat tangga di dua sisi bangunan yang menjadi pintu naik-turun puncak gunung tempat bangunan itu berdiri. Deretan tangga pertama berada di muka bangunan, yaitu yang gunakan ketika pertama kali naik ke bangunan itu. Tangga satu lagi terdapat di bagian sisi kiri bangunan; mengarah turun ke bawah, ke jalan masuk komplek mercusuar.

“Saya sudah berkali-kali pindah lokasi tugas ke sini, tapi baru kali masuk ke sini,” kata Bustami saat kami berdiri di tangga  bangunan.

Bustami sendiri mengaku kagum dengan bangunan tua dan area sekitar lokasi itu. Tampak memang begitu indah di antara pohon yang menjulang; memunculkan kesan klasik yang kental di balik semak yang menimbun.

Di dekat tangga bagian belakang kami juga mendapati sebuah lokasi terbuka, berbentuk taman mini; menyiratkan fungsinya sebagai tempat bersantai dengan pemandangan Samudera Hindia.

Kami kembali ke muka ruang dansa. Berdiri di sana dan menatap lurus ke depan akan terhidang pemandangan menkajubkan. Dimulai dengan tampilan bangunan gedung khusus berisi mesin pembangkit listrik tenaga diesel yang masih berfungsi. Letaknya lurus di hadapan kaki tangga ruang dansa.

Selanjutnya tampak deretan bengunan persegi panjang yang terdiri dari beberapa ruangan dan merupakan rumah hunian prajurit. Kondisinya masih utuh dan kini ditempati Busatami dan empat bawahannya. Mereka adalah petugas Direktorat Jenderal Perhubungan Laut – Distrik Navigasi Kelas II Sabang yang bertugas menjaga komplek itu.

Bangunan selanjutnya setelah rumah hunian prajurit itu adalah sederet bangunan yang difungsikan sebagai dapur umum dan kamar mandi umum kondisinya juga masih utuh. Setelahnya disusul lagi oleh bangunan rumah tinggal yang berlantai dua tapi tidak lagi memiliki atap. Lantai duanya juga sudah ambruk. Tangga kayu yang sudah melapuk tampak masih tegak berdiri.

Masih pada arah yang lurus setelah bangunan berlantai dua itu terdapat tangga menuju pondasi bundar mercusuar. Mercusuar itulah bangunan terakhir, setelahnya hamparan laut luas membentang.

Alasan keberadaan bangunan-bangunan lain di komplek itu sebenarnya adalah sebagai fasilitas penunjang mercusuar Willem’s Toren yang merupakan bangunan inti di komplek itu.

***

BERBEDA dengan kondisi mercusuar yang masih berfungsi, pangkalan marinir di Teluk Ujoeng Peuneung sudah hancur sama sekali. Tsunami 2004 yang melanda kawasan itu membuat dermaga rusak total dan hanya meninggalkan bongkahan pondasi. Terletak 1,5 kilometer dari mercusuar, di sepanjang jalan menuju ke sana terdapat minimal dua pos jaga tentara Belanda. Pos mirip seperti yang terdapat di pintu masuk Kodam, Kodim atau instansi militer lainnya di Indonesia.

Pada 2012 saya melewati pos militer itu dalam perjalanan menuju dermaga. Berdiri di sekitar bekas dermaga dan menatap lurus ke depan, akan terlihat pulau Sabang jauh di tengah laut. Di sana saya menyelam, menyaksikan pemandangan bawah air Teluk Ujoeng Peuneung. Bongkahan bangunan dermaga tampak bertebar di bawah permukaan air.

Beberapa meter dari pantai, sepetak lantai hampir seukuran bus masih utuh menjulang dari permukaan air; seperti menyatakan diri sebagai bukti sejarah bahwa teluk itu pernah ramai disinggahi kapal besar di masa lalu. Sepotong besi yang mirip tempat mengikat tali kapal juga masih tertancap pada lantai itu, juga tiram, sejenis kerang yang hidup menempel pada karang.

Runtuhnya pangkalan marinir itu sebenarnya telah turut membenam beberapa meriam ke dasar teluk. Pada tahun 2012 beberapa warga berusaha menyelam dan berhasil menemukan meriam. Meriam diseret dengan tali dari dasar teluk sebelum dimuat ke dalam perahu.

