Produktivitas Perairan Embung LamBadeuk Tugas MK Limnologi

Mahasiswa Perikanan

Video ini dibuat oleh mahasiswa (Afriansyah, Asmaini, Rahmad Hidayat, Ilham Nayansaf: angkt 2014, 2016) Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Perikanan Universitas Abulyatama (ACEH) guna memenuhi tugas Mata Kuliah LIMNOLOGI yang di ampu oleh ibu Lia Handayani, S.Si, MT.

KESAN DAN PESAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITI TEKNOLOGI MARA (UiTM) PADA KUNJUNGAN PROGRAM IMMERSION DI UNIVERSITAS ABULYATAMA

Read more

STUDENT IMMERSION PROGRAMME UiTM KE UNAYA

Fakultas Kedokteran University Teknologi Mara, Malaysia pada tanggal 7 Juli 2019 melaksanakan program Immersion Student ke Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Aceh. Program ini memiliki tujuan sebagai peluang untuk belajar dan memahami keilmuaan kedokteran secara global dengan harapan pengayaan knowledge dan skill mahasiswa kedokteran.

Kunjungan diawali dengan melakukan pertemuan kepada pimpinan  Universitas Abulyatama dengan mahasiswa IUTM. Penyambutan dan penerimaan langsung dihadiri oleh Rektor Ir.R.Agung Efriyo Hadi, M.Sc., Ph.D, didampingi oleh para Wakil rektor serta pihak dekanat Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama dan beberapa orang mahasiswa perwakilan BEM FK Abulyatama.

Para mahasiswa UiTM memiliki kesempatan untuk melakukan kegiatan Tour kampus didampingi perwakilan BEM FK UNAYA. Para mahasiswa UiTM melihat dan terlibat dalam kesempatan mengikuti kegiatan akademik di Fakutas Kedokteran seperti kuliah pakar, tutorial, skill lab dan praktikum laboratorium dasar.

Selepas kegiatan tersebut, Mahasiswa UiTM melanjutkan kegiatan klinik bersama mahasiswa Ko-ass Abulyatama di RSUD Meuraxa serta ikut melakukan pembelajaran klinis bersama para dokter spesialis di rumah sakit milik Abulyatama RS. Pertamedika Ummi Rosnati selama beberapa hari. Mahasiswa dari UiTM tidak hanya melakukan kegiatan belajar saja namun para mahasiswa program immersion ikut diperkenalkan terhadap budaya, sejarah dan keindahan alam bumi aceh.

Menurut penuturan salah satu mahasiswa UiTM (khalyda), selama mengikuti kegiatan di program ini mereka mendapatkan banyak hal baru, dimana mereka bisa langsung bersinggungan dengan pasien bersama pendampingan yang nyaman dan aman oleh dokter spesialis beserta perawat ruangan maupun poliklinik di kedua rumah sakit tersebut. Dekan Fakultas kedokteran dr.Fachrul Jamal Sp.An.KIC dalam acara Sharing experience students UiTM dan UNAYA menyampaikan harapan jika program ini dapat berjalan secara berkelanjutan untuk memperoleh referensi-refensi yang lebih dari universitas-universitas yang hendak berkunjung ke Universitas Abulyatama khususnya Fakultas Kedokteran Abulyatama yang pada saat ini secara mutu telah terakreditasi B.

Tabligh Dhuha Usdadz Abdul Somad di UNAYA

Dalam rangka memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1440 Hijriah di Universitas AbulyatamaUstaz Abdul Somad mengisi Tabligh Dhuha di Universitas Abulyatama.

Dalam Tabligh Dhuha  Tersebut Beliau  Mem Menyampaikan 3 Pesan

1 . Alumni Abulyatama mesti kaya,

2. mesti melek politik, dan

3. mesti berakhlakul karimah (budi pekerti yang baik),”

ucap Abdul Somad di akhir ceramahnya sebelum membaca doa penutup. Acara ini berlangsung di lapangan terbuka pekarangan Kampus Abulyatama di Lampoh Keude, Aceh Besar, Kamis pagi.

Ustaz Abdul Somad yang akrab disapa UAS mengawali ceramahnya dengan menyebutkan bahwa baru pada kesempatan ini hadir ke induk kampus Abulyatama di Aceh. Sebelumnya ia sudah lebih dulu berceramah di kampus Abulyatama di Lampung dan Batam.

Di atas panggung, UAS menyatakan ia biasanya paling lama berceramah hanya 60 menit lamanya. Dan di kampus yang dibangun oleh Bapak Rusli Bintang ini ia membagi waktu 60 menit itu dalam tiga babak dengan tiga pesan untuk memudahkan mahasiswa mencatatnya.

