Tabligh Dhuha Usdadz Abdul Somad di UNAYA

Dalam rangka memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1440 Hijriah di Universitas AbulyatamaUstaz Abdul Somad mengisi Tabligh Dhuha di Universitas Abulyatama.

Dalam Tabligh Dhuha  Tersebut Beliau  Mem Menyampaikan 3 Pesan

1 . Alumni Abulyatama mesti kaya,

2. mesti melek politik, dan

3. mesti berakhlakul karimah (budi pekerti yang baik),”

ucap Abdul Somad di akhir ceramahnya sebelum membaca doa penutup. Acara ini berlangsung di lapangan terbuka pekarangan Kampus Abulyatama di Lampoh Keude, Aceh Besar, Kamis pagi.

Ustaz Abdul Somad yang akrab disapa UAS mengawali ceramahnya dengan menyebutkan bahwa baru pada kesempatan ini hadir ke induk kampus Abulyatama di Aceh. Sebelumnya ia sudah lebih dulu berceramah di kampus Abulyatama di Lampung dan Batam.

Di atas panggung, UAS menyatakan ia biasanya paling lama berceramah hanya 60 menit lamanya. Dan di kampus yang dibangun oleh Bapak Rusli Bintang ini ia membagi waktu 60 menit itu dalam tiga babak dengan tiga pesan untuk memudahkan mahasiswa mencatatnya.

“Habis sudah 20 menit pertama, biasanya 60 menit saya kalau ceramah. ingat pesan 20 menit pesan tentang masalah kaya,” ujarnya. Tiga pesan tersebut disampaikan oleh UAS dalam ceramahnya seiring Rektor Abulyatama dalam sambutannya mengatakan bahwa Ustaz Abdul Somad mesti meninggalkan pesan.

Kepada mahasiswa Abulyatama dia berpesan agar bercita-citalah menjadi orang kaya. UAS menyebutkan sebuah sabda Rasullullah: Almu’minul qawiyu khairun wa ahabbu ilallahi… (Mukmin yang kuat lebih disukai oleh Allah Swt).

Ia menyatakan Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang kaya. Oleh karena itu menabunglah dari sekarang, dan berpuasalah senin-kamis.

“Pesan yang pertama anak-anak mahasiswa mahasiswi Abulyatama tamat dari sini mesti menjadi kaya. Tapi kayanya mesti jujur,” sebut Somad.

Kemudian UAS melanjutkan ceramahnya 20 menit berikutnya tentang politik. Menurutnya, mahasiswa Abulyatama juga harus melek politik.

“Kalau anak Abulyatama tidak mencaleg, jangan heran yang jadi Ketua DPR adalah pecandu narkoba. Yang salah siapa, anak Abulyatama. Untuk itu mencaleglah kalian,” ujarnya.

Menurutnya, hidup di negara demokrasi barang siapa yang mampu untuk mencalonkan diri silakan maju. Sedangkan bagi yang belum mampu, silakan memilih dan mencoblos pada Pemilu 17 April 2019. “Jangan golput, berikan kontribusi.”

Pesan yang ketiga, Ustaz Abdul Somad menyampaikan tentang akhlakul karimah (budi pekerti yang baik). “Ada orang kaya tapi tak sopan. Tidak ada gunanya ilmu banyak kalau tidak berakhlakul karimah,” ucapnya.

Lebih lanjut, UAS menyebutkan teladan yang ingin disampaikannya bahwa Nabi Muhammad SAW orang yang kaya, kemudian yang kedua bahwa Nabi Muhammad mementingkan politik karena memegang tampuk kekuasaan di Madinah.

“Oleh sebab itu ke depan siapa yang akan melanjutkan kekuasaan ini? Akan dilanjutkan oleh alumni-alumni Abulyatama,” sebutnya.

GENERASI MILINIAL DALAM PEMAHAMAN SEJARAH ACEH

Aceh identik dengan Islam, dikenal dengan Serambi Mekkah, banyak pakar dan ilmuan lahir di Aceh, seperti Hamzah Fansuri, Nurdin Ar-Raniry, Sultan Malik (Meurah Silu), Tgk Syiah Kuala (Syeck Abdurauf Asingkili), Tgk Syiek Pante Kulu, Tgk Syiek Di Tiro, Tgk Syiek Lung Bata dan sebagainya. Mereka menyebarkan konsep-konsep ketuhanan, syariah, tasauf, dengan memadukan konsep sosial budaya, politik, tata negara, ekonomi dan strategi perang fisabililah.