Pangkalan mariner di Teluk Ujoeng Peunung itu sekarang kosong melompong. Kawanan burung dan monyet liar bermain ria di sekitar itu. Seperti sangat jarang melihat manusia, para monyet sangat ribut begitu kami tiba. Sebuah sumur tua bercincin tebal dengan bundar permukaan sekitar lima kali sumur biasa juga terlihat masih utuh. Posisinya sekitar 20 meter di bibir telk. Air di dalamnya jernih dengan rasa tawar.

***

PERJALANAN ke komplek bangunan tua mercusuar maupun ke dermaga itu sebenarnya tak begitu mulus. Ada tantangan tersendiri yang harus dilewati. Jangan harap ada kapal mewah khusus penumpang maupun barang yang melayani rute pulau itu. Yang tersedia hanya perahu ikan yang telah dialihfungsikan sebagai pengangkut penumpang dan barang. Itulah alat transportasi vital yang digunakan masyarakat Pulo Aceh sejak zaman dahulu.

Dari Banda Aceh kita bisa mencari dermaga singgah perahu Pulo Aceh di Lampulo, Peunayong. Umumnya warga Pulo Aceh menjadikan Lampulo sebagai tempat mereka berlabuh. Sekitar pukul delapan pagi, perahu yang disesaki penumpang dari Pulo Aceh biasanya tiba di Lampulo. Para warga yang umumnya pergi ke Banda Aceh untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga dan barang dagangan akan kembali berkumpul di dermaga itu pada siang harinya. Karena sekitar pukul dua  siang perahu itu akan kembali bergerak pulang ke pulau.

Terdapat dua titik ‘pelabuhan’ perahu Pulo Aceh di Lampulo. Titik pertama berada persis di belakang Masjid Lampulo; sebuah Masjid berkubah hijau yang terletak di tepi Krueng Aceh. Titik pelabuhan yang kedua berada dekat dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang juga di tepi Krueng Aceh itu.

Harga ‘tiket’ perjalanan ke Pulo Aceh (per Desember 2013) adalah 20 ribu untuk satu orang penumpang. Harga yang sama juga  dikenakan untuk setiap satu sepeda motor. Khusus untuk motor akan dikenakan ongkos bongkar-muat sebesar 30 ribu. Jadi totalnya 50 ribu untuk satu sepeda motor.

Di mana perahu akan berlabuh di Pulo Aceh? Perahu akan berlabuh di desa masing-masing. Namun yang menjadi sentral pelabuhan untuk kawasan Pulo Breuh adalah Dermaga Gugoep. Dari Gugop kita bisa memasuki desa-desa lain yang terdapat di sepanjang Pulo Breuh. Namun itu hanya untuk Pulo Breuh saja. Untuk Pulo Nasi akan lain lagi lokasinya.

Untuk memastikan tidak salah ‘pilih rute’, sebaiknya ketika akan menaiki perahu di Lampulo, tanyakan dulu kepada pawang perahu, “Perahu desa mana ini?” “Akan berlabuh di mana?”

Khusus untuk mencapai lokasi mercusuar, perjalanan bisa di mulai dari Banda Aceh menuju Meulingge, desa terakhir di ujung Pulau Breuh yang berbatas langsung dengan hutan itu. Waktu tempuh berkisar 2 jam.

Dari desa Meulingge perjalanan selanjutnya mesti ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 4 kilometer. Menerobos medan licin yang menanjak, menuruni turunan yang terjal di antara lebat hutan yang terdapat di sepanjang kiri dan kanan jalan. | Majalah The Atjeh

Tsunami Kuno & Gua Ek Leuntie

MULUTNYA menganga menghadap ke laut lepas. Dari bibir pantai berpasir putih hanya berjarak 200 meter. Tersembunyi di balik pepohonan kaki bukit Gampong Meunasah Lhok, Mukim Glee Bruek, Lhong, Aceh Besar. Itulah Gua Ek Leuntie.

Dari sini bisa melihat dua pulau di tebing Gunung Geurutee seperti mengapung dan tertambat kokoh di atas laut. Sebelah utara, jalan besar Banda Aceh-Meulaboh membentang lurus memisahkan area ini dengan gugusan perbukitan puncak Krueng Teungoh.

Angin seperti berhenti berembus sampai ke pintu gua yang tingginya sampai 10 meter dan lebar lima meter itu. Kesejukan udara luar berganti kegerahan dan pengap. Di dinding gua, terlihat akiklud –lapisan bebatuan endapan (batu gamping) yang sifatnya kedap air, dan akifer (batu gamping yang sifatnya meluluskan air) menyatu membentuk ornamen unik.