“Habis sudah 20 menit pertama, biasanya 60 menit saya kalau ceramah. ingat pesan 20 menit pesan tentang masalah kaya,” ujarnya. Tiga pesan tersebut disampaikan oleh UAS dalam ceramahnya seiring Rektor Abulyatama dalam sambutannya mengatakan bahwa Ustaz Abdul Somad mesti meninggalkan pesan.

Kepada mahasiswa Abulyatama dia berpesan agar bercita-citalah menjadi orang kaya. UAS menyebutkan sebuah sabda Rasullullah: Almu’minul qawiyu khairun wa ahabbu ilallahi… (Mukmin yang kuat lebih disukai oleh Allah Swt).

Ia menyatakan Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang kaya. Oleh karena itu menabunglah dari sekarang, dan berpuasalah senin-kamis.

“Pesan yang pertama anak-anak mahasiswa mahasiswi Abulyatama tamat dari sini mesti menjadi kaya. Tapi kayanya mesti jujur,” sebut Somad.

Kemudian UAS melanjutkan ceramahnya 20 menit berikutnya tentang politik. Menurutnya, mahasiswa Abulyatama juga harus melek politik.

“Kalau anak Abulyatama tidak mencaleg, jangan heran yang jadi Ketua DPR adalah pecandu narkoba. Yang salah siapa, anak Abulyatama. Untuk itu mencaleglah kalian,” ujarnya.

Menurutnya, hidup di negara demokrasi barang siapa yang mampu untuk mencalonkan diri silakan maju. Sedangkan bagi yang belum mampu, silakan memilih dan mencoblos pada Pemilu 17 April 2019. “Jangan golput, berikan kontribusi.”

Pesan yang ketiga, Ustaz Abdul Somad menyampaikan tentang akhlakul karimah (budi pekerti yang baik). “Ada orang kaya tapi tak sopan. Tidak ada gunanya ilmu banyak kalau tidak berakhlakul karimah,” ucapnya.

Lebih lanjut, UAS menyebutkan teladan yang ingin disampaikannya bahwa Nabi Muhammad SAW orang yang kaya, kemudian yang kedua bahwa Nabi Muhammad mementingkan politik karena memegang tampuk kekuasaan di Madinah.

“Oleh sebab itu ke depan siapa yang akan melanjutkan kekuasaan ini? Akan dilanjutkan oleh alumni-alumni Abulyatama,” sebutnya.

GENERASI MILINIAL DALAM PEMAHAMAN SEJARAH ACEH

Aceh identik dengan Islam, dikenal dengan Serambi Mekkah, banyak pakar dan ilmuan lahir di Aceh, seperti Hamzah Fansuri, Nurdin Ar-Raniry, Sultan Malik (Meurah Silu), Tgk Syiah Kuala (Syeck Abdurauf Asingkili), Tgk Syiek Pante Kulu, Tgk Syiek Di Tiro, Tgk Syiek Lung Bata dan sebagainya. Mereka menyebarkan konsep-konsep ketuhanan, syariah, tasauf, dengan memadukan konsep sosial budaya, politik, tata negara, ekonomi dan strategi perang fisabililah.

Mereka dihormati, disegani, jadi panutan dan konsisten dalam berjuang menyebarkan konsep konsep ketuhanan dengan berbagai pendekatan sosial dalam kehidupan masyarakat. Namun kiprah mereka sangat sedikit ditemukan dalam referensi sejarah nasional dan lokal yang bisa di baca oleh para generasi Aceh.

Dalam setiap pertemuan kelas dengan mahasiswa dari berbagai kampus, sering kami uji pemahaman mahasiswa terhadap sejarah Aceh (Lokal), terbukti mahasiswa sangat dangkal sekali pemahaman sejarah Aceh. Mereka kurang dan malah tidak tau sepak terjang tokoh-tokoh tersebut. Mereka sulit menemukan referensi dan sangat sedikit buku buku menulis sejarah para tokoh tersebut. Mereka tidak tau Samudra Pase, Pedir, Lamuri, Kerajaan Jaya, Kerajaan Kuala Bate, Kluet, dan sebagainnya. Di tambah parah lagi kampus namanya pelaku sejarah Nurdin Ar-Raniry dan Syiah Kuala sangat susah didapatkan referensi oleh mahasiswa. Yang seharusnya semua mahasiswa di dua lembaga tersebut paham, mengerti, dan mengetahui kilas balik dua tokoh besar Aceh, Nyatanya foto mereka hanya bisa lihat hanya di Biro Rektorat, tapi tidak terlihat di fakultas dan prodi. Ini sebuah bukti bahwa Aceh gelap gulita dalam sejarah.

