DPM Unaya Sukses Gelar Muskerwil FL2MI se Aceh yang pertama

 

Aceh Besar – 7 April 2015 suasana aula lantai 2 gedung utama unaya ramai oleh datangnya peserta lembaga legislatif mahasiswa seluruh Aceh. Setelah Munas FL2MI ( Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia) di Universitas Esa Unggul jakarta barat beberapa bulan yang lalu dan telah disepakati dan resmi FL2MI Wilayah Aceh pisah dengan wilayah sumbagut, hingga pada akhirnya DPM Unaya terpilih menjadi tuan rumah Muskerwil yang pertama dan sukses diselenggarakan. Muskerwil FL2MI Aceh dibuka langsung oleh Wakil Rektor III Bapak dr. Iziddin Fadhil.

 

Subqi selaku ketua DPM unaya, dalam kata sambutannya “setelah terbentuknya FL2MI Aceh mengharapkan dapat mempertegas komitmen legislator FL2MI yang lebih aktif dalam mengawal pembangunan Aceh”

 

Selain itu, Maulidin Akbar Korwil FL2MI Aceh juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak lembaga FL2MI Aceh yang telah ikut terus mendukung hingga FL2MI terbentuk di wilayah Aceh dan terlaksananya Muskerwil di Universitas Abulyatama yang pertama.

 

Acara Ceremoni Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) FL2MI berjalan tertib dan khidmat. Selain Wakil Rektor III, tampak dihadiri juga oleh beberapa delegasi Lemabga legislatif tingkat mahasiswa, diantaranya DPM Unsyiah, SEMA Uin Arraniry, DPM Almuslim, DPM Stain Cot Kala, Pema Unaya, dan Organisasi lain di Universitas Abulyatama. (Aldian Ilham)

 

HMI Komisariat Abulyatama Laksanakan Basic Training LK-I

HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Abulyatama laksanakan Basic Training Latihan Kader I (LK-I) di Aula Insan Cita,Badko HMI Aceh, Kamis (16/04/2015).

Kegiatan yang dimulai pada pukul 21.00 wib tersebut dibuka langsung oleh tokoh HMI Arlan Farlan mewakili KAHMI Cabang Jantho. Basic Training LK-I kali ini mengangkat tema “Melahirkan kader-kader yang kritis dan peka terhadap permasalahan ummat.

Ketua Panitia Sandri Amin dalam laporannya menyampaikan bahwa peserta Basci Training LK-I yang mengikuti screening test berjumlah sebanyak 30 orang namun yang mengikuti basic training berjumlah 23 orang “ peserta terdiri dari 17 orang mahasiswa Universitas Abulyatama, 1 orang dari Universitas Serambi Mekah dan 5 orang dari Fakultas Hukum Unsyiah” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Komisariat Universitas Abulyatama, Suar Sri Herdi dalam sambutannya mengharapkan bahwa para peserta yang mengikuti Basic Training LK-I tersebut agar dapat mengikuti kegiatan sampai tuntas dan mematuhi aturan-aturan forum yang dibuat, sehingga tidak ada kesan yang tidak baik dari para peserta.

Suar juga menyampaikan bahwa HMI Komisariat Abulyatama memang sudah lama tidak melaksanakan Basic Training LK-I sendiri namun mereka tetap aktif mengirimkan kader-kader dari Abulyatama untuk mengikuti basic training ditempat-tempat lain dalam wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh.

Benahi kondisi internal

Merespon sambutan ketua HMI Cabang Jantho Afzal yang diwakili oleh Kabid PA Zamzami yang menyatakan bahwa seharusnya dari beberapa kampus yang ada dilingkungan Cabang Jantho mestinya sudah mampu memekarkan lebih banyak lagi komisariat tetapi itu tidak terjadi karena memang ada beberapa kampus yang komisariatnya vakum.

Terkait itu, Arlan Farlan mewakili tokoh HMI Cabang Jantho menyatakan mestinya cabang HMI Jantho punya solusi tekriat hal tersebut, kondisi yang terjadi saat ini adalah kekurangan bersama, mestinta kondisi internal harus dibenahi sehingga kedepan di Cabang Jantho bisa mekar beberapa komisariat lagi “Kondisi ini bukan untuk diceritakan, harusnya cabang cari solusi” katanya. (El Yamani)

Pema Unaya Silaturahmi dengan Pangdam Iskandar Muda

Pemerintah Mahasiswa (PEMA )Universitas Abulyatama bersilaturahmi dengan Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto di Ruang  Sanggamara Lounge Makodam IM, Banda Aceh, Jumat (10/04/2015)

Silaturahmi yang yang dilaksanakan atas undangan Pandam Iskandar Muda dan berlangsung selama dua jam tersebut membahas berbagai isu terkini yang terjadi di Aceh.

Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto menyampaikan bahwa mahasiswa harus proaktif dalam melihat perkembangan daerah sehingga terjadinya sinergi dalam semangat nasionalisme dan bela negara. Dalam pertemuan tersebut Pangdam Iskandar Muda juga didampingi unsur pimpinan dilingkungan Kodam IM diantaranya Kepala Staf Kodam (Kasdam).

Menurut Agus Kriswanto, TNI siap bekerja sama dengan mahasiswa dalam melaksanakan program-programnya. “Terutama dalam rangka membantu masyarakat di daerah-daerah, baik berupa bakti sosial atau pun kegiatan lain yang dilaksanakan langsung oleh mahasiswa,” katanya.

Ia juga menjelaskan soal pengerahan pasukan di Wilayah Aceh Utara. “Itu hanya semata-mata membantu pihak kepolisian dan memberikan rasa aman bagi masyarakat di daerah tersebut,” kata Pangdam.

Pada kesempatan itu, Presiden Mahasiswa Universitas Abulyatama, Muslim, menyampaikan bahwa TNI harus memperhatikan kondisi psikologis masyarakat. ” Masyarakat Aceh sudah 30 tahun lebih hidup dalam konflik, tentunya ini masih membekas pada masyarakat setempat,” ujar Muslim.

Dalam pertemuan yang berlangsung akrab ini, Presiden Mahasiswa Universitas Abulyatama d dampingi pengurus di lingkungan Pemerintah Mahasiswa Universitas Abulyatama Periode 2015-2016. Di antaranya Sekretaris Jendral Aldian Ilham, Menteri Luar Universitas Irvan Yuliza dan Menteri Kewirausahaan Muhammad Iqbal.

Selain itu, Pema Unayamendukung penuh dan mengapresiasi program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) yang selama ini dilakukan Kodam Iskandar Muda dalam membantu masyarakat di daerah-daerah. Misalnya membuka akses jalan baru, membantu bercocok tanam dan berbagai macam kegiatan lainnya.

“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan ekonomi masyarakat bisa menjadi lebih baik sehingga keadilan bisa merata dirasakan oleh masyarakat.Ini sangat bagus, sehingga swasembada pangan bisa tercapai,” ujar muslim.

Pertemuan yang juga dihadiri oleh lima perwakilan dari Badan Esekutif Mahasiswa dari lima kampus di wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh tersebut berlangsung hangat dan diakhiri dengan makan siang bersama. (El Yamani)

Menteri Nasir: Pemerintah Tak Bedakan Swasta dan Negeri

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof Mohamad Nasir menyatakan pemerintah kini tidak membeda-bedakan antara universitas negeri dan swasta. “Yang membedakannya adalah kualitas perguruan tingginya,” kata Menteri Nasir dalam sambutannya di Aula Universitas Abulyatama, Lampoh Keudee, Aceh Besar, Minggu 5 April 2015.

Karena itu, kata Menteri Nasir, sangat memungkinkan perguruan tinggi swasta lebih baik mutunya dibanding negeri. Bahkan, katanya, di masa sekarang ini pun sudah ada universitas swasta yang lebih baik mutunya dibanding negeri. Karena itu, Menteri Nasir, memberi petuah pada Universitas Abulyatama agar terus meningkatkan kualitasnya.

Menteri Nasir mengunjungi Universitas Abulyatama dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Yayasan Abulyatama yang dipimpin Dr. Muhammad Kadafi SH MH. Menristek langsung disambut pendiri Abulyatama H. Rusli Bintang, Ketua Yayasan Alih Teknologi (Universitas Malahayati) Ruslan Junaidi, pengelola Institut Kesehatan Indonesia – Jakarta Musa Bintang, dan Rektor Universitas Abulyatama Ir. R. Agung Efrino PhD yang didampingi para dekan.

Bersama mereka tampak ratusan anak-anak yatim di lingkungan Banda Aceh dan Aceh Besar juga ikut menyambut Menristek Nasir. Sejumlah pejabat di Aceh ikut mendampingi, di antaranya Sekda Aceh Dharmawan, pejabat Polda Aceh dan Kodam Iskandar Muda, juga ada Kepala Dinas Pendidikan Aceh Hasanuddin Dardjo.

Selain perhatian soal mutu akademik, Menteri Nasir menyebutkan fasilitas yang dimiliki Universitas Abulyatama sudah sangat baik. Abulyatama, kata Menteri Nasir, juga memiliki perhatian yang sangat bagus untuk anak-anak yatim dan kaum dhuafa.

Menteri sangat mendukung Abulyatama dalam mengelola anak-anak yatim ini. “Saya mendukung sepenuhnya. Anak-anak yatim bukan hanya tanggungjawab negara, jadi tanggungjawab kita semua,” katanya. Menteri berterimakasih pada Abulyatama yang telah peduli anak-anak yatim.