Dua meter melangkah, suara deburan ombak seketika berganti ribuan kepak sayap ditingkahi cericit kelelawar yang berterbangan. Riuh sekali.

Banyak lubang di langit-langit gua, di sela-selanya menggantung stalaktit (bebatuan di langit-langit gua terbentuk dari tetesan air yang mengandung kalsit) seperti ingin jatuh ke dasar gua. Dari situlah ribuan kelelawar muncul.

Lantai gua laksana jamban besar tempat menampung kotoran kelawar, barangkali ini penyebab gua ini diberi nama Ek Leuntie (kotoran kelelawar). Beramoma mirip buah-buahan busuk menusuk hidung, ampas dari perut kelelawar itulah sumber pengetahuan yang digali Doktor Nazli Ismail, Ahli Geofisika Bumi Padat yang juga Ketua Program Studi MIPA Fisika Unsyiah Banda Aceh. Ini terpaut delapan tahun dari kunjungan Tim The Atjeh ke Gua Ek Leuntie.

Bersama Tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Nazli mengacak-acak perut gua. “Kami meneliti paleo seismic atau gempa kuno,” kata Nazli. Penelitian itu dilakukan setahun setelah bencana tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004.

Nazli menjelaskan di dalam gua itu ada tiga lapisan, yaitu tanah dasar gua, guano –kotoran kelelawar yang bercampur pasir dan memadat–, dan sedimen tsunami.  “Di sini ada dua zat organik. Yaitu makanan kelelawar yaitu unsur organik guano, dan lapisan sedimen tsunami berupa cangkang-cangkang kerang yang masih utuh,” ujarnya.

Dua zat organik itulah yang kemudian diukur umurnya dengan menggunakan radio carbon dating. Hasilnya, bisa menjadi tolok ukur siklus tsunami yang pernah melanda Aceh. “Kami menduga tsunami di Aceh terjadi sekitar 500-an tahun periodic,” katanya.

Artinya sebelum tsunami 2004, peristiwa serupa juga pernah terjadi pada 500-an tahun yang lalu. “Itu yang giant tsunami, tsunami besar,” katanya.

Penelitian itu juga membuktikan adanya tsunami yang menenggelamkan Benteng Lubok di kawasan Lamreh. Di situs sejarah ini ditemukan lapisan tsunami abad 14 dan pertengahan abad 14. “Ini sangat berkaitan dengan runtuhnya Kerajaan Lamuri dan Kerajaan Samudera Pasai,” katanya. Lamuri adalah kerajaan hindu yang pernah berjaya di Aceh, sedangkan Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam yang pertama di Aceh.

***

LUAS area itu sekitar 50 x 20 meter. Berada di sisi kiri Jalan Kapai Kleng I, Gampong Doy, Ulee Kareng, Aceh Besar, ada tiga rumah di lahan ini. Kendati tak berwujud sawah, tempat ini dinamakan Omoeng Kapai Kleeng (sawah kapal keeling). “Dulu memang sawah,” kata Imum Mukim Simpang Tujoeh, HM Daud HS.

Dia menjelaskan, kawasan perkampungan Doy berawal dari hamparan sawah. “Di kawasan inilah, ditemukan serpihan kapal kuno yang diyakini milik orang India sehingga disebut Omoeng Kapai Kleeng,” katanya.

Menurut Daud, warga pernah menemukan potongan bagian depan perahu. Lokasinya terpaut sekitar 400 meter dari lokasi Umoeng Kapai Kleng dan masih berada di kawasan Gampong Doy.

Lokasi temuan perahu itu kini berwujud kubangan. Sampah plastik mengapung di atas air berwarna agak kehijau-hijauan. Berbentuk petakan sawah, ilalang dan rumput air menjalar penuhi keempat sisi kubangan.

Daud bercerita, lokasi itu pernah dijadikan tempat mengeruk tanah untuk diproduksi menjadi batu-bata. Saat itulah ditemukan potongan perahu; bagian depan. Selain itu, warga juga menemukan bongkahan balok dan kayu yang diyakini sebagai bagian kapal laut.

Bahkan pernah juga ditemukan lambung depan kapal laut. “Susuan kayu yang ditemukan masih utuh. Sebagian besar potongan-potongan kapal itu ditemukan di areal sawah warga,” kata Daud.

Tak hanya di Doy,  warga juga menemukan serpihan kapal di Paya Daroy. Menurut cerita Geuchik Puni, Muslem, lokasi penemuan berada dalam wilayah administratif Gampong Leu Eu. Tepatnya di belakang kompleks asrama Ja Pakeh Kodam Iskandar Muda.