Fakta fakta lain, coba lihat seputaran jalan krueng raya, disitu ada beberapa situs sejarah, benteng indrapatra, benteng Sultan Iskandar Muda, Benteng Inong Balee, Makam Malahayati dan Situs Lamuri, tidak ada perhatian pemerintah daerah sedikitpun, terbengkalai, tak terurus, tidak ada informasi apapun di benteng2 tersebut, bila datang para pendatang dari luar Aceh tidak ada informasi dan penjelasan benteng tersebut, hancur lebur situs situs sejarah, malah batu nisan, banyak memberkan informasi di situs lamuri di rusak, malah ada yang di jual.

Aceh terus di kaburkan dengan sejarah, karena aceh (pemerintah) tak peduli dengan sejarah, tidak ada program melestarikan sejarah, malah banyak situs dirusak hanya dibangun gedung baru, kantor dan sebagainya. Tidak ada perawatan situs-situs makam raja2 Aceh, para ulama aceh, para pejuang Aceh, dibiarkan rusak dan hancur..(Usman Wakil Rektor Bidang Akademik)

ACDC

ACDC Unaya Kembali Menyelenggarakan Job Fair

Pameran lowongan pekerjaan (job fair) merupakan ajang melamar pekerjaan sebanyak banyaknya. Dalam acara ini, banyak stan-stan perusahaan membuka lowongan pekerjaan.

Tentu saja, stan (booth) tersebut sangat memudahkan para pencari kerja karena mereka tidak harus datang ke kantor atau mengirim lamaran kerja dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya untuk melamar.

Selain itu Penyerapan lulusan perguruan tinggi oleh dunia usaha dan industri mengalami perlambatan. Sedangkan kalangan dunia usaha dan industri masih tetap membutuhkan sumberdaya manusia yang memiliki kualitas yang baik. Artinya persaingan dalam memperoleh pekerjaan akan semakin ketat. Hal ini mendasari pendirian Alumni Career Development Centre (ACDC) Universitas Abulyatama. ACDC merupakan lemabaga pada Universitas Abulyatama yang bertugas membantu lulusan dan alumni Universitas Abulyatama dalam menghadapi dunia kerja dan kealumnian.

ACDC memiliki 3 Bidang yaitu bidang Ketenagakerjaan, bidang tracer study, dan bidang pelatihan dan kewirausahaan. Acara Job Fair ini merupakan salah satu kegiatan ACDC dalam bidang Ketenagakerjaan, kegiatan lainnya meliputi in campus recruitment, dan pemberian informasi lowongan pekerjaan. Kegiatan pada bidang tracer study meliputi penyebaran kuesioner kepada alumni, kemudian kuesioner dievaluasi sebagai masukan untuk masing-masing Prodi. Adapun kegiatan-kegiatan pada bidang pelatihan dan kewirausahaan adalah memberikan pelatihan-pelatihan seputar pembuatan CV yang baik, cara menghadapi wawancara kerja, cara memulali bisnis dengan modal kecil dll.

Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Universitas Abulyatama R Agung Efriyo Hadi Ph.D, Para Wakil Rektor,Dekan serta Ketua Prodi Dalam lingkungan Universitas Abulyatama, Dosen ,Mahasiswa dan alumni Universitas Abulyatama .

Tamu undangan yang hadir sebagai pengisi stan pada Job Fair Universitas Abulyatama adalah Bank Mandiri, Bank BNI, BPTP Aceh, PT Ambagiri Nusantara Cab. Aceh, sedangkan  pengisi stan lainnya terdiri dari Fakultas-fakultas yang ada di lingkungan Universitas Abulyatama seperti Fakultas Kedokteran, Fakultas Perikanan , Fakultas Pertanian, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ekonomi.

Rektor Universitas Abulyatama bercerita tentang pentingnya kedisplinan dalam dunia kerja, beliau juga berharap instansi-instansi yang hadir dapat terus menjalin kerjasama dengan ACDC Universitas Abulyatama dimasa yang akan datang. Kegiatan ini diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada seluruh partisipan yang mengisis stan. Harapannya ditahun-tahun berikutnya kegiatan ini akan bisa diadakan secara kontinu dengan skala yang lebih besar lagi.

Dekan FH UNAYA: Pemerintah Aceh Optimis APBA 2019 Tepat Waktu

Dekan FH Unaya Yang juga Jurubicara Pemerintah Aceh, Wiratmadinata, SH., MH, mengatakan, Pemerintah Aceh optimis penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2019 akan berjalan lancar dan tepat waktu.

Hal itu seiring dengan intensifnya persiapan dokumen anggaran serta lancarnya komunikasi baik formal maupun informal antara eksekutif dan legislatif.

Pemerintah Aceh pada 12 Juli lalu telah menyerahkan Rancangan Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (KU-APBA) 2019 kepada DPRA.