Mereka dihormati, disegani, jadi panutan dan konsisten dalam berjuang menyebarkan konsep konsep ketuhanan dengan berbagai pendekatan sosial dalam kehidupan masyarakat. Namun kiprah mereka sangat sedikit ditemukan dalam referensi sejarah nasional dan lokal yang bisa di baca oleh para generasi Aceh.

Dalam setiap pertemuan kelas dengan mahasiswa dari berbagai kampus, sering kami uji pemahaman mahasiswa terhadap sejarah Aceh (Lokal), terbukti mahasiswa sangat dangkal sekali pemahaman sejarah Aceh. Mereka kurang dan malah tidak tau sepak terjang tokoh-tokoh tersebut. Mereka sulit menemukan referensi dan sangat sedikit buku buku menulis sejarah para tokoh tersebut. Mereka tidak tau Samudra Pase, Pedir, Lamuri, Kerajaan Jaya, Kerajaan Kuala Bate, Kluet, dan sebagainnya. Di tambah parah lagi kampus namanya pelaku sejarah Nurdin Ar-Raniry dan Syiah Kuala sangat susah didapatkan referensi oleh mahasiswa. Yang seharusnya semua mahasiswa di dua lembaga tersebut paham, mengerti, dan mengetahui kilas balik dua tokoh besar Aceh, Nyatanya foto mereka hanya bisa lihat hanya di Biro Rektorat, tapi tidak terlihat di fakultas dan prodi. Ini sebuah bukti bahwa Aceh gelap gulita dalam sejarah.

Fakta fakta lain, coba lihat seputaran jalan krueng raya, disitu ada beberapa situs sejarah, benteng indrapatra, benteng Sultan Iskandar Muda, Benteng Inong Balee, Makam Malahayati dan Situs Lamuri, tidak ada perhatian pemerintah daerah sedikitpun, terbengkalai, tak terurus, tidak ada informasi apapun di benteng2 tersebut, bila datang para pendatang dari luar Aceh tidak ada informasi dan penjelasan benteng tersebut, hancur lebur situs situs sejarah, malah batu nisan, banyak memberkan informasi di situs lamuri di rusak, malah ada yang di jual.

Aceh terus di kaburkan dengan sejarah, karena aceh (pemerintah) tak peduli dengan sejarah, tidak ada program melestarikan sejarah, malah banyak situs dirusak hanya dibangun gedung baru, kantor dan sebagainya. Tidak ada perawatan situs-situs makam raja2 Aceh, para ulama aceh, para pejuang Aceh, dibiarkan rusak dan hancur..(Usman Wakil Rektor Bidang Akademik)

Dekan FH UNAYA: Pemerintah Aceh Optimis APBA 2019 Tepat Waktu

Dekan FH Unaya Yang juga Jurubicara Pemerintah Aceh, Wiratmadinata, SH., MH, mengatakan, Pemerintah Aceh optimis penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2019 akan berjalan lancar dan tepat waktu.

Hal itu seiring dengan intensifnya persiapan dokumen anggaran serta lancarnya komunikasi baik formal maupun informal antara eksekutif dan legislatif.

Pemerintah Aceh pada 12 Juli lalu telah menyerahkan Rancangan Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (KU-APBA) 2019 kepada DPRA.

“Selanjutnya jika pada bulan September ini Plafon Anggaran Sementara (PPAS) bisa selesai, maka pembahasan RAPBA paling telat awal Desember sudah selesai,” kata Wiratmadinata biasa juga dipanggil Pak Wira.

Menurut Wiratmadinata, memperhatikan tren pembahasan APBA selama ini, maka kuncinya terdapat pada kesepakatan bersama KUA-PPAS. Oleh karena itu jika September KUA-PPAS sudah disepakati, maka pembahasan RAPBA sudah tidak terhambat lagi, bahkan bisa lebih cepat.

“Jangan-jangan November sudah bisa disahkan. Tapi moderatnya, kalau melihat hitung-hitungan kalender mengacu pada batasan maksimum regulasi, maka mestinya minggu ke-1 Desember seharusnya APBA 2019 sudah bisa dievaluasi oleh Mendagri. Sebab kalau tidak kita bisa macet lagi dihadang ketentuan pergub,” sebut Pak Wira yang biasa mengajar di Fakultas Hukum Universitas Abulyatama.