Warga gampong mereka-reka bahwa asal muasal pemukimannya itu semula laut. Namun, Teuku Abdullah, salah satu dosen Jurusan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, menduga tempat itu bekas jejak tsunami di masa lalu. “Di masa lampau, tsunami memang terjadi di Aceh,” katanya.

Adalah buku Tarich Aceh dan Nusantara yang ditulis HM Zainuddin yang menjadi rujukan Abdullah. Dalam buku ini menggambarkan pergerakan garis pantai di Aceh.

Misalnya, sebelum abad-8 garis pantai di kawasan Aceh besar itu berada di kawasan Montasik –kini pemukiman penduduk– bukan di Ulee Lheue –pelabuhan.

Hubungan antara pergerakan garis pantai dan bencana tsunami juga diyakini kebenarannya oleh

Doktor Ella Mallinda, dosen Fakultas Teknik Universitas Syiahkuala. Pemikirannya tertuang dalam disertasinya yang berjudul “Past, Present and Future Morphological Development of a Tsunami Affected Coast; A Case Study of Banda Aceh.”

Ella menggarap disertasi untuk meraih gelar Ph.D dari University of Twente Belanda. Dosen di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala ini mengawali penelitiannya di antara dua lempeng bumi, yaitu Indo Australia dan Asia. Ini lokasi daerah laut Andaman yang sangat dekat dengan Aceh.

Adalah peta Aceh rancangan colonial Belanda yang menjadi salah satu rujukan penting Ella. Dia menguliti peta itu untuk mempelajari pergerakan garis pantai di Banda Aceh dari 200 tahun lalu. Dia menemukan irama perubahannya segendang dengan gempa di wilayah Andaman.

Itulah sebabnya, kata Ella, garis pantai Aceh selalu berubah-ubah sejak 1847 hingga sekarang. “Ini artinya Aceh terletak di kawasan rentan gempa laut. Bahkan daerah ini sudah mengalami tsunami sejak ratusan tahun silam,” katanya.

Cerita tsunami kuno Aceh dikuatkan pendapat peneliti paleo tsunami Profesor Danny Hilman dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Dia bilang tsunami sudah terjadi di Aceh sejak 1200-an. Selain itu, pada seminar peluncuran buku Plato Tidak Bohong di Jakarta Pusat, pada Senin 20 Mei 2013, terungkap tsunami purba Aceh terjadi dalam siklus 200 tahunan juga sejak tahun 1.200.

Merujuk dari berbagai temuan jejak tsunami kuno di Aceh, maka masuk akal mengapa di Aceh ada karya sastra lama yang syairnya berkaitan dengan tsunami. Misalnya Smong dari Pulau Simeulue yang berisi nasihat bahaya seperti gempa, tsunami, petir dan kilat.

Simak saja salah satu penggalan syairnya, “smong dumek-dumek mo, linon uwak-uwak mo, ek laik kedang-kedang mo, kilek suluh-suluh mo.” Syair ini bisa diartikan yaitu air mandimu tsunami, ayunanmu gempa, gendang-gendangmu petir, dan penerangmu kilat. Kearifan lokal ini hidup di Simeulue hingga kini.

Tak hanya smong, soal tsunami ini juga terurai dalam hikayat Aceh. Bisa dilihat pada salah satu petikan syair dalam hikayat Gômtala Syah yang isinya menceritakan tentang kera sakti yang mampu menciptakan ie beuna.

Penyebutan ie beuna di hikayat ini mengartikan adanya fenomena alam berupa air laut yang menenggelamkan daratan. Disebutkannya air itu menyerupai dinding atau tembok hitam yang tinggi. “Bisa disimpulkan bahwa ie beuna yang dimaksud adalah tsunami,” kata sejarawan Teuku Abdullah.

Abdullah mengatakan istilah ie beuna sudah dipakai para penyair zaman kerajaan. “Itu menyiratkan cerita fenomena alam yang dahsyat sudah melanda Aceh sejak lama,” katanya. Dia kemudian mengutip penggalan syair yang dimaksud, “…Umu sibeuleun sabee meunan, tiwas insan bak ri rupa, hingga beungeh peutua Leman, jiteu puek tangan ji ek ie beuna…”

Ie beuna inilah yang menghantam Aceh pada 26 Desember 2004. Di sejumlah tempat, jejak tsunami masih tersimpan dengan baik hingga kini. Salah satunya di Punge Blang Cut, Banda Aceh, tempat terdamparnya kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung.