“Selanjutnya jika pada bulan September ini Plafon Anggaran Sementara (PPAS) bisa selesai, maka pembahasan RAPBA paling telat awal Desember sudah selesai,” kata Wiratmadinata biasa juga dipanggil Pak Wira.

Menurut Wiratmadinata, memperhatikan tren pembahasan APBA selama ini, maka kuncinya terdapat pada kesepakatan bersama KUA-PPAS. Oleh karena itu jika September KUA-PPAS sudah disepakati, maka pembahasan RAPBA sudah tidak terhambat lagi, bahkan bisa lebih cepat.

“Jangan-jangan November sudah bisa disahkan. Tapi moderatnya, kalau melihat hitung-hitungan kalender mengacu pada batasan maksimum regulasi, maka mestinya minggu ke-1 Desember seharusnya APBA 2019 sudah bisa dievaluasi oleh Mendagri. Sebab kalau tidak kita bisa macet lagi dihadang ketentuan pergub,” sebut Pak Wira yang biasa mengajar di Fakultas Hukum Universitas Abulyatama.

Soal kesiapan dokumen anggaran, kata Pak Wira, Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) di bawah arahan langsung Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Sekda, Para Asisten dan Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA), bekerja marathon, bahkan sudah tergolong “tidak normal”.

“Mereka seperti tak mengenal lagi jam kerja dan tanpa kenal lelah terus ‘dipress’ untuk menyiapkan seluruh dokumen anggaran yang diperlukan,” ungkap kandidat Doktor Ilmu Hukum Unsyiah ini.

Dari aspek regulasi, penyusunan RAPBA 2019 ini, menurut Pak Wira juga menganut prinsip “Taat Asas”, yaitu sesuai dengan aturan yang berlaku, jelas dan konsisten.

KUA-PPAS disusun berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) 2019 sebagaimana tertuang dalam Pergub Aceh Nomor 77/2018 Tentang RKPA 2019.

RKPA ini disusun melalui beberapa pendekatan perencanaan, baik secara teknokratis, partisipatif, politis, top-down, bottom-up, dan proses musrenbang dari level terbawah sampai ke atas.

Adapun delapan prioritas RKPA 2019 yang secara keseluruhan disusun dengan fokus pada penurunan angka kemiskinan, layanan akses dan kualitas kesehatan, mengatasi kesenjangan wilayah, konekivitas dan pengembangan kawasan strategis, peningkatan ketahanan pangan dan energi, penguatan Syariat Islam dan kualitas pendidikan, industri kreatif, pariwisata, optimalisasi SDA, kebencanaan, reformasi birokrasi dan penguatan perdamaian.

Memilih Caleg Yang Bersih Dari Korupsi

Pemilu Legislatif 2019 butuh kecerdasan rakyat dalam memilih wakilnya di lembaga legislatif baik di Pusat, Propinsi dan Kabupaten/kota. Artinya rakyat harus benar benar memahami sepak terjang politisi/caleg yang di pilih. Terbukti bahwa selama lima tahun ini para politisi/dewan yang mewakili rakyat, tidak memberikan perhatian yang besar pada masyarakat, malah mereka banyak melakukan tindakan korupsi. Hal ini dapat dilihat kondisi masyarakat semakin termajinalkan, misal peluang kerja, daya beli dan kebutuhan semakin tinggi, pemasukan tidak sesuai dengan pengeluaran. Hal ini dirasakan oleh semua lapisan masyarakat menengah ke bawah.

Isu-isu tersebut membuktikan politisi yang di pilih sebagai perwakilan rakyat tidak konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat yang pernah dijanjikan saat kampanye, alias janji palsu dan PHP.

Dengan berbagai sepak terjang politisi tersebut diatas, rakyat harus paham dan mengetahui siapa saja politisi/caleg yang koruptif. Harus ada lembaga indenpenden memberikan informasi yang jelas siapa politisi/caleg terlibat korupsi misal terdakwa, pernah di hukum, lagi proses hukum dan sebagainya.

Banyak partai politik mengajukan caleg2 yang ternyata ada tersangkut dengan korupsi. Artinya kalau caleg2 terlibat korupsi kembali terpilih, akan berdampak pada keberlanjutan pembangunan dan juga berdampak pada moralitas, dan tidak konsistennya dalam pemberantasan korupsi, akan memperburuk tingkat kepercayaan rakyat pada lembaga legislatif, malah akan semakin termarjinalkan rakyat (petani, buruh, nelayan, masyarakat miskin dan fakir).

Kalau ingin Aceh lebih baik dari sekarang pilihlah para caleg yang cerdas, jujur, berilmu, berakhlak dan tentunya punya visi keberlanjutan pembagunan aceh untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan partai, kelompok, keluarga dan etnis. (Wakil Rektor Bidang Akademik, Usman. M. Si)