Soal kesiapan dokumen anggaran, kata Pak Wira, Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) di bawah arahan langsung Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Sekda, Para Asisten dan Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA), bekerja marathon, bahkan sudah tergolong “tidak normal”.

“Mereka seperti tak mengenal lagi jam kerja dan tanpa kenal lelah terus ‘dipress’ untuk menyiapkan seluruh dokumen anggaran yang diperlukan,” ungkap kandidat Doktor Ilmu Hukum Unsyiah ini.

Dari aspek regulasi, penyusunan RAPBA 2019 ini, menurut Pak Wira juga menganut prinsip “Taat Asas”, yaitu sesuai dengan aturan yang berlaku, jelas dan konsisten.

KUA-PPAS disusun berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) 2019 sebagaimana tertuang dalam Pergub Aceh Nomor 77/2018 Tentang RKPA 2019.

RKPA ini disusun melalui beberapa pendekatan perencanaan, baik secara teknokratis, partisipatif, politis, top-down, bottom-up, dan proses musrenbang dari level terbawah sampai ke atas.

Adapun delapan prioritas RKPA 2019 yang secara keseluruhan disusun dengan fokus pada penurunan angka kemiskinan, layanan akses dan kualitas kesehatan, mengatasi kesenjangan wilayah, konekivitas dan pengembangan kawasan strategis, peningkatan ketahanan pangan dan energi, penguatan Syariat Islam dan kualitas pendidikan, industri kreatif, pariwisata, optimalisasi SDA, kebencanaan, reformasi birokrasi dan penguatan perdamaian.

Memilih Caleg Yang Bersih Dari Korupsi

Pemilu Legislatif 2019 butuh kecerdasan rakyat dalam memilih wakilnya di lembaga legislatif baik di Pusat, Propinsi dan Kabupaten/kota. Artinya rakyat harus benar benar memahami sepak terjang politisi/caleg yang di pilih. Terbukti bahwa selama lima tahun ini para politisi/dewan yang mewakili rakyat, tidak memberikan perhatian yang besar pada masyarakat, malah mereka banyak melakukan tindakan korupsi. Hal ini dapat dilihat kondisi masyarakat semakin termajinalkan, misal peluang kerja, daya beli dan kebutuhan semakin tinggi, pemasukan tidak sesuai dengan pengeluaran. Hal ini dirasakan oleh semua lapisan masyarakat menengah ke bawah.

Isu-isu tersebut membuktikan politisi yang di pilih sebagai perwakilan rakyat tidak konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat yang pernah dijanjikan saat kampanye, alias janji palsu dan PHP.

Dengan berbagai sepak terjang politisi tersebut diatas, rakyat harus paham dan mengetahui siapa saja politisi/caleg yang koruptif. Harus ada lembaga indenpenden memberikan informasi yang jelas siapa politisi/caleg terlibat korupsi misal terdakwa, pernah di hukum, lagi proses hukum dan sebagainya.

Banyak partai politik mengajukan caleg2 yang ternyata ada tersangkut dengan korupsi. Artinya kalau caleg2 terlibat korupsi kembali terpilih, akan berdampak pada keberlanjutan pembangunan dan juga berdampak pada moralitas, dan tidak konsistennya dalam pemberantasan korupsi, akan memperburuk tingkat kepercayaan rakyat pada lembaga legislatif, malah akan semakin termarjinalkan rakyat (petani, buruh, nelayan, masyarakat miskin dan fakir).

Kalau ingin Aceh lebih baik dari sekarang pilihlah para caleg yang cerdas, jujur, berilmu, berakhlak dan tentunya punya visi keberlanjutan pembagunan aceh untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan partai, kelompok, keluarga dan etnis. (Wakil Rektor Bidang Akademik, Usman. M. Si)