Kapal seukuran lapangan bola ini sangat terawat, dan tetap berada di lokasinya yang sudah rapi dipagari. Di sebelah barat ada relief dari tembaga yang mengisahkan kapal berbobot 2600 ton yang diseret ie beuna sejauh lima kilometer dari bibir pantai Ulee Lheue, Banda Aceh.

Di tengah relief dibangun prasasti setinggi 2,5 meter, dilengkapi jam bundar menunjuk angka 07.55 yang tak lain adalah waktu musibah itu terjadi.

Menurut sejarah Kota Banda Aceh, kapal ini telah setahun berlabuh di Ulee Lheue sebelum bencana tsunami. Dia dibawa dari Pontianak guna membantu pasokan listrik di ibukota Provinsi Aceh.

Berjarak 300 meter sebelah barat Kapal Apung, ada dua kapal lain yang terseret tsunami. Satu di antaranya Kapal Patroli Lepas Pantai KN 28 milik Adpel Malahayati. Kapal seukuran lapangan tenis ini bersanding dengan KN 430 yang sedikit lebih kecil. Jejak bencana tsunami juga ada di Gampong Lampulo, Banda Aceh, yaitu kapal nelayan yang nyangkut di atap rumah penduduk.

Musibah tsunami mengakibatkan 226 ribu jiwa tewas. Tak hanya di Banda Aceh, ie beuna juga menghantam beberapa kabupaten di Aceh. Di antaranya Aceh Besar, Sabang, Aceh Jaya, Aceh Barat dan Simeulue.

Sembilan tahun berlalu. Kondisi pembangunan ulang usai bencana telah selesai dilakukan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias. Kondisi psikis dan perekonomian warga beranjak normal.

Kendati demikian, Aceh tetap harus waspada seperti yang telah dinasihatkan dalam kearifan lokal Smong dan Hikayat Aceh. Sebab beberapa ahli sepakat bahwa tsunami belum berhenti. Walau belum bisa memberi gambaran yang terang tentang tsunami masa depan, mereka sudah membaca siklus tsunami masa lampau Aceh.

***

Gua Ek Leuntie tak hanya menyimpan jejak cerita tsunami, namun juga menyembulkan keindahan. Dari pancaran surya yang menembus ke dalam menyebar tujuh warna yang menyatu di beberapa elemen gua ini. Hijau, biru, hitam, coklat, putih, abu-abu, dan orange.

Sementara di sepanjang dinding sebelah kiri pintunya, ada sebuah garis memanjang yang memisahkan dua warna. Di atas garis warna dinding lebih terang, sementara warna gelap berada di bawahnya. Sepintas persis seperti bekas garis batas genangan air pada sebidang tembok.

Lima meter masuk ke dalam, saat lilin dinyalakan paduan warna ini melahirkan pemandangan yang menakjubkan. Serasa sedang berada dalam sebuah kapel alam dengan paduan pahatan di sekujur dinding dan langit-langit. Ada akiklud menyembul dari dinding depan, unik persis membentuk kanopi kecil atau payung yang meneduhi setumpuk stalakmit.

Rupanya, matahari hanya bertugas memberi sinar sampai ke kanopi itu saja. Pasalnya, cahaya sudah berakhir di kelokan ke arah kanan. Mengandalkan cahaya lilin dan penerang seadanya, pemandangan di sepanjang kelokan tetap saja memesona. Di sana-sini, stalakmit menyembul dari dasar gua terlihat seperti terciprat cat putih, kelabu, dan orange. Tapi orang kurang kerjaan manakah yang sengaja menciprat cat sampai ke gua nan gelap ini, kecuali muntahan ampas dari perut kelelawar.

Kian masuk ke dalam memang membuat tubuh makin gerah. Keringat telah membasahi tubuh, hidung serpeti tersengat aroma kotoran kelelawar sampai menembus ubun-ubun. Mata lelah bekerja untuk menembus kegelapan. Telinga berdengung oleh kepak sayap dan cericit kelelawar.

Saat keluar, sesampai di mulut gua, tumbuhan pakis masih seragam menunduk ke arah luar menjemput cahaya matahari. Angin sepoi menyemilir dari arah laut sedikit menyejukkan panasnya surya. Ombak pecah ritmis di pantai berpasir putih.

Hm, ombak ini jika membesar maka akan mengulangi kisah dalam syair-syair Aceh, seperti Smong dan Ie Beuna yang menyimpan jejaknya di dalam gua ini. | Majalah The Atjeh