Sebelumnya, pada Sabtu 28 Februari 2015, Menteri Nasir juga sudah mengunjungi Universitas Malahayati yang didirikan Rusli Bintang di Bandar Lampung. Ia sudah melihat fasilitas yang disediakan kampus untuk para mahasiswa, di antaranya perlengkapan yang dibutuhkan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan juga meninjau perpustakaan kampus. Menteri Nasir juga meresmikan Gedung Terpadu Universitas Malahayati. []

Gubernur Aceh: Rusli Bintang Patut Jadi Teladan

Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah menyatakan kebanggaannya pada H. Rusli Bintang, pendiri Universitas Abulyatama, Lampoh Keudee, Aceh Besar. “Rusli Bintang adalah sosok yang patut menjadi teladan kita bersama,” kata Gubernur Zaini dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekretaris Daerah Aceh, Dharmawan, di Aula Universitas Malahayati, Minggu 5 April 2015.

Gubernur Aceh menyampaikan sambutannya pada kunjungan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir ke Universitas Abulyatama (Unaya). Kunjungan Menteri Nasir ini adalah untuk menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Yayasan Abulyatama yang dipimpin Dr. Muhammad Kadafi SH MH.

Melalui Sekda Aceh, Gubernur Zaini menyampaikan sebuah pertanyaan, “mengapa nama kampus ini Universitas Abulyatama?” Lalu, katanya, ia mencari jawaban sendiri tentang penamaan kampus yang bermakna “ayahnya anak-anak yatim” itu. “Saya menemukan keterkaitan sejarah antara nama universitas dan kehidupan Rusli Bintang,” katanya.

Rusli Bintang, kata gubernur, adalah seorang anak yatim yang kehidupannya sangat berliku. “Dari anak yatim yang kehidupannya sangat susah, ia kemudian menjadi seorang pengusaha, lalu mendirikan kampus bernama Abulyatama ini,” katanya. “Bahkan dari yayasannya ia membantu anak-anak yatim, dan menyekolahkan mereka.”

Itulah sebabnya, Gubernur Zaini menyebutkan sosok Rusli Bintang sangat patut menjadi teladan. Rusli menjadi kebanggaan rakyat Aceh. “Kami sangat mendukung keberadaan Universitas Abulyatama ini. Kami sangat mengharapkan perguruan tinggi ini makin maju dan mengambil peran dalam pembangunan Aceh,” katanya.

“Kami juga tahu, beliau bukan hanya mendirikan Universitas Abulyatama, juga telah mendirikan Universitas Malahayati di Lampung, Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta. Bahkan, kami juga tahu semua kampus-kampus yang didirikannya itu sangat peduli pada anak-anak yatim dan kaum ddhuafa.” []

Ini Pesan Rektor Unaya Usai Dilantik

Rektor Universitas Abulyatama, Aceh Besar, Ir. R. Agung Efrino Hadi MSc PhD menggunakan terimakasih kepada Yayasan Abulyatama yang telah memberikan kepercayaan padanya untuk memimpin lagi. “Ini untuk periode kedua,” katanya sambutan di Aula Universitas Malahayati, Lampoh Keudee, Aceh Besar, Sabtu 4 April 2015.

Agung Efrino memberikan sambutannya selaku Rektor Unaya (Universitas Abulyatama) setelah dilantik Ketua Yayasan Abulyatama, Dr. Muhammad Kadafi SH MH. “Terimakasih atas kepercayaan ini, kami akan menjaga amanah dengan sebaik-baiknya,” kata Agung.

Selain itu, Agung juga mengajak pimpinan dan seluruh komponen kampus untuk melanjutkan program kerja yang sudah berjalan selama ini. “Terutana untuk peningkatan kualitas kampus,” katanya. Agung menekankan pentingnya menjaga keharmonisan dan kekompakan di kampus.

Selain itu, ia juga mengimbau dalam membina hubungan baik selalu mengutamakan etika pergaulan. Jika demikian, katanya, akan terpelihara keharmonisan dan tidak melahirkan gesekan-gesekan yang tidak baik untuk dunia kampus. “Kekompakan diperlukan agar cita-cita membangun kualitas kampus yang lebih baik bisa berjalan dengan lancar,” katanya.

Ketua Yayasan Abulyatama, Muhammad Kadafi, juga mengajak seluruh komponen di kampus Unaya untuk berfikir positif. “Dengan berfikir positif maka arah pandangan kita dalam menerjemahkan sesuatu akan menghasilkan manfaat yang baik. Berfikir positif berarti mengedepankan energi positif di kampus ini,” kata Kadafi yang adalah juga Rektor UniversitS Malahayati, Bandar Lampung. “Berfikir positif akan memberi manfaat bagi kita semua.”