PENGUMUMAN KKN TAHUN 2018

A. Syarat Peserta KKN

  1. Pendaftaran sebagai peserta KKN tahun 2018 tanggal 11 – 17 Juli 2018
  2. Pembahagian kelompok tanggal 19 Juli 2018
  3. Pengarahan pelaksanaan KKN tanggal 20 Juli 2018, di Aula Lantai 2, Jam 09.00 WIB sampai selesai.
  4. Survey lokasi KKN untuk penyusunan Program Kerja tanggal 21 – 26 Juli 2018
  5. Coatching KKN dan Diskusi kelompok tanggal 28 – 29 Juli 2018
  6. Penempatan/Penyerahan Mahasiswa KKN tanggal 1 Agustus 2018
  7. Masa KKN tanggal 1 Agustus s/d 1 September 2018
  8. Jumlah SKS yang harus dipenuhi adalah 108 SKS (termasuk yang semester Genab 2017/2018), dengan melampirkan KHS sementara dan KRS smt Genab yang telah disahkan dosen Wali, jika tidak on line  pada data based  Unaya, harus menyertakan surat rekomendasi izin melaksanakan matakuliah KKN oleh Dekan masing-masing.
  9. Mengisi formulir permohonan KKN (dapat diambil sama ibu Leni (tempat pendaftaran mahasiswa baru)
  10. Membayar uang KKN sebesar Rp. 600.000 (Enam Ratus Ribu Rupiah), melalui Ibu Dra. Alawiyah (tempat pembayaran SPP lantai 2)
  11. Lokasi KKN direncanakan di Kecamatan Peukan Bada dan Kec. LhokNga

B. Semua dokumen dimasukkan kedalam Map warnah Merah untuk kelas Reguler dan Map warna Kuning untuk kelas Khusus.

Lampoh Keude, 28 Juni 2018

Ketua Badan Pelaksana KKN

 

Dto

Ir. Firdaus, M.Si

Mahasiswa UNAYA 1st Runner Up NUDC 2018 Aceh

Seleksi National University Debating Championship (NUDC) Tahun 2018 Tingkat Kopertis XIII Aceh telah selesai dilaksanakan pada Minggu, 06 Mei 2016 bertempat di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh. Kegiatan ini diikuti oleh 29 universitas negeri dan swasta yang ada di Aceh. Seleksi NUDC tingkat wilayah ini merupakan babak seleksi sebelum menuju kompetisi NUDC tingkat nasional yang tahun ini akan diadakan di Malang pada akhir Agustus 2018.

National University Debating Championship (NUDC) adalah ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). NUDC merupakan kompetisi debat bahasa Inggris antarperguruan tinggi yang menggunakan sistem British Parliamentary (BP) yang terdiri dari 2 pembicara (speaker). Seleksi NUDC terdiri dari babak preliminary (baca: babak awal, red), quarter final, semifinal dan grandfinal. Peserta yang melaju kebabak grandfinal ditentukan berdasarkan akumulasi jumlah Victory Point (angka kemenangan, red) pada babak preliminary, quarter dan semifinal total skor yang didapatkan pada ketiga babak tersebut.

Dalam ajang ini, Universitas Abulyatama, Politeknik Lhoksemawawe, Universitas Syiah Kuala dan Universitas Almuslim berhasil lolos ke babak Grandfinal. Setelah babak grandfinal selesai, tim debat Universitas Syiah Kuala (Nabila R Rachmadi, Salsabila Machdi) berhasil lolos sebagai Champion, disusul Universitas Abulyatama (Resti Amelia Sari, Siti Hawa) sebagai First Runner Up, Universitas Almuslim (Nafsul Muthmainnah, Chairul Mufid) sebagai Second Runner Up dan Politeknik Lhoksemawe (T Aulia Syuhada, Nurmala) sebagai Third Runner Up. Bersama dengan dua tim lainnya dari STKIP Bina Bangsa Getsempena dan Universitas Malikussaleh keenam tim debat tersebut berhak berlaga di ajang NUDC tingkat nasional Agustus nanti.

Keberhasilan tim debat Universitas Abulyatama meraih Juara II (First Runner Up) tidak terlepas dari keberadaan Abulyatama Debating Club (ADC) dan pembinaan terus menerus yang dilakukan oleh pembina sekaligus pelatih Ms. Ema Dauyah, M.Ed. Dari keterangan yang diperoleh, latihan dilakukan secara kontinue dan intensif selama beberapa bulan serta dengan mendatangkan pelatih dari Universitas Sumatera Utara (USU). Usaha ini juga tidak terlepas dari dukungan penuh dari universitas yang terus mensupport kegiatan kemahasiswaan.

 

Kegiatan ini ditutup secara resmi oleh Kasie Akdemik dan Kemahasiswaan, Bapak M.Fuad Abdullah, S.Ag. Dalam sambutannya beliau berharap tim yang akan mewakali Kopertis XIII Aceh dapat mempersiapkan diri lebih maksimal sehingga dapat memperbaiki prestasi kontingen Aceh ditingkat nasional. Pada tahun mendatang, diharapkan banyak kegiatan serupa yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang ada di Aceh sehingga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Maka sangat diharapkan adanya dukungan dari pemerintah Aceh untuk menggelar kegiatan serupa setiap tahun.

UNAYA RAPAT KERJA TAHUNAN DENGAN KETUA YAYASAN ABULYATAMA

Pengembangan Perguruang Tinggi di Era Globalisasi seperti saat ini perlu terus ditingkatkan Read more

UNAYA LAKSANAKAN KOMPETISI ACEH DEBATING

Unaya melaksanakan Kompetisi Aceh Debating League (ADL) 13 sd 14 Maret 2018, kegiatan ini di ikuti oleh empat Universitas yang berada di banda aceh, antara lain Universitas Abulyatama, Universitas Syiahkuala, STKIP GASEMENA, dan Universitas Serambi Mekah.

Acara tersebut telah selesai dilaksanakan pada Rabu, 14 Maret 2018. Kegiatan ini mengusung tema “Debater Today, Leader Tomorrow”. Pada kompetisi ini, Universitas Abulyatama dipercaya untuk menjadi pelaksana kegiatan ADL yang pertama ini. ADL adalah inisiasi bersama dari empat perguruan tinggi Negeri dan Swasta (Universitas Abulyatama, Universitas Syiah Kuala, STKIP Bina Bangsa Getsampena, dan Universitas Serambi Mekkah) yang ada di Banda Aceh. Inisiasi ini muncul dikarenakan minimnya kompetisi debat ditingkat universitas yang ada di Aceh.

Aceh Debating League merupakan kompetisi debat bahasa Inggris antarperguruan tinggi yang menggunakan sistem British Parliamentary (BP) yang terdiri dari 2 pembicara (speaker). Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 13-14 Maret 2018. Kegiatan ini diikuti oleh 4 (empat) universitas di Aceh yakni: Universitas Abulyatama, Universitas Serambi Mekah, Universitas Syiah Kuala, dan STKIP BBG Getsempena. Masing-masing kampus mengirimkan 2 (dua) tim sebagai peserta dalam kegiatan ini. Lomba Aceh Debating League terdiri dari 4 kali babak preliminary (baca: babak awal, red) dan 1 kali babak final. Peserta yang masuk ke dalam babak final ditentukan berdasarkan akumulasi jumlah Victory Point pada babak preliminary dan total skor yang didapatkan pada babak preliminary. Penghargaan diberikan kepada pemenenag 1, 2, 3 dan harapan 1 serta best speaker yang dihitung dari nilai individu selama babak preliminary.

Kegiatan ini telah ditutup secara resmi oleh Rektor Universitas Abulyatama, Bapak R. Agung Efriyo Hadi, PhD. Dalam kata sambutannya, Rektor berharap bahwa kegiatan ini dapat dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dengan melibatkan lebih banyak universitas yang ada di Aceh dan estafet tuan rumah juga dapat dilanjutkan oleh universitas yang menjadi champion dalam kompetisi ini.

Adapun champion dalam kegiatan ini adalah Unsyiah A (Muhammad Afi Ramadhan, Cut Puan Tiszani Pasha, 1st runner up Abulyatama B (Resti Amelia Sari, Irma Yanti) 2nd runner up BBG A (Mahdalena, Sarti Wahyuni dan 3rd runner up Abulyatama A (Feni Mariani, Siti Hawa).
Juara Best Speaker: Muhammad Afi Ramadhan (Unsyiah A), Cut Puan Tiszani Pasha (Unsyiah A) dan Resti Amelia Sari (Abulyatama A).

Adjudicator (juri), M.Ridha Ahyat, Ema Dauyah, M.Iqhramullah, Mulyadi Saputra

Unaya Kerjasama Dengan UC Bestari Malaysia

Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh dan Universiti College Bestari (UCB) Malaysia, menjalin kerja sama bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Read more