Itulah sebabnya, Kadafi juga mengimbau seluruh komponen kampus menghidupkan berbagai pengajian. “Pengajian sangat bermanfaat bagi semua dalam membangun etika religi,” kata Kadafi. “Etika relegi ini menjadi sangat penting bagi semua, dan ilmu pengetahuan yang memiliki nilai-nilai etika religi akan berdampak sangat baik bagi publik.”

Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan etika relegi memang menjadi nilai utama yang ditanamkan pendiri Universitas Abulyatama, H. Rusli Bintang. Pembinaan Mahasiswa dengan mengedepankan etika religi ini pula yang sangat diperhatikannya pada kampus-kampus lain yang didirikannya.

Rusli Bintang telah mendirikan empat kampus, di antaranya Universitas Abulyatama di Banda Aceh, Universitas Malahayati di Lampung, Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta. Di seluruh kampusnya, Rusli mewajibkan pembinaan anak-anak yatim, mulai dari rektor hingga mahasiswa diwajibkan menyantuni anak-anak yatim.

Dr. Muhammad Kadafi Lantik Rektor Universitas Abulyatama

KETUA Yayasan Abulyatama, Dr. Muhammad Kadafi SH, MH, melantik Ir. R. Agung Efrino Hadi, MSc, PhD, sebagai Rektor Universitas Abulyatama, Banda Aceh, si Aula Kampus Universitas Abulyatama, Sabtu 4 April 2015. Ini adalah jabatan untuk periode kedua bagi Agung Efrino.

Kadafi yang juga adalah rektor Universitas Malahayati, Bandar Lampung, ini memesan agar para pejabat di Universitas Abulyatama meningkatkan kinerjanya agar mutu akademik menjadi lebih baik lagi. “Saya sangat mengharapkan, semua kita di sini menjaga amanah yang telah dipercayakan pada kita,” kata Kadafi dalam sambutan tidak tertulis di lantai tiga aula Universitas Abulyatama.

Selain itu, Kadafi juga mengajak seluruh komponen di kampus Unaya untuk berfikir positif. “Dengan berfikir positif maka arah pandangan kita dalam menerjemahkan sesuatu akan menghasilkan manfaat yang baik. Berfikir positif berarti mengedepankan energi positif di kampus ini,” katanya. “Berfikir positif akan memberi manfaat bagi kita semua.”

Itulah sebabnya, Kadafi juga mengimbau seluruh komponen kampus menghidupkan berbagai pengajian. “Pengajian sangat bermanfaat bagi semua dalam membangun etika religi,” kata Kadafi. “Etika relegi ini menjadi sangat penting bagi semua, dan ilmu pengetahuan yang memiliki nilai-nilai etika religi akan berdampak sangat baik bagi publik.”

Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan etika relegi memang menjadi nilai utama yang ditanamkan pendiri Universitas Abulyatama, H. Rusli Bintang. Pembinaan Mahasiswa dengan mengedepankan etika religi ini pula yang sangat diperhatikannya pada kampus-kampus lain yang didirikannya.

Rusli Bintang telah mendirikan empat kampus, di antaranya Universitas Abulyatama di Banda Aceh, Universitas Malahayati di Lampung, Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta. Di seluruh kampusnya, Rusli mewajibkan pembinaan anak-anak yatim, mulai dari rektor hingga mahasiswa diwajibkan menyantuni anak-anak yatim.

Unaya Yudisium 116 Dokter Muda

Hari ini, 116 dokter muda lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama, Banda Aceh, diambil sumpahnya di gedung Kedokteran Unaya. Rektor Universitas Abulyatama, Ir. R. Agung Efrino Hadi, MSc, PhD pada acara yudisium ini.

Suasana kompleks kampus Abulyatama ramai dengan karangan bunga ucapan selamat kepada para mahasiswa yang telah berhasil menggapai sarjana kedokteran ini. Terlihat jejeran karangan bunga mulai dari pintu masuk kompleks kampus hingga ke sudut belakang kampus.

Kendaraan berjejer mengantre untuk bisa mendapatkan tempat parkir. Para Mahasiswa yang diyudisium hari ini semuanya didampingi orang tua masing-masing. Mereka datang dengan wajah-wajah cerah.

Rektor Unaya Agung Efrino mengharapkan para dokter muda ini kelak setelah terjun ke masyakarat agar benar-benar mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Selain itu, katanya, mulai hari ini mereka sudah terikat dengan sumpah dokter.

Unaya adalah salah satu dari empat kampus yang didirikan H. Rusli Bintang. Selain Unaya, ada Universitas Malahayati di Lampung, Universitas Batam di Batam, dan Institute Kesehatan Indonesia di Jakarta.

Rusli mendirikan perguruan tinggi dengan konsep memadukan ilmu pengetahuan dan humanis. Selain juga dituntut untuk menunjujung etika relegi yang ditanamkan kepada setiap mahasiswa yang menuntut ilmu di kampusnya.[]